Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Diantar Opa ke sekolah


__ADS_3

Seharian ini Rian dan Tuan Felix sibuk merencanakan proyek unggulan di perusahaannya. Manto dan Danu menyimak dengan baik apa yang disampaikan Tuan Felix. Karena nanti proyek-proyek itu akan menjadi tanggung jawab mereka juga.


Tuan Felix melirik pergelangan tangannya. Sudah waktunya pulang, ia mengajak semuanya untuk pergi ke rumah makan sederhana yang didirikan Sindi.


"Sayang, kamu harus lihat siapa tamu spesiap kita hari ini." Danu menarik tangan Sindi.


"Siapa, Mas?" tanya Sindi.


"Selamat sore," sapa Tuan Felix.


"Papa," ucap Sindi sambil menutup mulutnya.


"Kamu siapa?" tanya Tuan Felix.


Sindi merengut. Ia tahu kalau ada perubahan pada dirinya. Kini badannya lebih berisi. Mungkin karena pengaruh KB yang digunakannya.


"Papa bangga sama kamu," ucap Tuan Felix sambil merangkul bahu Sindi.


"Aku pikir Papa benar-benar tidak mengenaliku," ucap Sindi.


"Mana mungkin Papa bisa tidak mengenalimu? Seberapa banyak pun perubahan kamu, Papa pasti akan dengan sangat mudah mengenalimu. Kecuali kalau kamu operasi plastik," ucap Tuan Felix.


"Papa ini ada-ada saja," ucap Sindi.


Sindi segera membawa Tuan Felix dan yang lain untuk duduk di meja yang mendadak ia siapkan. Bahkan untuk orang spesial, Sindi khusus masak sendiri. Ia mempersembahkan kemampuannya untuk Tuan Felix dan yang lain.


"Ini enak sekali," ucap Tuan Felix saat mencicipi menu pertama yang ia coba.


"Terima kasih Pah. Itu asli buatanku," ucap Sindi senang.


Masih banyak menu-menu yang lain. Sindi memang sengaja menyiapkan hampir semua menu yang ia jual di sana khusus untuk Tuan Felix.


Hingga semua sajian Tuan Felix cicipi, Sindi hanya bisa tersenyum senang saat melihat jempol itu terangkat beberapa kali.


"Terima kasih banyak Pah," ucap Sindi saat Tuan Felix berkali-kali memujinya.


"Bungkuskan semua menu yang sama untuk Manto," ucap Tuan Felix.


Tidak perlu, Tuan. Terima kasih. Sudah cukup apa yang saya makan saat ini," ucap Manto.


"Sudahlah. Ini rejeki buat anak dan istrimu. Katakan pada mereka kalau inni adalah buatan anakku," ucap Tuan Felix.


"Baik, Tuan." Manto mengangguk hormat meskipun dalam hatinya ia malu dengan sikap Tuan Felix yang berlebihan.


Karena sudah mulai gelap, Tuan Felix meminta Manto untuk pulang lebih dulu. Karena ia masih akan di sana untuk bicara banyak hal dengan Sindi dan Rian.


"Berapa totalnya?" tanya Tuan Felix saat Manto sudah pulang.


"Pah, katanya aku ini anak Papa tapi kenapa makan saja harus bayar. Ini semua gratis untuk Papa," ucap Sindi.

__ADS_1


"Kamu serius?" tanya Tuan Felix.


"Serius dong Pah," jawab Sindi.


"Kamu tidak takut rugi?" tanya Tuan Felix.


"Yang aku tahu kalau kita memberi pada oranv tua kita, tidak akan ada yang rugi. Justru rejekinya semakin berkah," jawab Sindi.


Dering ponsel membuat Sindi pamit untuk menjawab panggilan itu. Tidak lama Sindi datang kembali dengan wajah yang sangat ceria. Ia baru saja mendapat orderan dengan paket lengkap dan jumlah besar.


"Pah, akhirnya Tuhan membuktikan ucapanku tadi. Padahal kalau dihitung, harga makanan yang ada di meja ini tidak seberapa. Tapi semua diganti kontan. Pesanan itu budgetnya nyaris sepuluh kali lipat dari apa yang aku berikan ini Pah," ucap Sindi dengan sangat senang.


"Kamu memang pantas mendapatkan semua ini. Masakannya enak dan semua pelayannya sangat baik. Tempatnya bersih dan harga yang terjangkau juga untuk kelas menengah," ucap Tuan Felix.


"Semoga usahaku semakin maju ya Pah. Doakan aku," ucap Sindi.


Salah satu impian Sindi adalah memiliki cafe mewah di kawasan elit. Tapi karena kesempatan dan modalnya belum memadai, ia mencoba menjajal semuanya dari nol. Dari hal-hal kecil yang selalu Sindi lakukan dengan penuh totalitas.


"Ini buatmu," ucap Tuan Felix mengeluarkan sebuah cek kosong.


"Apa ini Pah?" tanya Sindi sambil mengambil kertas itu.


"Isi sesuai kebutuhanmu, bukan keinginanmu. Papa yakin kamu tahu berapa angka yang harus kamu cairkan," jawab Tuan Felix.


"Terima kasih Pah. Tapi maaf sebelumnya, bukan aku menolak semua niat baik Papa. Aku masih punya tabungan untuk mewujudkan semua harapan dan cita-citaku. Mas Danu juga sudah mulai bekerja lagi. Jadi aku bisa bertahan dengan rejeki kami," ucap Sindi sambil kembali menyerahkan cek itu.


"Sudah diberi kesempatan untuk bergabung dengan perusahaan Anda saja saya sudah sangat senang," ucap Danu.


"Kamu yakin? Tidak akan ada kesempatan kedua ya! Kalau kamu sudah menolak, artinya kesempatan itu sudah hilang." Tuan Felix masih berusaha membujuk Danu dan Sindi.


Namun berkali-kali Tuan Felix membujuknya, berkali-kali pula Danu dan Sindi menolaknya. Mereka tidak mau dikasihani. Selama masih bisa berusaha, mereka akan selalu berusaha tanpa merepotkan siapapun.


Setelah itu, Tuan Felix menyimpan kembali cek kosong itu. Waktu sudah semakin malam, Tuan Felix mengajak Rian untuk pulang. Karena ia melihat Rian menguap beberapa kali, akhirnya Rian tidak boleh menyetir. Mereka membawa seorang sopir karena tidak mau membahayakan perjalanan pulangnya.


"Pah, mungkin Kak Mia dan yang lain sudah tidur," ucap Rian setelah melihat pergelangan tangannya.


"Tidak apa-apa, yang penting mereka semua ada di rumah kan?" tanya Tuan Felix.


"Yang aku tahu sih semuanya ada di rumah. Kak Mia dan Kak Dion juga tidak ada dinas di luar kota," jawab Rian.


Perjalanan sudah selesai. Mobil sudah terparkir di depan rumah Mia. Ini sudah jam sembilan, tapi rumah sudah sangat sepi. Narendra dan Naura memang sudah tidur, tapi Dion dan Mia masih berdiskusi di ruang kerja.


Saat pintu ruangan itu terbuka tanpa izin, keduanya nampak melihat ke arah pintu dengan tatapan bingung. Namun saat melihat sosok Tuan Felix berdiri di ambang pintu, Mia membuka mata dan mulutnya dengan lebar. Ia tkdak percaya dengan kehadiran Tuan Felix.


"Sehat, nak?" tanya Tuan Felix.


Setelah yakin dengan sosok itu, Mia segera berlari dan memeluk Tuan Felix dengan sangat erat. Ia menangis di peluakan Tuan Felix. Meluapkan rasa bahagianya dengan air mata adalah cara Mia bermanja dengan ayah kandungnya.


"Papa kenapa tidak bilang mau ke sini?" tanya Mia.

__ADS_1


"Papa sengaja mau buat kejutan untuk kamu dan anak-anak," jawab Tuan Felix.


Dion ikut senang melihat istrinya senang. Kehadiran Tuan Felix sangat tepat. Saat Mia sedang sibuk dengan pekerjaan yang membuatnya lelah, sosok Tuan Felix adalah mood boster untuk Mia.


"Papa lama kan di sini?" tanya Mia.


"Tidak. Papa masih banyak urusan. Kamu pasti mengerti," jawab Tuan Felix.


Tentu saja jawaban itu membuat Mia sangat kecewa, meskipun sebenarnya ia sendiri tahu jawaban itu yang memang akan ia terima. Namun Dion ikut menjelaskan alasan Tuan Felix yang tidak bisa menemaninya lebih lama.


Sudah terlalu malam, Dion meminta Mia untuk istirahat. Sebenarnya Mia belum mengantuk dan masih ingin berbincang dengan Tuan Felix, namun ia memberi kode agar Rian dan Tuan Felix istirahat.


"Ayo istirahat dulu pah," ajak Mia.


"Iya. Selamat tidur anak Papa," ucap Tuan Felix.


Perlakuan Tuan Felix yang terkesan memanjakan Mia memang membuat Mia merasa menjadi anak kecil saat bersama ayahnya. Dan Dion sangat memaklumi semua itu. Ia tahu bagaimana masa lalu Mia yang tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ayah.


Kehadiran Tuan Felix memang sangat mengubah dunia Mia. Dion melihat istrinya terlihat lebih semangat menjalani hidup. Apalagi saat Tuan Felix memberikannya kesempatan untuk mengurus sebuah perusahaan. Meskipun kadang Mia terlihat lelah, tapi ada bahagia tersendiri.


Pagi-pagi sekali Mia sudah mendengar keseruan dan kehangatan di ruang makan. Ternyata kedua anak kembarnya sudah bangun dan tengah melepas rindu dengan Tuan Felix. Dari kejauhan Mia mengamati wajah mereka bertiga. Orang-orang yang sangat ia cintai dan sangat berarti dalam hidupnya.


"Mama, ayo sarapan. Ada Opa Felix," teriak Naura.


"Iya sayang," jawab Mia.


Tidak lama, Dion dan Rian ikut bergabung di ruang makan. Mereka sarapan bersama dan membahas rencana hari itu. Karena ini adalah hari efektif, Mia dan Dion harus tetap bekerja. Naura dan Narendra juga harus sekolah. Karena Tuan Felix free, ia meminta Rian ke kantor sendirian. Sedangkan ia sendiri akan mengantar dan menunggu kedua cucu kembarnya di sekolah.


"Opa serius?" tanya Narendra.


"Memangnya Opa pernah berbohong padamu?" Tuan Felix balik bertanya.


Narendra menggeleng dengan cepat.


"Nanti pulangnya kita main ya!" ucap Naura.


"Tentu," jawab Tuan Felix. "Oh ya Mi, Papa belum menghubungi Wira dan istrinya. Tolong jadwalkan untuk makan malam bersama ya!" ucap Tuan Felix.


"Nanti Mia kabari Mama Helen ya Pah," ucap Mia.


Semua berangkat dengan tujuannya masing-masing. Naura dan Narendra yang spesial hari ini ditemani oleh Tuan Felix nampak sangat bahagia. Senyum merekah selalu terpampang di wajah imut mereka.


"Hati-hati ya! Belajar yang rajin! Kalian harus lihat Mama dan Papa. Mereka berhasil karena disiplin waktu dan belajar," ucap Tuan Felix.


"Siap!" ucap Naura dan Narendra sambil menghormat.


"Opa bukan bendera," ucap Tuan Felix sambil menurunkan tangan keduanya.


Tawa Naura dan Narendra yang begitu renyah membuat hati Tuan Felix begitu tersentuh. Kepolosan mereka selalu menjadi bayangan yang sangat menyakitkan saat ia sedang berada di Jerman.

__ADS_1


__ADS_2