
Hari libur ini menjadi libur pertama bagi mereka yang berkumpul bersama. Waktu terasa begitu cepat berlalu saat mereka sedang asyik. Sampai tiba waktunya Dion mengomando untuk pulang.
Dengan penuh rasa sedih akhirnya mereka berpisah. Meskipun sudah ada beberapa rencana untuk bisa kembali berkumpul seperti ini, namun mereka tidak yakin karena biasanya selalu ada saja alasan mendadak. Ada anak sakit lah, pekerjaan yang belum selesai lah, ada tamu lah, masih banyak alasan lain yang besar kemungkinan membuat mereka tidak bisa berkumpul seperti ini.
"Pus, aku titip Mama ya! Aku yakin Mama pasti sembuh kalau ada kamu di sini," ucap Mia.
"Iya. Kakak jangan khawatir. Aku akan berusaha menjaga Mama sebisaku," ucap Riri.
Mia harus menelan rasa cemburu saat melihat Nyonya Helen menggenggam erat tangan Riri saat mereka mulai pulang satu per satu. Padahal dulu, Mia adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Nyonya Helen selalu bersemangat. Orang paling dekat dan nomor satu adalah Mia.
Namun waktu sudah mengubah semuanya. Sampai akhirnya kini Nyonya Helen menemukan sosok lain yang mungkin bisa dikatakan menggantikan Mia. Tapi tidak apa-apa. Melihat Nyonya Helen bahagia saja Mia sudah ikut bahagia.
"Sampai ketemu lagi ya!" teriak Mia sambil melambaikan tangan.
"Hati-hati ya Kak," ucap Riri sembari membalas lambaian tangan Mia.
Riri membantu Nyonya Helen mendorong kursi rodanya dan kembali masuk. Mereka duduk di ruang keluarga sambil menikmati cemilan yang tersaji di sana. Nyonya Helen memperhatikan Riri yang sejak tadi terus mengunyah cemilan.
"Pus, kamu lapar ya?" tanya Nyonya Helen.
"Kenapa Ma?" Riri balik bertanya.
Riri benar-benar salah tingkah mendengar pertanyaan dari Nyonya Helen. Pasalnya, kue itu masih ada di tangannya. Sedangkan mulutnya masih penuh dengan makanan.
"Dia memang biasa makan cemilan begitu Ma," ucap Rian.
"Benarkah?" tanya Nyonya Helen tidak percaya.
"Iya. Sudah tidak aneh. Biarkan saja," jawab Rian.
"Tapi badannya kurus," ucap Nyonya Helen sambil mengernyitkan dahinya.
"Makanya jangan salah menilai orang. Kurus bukan berarti kurang makan. Dia itu memang berlindung di balik badan kurusnya," ucap Rian.
Riri tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil melanjutkan kunyahan demi kunyahan. Tidak terasa setengah toples kue bawang habis dimakan oleh Riri sampai akhirnya Riri tertidur. Perut yang kenyang dan mendengarkan cerita kedua ayah mertuanya membuat Riri merasa ngantuk.
"Ri, coba lihat istrimu. Kenapa dia menggemaskan sekali? Bisa-bisanya dia tidur dengan tangan yang masih memegang kue bawang seperti itu," ucap Nyonya Helen sambil tersenyum ceria.
Rian menatap Riri yang sudah tertidur pulas. Namun perhatiannya tidak hanya Riri. Wajah ceria Nyonya Helen saat memperhatikan Riri membuatnya ikut senang. Akhirnya senyuman itu kembali menghiasi wajah Nyonya Helen. Keceriaan kini sudah semakin terlihat jelas. Nyonya Helen banyak mengalami perubahan setelah Riri hadir di rumah itu.
__ADS_1
Pus, kamu memang pembawa kebahagiaan untuk kita semua. Terima kasih sudah hadir di sini. Aku mencintaimu.
Rian menggendong Riri agar ia tidur lebih nyenyak di kamar. Semua orang sangat menyayangi Riri. Apalagi saat mereka tahu keadaan keluarga Riri. Bukannya menjauh atau malu, mereka justru iba dengan keadaan Riri.
Seharusnya pernikahan menjadikan momen yang paling membahagiakan bagi setiap orang. Selain mereka bisa bersama dengan orang yang mereka cintai, mereka juga akan menambah keluarga baru. Bukan justru memaki dan membenci karena dianggap lebih mementingkan keluarga barunya.
"Dia anak yang kuat. Hebat," ucap Tuan Felix saat Riri sudah dipangku oleh Rian.
"Besok aku akan menemui keluarga Riri. Aku akan bicara dengan mereka. Aku tidak suka melihat menantuku ditekan begitu. Si Rara itu menganggap Riri adalah pohon uang yang bisa ia panen sesukanya. Setelah apa yang sudah ia lakukan," ucap Nyonya Helen sambil mengepalkan tangannya.
Nyonya Helen sudah tahu semua cerita tentang keluarga Riri. Tidak terkecuali soal mantan pacarnya yang ternyata lebih memilih untuk menikah dengan Rara. Kakak kandungnya sendiri. Kesedihannya tidak berakhir sampai di sana. Setelah bertahun-tahun menghilang dan tidak pernah dicari, saat kembali pun Riri masih harus merasakan sakit dari sikap keluarganya.
"Ma, jangan terbawa emosi. Ingat, bagaimanapun mereka adalah keluarga Riri. Itu artinya mereka adalah keluarga kita juga," ucap Tuan Wira.
"Seandainya dia menganggap keluarga, tidak akan seperti itu. Riri sudah cukup menderita karena ulahnya. Mama harus bikin perhitungan dengannya," ucap Nyonya Helen.
Tuan Felix memberi kode agar Tuan Wira membawa istrinya ke kamar. Tidak baik jika Nyonya Helen terus diselimuti emosi seperti itu. Tidak baik untuk kesehatannya.
"Aku tahu kamu sangat menyayangi Riri. Dia memang anak yang baik dan pantas untuk dibela. Kamu tidak perlu kemana-mana Helen. Biar aku yang selesaikan semuanya," gumam Tuan Felix sambil mengepalkan tangannya.
Besok pagi Tuan Felix menemui Riri sebelum acara sarapan. Ada hal yang harus ia sampaikan pada Riri. Ketukan pintunya diabaikan oleh pemilik kamar. Sudah tiga ketukan pintunya tidak disambut.
"Papa," panggil Riri.
"Papa pikir kamu belum bangun," ucap Tuan Felix saat melihat Riri sudah rapi.
"Maaf tadi aku di kamar mandi," ucap Riri.
"Rian?" tanya Tuan Felix.
"Mas Rian masih tidur," jawab Riri.
"Kalian begadang ya? Maaf ya Papa sudah mengganggu," ucap Tuan Felix.
"Tidak mengganggu sama sekali. Aku sudah bangun dari jam lima kurang. Mas Rian memang begadang. Katanya ada file yang harus selesai besok untuk meeting pagi ini," ucap Riri.
"Dia ke kantor hari ini?" tanya Tuan Felix.
"Katanya begitu. Tapi aku coba bangunkan, susah sekali. Oh ya ada Papa ke sini? Tumben," ucap Riri.
__ADS_1
"Ada yang ingin Papa sampaikan. Boleh Papa masuk ke kamar?" tanya Tuan Felix sambil menoleh ke arah kiri dan kanan.
"Boleh," jawab Riri dengan kerutan di dahinya.
Tuan Felix segera masuk. Ia tidak mau Nyonya Helen sampai tahu tujuannya ke kamar Riri.
"Ri, bangun." Suara bariton Tuan Felix dan guncangam di tubuhnya membuat Rian membuka matanya.
Rian menggisik matanya yang merah, lalu menguap. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat Tuan Felix ada di kamarnya.
"Duduk di sini! Papa mau bicara," ucap Tuan Felix.
Rian turun dari ranjangnya dan duduk di samping Tuan Felix. Ia mendengarkan rencana ayah angkatnya. Sempat terkejut saat mendengar rencana itu. Tuan Felix meminta Riri menemani Nyonya Helen seharian ini. Tugas Riri adalah menenangkan Nyonya Helen agar tidak pergi ke rumahnya.
"Papa jangan apa-apakan mereka," ucap Riri ketakutan.
"Jangan takut! Aku hanya menggertak mereka. Aku hanya tidak mau mereka menggangguku. Ah tidak, bukan mereka. Maksudku dia, bukan mereka." Tuan Felix meyakinkan Riri.
"Papa janji?" tanya Riri.
"Iya. Kamu jangan khawatir," Ucap Tuan Felix.
Rian meyakinkan Riri jika tidak perlu ada yang dikhawatirkan selama Tuan Felix yang bergerak. Ia yakin jika ayahnya adalah orang yang penuh dengan kematangan. Setiap perencanaan tentu akan ia susun dengan penuh kehati-hatian.
Setelah semuanya selesai, Tuan Felix segera kembali. Ia menunggu di ruang makan agar tidak mencurigakan. Tidak lama Rian dan Riri menyusul ke ruang makan. Sempat terjadi perdebatan saat Rian pamit untuk ke kantor.
Menurut Nyonya Helen, Rian masih harus libur dan menemani Riri di rumah. Namun Riri segera menjelaskan jika Rian memang harus pergi ke kantor. Sebagai pemilik perusahaan, tentu Rian harus memberikan contoh yang baik.
"Aku kan ditemani Mama," ucap Riri.
"Tapi seharusnya kamu itu berduaan sama Rian. Kalian itu kan pengantin baru," ucap Nyonya Helen.
Akhirnya Rian berangkat setelah Nyonya Helen mengizinkannya untuk pergi. Pertama kalinya Rian pergi diantar oleh istrinya. Senyuman dan lambaian tangan Riri menjadi penyemangat Rian pagi ini.
Rian segera bersiap untuk pergi meeting saat tiba di kantor. Dengan penuh semangat Rian berhasil melewati meeting pagi ini. Ia melanjutkan pekerjaannya di ruangannya. Namun ia terkejut saat melihat kantornya sudah berubah. Tidak ada meja Manto di sana.
"Kak," panggil Rian.
Saat Rian tahu kalau meja Manto tidak ada, maka yang dilakukan adalah segera mencari Danu untuk menanyakan keberadaan Manto. Namun baru saja sampai di ruangan Danu, Rian terkejut saat ada Manto di sana. Ah, tidak hanya ada Manto dan Danu. Tapi Reza juga berada di ruangan yang sama.
__ADS_1