Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Jadi ini alasannya


__ADS_3

"Jadi mereka di rumah?" tanya Rian.


"Iya," jawab Tuan Felix sambil duduk.


"Oh ya Pah maaf. Silahkan duduk," ucap Rian.


Saking terkejutnya Rian dengan kabar dari Tuan Felix, sampai lupa mempersilahkan ayahnya duduk. Bahkan Tuan Felix menceritakan semua kejadian di rumah Riri sambil berdiri.


"Aku harus pulang sekarang Pah," ucap Rian.


"Tidak, tetap di sini dan bekerja!" Tuan Felix menunjuk kursi tempat Rian duduk saat ini.


"Tapi aku harus melihat keadaan istriku. Aku takut ibunya marah dan membuat Riri menangis lagi," ucap Rian.


"Rian, kamu memang seorang suami. Tapi kamu juga tidak boleh melupakan posisimu sebagai seorang pemimpin. Kamu harus memberi contoh untuk yang lain," ucap Tuan Felix.


"Tapi ini soal istriku. Istriku," ucap Rian memperjelas kalimatnya.


"Dengarkan aku! Riri di rumah dan baik-baik saja. Ada banyak orang yang menjaga di rumah," ucap Tuan Felix.


Rian diam. Ya, ia tahu Riri memang tidak sendiri. Tapi ia takut jika seandainya ibu mertuanya bertingkah lagi. Namun ucapan Tuan Felix ada benarnya juga. Ini tidak urgent. Rian masih bisa memantau Riri dari orang-orang di rumahnya. Apalagi ancamannya hanya seorang wanita yang sudah tidak muda lagi.


Laptop mulai ditatapnya kembali. Rian berusaha fokus dengan pikiran yang sedang tidak baik. Di kepalanya hanya bayangan tentang Riri. Kecemasannya membuat Rian sulit sekali fokus. Mungkin karena ia masih belum terbiasa dengan status suami.


Dalam kepala Rian, sosok suami adalah pelindung untuk istrinya. Hari ini Riri sedang bersama orang yang tidak baik, sementara ia tidak bisa menemani Riri di sana. Ia tidak bisa memastikan Riri dengan mata dan kepalanya sendiri bahwa istrinay baik-baik saja. Meskipun ibu kandungnya sendiri, namun mendengar cerita Riri wanita itu cukup membahayakan mental istrinya.


"Pah, aku boleh telepon istriku?" tanya Rian.


"Siapa yang melarangmu?" Tuan Felix balik bertanya.


"Terima kasih," ucap Rian.


Dengan cepat Rian menelepon istrinya setelah menyerah dengan kecemasannya. Ia harus memastikan jika istrinya baik-baik saja. Kecemasannya kian menjadi saat Riri tidak menjawab panggilannya.

__ADS_1


"Pah, Mpus tidak menjawab teleponku." Rian menatap Tuan Wira dengan tatapan cemas.


Dengan santai Tuan Felix menunjukkan sebuah foto yang dikirim Nyonya Helen. Sebelum Rian menelepon Riri, Tuan Felix sudah lebih dulu meminta informasi tentang keadaan Riri di rumah.


"Ya ampun, aku sudah berpikiran buruk. Syukurlah kalau semuanya baik-baik saja," ucap Rian.


Sebuah foto saat ibunya menyuapi Riri dengan penuh ketulusan berhasil menenangkan Rian seketika. Ia senang saat melihat Riri memang tidak apa-apa. Kekhawatiran Rian enyah sudah dari kepalanya.


"Kamu percaya kalau istrimu baik-baik saja?" tanya Tuan Felix.


"Maafkan aku Pah. Tapi aku khawatir karena Mpus tidak menjawab panggilanku," jawab Rian.


"Dengarkan Papa, Rian! Saat Mpus di rumah, bukan berarti dia dua puluh empat jam santai memegang ponselnya. Apalagi saat ini ia hanya ibu rumah tangga. Ponsel sudah bukan yang utama baginya. Apalagi saat ini Mpus harus mengurus Nyonya Helen.


Tuan Felix juga meminta Rian untuk memahami keadaan Riri yang mungkin tidak mudah. Riri yang kesehariannya mengurus perusahaan kini harus meninggalkan itu semua karena menjadi seorang istri. Ia juga harus mengurus Nyonya Helen. Wanita yang baru ia kenal beberapa waktu terakhir.


"Aku juga sebenarnya tidak tega sama dia," ucap Rian.


Menurut Tuan Felix, Rian cukup mengabarinya setiap waktu tanpa menuntut Riri untuk membalas setiap pesan yang dikirimnya. Riri tentu akan sangat senang saat melihat Rian yang begitu perhatian padanya. Walaupun mungkin ia tidak bisa membalas setiap pesan itu tepat setelah pesan itu masuk ke dalam ponselnya.


Kenyataannya sekarang, untuk berkomunikasi pun Rian masih saja kesulitan. Bahkan menurutnya, kini Rian merasa komunikasinya justru terhambat. Ah, padahal ini baru beberapa hari pernikahannya. Belum sampai seminggu.


"Apa aku terllau protektif ya? atau mungkin posesif?" gumam Rian.


Banyak hal yang harus Rian pelajari dari pernikahan. Ia benar-benar salah karena menganggap pernikahan itu hanya tentang kebahagiaan. Nyatanya kecemasan juga menjadi bumbu dalam pernikahan.


Setelah itu, Rian kembali melanjutkan pekerjaannya dengan sangat tenang. Ia membuka lembar demi lembar laporan yang harus dikoreksi. Belum lagi tumpukan berkas yang lain yang masih belum terjamah. Seolah mereka mengantri karena butuh sentuhannya.


Rian menghela napas. Rasanya jenuh. Sejak pagi yang ia lihat hanya kertas dan layar laptop. Ia merasa bosan. Padahal biasanya ada Manto yang bisa diajak bicara. Sekarang ia hanya sendiri. Hanya ada Tuan Felix yang diam karena sibuk memantau perusahaannya di Jerman. Hanya terlihat kerutan di dahinya dan sedikit senyuman sejak ayah angkatnya di sana.


Ah, bicara soal Manto, tiba-tiba Rian ingat pertanyaannya yang belum terjawab. Ia bahkan sampai melupakan pertanyaan itu karena berita tentang Riri sudah menarik dan menyita perhatiannya.


"Oh ya Pah, aku sampai lupa. Ada hal yang harus Papa jawab. Kenapa Papa minta Pak Manto pindah ke ruangan Kak Danu? Apakah tidak cukup jika hanya Kak Reza yang di sana? Kenapa jadi tiga-tiganya di sana? Sedangkan aku sendirian di sini?" tanya Rian.

__ADS_1


"Ruangan itu masih luas. Cukup untuk mereka bertiga," jawab Tuan Felix singkat.


"Tapi aku jadi sendiri," protes Rian.


"Dulu Papa meminta Manto di sini untuk mengawasimu. Karena saat itu pengalaman kerjamu masih kurang. Tapi sekarang Papa sudah percaya kalau kamu sudah bisa kerja sendiri," ucap Tuan Felix.


Rian diam. Menurutnya Tuan Felix tidak perlu memindahkan Manto. Kesannya jadi tidak baik. Ia merasa ada perbedaan antara atasan dan bawahan. Padahal selama ini ia tidak pernah mempersalahkan semua itu.


Di ruangan yang luas, Rian hanya sendiri. Sementara di ruangan lain yang tidak seluas ruangannya, mereka harus bertiga. Rian merasa tidak nyaman. Tuan Felix berusaha menenangkan Rian bahwa semua itu tidak akan berlangsung lama. Karena sebentar lagi ia akan membangun lagi ruangan untuk Manto dan Reza.


"Tapi kan tetap saja aku tidak enak Pah," ucap Rian.


"Mereka pasti akan mengerti Ri. Apalagi saat ini kamu masih dalam suasana pengantin baru," ucap Tuan Felix.


Pengantin baru? Mendengar ucapan Tuan Felix, Rian mengerutkan Dahinya. Apa hubungannya antara pengantin baru dengan pindah ruangan? Apa mereka berpikir jika Riri akan ikut ke kantor setiap hari?


Namun tiba-tiba wajah Rian memerah saat Tuan Felix menjelaskan jika suatu saat Rian membutuhkan suasana baru untuk menikmati masa-masa pengantin baru, Rian tidak perlu khawatir. Ia tetap bisa bekerja sambil menikmati masa-masa itu.


"Kerjanya bisa semakin semangat kan?" goda Tuan Felix.


Rian menggelengkan kepalanya dan menunduk. Ia berusaha menyembunyikan wajah merahnya akibat rasa malu atas ucapan ayahnya sendiri.


Jadi ini alasan kenapa mereka bertanya Mpus ikut atau tidak. Ternyata pikiran mereka sudah sejauh ini. Padahal aku dan Mpus belum pernah melakukan hubungan suami istri sama sekali. Tidak kepikiran sedikitpun untuk melakukannya di sini.


"Pah, ayolah. Aku tidak mungkin mesum di kantor," ucap Rian.


"Hey, mesum sama istri sendiri itu bebas. Apalagi kantor ini milikmu," ucap Tuan Felix.


Sampai sejauh itu Tuan Felix memikirkan hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Rian sebelumnya. Tidak sekalipun Rian berpikir jika akan melakukan semua itu di ruangannya.


"Sudahlah, ayo lanjutkan kerjanya. Sebentar lagi jam pulang. Mpus pasti sudah menunggumu di rumah," ucap Tuan Felix saat melihat Rian masih salah tingkah dengan ucapannya.


Tuan Felix bukan anak muda. Tapi ia tahu jika gairah Rian sangat berapi-api. Ia paham betul apa yang Rian butuhkan. Mungkin saat ini ucapan Tuan Felix tidak berarti apapun bagi Rian. Tapi ia yakin suatu saat nanti Rian pasti akan berterima kasih padanya.

__ADS_1


Pernikahan itu harus selalu terbarukan dengan hal-hal yang dilakukan berdua. Baik itu dari tempat ataupun waktu. Kadang semakin lama berumah tangga, semua akan terasa jenuh dan membosankan. Tuan Felix tidak menginginkan hal itu. Ia ingin Rian benar-benar bahagia dan selalu bahagia dengan pernikahannya.


__ADS_2