Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Kejutan


__ADS_3

Rian hanya diam dan menatap Mia dengan bingung, saat wanita itu pergi begitu saja dari depan kamarnya.


"Kak Mia kenapa sih?" gumam Rian bingung.


Rian kembali ke kamarnya. Ia yang memang sedang ingin sendiri tidak mengejar Mia dan menanyakan maksud kedatangannya. Dalam kamar, ia merenungi hubungannya dengan Riri.


Belum satu bulan namun hampir setiap kali mereka saling berkomunikasi selalu saja ada yang membuat mereka bertengkar. Lelah, Rian merasa ingin menyerah. Tapi ia berpikir ulang bagaimana bisa ia kehilangan Riri dalam hidupnya.


Rian mengacak kasar rambutnya saat berusaha melupakan kegelisahannya. Bayangan Riri dengan senyum cantiknya akhirnya berhasil meluluhkan hati Rian. Ia mulai mereda dan menyadari kesalahannya.


Aku tidak boleh egois. Ini memang resikonya. ayo Rian, jangan begini!


Rian mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Ia berharap pikirannya juga ikut segar dan tidak kusut seperti saat ini. Selesai mandi, Rian menatap wajahnya pada pantulan cermin. Rambutnya yang masih basah bercucuran ke bahunya.


"Kenapa aku seperti gendutan, ya?" tanya Rian pada dirinya sendiri.


Ya, akhir-akhir ini Rian memang masih tidak banyak kegiatan. Mungkin hal itu yang membuat berat badannya meningkat beberapa kilo.


"Ri," panggil Tuan Wira.


Rian segera membuka pintu dengan tubuh yang masih menggunakan handuk di pinggangnya.


"Ada apa pah?" tanya Rian.


"Pakai baju dulu. Nanti Papa tunggu di taman belakang ya. Ada yang mau Papa bicarakan denganmu," jawab Tuan Wira.


Tuan Wira pergi meninggalkan kamar Rian. Ia menunggunya di taman belakang. Tempat yang sudah ia janjikan pada Rian. Tidak lama Rian datang menemuinya.


"Ada apa pah?" tanya Rian sambil duduk di samping Tuan Wira.


"Papa ingin menunjukkan sesuatu padamu," jawab Tuan Wira.


"Sesuatu?" tanya Rian dengan bingung.


Dahi Rian mengernyit. Ia bingung mencari apa yang akan ditunjukan oleh ayah angkatnya itu. Matanya menatap Tuan Wira, lalu pandangannya mengedar ke sekitar. Namun ia belum menemukan apapun.


"Apa yang kamu cari?" tanya Tuan Wira yang ikut mengedarkan pandangannya.


"Aku mencari apa yang akan Papa tunjukkan padaku," jawab Rian.


Tuan Wira tertawa. Rian semakin bingung dengan tawa Tuan Wira.


"Papa kenapa? Aku bingung," jawab Rian.


"Maaf, maaf." Tuan Wira berusaha menyudahi tawanya. "Bisa tolong panggilkan Mia dan yang lain?" lanjut Tuan Wira.


"Iya," jawab Rian.


Masih dengan perasaan bingung, Rian meninggalkan Tuan Wira di taman belakang. Menemui Mia dan yang lain lalu mengajaknya untuk ke taman belakang.


"Ada apa sih, Ri?" tanya Mia.


"Aku juga tidak tahu, Kak. Papa hanya memintaku untuk membawa Kakak dan yang lain ke taman belakang," jawab Rian.


"Opa pasti mau memberi hadiah," ucap Naura.


"Naura, jangan seperti itu!" ucap Mia.


"Hadiahnya nanti saja ya biar Om yang belikan," ucap Rian sambil mengusap pelan rambut Naura.


"Janji ya Om," ucap Naura.


"Ri, kamu jangan terlalu memanjakan mereka. Mereka itu sudah besar, jangan kebanyakan beli mainan. Beli yang lebih bermanfaat saja," ucap Mia mengingatkan.

__ADS_1


"Om, jangan dengarkan Mama." Naura berbisik pada Rian.


Rian hanya bisa menahan tawanya sambil mengangkat jempol tangannya.


"Opaaa," teriak Naura dan Narendra.


"Sayang, peluk Opa." Tuan Wira merentangkan tangannya untuk memeluk kedua cucu kembarnya.


Mia dan Nyonya Helen masih bingung dengan apa yang akan ditunjukan oleh Tuan Wira. Namun mereka hanya menunggu Tuan Wira bercerita dengan Naura dan Narendra.


"Opa, katanya mau memberiku hadiah?" tanya Narendra.


"Oh ya? Siapa yang bilang begitu?" Tuan Wira balik bertanya.


"Om Rian," jawab Narendra sambil menunjuk Rian.


"Om tidak bilang begitu. Om hanya bilang kalau Opa ingin menunjukkan sesuatu. Om sendiri tidak tahu apa yang akan ditunjukkan Opa," ucap Rian.


"Memangnya Opa mau menunjukkan apa?" tanya Naura.


"Opa memang mau menunjukkan sesuatu pada kalian. Tapi Opa tidak tahu ini akan membuat kalian senang atau tidak. Karena ini bukan sebuah hadiah," jawab Tuan Wira.


"Memangnya Papa mau menunjukkan apa?" tanya Mia.


"Geser sayang," ucap Tuan Wira.


Naura dan Narendea menggeser dari samping Tuan Wira. Tanpa diduga Tuan Wira berdiri dari kursi roda. Tentu saja ini adalah sebuah kejutan tak terduga. Mia dan Nyonya Helen sampai menangis terharu. Rian pun menatap Tuan Wira tidak percaya.


"Kalian suka?" tanya Tuan Wira.


"Papa," teriak Nyonya Helen sambil memeluk Tuan Wira dengan erat.


"Sejak kapan Papa bisa berdiri seperti ini?" tanya Nyonya Helen.


"Papa bukan hanya bisa berdiri. Papa sudah bisa berjalan. Tapi belum lancar," jawab Tuan Wira.


Tuan Wira mengangguk. Nyonya Helen menjauh dan melihat Tuan Wira. Dadanya berdebar. Rasa tidak percaya membuatnya terus menangis terharu.


Kaki Tuan Wira mulai diangkat. Perlahan ia melangkah. Kakinya nampak gemetar. Rian mendekat dan berjaga takut kalau Tuan Wira belum bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Papa," ucap Nyonya Helen bergetar.


Air mata Nyonya Helen dan Mia semakin deras saat melihat Tuan Wira melangkah lebih jauh. Rian masih terus mengikutinya dan memastikan ayah angkatnya itu baik-baik saja.


"Hati-hati Pah," ucap Rian memburu Tuan Wira yang mulai tidak seimbang.


Mia segera membawa kursi roda ke dekat Tuan Wira.


"Sudah Pah. Istirahat dulu," ucap Mia sambil membantu Tuan Wira duduk kembali di kursi roda.


"Terima kasih," ucap Tuan Wira. "Maaf ya ternyata Papa masih belum lancar," ucap Tuan Wira.


"Jangan begitu Pah. Ini sudah sangat luar biasa. Maafkan Mama yang tidak tahu perkembangan suami sendiri," ucap Nyonya Helen sambil memeluk Tuan Wira.


"Ma, Papa memang sengaja tidak memberi tahu Mama tentang semua ini. Papa belajar berdiri dan berjalan sedikit demi sedikit saat jam tidur siang," ucap Tuan Wira.


"Jadi Papa tidak tidur? Papa membohongi Mama?" tanya Nyonya Helen.


"Papa tidak membohongi Mama. Papa hanya ingin memberi kejutan sederhana saja. Papa hanya berlatih sebentar lalu Papa tidur siang," jawab Tuan Wira.


"Mama benar-benar bahagia Pah. Mama tidak menyangka kalau Papa bisa sembuh secepat ini," ucap Nyonya Helen.


"Cepat? Papa rasa ini terlalu lama," keluh Tuan Wira.

__ADS_1


"Tidak Pah. Ini sangat cepat dan Mama bangga sama Papa," jawab Nyonya Helen.


Memang lama sebenarnya, karena kondisi Tuan Wira yang sudah tidak muda lagi. Beruntung ia memiliki banyak sekali dukungan. Hingga ia merasa sangat semangat untuk sembuh.


"Ri, karena Papa sudah banyak perkembangan dan kata Mama sangat cepat, apa boleh Papa minta sesuatu?" tanya Tuan Wira.


"Apa Pah? apapun yang aku bisa akan aku berikan untuk Papa," jawab Rian.


"Bisakah kamu menelepon calon menantu Papa?" tanya Tuan Wira.


Calon menantu? Dahi Rian mengernyit. Siapa yang dimaksud calon menantu oleh Tuan Wira. Benarkan orang yang dimaksud itu Riri? Ah ia tidak mau terlalu percaya diri.


"Siapa?" tanya Rian.


"Kucing kesayanganmu itu," jawab Tuan Wira sambil tersenyum lebar.


Rian menjadi yakin kalau orang yang dimaksud Tuan Wira adalah Riri. Ya, Tuan Wira sempat protes saat tahu kalau ia memanggil Riri dengan sebutan Mpus.


"Mungkin dia sedang sibuk," ucap Rian gugup.


"Dicoba dulu. Kan kamu belum mencobanya. Sekali saja ya! Kalau dia tidak menjawabnya, ya sudah kita bisa bicara lain kali saja." Tuan Wira memohon penuh harap.


"I-iya Pah," ucap Rian.


Tangannya merogoh saku celananya. Membawa benda pipih itu dan menekan nama Riri di layar ponselnya. Ia meloudspeaker panggilannya, untuk memastikan jika Riri memang benar-benar tidak menjawan panggilannya.


Dada Rian berdebar. Ia tidak tahu apa yang akan dibicarakan Tuan Wira pada Riri. Ia juga takut kalau Riri marah padanya karena meneleponnya untuk bicara dengan Tuan Wira tanpa meminta izin dulu.


Pus, semoga kamu tidak menjawab panggilan ini. Abaikan saja. Tolonglah, untuk kali ini saja. Aku tidak mau ini menjadi masalah baru.


Tentu hal ini membuat Rian ketakutan. Karena baru saja ia bertengkar dengan Riri. Belum reda masalah yang tadi, kini ia sudah siap membawa masalah baru.


Rian memijat dahinya pelan saat panggilan itu justru dijawab oleh Riri. Ia menyapanya untuk basa dengan suara gemetar karena gugup.


"Mas, ada apa?" tanya Riri.


"Ini, emm anu," belum jelas Rian menjawab pertanyaan Riri, Tuan Wira meminta ponsel Rian.


Rian pasrah apa yang akan terjadi nanti. Ia hanya memberikan ponselnya pada Tuan Wira.


"Halo, ini Mpus ya?" tanya Tuan Wira saat benda pipih itu sudah di genggamannya.


"Maaf, ini siapa ya?" Riri balik bertanya.


"Oh iya kenalkan, ini sama calon mertuamu. Papa Wira. Panggil aku Papa Wira," jawab Tuan Wira.


"Papa Wira?" tanya Riri bingung.


"Rian tidak pernah menceritakanku padamu?" Tuan Wira balik bertanya.


"Oh, Papa Wira ayahnya Kak Mia ya?" tebak Riri.


"Nah, tepat sekali. Kapan kamu ke sini?" tanya Tuan Wira.


Tuan Wira tidak menjelaskan kalau ia adalah ayah mertua Mia. Tapi ia yakin kalau Riri sudah tahu itu.


"Nanti Pah, setelah selesai kuliah. Tidak sampai satu tahun lagi aku pasti ke Indonesia. Nanti aku main ke rumah Papa ya!" ucap Riri yang langsung akrab dengan Tuan Wira.


Rian dan yang lain tengah memperhatikan keduanya yang asyik bercerita. Sampai pada akhirnya Rian menutup wajahnya karena Tuan Wira membahas tentang pernikahan dengan Riri.


"Jangan lama-lama ya! Papa sudah bisa berjalan. Papa sudah siap berdiri di samping kalian untuk menyambut tamu undangan di pelaminan," ucap Tuan Wira.


"Mudah-mudahan semuanya lancar ya Pah," ucap Riri.

__ADS_1


Rian merasa tubuhnya lemas saat Tuan Felix memberikan ponselnya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Ia hanya senang saat mendengar Riri nampak akrab dengan Tuan Wira. Padahal ini adalah obrolan pertama bagi mereka.


Kehangatan Riri dalam menyambut obrolan Tuan Wira membuat Rian senang. Bagaimanapun saat ini ia melihat Tuan Wira begitu semangat untuk sembuh, karena alasan akan menyambut tamu di pernikahan mereka.


__ADS_2