Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Jungkir balik


__ADS_3

Mobil sudah sampai di depan kediaman Riri, namun tidak sepatah katapun yang ia dengar dari mulut Rian.


"Terima kasih ya Mas," ucap Riri dengan lembut.


Begitulah Riri. Ia akan selalu bersikap ramah meskipun Rian sudah sangat menyebalkan. Namun tiba-tiba Rian menarik tangannya. Pintu mobil kembali ditutup oleh Riri.


"Kenapa Mas?" tanya Riri dengan bingung.


Bola mata Rian nampak menatap mata Riri dengan tajam. Tanpa sepatah katapun, Rian tetap memegang tangan Riri dan tak berhenti menatapnya.


"Ada apa Mas?" tanya Riri lagi.


Rian melepaskan tangan Riri dan mengusap wajahnya dengan kasar. Napasnya terdengar berat saat berusaha membuang muka. Riri semakin tidak mengerti dengan sikap Rian.


"Maafkan aku," ucap Rian sambil menunduk.


Rian tidak bisa menguasai perasaannya. Ia tidak bisa memulai pembicaraan dengan Riri.


"Mas, ada apa?" tanya Riri sambil mengangkat wajah Rian.


"Lupakan!" ucap Rian.


"Mas," ucap Riri.


"Kamu masuk saja ke rumah. Istirahat ya!" ucap Rian dengan berusaha melebarkan bibirnya.


"Aku tidak akan turun sebelum Mas cerita. Ada apa Mas?" tanya Riri.


"Aku, aku," Rian menghentikan ucapannya saat dadanya semakin sesak.


"Kamu kenapa Mas?" tanya Riri semakin bingung.


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Rian sambil menunduk.


Rian tidak berani menatap Riri karena merasa malu sendiri dengan pertanyaannya. Apalagi saat Riri tidak menjawab pertanyaannya.


"Ah sudahlah, lupakan saja. Kamu istirahat ya!" ucap Rian.


Rian harus merasa kecewa saat Riri tidak menjawab pertanyaannya. Ia justru segera turun dan masuk ke dalam rumahnya setelah melambaikan tangannya.


"Aaaarrgh," teriak Rian sambil memukul setir.


Perjalanan pulang terburuk yang Rian alami. Namun ia harus terlihat baik-baik saja saat sudah pulang ke rumah. Bagaimanapun, ia tidak ingin jika Tuan Felix harus tahu kekecewaannya.


"Pah," sapa Rian saat sudah sampai ke rumah.


Rian benar-benar terkejut dengan keberadaan Tuan Felix di rumah. Ia tidak menyangka jika ayahnya akan pulang sebelum ia pulang.


"Kamu sudah pulang?" tanya Tuan Felix sambil meletakkan gelas kopi di atas meja.


"Iya Pah. Aku pikir Papa belum pulang," jawab Rian.


"Papa sengaja ingin mengajak kamu makan malam di luar. Jadi Papa bersiap dulu. Kamu bisa, kan?" tanya Tuan Felix.


"Bisa Pah. Tentu bisa. Aku sudah merindukan momen ini," jawab Rian.


Rian berpikir jika ia bisa melupakan rasa kecewanya pada Riri dengan menghabiskan waktu bersama ayahnya. Namun ternyata Tuan Felix justru meminta Rian mengajak Riri untuk ikut ke acaranya.


"Mpus sibuk Pah," bohong Rian.


"Oh ya?" tanya Tuan Felix.

__ADS_1


Terlihat raut kecewa di wajah Tuan Felix. Wajar saja, karena pada kenyataannya, Tuan Felix begitu menyayangi Riri. Ia sudah menganggap Riri sebagai anaknya sendiri.


Maaf ya Pah. Aku terpaksa berbohong. Aku hanya tidak mau kalau acara makan malam kita menjadi berantakan karena sikap kikuk aku dan Mpus.


"Papa boleh minta nomor Mpus?" tanya Tuan Felix.


"Untuk apa? Papa takut aku berbohong?" Rian balik bertanya.


"Tidak. Papa hanya ingin menyapanya saja. Kalau bisa Papa mau sekalian mengatur jadwal agar kita bisa makan bersama," jawab Tuan Felix.


"Lain kali saja. Aku takut Mpus sedang bekerja. Papa tahu sendiri kan kalau Mpus itu bekerja untuk Mr. Aric?" ucap Rian mengingatkan.


"Ya sudah," ucap Tuan Felix.


Tiba-tiba ponsel Rian berdering. Ia mengernyit saat melihat nama Riri terpampang di layar ponselnya.


"Siapa?" tanya Tuan Felix.


"Temanku," jawab Rian.


Tanpa menunggu lama, Rian segera ke kamar dan menjawab panggilan Riri. Dadanya berdebar. Ia tidak percaya jika Riri akan menghubunginya.


"Halo," sapa Rian saat panggilan sudah terhubung.


"Mas, apa aku mengganggumu?" tanya Riri.


"Ti-tidak sama sekali. Ada apa?" tanya Rian gugup.


"Aku hanya ingin tahu apa Mas baik-baik saja?" tanya Riri.


"Tentu. Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa? Kamu mendengar ada berita kecelakaan sore ini?" tanya Rian.


"Tidak Mas. Aku hanya tidak mengerti dengan pertanyaanmu tadi," jawab Riri.


Semua gara-gara kamu, Rey.


"Aku mencintaimu Mas," ucap Riri.


"Hah? Apa?" tanya Rian tidak percaya.


"Ah, sudah. Lupakan saja," jawab Riri.


Rian tengah tersenyum lebar. Ia benar-benar senang mendengar ucapan Riri.


"Aku sudah mendengar jawabanmu," ucap Rian.


"Aku kesal padamu Mas," ucap Riri.


"Kenapa?" tanya Rian.


"Kenapa harus bertanya lagi? Bukankah aku pernah mengatakan hal yang sama?" ucap Riri.


"Jawaban itu bisa berubah. Dan aku hanya memastikan jika kamu masih setia dengan jawabanmu," ucap Rian mencari alasan.


"Aku rasa jawabanku tidak akan berubah kecuali jika Mas sendiri yang menginginkan aku mengubah jawabanku," ucap Riri.


"Aku tidak mau jawaban apapun selain jawaban yang sama. Dan harus selalu sama," ucap Rian.


"Tentu. Jangan khawatir," ucap Riri.


Rian jungkir balik di atas ranjangnya untuk meluapkan rasa bahagia yang sangat luar biasa.

__ADS_1


"Mas, halo. Mas," sapa Riri saat Rian tiba-tiba tidak menjawab ucapannya.


"Eh iya halo," ucap Rian.


"Mas dari mana?" tanya Riri.


"Aku ada. Aku selalu ada untukmu," jawab Rian.


"Ah, gombal." Riri pura-pura tidak peduli padahal pipinya sedang merah merona.


"Aku serius. Oh ya, malam ini aku dan Papa mau makan malam di luar." Rian bingung bagaimana cara mengajak Riri untuk ikut makan malam bersamanya.


"Aku ikut Mas," ucap Riri.


"Hah?" tanya Rian.


"Ikut," jawab Riri.


Rian semakin senang. Ia suka saat Riri tidak banyak basa basi.


"Ayo! nanti aku jemput ya! Asal kamu yakinkan aku kalau Mr. Aric tidak akan mempermasalahkan kepergianmu," ucap Rian.


"Tenang saja. Mr. Aric tidak ada di rumah," ucap Riri.


Setelah panggilan itu berakhir, Rian segera mencari ayahnya. Ia ingin menyampaikan kabar gembira ini.


"Jadi kamu bohong?" tanya Tuan Felix yang sedang berdiri di depan kamarnya.


"Papa nguping ya?" tanya Rian.


"Bukan hanya menguping. Papa juga melihat jelas bagaimana kamu jungkir balik kegirangan," jawab Tuan Felix.


Rian tidak bisa berkutik saat Tuan Felix sudah tahu semuanya. Bukan salah Tuan Felix sepenuhnya, karena ternyata Rian lupa menutup pintu kamarnya. Ia juga tidak menyadari jika sejak tadi ayahnya berdiri melihat tingkah konyolnya.


"Wajahmu semakin tampan jika memerah seperti itu," ejek Tuan Felix sambil menahan tawanya.


Rian mengusap wajahnya.


"Aku biasa saja kok Pah," ucap Rian.


"Mandi dan siap-siap. Karena malam ini akan menjadi malam spesial untukmu. Kamu akan pergi dengan wanita yang kamu cintai dan mencintaimu," goda Tuan Felix.


"Papa," ucap Rian malu.


"Ya sudah Papa kembali ke kamar," ucap Tuan Felix.


Setelah tiba di kamarnya, Tuan Felix duduk di tepi ranjang. Ia kembali membayangkan Rian yang sudah semakin dewasa dan akan menikah dengan wanita terbaik pilihannya.


"Aku tidak boleh egois. Rian berhak bahagia dengan wanita terbaiknya. Cukup aku yang kesepian. Aku tidak akan membuatmu kehilangan wanita yang paling kamu cintai Ri," gumam Tuan Felix.


Pria yang sudah semakin menua itu segera berdiri mendekati lemari bajunya. Memilih baju yang sudah berjajar rapi di lemarinya. sebuah kaos maroon ia pilih dengan celana hitam untuk makan malam kali ini.


Acaranya tidak formal hingga ia tidak memiluh kemeja untuk acara kali ini. Tentu hal ini menjadi candaan sendiri untuk Rian. Kebiasaan Tuan Felix yang selalu nyaman dengan kemeja membuat Rian merasa heran dengan pilihan pakaian ayahnya kali ini.


"Kamu mau jadi anak durhaka?" tanya Tuan Felix.


Rian hanya bisa menahan tawanya. Tapi pada dasarnya ia senang saat melihat Tuan Felix begitu santai.


"Aku suka Pah. Ini keren," ucap Rian.


"Sekali lagi kamu mengejekku, aku tidak akan memaafkanmu." Tuan Felix nampak kesal dengan ejekan Rian untuknya.

__ADS_1


"Iya, iya. Aku diam," ucap Rian.


__ADS_2