
Mobil sudah terparkir di depan rumah. Rian melihat Riri tertidur dengan kepala bersandar di pundaknya. Saat Bu Risa akan membangunkan Riri, Rian melarangnya. Rian mengisyaratkan agar Bu Risa tidak berisik. Ia meminta Bu Risa masuk dan membawa Raazi ke dalam rumah.
"Emmm," Riri merasa tubuhnya terguncang.
Pelan, Riri membuka matanya. Samar-samar ia melihat wajah Rian sangat dekat dengannya. Semakin lama, ia menyadari jika Rian tengah menggendongnya.
"Mas, lepaskan!" pinta Riri.
"Hussst! Lanjutkan saja tidurmu," ucap Rian.
"Mas, aku sudah bangun. Aku bisa jalan sendiri," ucap Riri.
Riri terus memberontak hingga akhirnya Rian menurunkan Riri dari gendongannya. Tubuh Riti yang lebih berisi dari sebelumnya membuat Rian tidak bisa menahan tenaga Riri.
"Aku romantis, kan?" tanya Rian sambil menggandeng Riri.
"Romantis. Tapi jangan diulangi lagi ya!" ucap Riri.
"Loh, kenapa?" tanya Rian terkejut.
"Malu," jawab Riri.
"Malu?" tanya Rian sambil mengerutkan dahinya.
Riri mengangguk dan menatap Rian sambil tersenyum canggung.
"Sama suami sendiri kok malu? Malu itu kalau kamu begitu sama suami orang," ucap Rian ketus.
Riri tahu Rian sedang marah padanya. Suaminya sedang protes karena ditolak untuk bersikap romantis. Sebenarnya Riri senang, tapi di sana ada ibunya. Ia malu saat ibunya melihat keromantisan mereka. Karena menurut Riri, keromantisan itu cukup dinikmati oleh dirinya saja. Tidak perlu diumbar di hadapan semua orang.
Ternyata hal itu berbeda dengan pemikiran Rian. Bagi Rian, menunjukkan keromantisan mereka di depan orang lain itu juga perlu. Bukan hanya untuk menunjukkan mereka baik-baik saja. Rian hanya ingin membatasi siapapun yang masuk ke dalam rumah tangganya.
"Mas, tunggu!" Riri mengejar Rian yang berjalan lebih cepat darinya.
__ADS_1
Riri memang sedang lelah. Namun ia punya tugas penting. Apalagi kalau bukan meredakan amarah Rian. Ia tidak mau kemarahan Rian berlarut-larut. Harus segera diselesaikan sebelum menjadi semakin besar.
Riri segera memeluk Rian dengan penuh kasih sayang. Melepaskan semua keegoisannya dan mencoba menjadi seperti yang Rian inginkan. Berkali-kali Riri meminta maaf jika Rian salah paham.
"Aku sangat mencintaimu, Mas. Terima kasih sudah menjadi suami dan ayah terbaik," ucap Riri.
Rian membalas pelukan Riri dengan penuh kasih. Ia membelai rambut Riri yang tercium sangat wangi. Ia juga mengusap halus wajah Riri yang sangat cantik meski tanpa polesan make up.
Akhirnya Riri bisa bernapas lega saat melihat Rian sudah tidak marah lagi. Tugas Riri sudah selesai untuk saat ini. Saat melihat Raazi tertidur, Riri segera mandi dan melanjutkan tidurnya. Ia harus memanfaatkan waktu untuk beristirahat, apalagi saat ini tubuhnya sangat lelah. Perjalanan panjang membuatnya merasa pegal di sekujur tubuh.
"Mau aku pijat?" tanya Rian sambil memijat pelan bahu Riri.
"Tidak usah Mas. Harusnya aku yang memijat Mas," tolak Riri.
"Kamu pasti lelah. Biar aku memijatmu," ucap Rian tanpa menghentikan pijatannya.
"Memangnya Mas tidak lelah?" tanya Riri.
"Aku sudah terbiasa dengan perjalanan seperti ini," jawab Rian.
Rian tersenyum saat melihat Riri ketiduran karena pijatannya. Ia menatap lekat wajah cantik istrinya. Tidak pernah bosan sama sekali. Bahkan wajah cantik Riri selalu membuatnya rindu saat berada di luar rumah.
"Kamu cantik kalau begini," ucap Rian sambil tertawa kecil.
Tangannya sudah mulai jahil. Rian mengambil foto Riri yang sedang tertidur. Ia menggunakan foto itu menjadi wallpaper di ponselnya. Sebelum tidur, beberapa kali ia tertawa saat memainkan ponselnya.
"Apa sih Mas?" tanya Riri saat ia terbangun mendengar tawa suaminya.
"Tidak, tidak. Ayo tidur lagi," jawab Rian sambil memeluk Riri.
Rian tidak mau kalau Riri tahu apa yang sudah ia lakukan. Ini akan menjadi rahasia sampai Riri tahu sendiri dan menghapus sendiri foto itu. Rian yang belum mengantuk, tiba-tiba tertidur saat memeluk istrinya. Rasa nyaman saat berada di samping Riri membuatnya tidur pulas. Bahkan Rian tidak tahu kalau Riri bangun dan menyusui Raazi malan itu.
"Pagiii," sapa Riri sambil membuka gorden kamarnya.
__ADS_1
Rian menghalangi wajahnya dengan telapak tangan. Berusaha menghindar dari cahaya yang masuk mengganggu tidur nyenyaknya. Perlaha. matanya terbuka. Bukan hanya karena cahaya mentari saja, tapi juga karena aroma kopi yang menusuk ke dalam hidungnya.
"Bangun Mas, sudah siang. Nanti tidur lagi," ucap Riri sambil mendudukkan Raazi di samping Rian.
Gerakan aktif dari tangan Raazi membuat Rian benar-benar terbangun. Ia tidak bisa menyia-nyiakan waktu yang sangat indah bersama anaknya.
"Sayangnya Papa sudah bangun?" ucap Rian sambil mengelus pipi Raazi.
"Sudah dong Pah. Raazi sudah mandi dan sarapan. Sebentar lagi pasti bobo ronde kedua," ucap Riri.
Bobo ronde kedua? Jam berapa ini? Biasanya Rian tidak melihat Raazi sudah serapi ini sebelum berangkat ke kantor. Rian selalu berangkat sebelum anaknya bangun.
"Memangnya ini jam berapa?" tanya Rian sanbik mengerutkan dahinya.
"Tuh, jam sembilan." Riri menunjuk jam dinding di kamarnya.
Rian membuka matanya lebar-lebar. Ia tidak menyangka jika ini sudah jam sembilan siang. Pikirannya langsung tertuju pada kantornya. Saat Rian turun dari ranjang karena akan mandi, Riri menariknya.
"Mas santai saja. Jangan buru-buru seperti itu," ucap Riri.
"Ini sudah jam sembilan, Pus. Aku sudah sangat terlambat hari ini. Aku pikir jam itu sudah kacau. Ternyata pikiranku yang kacau," gerutu Rian.
"Mas istirahat saja di rumah. Aku sudah menelepon Kak Danu. Katanya hari ini juga tidak ada agenda yang urgent. Jadi Mas bisa kerja di rumah," ucap Riri.
Rian menatap Riri dengan tatapan kagum. Bagaimana bisa Riri dengan begitu sigapnya mengatur kegiatan di kantor hingga hari ini ia bisa melnjutkan tidurnya. Tapi nanti, setelah ia puas bermain dengan Raazi.
"Sarapan dulu Mas," ucap Riri.
Riri sengaja meminta asisten rumah tangga di rumah itu untuk memasak makanan kesukaan suaminya. Dan ia segera mengantarnya ke kamar. Riri memastikan jika suaminya sudah sarapan.
Perhatian-perhatian seperti itu yang membuat Rian sangat tergila-gila pada Riri. Wanita yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap kali menatap wajahnya. Bukan hanya cantik, Riri juga pintar dan sangat tahu bagaimana menyenangkan seorang suami.
"Ah, aku semakin jatuh cinta." Rian memeluk Riri penuh dengan kasih sayang.
__ADS_1
Rian yang belum mandi merasa minder. Ia segera ke kamar mandi dan berniat melanjutkan pelukan susulan. Berharap jika pelukan itu bisa bertambah ke arah yang sesuai dengan harapannya.