Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Kebetulan?


__ADS_3

Bangun tidur Rian segera mengecek ponselnya. Ternyata sudah ada panggilan tidak terjawab dari Tuan Felix. Ia berusaha mencoba menghubungi kembali Tuan Felix namun tidak ada jawaban.


"Papa kemana sih?" tanya Rian sambil mengusap kasar wajahnya.


Karena pesannya tak kunjung dibalas, Rian pergi ke kamar mandi dan bersiap. Ia harus berangkat lebih pagi hari ini. Anggap saja untuk mengganti hari kemarin yang sudah ia lewati begitu saja.


"Naura, hari ini Om berangkat lebih pagi. Kamu ke sekolah sama sopir aja ya!" ucap Rian.


Sengaja mendahului Naura, sebelum anak itu memintanya dengan manja untuk diantar ke sekolah. Ada rasa tidak tega jika harus melihat Naura yang meminta diantar padanya dengan penuh harap.


"Iya," jawab Naura.


Rian mengerutkan dahinya saat melihat ekspresi Naura yang justru terlihat sangat santai dan tidak merengek seperti biasanya. Tiba-tiba kepala Rian terpikir tentang ucapan Narendra. Benarkah Naura sudah punya ketertarikan terhadap lawan jenis? Benarkah pria itu pacar Naura?


"Om kenapa?" tanya Naura yang melihat Rian bengong.


"Tidak. Om tidak apa-apa," jawab Rian sambil melanjutkan sarapannya.


Setelah mendengar jawaban Rian, Naura kembali terlihat santai. Hal itu tentu membuat Rian kembali bertanya tentang sikapnya yang jauh lebih santai. Tidak seperti Naura yang ia kenal sebelumnya.


Rian segera berangkat lebih pagi. Membiarkan kepalanya memikirkan banyak hal tentang Naura yang membuatnya penasaran. Tapi ia berusaha menepis semuanya karena urusan kantor lebih penting baginya saat ini.


"Aku pastikan datang lebih pagi dari Pak Manto pagi ini," gumam Rian.


Di parkiran, Rian mengamati mobil yang berjejer. Tidak ada mobil Manto di sana. Bibirnya senyum merekah. Dengan perasaan penuh bangga, ia melangkah menuju ruangannya.


Baru saja kakinya selangkah masuk ruangannya, tiba-tiba senyumnya hilang. Ternyata Manto sudah duduk tegap di depan layar laptopnya.


"Selamat pagi, Pak." Manto menyapa Rian dengan hormat.


"Bapak sudah ke sini?" tanya Rian.


"Memangnya kenapa?" Manto balik bertanya.


"Tidak apa-apa. Hanya saja saya tidak melihat mobil Bapak di parkiran," jawab Rian.

__ADS_1


"Kebetulan mobil saya sedang di bengkel. Jadi saya naik grab," jawab Manto.


Rian hanya tersenyum sambil menahan rasa kesalnya. Padahal ia sudah senang bisa datang lebih pagi dibanding Manto. Ia bahkan sengaja tidak mengantar Naura dan Narendra karena ingin memecahkan rekor datang lebih pagi.


Tidak apa Rian. Tenang saja. Besok kamu bisa datang lebih pagi dibanding hari ini.


Rian bingung sendiri dengan kekesalannya pagi ini. Entah ia harus marah pada dirinya sendiri atau justru ada Manto yang selalu datang sebelum ka datang ke kantor. Bukan bangga, Rian justru merasa malu sendiri dengan cara kerja Manto yang jauh lebih loyal dibanding dirinya.


Wajar, karena Rian selalu diajarkan Tuan Felix untuk memberi contoh, bukan membuat aturan. Sementara sampai saat ini, tanpa memberi contoh, Manto sudah melakukan apa yang terbaik. Mungkin Rian lebih suka menyebut jika itu hal yang terlalu berlebihan. Manto terlalu gila kerja, begitu pikir Rian.


Dering ponsel Manto membuat Rian melirik sebentar ke arah rekan kerjanya itu, lalu kembali fokus dengan layar laptopnya. Ah mungkin masih fokus dengan pikiran dan perasaan kesalnya. Entahlah, yang pasti saat ini mood Rian sedang sedikit menurun.


"Maaf Pak, Tuan Felix meminta Anda untuk menjawab teleponnya." Manto menyampaikan amanat yang diberikan Tuan Felix saat panggilan itu sudah selesai.


"Papa meneleponku?" tanya Rian dengan bingung.


Tentu bingung, karena Rian tidak mendengar dering ponselnya sama sekali.


"Tuan Felix menyampaikan itu pada saya, Pak." Manto menjawab dengan penuh hormat.


"Pak," sapa Manto lagi.


Rian segera tersadar dan mencari ponselnya. Ia merogoh saku celananya. Tidak ada. Ia juga membuka tumpukan berkas di mejanya. Tidak ada. Ia mulai mencari ke laci pun masih tidak ada.


"Bapak mencari apa?" tanya Manto saat Rian sibuk mengacak mejanya.


"Ponsel saya dimana ya, Pak?" Rian balik bertanya.


Manto hanya menatap Rian dengan tatapan tidak biasa. Mungkin Rian mengartikan jika Manto mengejeknya dan menyebutnya ceroboh. Andai saja ucapan itu keluar dari mulut Manto, tentu akan meruntuhkan penilaiannya terhadap rekan kerjanya itu.


Seperti tanpa cacat, Manto ternyata tidak mengucapkan apa yang ada di benak Rian. Manto justru menawarkan diri untuk menghubungi nomor Rian, untuk memastikan jika ponsel itu ada di ruangan.


"Tidak terdengar dering ponsel, Pak. Mungkin ponselnya ketinggalan di mobil? Jika masih tidak ada, mungkin Bapak meninggalkan ponselnya di rumah. Mau saya hubungi orang di rumah, Pak?" ucap Manto memberi saran.


"Ah, sebentar. Saya akan cari ponsel saya di mobil. Kalau tidak ada, biar saya yang hubungi orang rumah. Sebentar ya Pak!" ucap Rian.

__ADS_1


"Biar saya yang cari ponselnya di mobil, Pak." Manto berdiri siap mencari ponsel Rian.


Penolakan Rian berikan. Menurutnya itu terlalu berlebihan. Akhirnya Manto duduk kembali dan melanjutkan pekerjaannya seperti yang Rian sarankan.


Benar dugaan Manto, ponselnya memang ada di dalam mobilnya. Ia terkejut saat melihat empat panggilan tidak terjawab dari Tuan Felix. Sebelum menelepon Tuan Felix, Rian mengabari Manto tentang ponselnya yang sudah ditemukan. Ia juga izin untuk telat kembali ke ruangannya karena akan menelepon ayahnya dulu.


Rian tidak ingin hanya Manto yang bersikap hormat dan sangat menghargainya. Sebaliknya, ia juga akan selalu mengabari dan menghargai Manto. Meskipun statusnya adalah atasan, namun ia tidak lebih tua dari Manto. Setidaknya Rian menghargai Manto karena usianya yang jauh diatasnya. Ia tidak ingin kalah baik dari Manto.


Rian terkejut saat menghubungi Tuan Felix. Pria berdarah jerman itu tiba-tiba meminta Rian mencari orang baru yang bisa diajak kerja sama. Seperti mendapat hadiah ulang tahun, Rian berlompat senang saat panggilan itu sudah berakhir. Sampai security pun melihat Rian dengan wajah bingung.


"Saya sedang dapat hadiah lotre," ucap Rian saat menyadari tatapan aneh dari securitynya.


Security itu hanya menunduk hormat dan meminta maaf atas sikapnya yang tidak sopan. Rian segera kembali ke ruangannya setelah urusannya sudah selesai.


"Pak Manto, akhirnya apa yang kita bicarakan kemarin sudah mendapat persetujuan dari Papa," ucap Rian.


"Maaf yang mana, Pak?" tanya Manto.


"Tentang orang yang akan aku ajak gabung di perusahaan ini," jawab Rian dengan senyum ceria.


"Oh yang itu. Baguslah Pak," ucap Manto.


"Pak Manto jangan tersinggung ya! Aku tidak mengadu macam-macam kok soal Bapak. Papa minta orang baru karena akan menambah ranah perusahaan kita. Jadi Papa bilang supaya kita tidak keteteran," ucap Rian.


"Ranah baru?" tanya Manto.


Rian pun menjelaskan jika Tuan Felix akan memperlebar sayap usahanya, hingga perlu tambahan pegawai. Ia menjelaskan sekali lagi, ini tidak ada hubungannya dengan kinerja Manto yang menurutnya sudah sangat baik. Bahkan Rian meyakinkan bahwa ia belum pernah menceritakan tentang rencananya sama sekali pada Tuan Felix.


"Tidak perlu berlebihan seperti itu, Pak. Saya tidak apa-apa kok. Saya justru senang saat tahu kalau perusahaan ini akan dibuat semakin maju," ucap Manto selesai mendengarkan penjelasan Rian yang begitu khawatir jika ia akan tersinggung.


"Terima kasih atas pengertiannya, Pak. Ini benar-benar kebetulan," ucap Rian.


Kebetulan? Mungkin iya bagi Rian. Tapi tanpa Rian tahu, Manto adalah dalang dibalik semua ini. Manto sudah menjelaskan pada Tuan Felix tentang apa yang sudah Rian ceritakan padanya. Manto memang tidak tahu siapa dan apa alasan Rian dengan rencananya.


Tuan Felix yang menerima informasi dari Manto, tidak tinggal diam. Ia mencari informasi pada Mia. Setelah tahu orang yang dimaksud adalah Danu, ia berbicara dengan Dion. Ia menjelaskan semua hanya karena Sindi. Bagaimanapun Sindi adalah orang yang berjasa padanya.

__ADS_1


Masih sangat jelas di ingatan Tuan Felix bagaimana Sindi merawatnya saat ia kecelakaan dulu. Hal itu membuatnya selalu merasa berhutang pada Sindi. Untuk memberinya uang secara cuma-cuma, tentu tidak akan mungkin. Sindi jelas-jelas akan menolak pemberian Tuan Felix. Mungkin ini adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan sebagai cara untuk balas budi.


__ADS_2