
Awalnya Rian hanya mengusap bagian yang nampak di pandangannya saja. Namun karena Riri tidak menolak, lama-lama tangannya merasa tertantang. Perlahan tangannya mulai menyusup. Mencari apa yang belum pernah ia temui meskipun mereka sudah sah.
"Ah, apa ini?" tanya Rian.
Rian bukan anak kecil yang tidak tahu apa yang selama ini ia inginkan. Namun setahunya, bentuknya tidak seperti itu. Bayangan Rian tentang bentuk yang sedang ia raba itu ternyata tidak sesuai.
"Kenapa sedikit keras dan datar ya? Seharusnya sih tidak rata begini," gumam Rian sambil mengusap-usap bagian itu.
Rian melihat ke arah Riri yang masih tertidur pulas. Perlahan ia bangun dan duduk di samping Riri. Sangat pelan karena ia tidak mau mengganggu istrinya yang sedang terlelap.
Merasa kondisi sudah aman, Rian mendekat dan membukanya. Memastikan kenapa yang ia pegang tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan. Setelah Rian membukanya, ia menepuk dahinya dan menjatuhkan tubuhnya sambil menutup wajahnya dengan bantal.
"Astaga, kenapa aku oon sekali? Seharusnya aku tahu kenapa bisa datar," ucap Rian sambil tertawa.
Rian merasa ini sangat konyol. Ia tahu jika istrinya sedang datang bulan. Seharusnya ia juga tahu kenapa bagian itu keras dan datar. Karena lekukan yang seharusnya Rian temukan tertutup oleh pembalut.
"Mas, ada apa?" tanya Riri sambil mengucek matanya.
"Ah tidak. Ayo tidur lagi!" ucap Rian sambil berusaha terlihat tenang seolah tidak terjadi apapun.
Karena rasa ngantuk yang luar biasa, Riri pun kembali tertidur dan mengabaikan apa yang terjadi pada suaminya. Ia hanya butuh tidur saat ini. Matanya lelah dan sulit sekali di buka. Rasa penasarannya atas sikap suaminya kalah oleh rasa ngantuk yang menyerangnya.
Entah jam berapa Rian mulai terlelap. Akhirnya ia bisa tidur setelah beberapa kali mengganti posisi tidurnya. Rian terlelap saat tubuh kecil istrinya memeluknya dengan penuh kehangatan.
Tidur terlalu larut membuat Rian sulit bangun sesuai dengan alarm yang sudah disetting dalam ponselnya. Berkali-kali Riri membangunkannya, namun Rian sama sekali tidak bergeming. Ia masih menikmati tidurnya yang baru nyenyak beberapa jam terakhir.
"Mas, bangun!" ucap Riri sambil mengguncang pelan tubuh Rian.
Rian hanya menggeliat dan kembali tertidur. Sudah berkali-kali Riri membangunkan Rian, tapi hasilnya nihil. Akhirnya ia menyerah dan keluar kamar tanpa Rian.
Awalnya Riri memutuskan untuk tetap di kamar sampai Rian benar-benar bangun dan menemaninya keluar kamar. Menemui beberapa keluarganya yang semalam menginap di rumah Nyonya Helen.
Waktu sudah tidak pagi lagi, akhirnya Riri memberanikan diri untuk keluar dari kamar. Meskipun ia tahu kedatangannya akan menjadi bahasan dan candaan dari yang lain. Sebagai pengantin baru, Riri tahu betul resiko yang akan ia terima. Namun akan lebih buruk jika seandainya ia tetap di kamar sampai waktu yang ia sendiri tidak bisa tentukan.
__ADS_1
"Cieee, pengantin baru kok sudah keluar kamar sih? Mana suaminya?" goda Mia.
"Ah Kak Mia. Mas Rian masih tidur Kak," jawab Riri.
"Waduh, memangnya berapa ronde nih sampe jam segini belum bangun?" tanya Dion sambil tertawa keras.
"Memangnya Om Rian pemain tinju ya Pah?" tanya Naura dengan wajah polosnya.
"Aa," ucap Mia dengan cubitan di kaki Dion.
"Emm, itu. Ya, Om Rian sedang belajar tinju. Kamu sarapan duluan sana. Nanti kita pulang. Kamu masih mau main sama yang lain kan? Ayo, mumpung masih ada waktu." Dion mencoba mengalihkan pembicaraan tentang ronde dan tinju.
"Oh iya Pah. Naura ke sana dulu ya," ucap Naura.
"Oke," jawab Dion sambil memberi sedikit kecupan di pipi Naura.
Dion mengusap Dada saat Naura sudah pergi. Ia merasa terbebas dari hal yang sulit untuk dijelaskan. Sementara Mia masih menatap Dion penuh dengan ancaman. Dion segera pergi karena tidak mau kena semprot istrinya.
Riri memang malu dengan apa yang tengah di bahas. Namun ia tersenyum senang dengan keharmonisan suami istri itu. Rian sering bercerita jika suatu saat mereka ingin seperti Mia dan Dion. Berhasil membangun keluarga yang hangat ditengah kesibukan kantornya.
"Ah tidak Kak," jawab Riri.
Obrolan antar wanita pun terjadi lagi. Mereka membahas tentang banyak hal. Dimulai dari bicara tentang pasangan, anak-anak hingga pekerjaan. Diantara ketiga wanita yang menemani Riri, hanya Maya yang tidak memiliki pekerjaan berpenghasilan. Selama ini Maya hanya bekerja di rumah mengurus anak dan suaminya. Bukan tidak mau, tapi karena pendidikan terakhirnya yang hanya tamatan SMA.
Untuk berbisnis seperti Sindi pun, Maya belum bisa. Ia tidak memiliki kemampuan yang mumpuni. Hingga saat ini ia hanya fokus di rumah. Hal itu ia jalani karena tidak ada tuntutan apapun dari Reza. Suaminya tidak pernah memintanya untuk bekerja di kantor atau berbisnis.
"Waktu itu sempat ikut bisnis, tapi tertipu. Makanya Mas Reza tidak mengizinkan aku ikut-ikut bisnis lagi," ucap Maya saat Riri bertanya alasannya memilih menjadi ibu rumah tangga saja.
"Kalau nanti kita join gimana?" tanya Riri.
"Boleh Bu. Tapi saya tidak punya keahlian apa-apa," jawab Maya.
"Jangan panggil ibu. Panggil Riri saja," ucap Riri.
__ADS_1
"Aduh saya kok tidak enak ya Bu. Kan Ibu adalah istri dari atasan suami saya," ucap Maya.
"Ayolah Kak, aku tidak mau seperti itu. Aku mau jadi Riri saja. Riri teman sekaligus adiknya Kak Maya. Aku di sini butuh banyak teman dan relasi. Kebetulan rencananya aku mau buka butik," jawab Riri.
"Wah, hebat ya. Rian ternyata tidak salah pilih istri. Selain cantik kamu ini pinter cari uang," ucap Sindi.
"Bukannya begitu Kak. Tapi aku kan sebenarnya suka dunia fashion. Kebetulan aku juga pernah kuliah di jurusan itu. Ilmuku sempat tidak pernah dilirik karena sibuk dengan perusahaan mendiang orang tua angkatku. Tapi sekarang aku mau mencoba memanfaatkan ilmuku," ucap Riri.
Ya, Riri memang sempat mengabaikan hobi dan kemampuannya di bidang fashion. Ia terlalu disibukkan dengan kantor yang Mr. Aric berikan untuknya. Namun saat ia memutuskan untuk menikah dengan Rian, ia memilih orang yang tepat untuk menghandle semua pekerjaannya.
Sebagai seorang istri, Riri ingin pernikahannya berjalan normal. Ia ingin menjadi istri dan mungkin nanti menjadi seorang ibu untuk anaknya. Sosok yang selalu ada di samping orang yang dicintainya.
Sebenarnya perusahaannya di Jerman tidak sepenuhnya di lepas. Ia masih memantau pekerjaan dari email yang setiap hari masuk. Walaupun ia tidak bisa bergerak langsung di sana. Tapi ia rasa sudah ada orang yang tepat yang bisa menggantikannya di sana.
Mia pun bangga dengan keputusan Riri yang satu ini. Ia tidak menyangka jika Riri akan mengambil keputusan besar itu. Benar-benar menjadikan Rian sebagai orang yang perlu dihormati.
Lagi-lagi Mia merasa Rian terlalu beruntung terlahir ke dunia ini. Kadang ia merasa cemburu dengan Rian yang bisa dekat dengan ayah kandung dan mertuanya. Tuan Felix dan Tuan Wira selalu saja membanggakan Rian saat membicarakan banyak hal. Dari mulai kemampuan akademis hingga urusan bisnisnya.
"Pagi," sapa Rian saat melewati wanita-wanita yang sedang berkumpul membahas banyak hal.
"Aduh, pengantin baru jam segini baru bangun. Begadang ya?" ucap Sindi sambil menahan senyumnya.
"Mumpung libur Kak. Jadi bebas bangun siang. Oh iya mana Kak Danu dan yang lain?" tanya Rian.
"Mumpung libur atau mumpung libur?" goda Mia.
Wajah Rian terlihat memerah. Ia segera pamit untuk bergabung dengan Dion dan yang lain. Berlama-lama di sana hanya akan membuatnya tersudutkan. Apalagi saat ingat kejadian semalam, Rian jadi malu sendiri saat bertemu dengan Riri.
Saat bergabung dengan yang lain, Rian fokus. Karena kebetulan mereka membahas tentang perusahaannya. Setiap informasi yang ia terima membuat Rian mengangguk-anggukkan kepalanya. Sampai akhirnya ia teringat kejadian malam tadi.
Keras dan datar. Tidak ada lekukan seperti yang ia bayangkan. Ia merasa konyol karena harus mengintip apa yang masih disembunyikan oleh Riri. Tiba-tiba bibirnya tersenyum tipis saat bayangan itu memutar ulang dengan jelas di kepalanya.
"Hey, fokus." Dion menyikut Rian.
__ADS_1
Lamunan Rian seketika buyar. Ia segera mengembalikan fokusnya agar bisa kembali mengikuti bahasan tentang pekerjaan. Cukup sulit namun akhirnya Rian bisa kembali mengikuti bahasan Tuan Felix tentang rencana dan strategi yang akan digunakan dalam perusahaan Rian.