
Sejak Riri kembali menghubunginya, Rian tidak pernah sekalipun menyinggung hari pernikahan atau bertanya kepulangan Riri. Ia masih menikmati kebahagiaan yang tengah ia rasakan. Sampai suatu saat, Riri yang justru merasa aneh dengan sikap Rian.
"Kamu serius tidak sih sama aku?" tanya Riri saat mereka sedang menelepon.
"Kalau main-main, mana mungkin dua tahun aku sesabar ini. Iya kan?" ucap Rian.
Riri diam. Memang benar Rian sudah membuktikan perjuangannya selama dua tahun. Tapi ia sendiri tidak tahu kenapa Rian tidak pernah bertanya tentang masa depannya.
"Terus kenapa kamu berubah?" tanya Riri.
"Apanya yang berubah? Aku bukan superman," Rian balik bertanya sambil mencoba mencairkan suasana.
"Tahu ah," jawab Riri kesal.
Alih-alih membuat Riri tertawa, ternyata semua tidak sesuai dengan harapan. Tidak lama panggilannya justru sudah berakhir begitu saja. Rian mengerutkan dahinya lalu menggelengkan kepalanya.
Kamu kenapa sih?
Rian menekan kembali nomor Riri untuk menyelesikan masalah yang tidak ia mengerti. Namun belum sempat menelepon, ponselnya berdering. Proyek baru sudah menanti.
Kebahagiaan Rian atas proyek yang tidak diduga itu membuatnya lupa bahwa ada masalah yang harus diselesaikan dengan Riri. Ia justru memilih menghubungi Manto dan Danu untuk bersiap menyambut proyek barunya.
Setelah jam kerja usai, Rian dengan polosnya mengabari Riri tentang kebahagiaannya atas proyek barunya. Padahal saat ini Rian sedang memegang proyek besar yang belum selesai. Ia yang tengah berbahagia, mencurahkan semua perasaannya pada Riri melalui sebuah pesan panjang.
Lama Riri tidak membalas, tidak membuat Rian berpikir macam-macam. Sampai akhirnya Rian disadarkan dengan balasan Riri yang hanya dua huruf saja.
'Oh,'
Sebuah pesan yang Rian terima dan langsung membuatnya menepuk jidat.
"Astaga, aku lupa kalau Mpus tadi marah. Makin marah sih ini," ucap Rian.
Dengan cepat Rian kembali menghubungi Riri. butuh dua kali panggilan sampai Riri menjawab panggilannya. Walaupun di awal Riri terdengar begitu dingin saat menjawab setiap pertanyaan Rian. Namun akhirnya Rian mulai mendengar suara Riri berubah lebih tenang.
"Doakan aku ya biar semua proyek berjalan lancar. Doakan juga biar semakin banyak proyek yang bisa aku kerjakan," ucap Rian.
"Aku pasti selalu mendoakan kamu, Mas." ucap Riri.
"Doakan juga biar tabunganku cepat banyak. Jadi cita-citanya segera terwujud," ucap Rian.
"Memangnya Mas punya cita-cita apa lagi? Bukannya jadi pengusaha sukses itu sudah lebih dari cukup?" tanya Riri.
"Ada yang kurang," jawab Rian.
"Apa?" tanya Riri.
"Pendamping," jawab Rian.
Seketika suasana menjadi sangat sunyi. Baik Rian atau Riri tidak ada yang bicara apapun. Sepertinya keduanya jadi salah tingkah. Rian tidak tahu jika saat ini wajah Riri sedang memerah. Tiba-tiba Riri begitu percaya diri jika pendamping yang dimaksud adalah dirinya.
"Pus, halo." Rian mencoba membuka obrolan kembali.
"I-iya halo," ucap Riri gugup.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Rian.
"Iya Mas. Aku baik-baik saja kok," jawab Riri.
Semakin lama, keduanya semakin kikuk. Rian memutuskan untuk menyudahi panggilannya. Ia melanjutkan obrolan itu melalui sebuah pesan. Menurutnya, itu lebih baik dari pada ia gugup tidak menentu dengan apa yang mereka bahas.
Melalui sebuah pesan tulis, Rian bisa lebih mengekspresikan apa yang ingin ia sampaikan. Tidak seperti bicara langsung yang penuh keraguan, sebuah pesan yang ia tulis akan ia baca dan revisi berulang kali sebelum mengirimkannya pada Riri.
Rian mulai memberanikan diri untuk melanjutkan cita-citanya agar bisa menikah muda. Meskipun sudah lewat dari target, namun paling tidak Rian belum terlalu tua untuk menjadi seorang jomblo.
Tidak disangka, ternyata Riri menyambut apa yang Rian bahas. Sudah cukup penantian dan kesabaran Riri selama ini. Berpura-pura bersikap acuh pada pria yang sangat ia cintai benar-benar sudah sangat menyiksanya. Riri ingin mengakhiri semua penderitaan batin yang ia alami selama ini.
"Aku ingin konsep pernikahan kita seperti yang sudah kita bahas saat itu," ucap Riri.
Rian merasa dadanya berdebar dengan cepat. Ia tidak menyangka jika Riri masih mengingat semua impian pernikahan yang sudah dibahas saat itu.
"Apa kamu serius?" tanya Rian.
"Memangnya Mas Rian tidak serius?" Riri balik bertanya.
"Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya tidak menyangka jika kamu masih menyimpan impian kita," jawab Rian.
Sepanjang penantiannya, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi Rian. Ia kembali merasa semuanya baik-baik saja. Bahkan Rian sampai lupa bahwa sempat melewati waktu yang tidak menyenangkan.
Baru lima menit Riri mengakhiri panggilannya, tiba-tiba ia kembali menelepon Rian. Rian hanya mengolok-oloknya dengan tawa riang.
"Kamu masih kangen ya sama aku?" goda Rian.
"Astaga, aku sampai lupa mau ke rumah Hiro lagi," ucap Rian.
"Lagi?" tanya Rian.
"Jangan berpikir macam-macam Pus. Tadi aku melihat berita tentang Maudi, lalu aku memastikan kalau berita itu benar atau tidak. Aku berniat masuk tapi di sana ada keluarga Shelin," jawab Rian.
"Memangnya kalau ada keluarga Shelin kenapa?" tanya Riri.
"Tidak apa-apa. Tapi mungkin nanti aku bisa ke sana lagi," jawab Rian.
Riri senang saat tahu kalau Rian menghindari kesempatan untuk bisa bersama Shelin. Ia juga menyadari jika Rian memang sudah tidak ada ikatan apapun dengan Shelin. Kadang ia juga merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi antara Rian dengan Shelin. Secara tidak langsung, Riri adalah orang yang menjadi penyebab kegagalan pertunangan itu.
Namun di sisi lain, Riri juga masih menyimpan rasa cemburu yang begitu besar. Ia yakin Shelin wanita baik sehingga Rian memutuskan untuk melamar Shelin. Riri takut jika suatu saat nanti Shelin akan kembali mencuri perhatian Rian karena kebaikannya.
"Ya sudah sampaikan salamku pada Hiro ya Mas," ucap Riri.
"Iya. Nanti aku sampaikan," ucap Rian.
Setelah jam kerja usai, Rian tidak langsung pulang. Ia pergi ke rumah Hiro. Rumah itu masih ramai. Terlihat beberapa orang bergantian melayat ke rumah Hiro.
Saat Rian masuk, ia melihat Hiro sedang duduk sudut ruangan dengan memeluk foto Maudi. Hiro terlihat begitu terpukul dengan kepergian Maudi. Jelas terlihat jika Hiro sangat menyayangi kakak kandungnya itu.
"Hiro," panggil Rian.
"Eh, Ri. Silahkn duduk," ucap Hiro.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Rian sambil duduk di samping Hiro.
Rian mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Maudi. Ia juga mencari tahu penyebab kepergian Maudi, pasalnya Maudi tidak terdengar sakit akhir-akhir ini. Rian cukup tercengang saat tahu jika Maudi meninggal karena overdosis.
"Aku tahu Kak Maudi begitu buruk di matamu. Tapi aku minta maafkan semua kesalahan Kakakku," ucap Hiro dengan suara bergetar.
"Jangan begitu. Aku sudah memaafkan Maudi. Aku juga minta maaf karena baru ke sini sekarang," ucap Rian.
"Aku tahu kamu orang yang baik. Kamu langsung ke sini saat mendapat kabar itu. Padahal hubungan kalian bisa dibilang tidak baik-baik saja. Terima kasih sudah ke sini tadi pagi," ucap Hiro.
Rian menatap Hiro dengan perasaan bingung. Ia tidak menyangka jika Hiro tahu kedatangannya pagi tadi. Ia lupa jika di sekitar rumah Hiro ada cctv dan beberapa orang yang mungkin mengenalnya. Sudah pasti berita kedatangannya akan sampai ke telinga Hiro.
"Ma-maaf tadi aku tidak masuk. Masih banyak orang," ucap Rian gugup.
"Syukurlah jika itu alasannya. Aku takut kalau kamu tidak jadi ke sana karena ada Shelin di sini," ucap Hiro.
Rian jadi kikuk saat tuduhan Hiro begitu mengena. Ia berusaha mengalihkan bahasan tentang Shelin, namun Hiro terus membahasnya.
"Aku harap kamu dan Shelin tetap baik-baik saja. Dia sudah memaafkanmu," ucap Hiro.
"Terima kasih sudah membantuku untuk tidak terlalu busuk di mata Shelin dan keluarganya. Aku berhutang banyak hal padamu," ucap Rian.
"Jangan begitu. Aku tidak merasa melakukan apapun padamu. Justru seharusnya aku minta maaf karena sudah membuat semua ini jadi kacau," ucap Hiro.
"Tidak, tidak. Kamu harus tahu kalau aku bersyukur karena kamu hadir dan mengubah semuanya sebelum terlambat. Akhirnya aku dan Riri bisa bersama lagi. Bagaimana hubunganmu dengan Shelin?" tanya Rian.
"Syukurlah kalau begitu. Aku dan Shelin juga baik-baik saja," jawab Hiro.
"Apa tidak ada niat untuk serius dalam waktu dekat ini?" tanya Rian.
"Kamu ini ngomong apa sih? Aku sama Shelin hanya berteman kok. Apa yang harus diseriusin?" ucap Hiro sambil tertawa pelan.
"Serius hanya berteman?" tanya Rian.
"Memangnya kamu mau apa? Pacaran? Mana mau dia sama aku?" ucap Hiro sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Aku lihat Shelin menyukaimu. Sepertinya kamu sudah berhasil jadi dokter cintanya Shelin," ucap Rian.
Hiro tersenyum miris mendengar ucapan Rian. Kebersamaannya dengan Shelin, membuat benih cinta tumbuh dengan cepat. Namun sayangnya Hiro harus memendam dan menahan rasa itu agar tidak ada yang menyadarinya.
"Dari kamu ke aku itu ibarat terjun bebas. Bedanya terlalu jauh. Mana masuk aku sama kriterianya dia," ucap Hiro.
"Jangan pesimis begitu. Kamu adalah sosok yang Shelin butuhkan. Aku yakin kamu bisa menjadi orang yang bisa melengkapi kehidupan Shelin. Laki-laki itu harus berjuang," ucap Rian.
"Selain itu harus ber-uang juga kan? Lalu aku? Apa yang aku punya? Bahkan sekarang usaha Papa sudah mulai oleng. Apalagi setelah penyebab kepergian Kak Maudi tersebar. Bagaimanapun semua akan mempengaruhi bisnis Papa," ucap Hiro.
"Jadi kamu bepikir Shelin adalah wanita yang matre?" tuduh Rian.
"Sama sekali tidak. Tapi ini realistis. Shelin harus mendapatkan pendamping yang setidaknya selevel denganmu. Mau tidak mau, pasangan Shelin nanti akan dibanding-bandingkan dengan kamu," ucap Hiro.
"Mau sampai kapan mendengarkan omongan orang? Capek sendiri," ucap Rian.
Hiro memang jarang sekali menggubris omongan orang. Tapi kalau sudah urusan Shelin, ia tidak mau mengorbankan Shelin hanya untuk bahan bullyan orang. Sudah cukup penderitaan Shelin saat ia memutuskan untuk menyudahi pertunangannya dengan Rian. Ia tidak mau mengulang peristiwa yang membuat Shelin trauma.
__ADS_1