Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Nguping


__ADS_3

Mobil sudah terparkir di depan rumah Rey. Rian dan Maudi turun dari mobil. Sementara Riri masih diam di dalam.


"Ayo keluar!" ajak Rian sambil membuka pintu mobilnya.


"Tidak perlu Mas. Aku menunggu di sini saja," ucap Riri.


"Pus, kamu aku bawa ke sini untuk dikenalkan dengan Rey. Dia temanku, pacar Maudi." Rian menunjuk Maudi yang nampak kesal dengan ucapan Rian.


"Lain kali saja kenalannya. Aku nunggu di sini ya!" ucap Riri.


"Ayo!" ajak Rian sambil menarik tangan Riri.


Maudi yang melihat sikap Rian, merasa itu terlalu berlebihan.


"Kalau dia tidak mau ya sudah jangan dipaksa," ucap Maudi.


"Dia bukan tidak mau, hanya malu saja." Rian masih belum melepaskan tangan Riri.


Melihat tatapan Maudi yang tidak suka padanya, Riri melepaskan tangannya dari cengkraman Rian.


"Aku bisa jalan sendiri Mas," ucap Riri.


Rian mengangguk dan berjalan di samping Riri. Sementara Maudi yang kesal berjalan lebih cepat agar tidak bersama dengan Riri.


"Mas, Mba Maudi sepertinya tidak suka padaku." Riri berbisik sebelum mereka memasuki rumah Rey.


"Bagus dong," jawab Rian.


"Kok bagus?" tanya Riri.


"Artinya Maudi normal. Dia kan sukanya sama Rey," jawab Rian.


"Ah Mas bisa saja," ucap Riri.


Riri melihat kecanggungan diantara mereka bertiga. Ia tidak ikut bicara. Sampai akhirnya Rian mengenalkan Riri.


"Rey, kenalkan Riri." Rian menarik Riri agar bisa lebih dekat dengan mereka.


"Riri," ucap Riri sambil mengulurkan tangannya.


"Rey," jawab Rey dengan membalas uluran tangan Riri. "Pacar kamu?" tanya Rey pada Rian.


"Bukan, bukan." Riri dengan cepat menggelengkan kepalanya sebelum Rian sempat menjawab.


"Tenang saja. Aku tidak akan memanfaatkan situasi kok," ucap Rian pada Riri. "Dia temanku," lanjut Rian pada Rey.


"Kamu tidak ke rumah sakit?" tanya Maudi mengalihkan pembicaraan.


Maudi terus mengambil alih pembicaraan. Ia tidak memberi kesempatan Riri ikut terlibat sama sekali dalam obrolan mereka. Maudi bahkan terlihat perhatian ada Rey. Berusaha agar Rian cemburu. Namun sayangnya Maudi harus menelan kecewa saat Rian terlihat begitu dingin.


"Kamu mau pulang?" tanya Rian.


"Aku ikut Mas saja," jawab Riri.


"Kalau aku ajak ke KUA juga mau ya?" goda Rian.


Riri hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum canggung.


"Becanda. Ayo pulang!" ajak Rian.

__ADS_1


"Aku ikut," ucap Maudi.


"Kamu pulang sekarang?" tanya Rey.


"Maaf ya Rey. Aku masih banyak tugas. Kamu cepat sehat ya! Nanti kita kuliah sama-sama lagi," ucap Maudi.


Setelah pamit, ketiganya pergi. Maudi segera masuk di depan. Ia tidak mau jika Riri mengambil alih tempatnya. Sayangnya sikap Maudi yang buru-buru masuk membuat Riri justru diperlakukan lebih istimewa.


"Masuk! Gak apa-apa kan di belakang? Kecuali kalau kamu mau dipangku," ucap Rian sambil membuka pintu mobil untuk Riri.


Riri tidak menjawab. Apalagi melihat delikan mata Maudi yang menakutkan.


Maudi semakin kesal saat tahu jika ia harus turun lebih dulu dari Riri. Bagaimanapun, Rian pasti meminta Riri untuk pindah ke depan.


"Terima kasih," ucap Maudi sambil membanting pintu mobil dan masuk ke dalam rumah.


Rian hanya menggelengkan kepalanya, sementara Riri memegang dadanya. Ia nampak takut dengan sikap Maudi.


"Pindah," ucap Rian.


"Tidak Mas. Aku di sini saja," ucap Riri.


Rian keluar dari mobil dan menarik tangan Riri. Ia memindahkan Riri dengan paksa.


"Kamu pikir aku supirmu?" gerutu Rian.


Riri tidak menjawab. Ia hanya diam dan menatap lepas ke jalanan. Sebentar suasana di dalam mobil hening. Namun tiba-tiba Rian menceritakan apa hubungan yang terjadi antara dia, Maudi dan Rey.


Tanpa Riri bertanya, Rian menjelaskan semuanya tanpa ada yang terlewat. Termasuk saran Mia untuk melakukan taktik dan strategi itu.


"Jadi Mas mau memanfaatkan aku?" tanya Riri.


"Kamu marah? Maafkan aku ya Pus. Aku sama sekali belum melakukan itu denganmu. Apa yang aku lakukan tadi benar-benar tidak berniat untuk membuat Maudi cemburu," ucap Rian.


"Tapi aku lihat Mba Maudi cemburu. Itu artinya Mba Maudi masih mencintai Mas," ucap Riri.


"Kamu yakin?" tanya Rian dengan sangat bahagia.


"Mas masih berharap bisa kembali pada Mba Maudi? Lalu bagaimana dengan Mas Rey?" ucap Riri tiba-tiba.


Rian membuang senyumnya. Ia menelan salivanya dengan susah. Napasnya terasa berat. Rey? Ah sudahlah. Rian merasa kepalanya menjadi berat.


"Kuta pulang sekarang," ucap Rian.


"Maaf ya Mas," ucap Riri.


"Tidak masalah," jawab Rian dengan bibir yang tersenyum kaku.


Mobil mulai melaju kembali dengan kecepatan sedang. Kali ini Rian memutar musik sendu. Membuat Riri semakin merasa bersalah dengan ucapannya.


"Mas, terima kasih ya. Maaf sudah merepotkan," ucap Riri saat ia sampai di depan rumah Riri.


"Tidak merepotkan sama sekali," ucap Rian.


Riri menunggu di depan rumah sampai akhirnya mobil Rian pergi dari rumahnya. Rasa bersalah itu masih tersimpan dalam hati Riri. Ia berharap tidak bertemu lagi dengan Rian. Malu rasanya karena sudah terlalu ikut campur dalam kehidupan Rian. Padahal mereka baru saling mengenal dan Rian sangat baik padanya.


Padahal sebenarnya Rian tidak menyalahkan Riri. Justru dengan ucapan Riri, ia jadi berpikir ulang untuk melanjutkan taktik dan strateginya. Ia lupa memikirkan perasaan Rey. Bagaimanapun Rey adalah sahabatnya juga.


Mia. setelah sampai ke rumah, nama Mia adalah orang yang harus Rian hubungi. Tidak dijawab. Mungkin Mia sedang sibuk, Rian tahu jadwal kegiatan Mia seperti apa.

__ADS_1


"Baru pulang?" tanya Tuan Felix yang ternyata sudah pulang ke rumah lebih dulu.


"Iya Pah. Tadi aku menjenguk Rey dulu. Dia sakit," jawab Rian.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Tuan Felix.


"Sudah membaik," jawab Rian.


Meski tidak mengenal baik siapa Rey, namun Tuan Felix sempat beberapa kali bertemu dengan Rey.


"Ya sudah jangan lupa mandi dan istirahat," ucap Tuan Felix.


Rian segera mandi. Dibawah guyuran air, Rian terdiam cukup lama. Ucapan Riri masih terngiang dalam ingatannya. Bagaimana dengan Rey? Lalu apakah dia memikirkan dirinya saat ini?


Tidakkah Rey tahu jika Rian masih sangat mencintai Maudi? Rian merasa kepala dan hatinya sedang berperang begitu hebat. Ia merasa terjebak dengan perasaan dan permainannya sendiri.


Rian tersadar saat mendengar dering ponsel. Ia segera menyelesaikan mandinya dan mengecek ponselnya. Saat melihat nama Mia, Rian segera meneleponnya kembali.


"Kak, maaf ya tadi aku sedang mandi." Rian segera meminta maaf saat panggulan sudah terhubung.


"Mia sedang makan," jawab Dion.


"Eh, Kakak. Aku pikir Kak Mia," ucap Rian.


"Makanya kalau apa-apa itu ya jangan terburu-buru. Santai," ucap Dion.


"Iya Kak," ucap Rian.


Bukannya tidak senang. Tapi saat ini Rian butuh Mia. Ia ingin bercerita pada Mia tentang apa yang mengganjal di hatinya. Sempat sedih, namun tidak lama Rian mendengar suara Mia.


"Nih, Rian telepon." Dion memberikan ponselnya pada Mia.


"Halo, Ri." Mia menyapa dengan sangat lembut.


"Kak, aku mau cerita. Boleh ya?" pinta Rian.


"Mau cerita apa?" ayo cerita," ucap Mia.


Tidak perlu menunggu waktu lama, Rian segera menceritakan semuanya. Mia cukup menjadi pendengar yang baik saat Rian terus bicara tentang kegelisahannya.


"Siapa teman barumu itu?" tanya Mia.


"Mpus," jawab Rian.


"Mpus? Seperti nama kucing tetangga kita ya Mi," ucap Dion tiba-tiba.


Mia muncubit Dion, lalu menyimpan telunjuknya di depan bibirnya. Matanya yang terbuka lebar memberi kode agar Dion tidak bicara dulu.


"Kak Dion nguping ya?" tanya Rian malu-malu.


"Maaf ya Ri. A Dion memang suka iseng. Kamu tahu kan dia bagaimana," ucap Mia merasa tidak enak hati.


"Iya tidak apa-apa Kak. Aku hanya malu saja," ucap Rian.


"Ri, jangan malu. Aku kan Kakak kamu juga," ucap Dion.


"Hehe, iya Kak." Rian menutup wajahnya dengan bantal.


Kalau saja Dion ada di hadapannya, Rian yakin saat ini wajahnya sudah memerah seperti tomat karena rasa malunya pada Dion.

__ADS_1


__ADS_2