Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Kertas dan pulpen


__ADS_3

Setelah Mia pulang, Riri dan Rian segera pergi ke kantor. Tidak enak rasanya sudah membuat Hiro menunggunya sangat lama. Apalagi Riri yang selalu mengedepankan perasaan. Terlihat sangat gelisah saat dalam perjalanan.


"Sudahlah Pus. Namanya juga lupa," ucap Rian menenangkan Riri.


"Iya Mas. Tapi aku malu saja. Padahal aku yang minta dia datang pagi-pagi," ucap Riri.


"Iya tidak apa-apa. Hiro juga pasti mengerti," ucap Rian.


Riri diam. Ia berharap Hiro memang mengerti dan memaafkan kesalahannya. Meskipun ia sendiri bingung dengan jawaban yang harus diberikan untuk Hiro.


Di satu sisi, Hiro itu sahabatnya. Sudah sewajarnya Hiro dibantu saat sedang membutuhkan seperti ini. Terlepas Hiro memiliki kompeten atau tidak, nanti bisa dipelajari. Riri juga bisa menempatkan Hiro sesuai dengan kemampuannya. Tapi di sisi lain, ada Nyonya Helen dan Mia yang berharap jika Hiro tidak perlu terlibat di perusahaan Rian.


"Mas," ucap Riri.


"Hemm," jawab Rian.


Rian menatap Riri sekilas lalu kembali fokus ke jalan raya. Ia harus menyetir dengan baik. Apalagi ada istri yang sangat ia cintai di sampingnya.


"Menurut Mas, Hiro tidak apa-apa kan kalau masuk di perusahaan?" tanya Riri.


Rian hanya diam. Sebenarnya Rian juga bingung dengan adanya Hiro di perusahaannya nanti. Rian yang sudah sangat nyaman dengan kekeluargaan di perusahaannya, akan sedikit terbebani dengan adanya Hiro. Shelin adalah mantan tunangannya. Meskipun sudah tidak ada apa-apa, tapi ia takut jika istrinya akan merasa tidak nyaman dengan keberadaan masa lalunya.


"Mas," ucap Riri lagi.


Rian hanya menghela napas panjang tanpa menoleh ke arah istrinya. Dengan tegas ia menyerahkan semua keputusan pada Riri. Karena menurutnya, Riri sendiri yang akan merasakan dampak dari keberadaan Hiro di sana.


"Terus aku harus gimana?" tanya Riri bingung.


"Aku juga tidak tahu. Aku hanya takut kalau nanti kamu tidak nyaman. Aku hanya ingin istriku tenang dan senang," ucap Rian.


Lama Riri berpikir. Ia memutar kemungkinan-kemungkinan yang ia ciptakan sendiri. Berulang kali ia berpikir tentang jawaban yang harus diberikan pada Hiro nanti. Jawabannya hari ini akan memberikan dampak besar pada suatu hari nanti.


"Hey, sudah sampai. Ayo turun!" ajak Rian.


Riri yang masih melamun tiba-tiba tersentak. Ia semakin bingung saat menyadari bahwa dirinya sudah ada di parkiran. Hanya beberapa menit saja ia akan bertemu dengan Hiro, sementara ia belum punya jawaban apapun.


"Mas," ucap Riri dengan wajah gelisah.


"Kenapa? Kamu mau pulang lagi?" tanya Rian.


"Tidak," jawab Riri sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau kamu merasa tidak siap, aku antar kamu pulang. Biar nanti Hiro ke sini lagi setelah kamu siap," ucap Rian.


"Tidak Mas. Sekarang saja," ucap Riri.


Rian menggenggam tangan Riri saat memasuki kantor. Pertama kalinya Nyonya Rian datang ke perusahaan itu. Banyak sekali karyawan yang menyambut kedatangan Riri dengan sangat hormat. Riri yang merasa sangat diistimewakan hanya bisa mengangguk hormat dan tersenyum lebar.


"Mas, aku merasa seperti cinderella. Semua orang melihatku dan tersenyum hormat," ucap Riri senang saat sudah sampai di ruangannya.


"Kamu memang cinderella di dunia nyata. Kamu adalah cinderella milikku," ucap Rian sambil mendekat.


Riri yang merasakan ada gelagat aneh mulai mengingatkan Rian agar tidak macam-macam. Namun Rian terus mendekat dan mengunci tubuhnya dalam pelukan. Tarikan dan hembusan napas Rian membuat dadanya berdebar.


Ah, apa lagi ini? Ini kan di kantor. Tidak mungkin semua terjadi di sini.


"Mas, jangan di sini." Riri menolak.


"Kenapa? Di sini aman," bisik Rian.


"Tapi Hiro sudah menunggu," ucap Riri.


"Biarkan dia menunggu lebih lama. Biar kita tahu seberapa sabar dia," ucap Rian.


"Mas, tapi kan.." ucapan Riri terhenti saat Rian melahap rakus bibirnya.


Titik kelemahan Riri sudah mulai dijamah. Penolakan itu kian menghilang. Bahkan sampai akhirnya Riri melihat jika istrinya sudah pasrah. Setelah melihat kepasrahan itu, Rian tentu semakin semangat menjalankan aksinya. Dorongan dan tarikan terjadi silih berganti. Ritme yang awalnya pelan dan teratur kian cepat dan tidak beraturan.


Riri sudah menahan mulutnya agar tetap diam tanpa suara. Namun sayangnya aksi Rian terlalu hebat hingga membuat suara itu terdengar nyata di telinga Rian. Kekuatan Rian kian melemah saat suara itu merusak pikirannya.


Keduanya saling mengeratkan tubuh mereka saat puncak kenikmatan itu terjadi bersamaan. Mereka nampak mengatur napas yang terasa tersenggal. Namun Riri tidak bisa langsung tidur seperti di rumahnya.


Dengan tubuh lemas Riri segera merapikan pakaiannya. Ia juga tidak lupa menyisir rambutnya. Lipstik berwarna merah muda juga tidak lupa ia oleskan di bibirnya. Memberi warna agar lebih menarik.


Sedikit polesan di wajahnya Riri lakukan kembali. Serangan Rian siang ini membuat wajahnya terlihat pucat. Ia harus kembali terlihat segar karena akan bertemu dengan Hiro. Riri tentu tidak mau Hiro tahu apa yang sudah mereka lakukan.


"Panggil Hiro sekarang, Mas. Kasihan dia sudah menunggu terlalu lama," ucap Riri.


"Ok," ucap Rian.


Hanya dengan menekan tombol di teleponnya, tidak lama Hiro datang. Riri menyambut kedatangan Hiro. Tubuh itu terlihat begitu tegap. Wajahnya masih sangat ceria meskipun sudah menunggu berjam-jam.


Hiro nampak tersenyum ramah dengan amplop coklat yang berada di tangannya. Ia menyapa Riri dan Rian dengan wajah penuh harap. Riri tidak bisa membayangkan apa jadinya jika seandainya lamaran itu tidak diterima.

__ADS_1


"Boleh aku lihat surat lamarannya?" tanya Riri.


"Boleh Bu, silahkan." Hiro memberikan amplop coklat itu.


"Jangan panggil Bu. Biasa saja," ucap Riri.


"Maaf Bu, tapi saya harus bisa menempatkan diri. Ini di kantor dan Ibu adalah pemilik perusahaan ini," ucap Hiro.


Riri diam. Ia memang tidak nyaman dengan panggilan Bu yang disematkan padanya. Namun ia juga sadar jika suaminya memang harus dihargai oleh karyawannya. Termasuk Hiro yang akan menjadi karyawan baru di kantor itu.


Setelah Riri melakukan berbagai pertimbangan akhirnya ia mengiyakan. Hiro resmi diterima di perusahaan itu. Rian hanya ikut menyetujui. Apapun keputusan Riri adalah keputusan yang sah dan harus Rian setujui juga.


"Terima kasih banyak. Terima kasih," ucap Hiro dengan wajah yang sangat ceria.


Riri senang saat melihat Hiro begitu antusias. Jelas tergambar rasa bahagia atas keputusan yang sudah Riri ambil. Meskipun Riri sempat mengkahawatirkan ke depannya akan seperti apa, namun ia tidak mau berpikir buruk.


Setelah semua urusan selesai, Hiro pamit pulang. Ia akan kembali ke kantor dan mulai bekerja besok. Sedangkan Rian duduk di samping Riri saat Hiro sudah tidak ada.


"Kamu terlalu baik. Hatimu lembut dan sangat bersih. Aku bersyukur memilikimu," ucap Rian sambil mengecup punggung tangan istrinya.


Riri pun merasakan hal yang sama. Ia bangga dan bersyukur memiliki suami seperti Rian. Pria pekerja keras dan sangat pintar. Rian juga baik dan sangat mencintainya. Riri merasa hidupnya sudah sangat sempurna.


"Mas, aku boleh pulang sekarang?" tanya Riri.


Rian tidak memberi izin. Ia mau Riri menemaninya sampai selesai. Namun Riri merasa tidak enak karena sudah meninggalkan Nyonya Helen terlalu lama di rumah.


"Hanya hari ini saja. Mama juga pasti akan mengerti," ucap Rian.


Sebagai istri yang baik, Riri hanya mengikuti ucapan Rian. Ia duduk di sofa menunggu suaminya mengerjakan beberapa berkas yang berjejer di mejanya.


"Mas, boleh minta pulpen dan kertas?" tanya Riri.


Rian mengangkat wajahnya. Ia mengalihkan matanya dari layar laptop yang membuat matanya perih. Pandangannya langsung berubah saat melihat wajah cantik Riri.


"Buat apa?" tanya Rian.


"Mau menulis sesuatu," jawab Riri.


Rian memberi sebuah buku dan pulpen. Ia kembali bertanya untuk apa buku dan pulpen itu. Tapi Riri tidak menjawab. Ia hanya untuk menulis sesuatu. Rian kembali ke tempat kerjanya dan membiarkan Riri menulis apapun yang ia inginkan.


Sesekali Rian melihat ke arah Riri. Istrinya tengah menulis. Tidak lama Riri nampak mengangkat jari tangannya seperti sedang menghitung. Dahinya berkerut seperti sedang mengingat sesuatu.

__ADS_1


Menulis apa dia sebenarnya?


__ADS_2