Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Telat pulang


__ADS_3

Baik Rian maupun Tuan Wira, keduanya masih merahasiakan rencana pernikahan Rian dan Riri. Bukan hanya sekedar ingin memberi kejutan, namun sebenarnya mereka menjaga perasaan Nyonya Helen. Bagaimanapun semua belum tentu berjalan sesuai keinginan dan harapan mereka. Sampai saat ini mereka masih menjaga kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.


Jarak yang terbentang diantara Rian dan Riri tidak bisa membuat Tuan Wira bisa terlalu senang dan tenang. Apalagi dengan kesibukan Riri dan Rian yang sama-sama memegang kendali penuh terhadap perusahaan besar. Tentu keduanya akan sangat sibuk.


Rasa bahagia yang menyelimuti Tuan Wira ternyata nampak di hadapan Nyonya Helen. Sampai beberapa kali Nyonya Helen apa yang membuat Tuan Wira begitu ceria pagi ini. Beruntung Tuan Wira masih bisa menjaga rahasianya. Ia hanya mengatakan jika kebahagiaannya pagi ini karena melihat kesembuhan Nyonya Helen.


"Terima kasih ya Pah. Semua berkat Papa dan yang lainnya. Perhatian kalian membuat Mama merasa sangat kuat untuk menghadapi penyakit ini. Tapi Mama merasa tidak sesehat dulu. Mungkin umur Mama tidak lama lagi ya," ucap Nyonya Helen.


"Mama ini kenapa sih? Jangan berpikir seperti itu. Mama sudah sembuh dan akan kembali sehat lagi," ucap Tuan Wira.


"Pah kalau seandainya," ucapan Nyonya Helen dipotong oleh Tuan Wira.


"Sudahlah Ma. Jangan berandai-andai yang tidak baik. Mama berpikir positif saja," ucap Tuan Wira.


Selama ini Tuan Wira selalu berusaha menyingkirkan pikiran buruk yang menghantui kepala Nyonya Helen. Padahal ia sendiri memendam ketakutan yang jauh lebih besar dibanding istrinya. Hanya dihadapan istrinya saja ia selalu terlihat tenang dan tegar. Semua itu untuk menumbuhkan semangat sembuh Nyonya Helen.


Tuan Wira segera pamit ke kantor saat melihat Nyonya Helen sudah semakin tenang. Ia juga tidak mau istrinya semakin membahas tentang penyakitnya. Bukan tidak peduli, namun ujungnya Nyonya Helen akan pesimis dan itu selalu membuat Tuan Wira tidak tenang. Rasa takut kehilangan istrinya membuat pikirannya kacau.


"Pah, nanti kalau pulang bawakan Mama roti bakar ya!" ucap Nyonya Helen.


"Iya Ma," jawab Tuan Wira.


Tuan Wira membuat list dalam ponselnya. Banyak pekerjaan membuatnya sering lupa banyak hal. Dan ia tidak mau keinginan istrinya ini sampai terlupakan.


Kedatangan Tuan Wira sudah disambut dengan berkas yang harus ditandatangani. Dua hari tidak ke kantor membuat Tuan Wira ditodong banyak pekerjaan yang harus selesai hari ini.


"Ah, lelah sekali." Tuan Wira menggeliat saat sudah jam makan siang.


Tuan Wira menutup laptopnya dan berbaring di atas sofa. Di ruangan yang nyaris penuh dengan tumpukan buku dan berkas, Tuan Wira merebahkan tubuhnya sebentar. Mencoba menghilangkan rasa pegal di bagian pinggangnya.


Usia muda sudah tidak dimiliki Tuan Wira. Banyak duduk membutnya sering merasa pinggangnya pegal dan sakit. Namun meskipun begitu ia tidak pernah meninggalkan pekerjaannya.


"Mama sedang apa ya?" tanya Tuan Wira.


Tangannya meraih ponsel dan melakukan panggilan video dengan istrinya. Memastikan istrinya baik-baik saja agar hatinya semakin tenang saat berada di kantor.

__ADS_1


"Halo Ma, sudah makan?" tanya Tuan Wira saat panggilan video mereka sudah terhubung.


"Sudah. Mama baru saja selesi minum obat," jawab Nyonya Helen.


Dari panggilan video itu Tuan Wira menyadari jika wajah istrinya berubah. Terlihat semakin kurus dan pucat. Lagi-lagi pikiran buruk menyerang perasaannya.


"Mama baik-baik saja kan?" tanya Tuan Wira saat melihat wajah istrinya semakin pucat.


"Mama baik-baik saja. Papa jangan khawatir," jawab Nyonya Helen.


"Ya sudah kalau begitu Mama istirahat ya!" ucap Tuan Wira.


Seandainya pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak, ia sudah ingin pulang saat ini juga. Memeluk tubuh istrinya yang semakin kurus itu. Namun apa daya, ada kewajiban yang harus ia kerjakan saat ini.


Saat jam kerja sudah selesai, sebelum alarm list di ponselnya berdering ternyata ia sudah ingat pesanan istrinya. Roti bakar rasa coklat kesukaan istrinya segera dipesan. Rasa cintanya pada istrinya membuat ia tidak lupa pesanan roti bakar itu.


"Ma, Papa pulang." Tuan Wira berteriak sambil membawa kantong roti bakar.


Nyonya Helen tersenyum senang menyambut kedatangan suaminya. Terlebih sebuah kantong berisi roti bakar pesanannya sudah di depan mata. Akhir-akhir ini ia memang sedang tidak berselera untuk makan. Namun melihat roti bakar di hadapannya, ia menikmatinya dengan sangat lahap.


Nyonya Helen berhenti mengunyah dan menatap Tuan Wira.


"Enak. Terima kasih ya Pah. Ini enak sekali," jawab Nyonya Helen.


Tuan Wira tersenyum senang saat roti bakar yang ia bawa dimakan dengan sangat lahap. Akhirnya ia bisa melihat istrinya menikmati makanan yang sedang ia makan, setelah sekian lama tidak berselera dengan makanan apapun.


"Pah, Rian sudah pulang?" tanya Nyonya Helen.


"Rian?" tanya Tuan Wira sambil menatap pergelangan tangannya.


"Iya Pah. Rian belum ke sini. Padahal sudah sore. Tapi Rian kok belum pulang ya?" ucap Nyonya Helen.


"Biar Papa telepon ya!" ucap Tuan Wira.


"Nomornya tidak aktif Pah," ucap Nyonya Helen.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Tuan Wira.


Nyonya Helen mengangguk dengan wajah cemas. Tuan Wira segera mencoba menghubungi Rian. Namun ternyata memang benar. Nomor Rian tidak aktif.


"Sepertinya Rian akan lembur hari ini Ma," ucap Tuan Wira.


"Jata siapa?" tanya Nyonya Helen.


"Perusahaan Rian kan sedang banyak proyek Ma. Sudah pasti pekerjaannya akan sangat banyak," jawab Tuan Wira dengan wajah begitu yakin.


Padahal sebenarnya ia sendiri tidak tahu alasan Rian belum pulang dan tidak mengaktifkan ponselnya. Pikiran buruknya buyar setelah mendengar Rian mengetuk pintu kamar mereka.


"Ma, aku boleh masuk?" tanya Rian.


Tuan Wira yang menatap wajah istrinya bisa dengan jelas melihat perubahan wajah Nyonya Helen. Kini wajahnya yang pucat perlahan berseri. Hingga Tuan Wira semakin yakin jika kehadiran Rian sangat berpengaruh dalam hidup istrinya.


"Masuk Ri," ucap Tuan Wira.


Rian membuka pintu kamar itu dan segera mencium punggung tangan Tuan Wira dan Nyonya Helen bergantian. Ia juga segera menanyakan kabar Nyonya Helen dengan sangat hangat. Tidak hanya itu, Rian juga selalu menyempatkan diri untuk memijat kaki Nyonya Helen.


"Ri, kenapa pulangnya telat. Kamu kemana dulu?" tanya Nyonya Helen.


"Aku ada pekerjaan dulu Ma. Maaf ya aku telat," jawab Rian.


Saat Rian keluar dari kamar itu, Tuan Wira segera mengikutinya. Bertanya alasan apa yang sebenarnya membuat Rian bisa pulang terlambat. Padahal kalau alasannya pekerjaan, Rian bisa mengerjakan pekerjaannya di rumah jika mau.


"Kamu mungkin bisa membohongi Mama. Tapi tidak dengan Papa," ucap Tuan Wira.


Akhirnya Rian pun menceritakan kalau hari ini saat selesai jam kerja ia memang tidak langsung pulang. Ia sedang mempersiapkan pernikahannya nanti.


"Soal itu, biar Papa yang urus. Hanya saja Papa minta tolong jaga Mama. Mama butuh kamu," ucap Tuan Wira.


Tuan Wira memang sudah berencana untuk menyiapkan pesta pernikahan Rian secara sederhana. Sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari rumahnya menjadi target kejutannya. Sayangnya kini rahasia itu sudah terbongkar. Akhirnya ia terang-terangan ingin membantu mempersiapkan pesta pernikahan Rian dan Riri.


"Terlalu merepotkan Pah. Papa tenang saja. Nanti aku akan mengurus semuanya. Jangan khawatir ya. Ada Kak Danu dan Pak Manto juga kok Pah," ucap Rian.

__ADS_1


Padahal dalam hatinya ia sangat senang saat menerima tawaran itu. Momen ini menjadi hal yang mungkin akan ia rindukan beberapa waktu yang akan datang. Momen saat Tuan Wira ikut terlibat dalam pernikahannya. Meskipun sederhana, namun akan terasa sangat mewah saat Rian berada dikelilingi orang yang sangat menyayanginya dengan tulus.


__ADS_2