
Jam kerja sudah selesai. Rian segera bersiap untuk pulang. Sementara Tuan Felix masih fokus dengan layar laptopnya.
"Papa masih sibuk? Ada masalah di kantor?" tanya Rian.
"Ah tidak. Hanya saja Papa merasa janggal dengan laporan yang dikirim hari ini," jawab Tuan Felix tanpa bergeming dari laptopnya.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Rian.
"Tidak perlu. Papa bisa menyelesaikan semua ini. Kamu tenang saja," jawab Tuan Felix.
"Papa serius? Sini biar aku bantu," ucap Rian.
"Coba tolong di cek laporan yang ini," ucap Tua Felix menunjukkan laporan di laptopnya.
"Iya Pah," ucap Rian.
Rian mulai mengamati laporan itu. Dahinya sudah mulai berkerut saat angka demi angka mulai janggal di matanya. Sampai akhirnya Rian menemukan kekeliruan yang dimaksud oleh Tuan Felix.
"Yang ini sepertinya tidak sesuai Pah," ucap Rian sambil menunjukan angka yang dimaksud.
"Coba Papa lihat," ucap Tuan Felix.
Tuan Felix mengambil laptop itu dan melihat kekeliruan yang Rian temukan. Dan benar saja, ada ketidaksesuaian antara laporan dengan data. Ia sampai menggelengkan kepalanya.
"Sebanyak ini," ucap Tuan Felix sambil mengepalkan tangannya.
"Papa minum dulu nih," ucap Rian sambil memberikan segelas air mineral saat tahu jika Tuan Felix sedang menahan emosi.
Tujuan Rian untuk pulang cepat ternyata gagal karena harus menemani Tuan Felix agar lebih tenang. Di sela-sela menenangkan Tuan Felix, Rian mengirim pesan pada Riri. Mengabarkan keterlambatannya untuk pulang.
Rian kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia tidak tahu jika Riri akan membalas pesannya lebih cepat. Saat ini yang harus ia lakukan adalah menenangkan Tuan Felix. Masalah yang dihadapi Tuan Felix lumayan besar. Wajar jika Tuan Felix butuh waktu untuk bisa menenangkan dirinya.
"Ayo pulang!" ajak Tuan Felix.
"Papa sudah lebih tenang?" tanya Rian memastikan.
"Papa baik-baik saja. Maafkan Papa ya karena Papa, kamu jadi pulang terlambat. Mpus pasti sudah menunggumu di rumah," ucap Tuan Felix.
"Tidak masalah Pah. Aku sudah mengabari Mpus. Papa jangan khawatir," ucap Rian.
"Ayo pulang!" ajak Tuan Felix.
Rian mengikuti Tuan Felix. Dari belakang, Rian melihat kalau Tuan Felix benar-benar sedang menyimpan beban. Jalannya saja tidak setegap biasanya. Apalagi saat Rian menatap wajah ayahnya, jelas terlihat wajah murungnya. Ingin sekali rasanya Rian menjelaskan bahwa Tuan Felix tidak perlu mempermasalahkan perusahaannya lagi.
"Mungkin ini jalannya agar Papa bisa tinggal bersama kami di sini," ucap Rian.
__ADS_1
"Bicara apa kamu, Ri?" tanya Tuan Felix datar.
Sebenarnya Tuan Felix paham maksud Rian seperti apa. Namun ia tidak mungkin meninggalkan Jerman secepat itu. Masih banyak PR yang harus ia selesaikan di sana.
"Papa tidak mau kalau kita berkumpul di sini? Mpus saja sudah di sini," ucap Rian.
Tuan Felix menatap wajah Rian. Anak yang ia kenal masih menggunakan seragam putih biru itu kini sudah tumbuh jadi pria dewasa. Tampan dan sangat gagah. Bahkan kini Rian sudah menjadi seorang pemimpin perusahaan.
Ajakan Rian memang sangat menyenangkan hatinya. Tapi ia tidak bisa jika harus meninggalkan Jerman begitu saja. Ia memang sudah mempunyai rencana untuk tinggal di Indonesia. Menghabiskan sisa usianya di Indonesia. Negara dimana semua orang yang ia cintai tinggal. Namun untuk meninggalkan negara tempat ia tumbuh dan dibesarkan itu bukan hal yang mudah.
Terlalu banyak urusan di Jerman. Hal itu membuatnya bimbang saat harus menetap di Indonesia. Kembali, ia butuh waktu untuk berpikir.
"Papa pikirkan nanti," ucap Tuan Felix.
Kalimat itu menjadi pamungkas obrolan mereka saat di perjalanan. Mereka berdua bungkam hingga mobil sudah terparkir di depan rumah Nyonya Helen. Seorang wanita muda dan cantik tengah berdiri di depan teras rumah.
Saat Rian keluar, Riri dengan senyumnya melebarkan tangannya untuk menyambut Rian ke dalam pelukannya.
"Mas, sudah pulang?" tanya Riri dengan wajah yang sangat ceria.
Rian tidak terlalu menyambut sambutan Riri. Ia menjawab singkat dan seperlunya. Wajahnya juga tidak seceria Riri. Beruntung istrinya peka. Padahal Riri sudah tidak sabar untuk menceritakan kejutannya hari ini. Namun ia menahan diri. Ia menunggu waktu yang tepat.
"Papa cape?" tanya Riri setelah mencium tangan Tuan Felix.
Berbeda dengan Rian, Tuan Felix justru berusaha untuk terlihat begitu ceria di hadapan Riri. Ia pun menyanggah anggapan Riri yang berpikir jika ia sedang cape.
Riri bukan orang yang baru mengenal Tuan Felix. Jelas terlihat dari sorot matanya jika pria itu tengah menyembunyikan kelelahan. Namun sayangnya kali ini Riri tidak bisa menebak dan menduga kalau Tuan Felix menyimpan masalah sebesar itu.
"Buatkan teh hangat untuk Papa ya!" ucap Rian saat mereka sudah di kamar.
"Papa kenapa? Sakit ya Mas? Kok tidak seperti biasanya," tanya Riri.
"Nanti setelah mandi aku ceritakan semuanya. Sekarang kamu antarkan teh hangat ke kamar Papa," ucap Rian.
Riri baru menyadari jika memang ada masalah yang terjadi pada Tuan Felix. Sebenarnya ia sudah tidak sabar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi saat ini Rian sedang mandi. Lebih baik ia membuatkan teh hangat untuk Tuan Felix. Mungkin ia bisa mencari tahu masalah itu dari Tuan Felix langsung.
Riri pergi ke dapur untuk membuat teh hangat. Namun baru saja ia masuk ke dapur, ia sudah ditanya oleh juru dapur. Saat tahu alasannya ke dapur ia segera kembali ke kamar. Juru dapur melarangnya. Ia kesal dan mengadu pada Rian.
"Mas," panggil Riri.
"Hemm," jawab Rian dari dalam kamar mandi.
"Aku tidak boleh membuat teh hangat," ucap Riri kesal.
"Apa?" tanya Rian.
__ADS_1
"Aku tidak boleh membuat teh hangat," jawab Riri dengan suara lebih keras.
"Iya, iya." Rian menjawab asal.
"Apa sih Mas Rian. Iya, iya. Tidak nyambung," jawab Riri pelan.
Saat Riri menunggu di kamar, tiba-tiba juru dapur mengetuk pintunya. Riri membuka pintu kamarnya dengan wajah cemberut karena masih merasa kesal.
"Permisi Mba Riri, maaf lama. Ini tehnya sudah saya buatkan," ucap juru dapur
"Terima kasih," jawab Riri ketus.
"Mba, maaf sebelumnya. Saya mohon untuk tidak masuk ke dapur," ucap juru dapur.
"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin membuat teh hangat. Itu saja," ucap Riri.
"Saya bisa membuat apapun yang Mba inginkan. Mba bilang saja," ucap juru dapur.
"Bibi pikir aku tidak bisa membuat teh hangat?" tanya Riri.
"Maaf Mba, sama sekali saya tidak pernah berpikir seperti itu. Hanya saja kalau Nyonya sampai tahu Mba membuat teh hangat sendiri, bisa-bisa saya dipecat. Jadi saya harap Mba memaklumi hal itu," ucap juru dapur.
Juru dapur pun menjelaskan jika Riri adalah orang baru yang sangat disayangi oleh Nyonya Helen. Bahkan sebelum Riri datang pun, Nyonya Helen sudah mewanti-wanti juru dapur itu untuk melayani semua kebutuhan makan Riri.
Kini rasa kesal itu berubah menjadi haru. Ia tidak menyangka jika Nyonya Helen sepeduli itu padanya. Ia begitu beruntung bisa masuk ke dalam keluarga luar biasa hangat. Setelah juru dapur itu pergi, Riri segera membawa teh hangat itu ke kamar Tuan Felix.
"Kamu bilang apa sih tadi sa....," ucapan Rian terhenti saat melihat Riri tidak ada di kamar.
"Pus, Pus," panggil Rian.
Tidak ada jawaban sama sekali. Rian tiba-tiba bergidik. Pikirannya berubah.
"Apa jangan-jangan tadi suara hantu ya? Tadi kan jelas aku dengar suara si Mpus. Tapi kok sekarang tidak ada ya? Kemana dia?" gumam Rian.
Rian mengedarkan matanya ke seluruh sudut kamarnya. Lagi-lagi Rian sama sekali tidak menemukan Riri di sana. Rian mengeringkan rambutnya dengan handuk lalu merapikan diri. Setelah itu ia segera pergi ke luar. Mencari Riri yang menghilang dari kamarnya.
"Ma, lihat Mpus tidak?" tanya Rian.
"Katanya disuruh kamu mengantarkan teh hangat buat Tuan Felix," jawab Nyonya Helen.
"Mama lihat sendiri kalau Mpus benar-benar ke kamar Papa Felix?" tanya Rian.
"Kamu cemburu?" tuduh Nyonya Helen.
"Astaga Ma, ada-ada saja. Mana mungkin aku cemburu," jawab Rian.
__ADS_1
Rian segera menyusul Riri ke kamar Tuan Felix. Pintu kamar yang terbuka lebar membuat Rian menyaksikan jika Tuan Felix sedang menangis di hadapan Riri.