
Rian melanjutkan pekerjaannya dengan sangat semangat. Ia sudah tenang saat tahu jika istrinya sedang berbahagia di rumah. Saat ini, tidak ada yang membahagiakan baginya kecuali melihat Riri bahagia.
"Aku pulang telat ya hari ini," ucap Rian dalam sambungan telepon.
"Mas mau kemana dulu?" tanya Riri kecewa.
"Aku di kantor. Aku hanya membereskan pekerjaan yang menumpuk. Sekarang kan Pak Manto tidak ada," ucap Rian.
Riri pun mengerti dan mengiyakan. Tidak masalah, lagi pula sekarang sudah ada orang tuanya di rumah Nyonya Helen. Paling tidak, Riri tidak terlalu merasa kesepian di rumah itu.
"Nyonya, maaf jika kehadiran saya mengganggu waktu Anda." Bu Risa menunduk hormat.
"Jangan begitu. Kita ini besan. Ibu adalah bagian dari keluarga ini. Kecuali anak ibu yang satu lagi itu," ucap Nyonya Helen.
Nyonya Helen melihat ibu kandung Riri seperti memiliki kepribadian ganda. Ia seolah menjadi ibu yang sangat jahat saat bersama Rara. Namun saat tanpa Rara, Nyonya Helen melihat ketulusan dari Bu Risa.
"Wah, makanannya enak. Boleh saya minta lagi?" ucap Pak Beni.
Sebenarnya itu hanya usaha ayah kandung Riri agar Nyonya Helen berhenti membahas tentang Rara. Sebagai seorang ayah, hatinya tentu tidak rela jika anaknya direndahkan oleh orang lain. Terlebih orang itu adalah besannya sendiri. Rara memang jahat, tapi dia tetap anak kandungnya. Sama dengan Riri, Rara juga berhak atas kasih sayangnya.
"Boleh, boleh. Silahkan. Nikmati saja semua hidangan di sini. Hanya ini yang bisa saya siapkan," ucap Nyonya Helen.
"Ini sudah lebih dari cukup, Nyonya. Terima kasih," ucap Pak Beni.
"Jangan panggil saya Nyonya. Panggil Nathalie saja," ucap Nyonya Nathalie.
"Ah, mana mungkin kami lancang. Biarkan kami tetap memanggil Nyonya saja," ucap Pak Beni.
"Kalau begitu panggil besan saja," ucap Nyonya Helen.
Saat perbincangan itu belum selesai, Tuan Wira datang dan ikut mengobrol. Bahkan Tuan Wira belum membuka jas dan tas yang ditentengnya. Ia sangat menghargai Pak Beni dan Bu Risa meskipun mereka berbeda tingkat sosialnya.
"Rian belum pulang, Pus?" tanya Tuan Wira.
"Belum, Pah. Katanya hari ini pulang terlambat. Maklum tidak ada Pak Manto," jawab Riri.
__ADS_1
"Pus?" tanya Bu Risa.
Ya, Bu Risa hanya bisa mengerutkan dahinya saat Tuan Wira bertanya pada orang yang dipanggil dengan sebutan Pus. Apalagi saat Tuan Wira menatap Riri dan Riri pun menjawab. Dan memang panggilan Pus itu untuk anaknya.
"Oh iya lupa. Maaf Bu, Riri itu dipanggil Mpus sama suaminya. Katanya sih panggilan sayang," ucap Tuan Wira.
"Oh begitu," ucap Bu Risa sambil mengangguk.
'Mpus kok panggilan sayang. Dimana-mana manggil Mpus itu sama kucing. Dasar orang kaya. Aneh.'
Tuan Wira pamit setelah merasa tidak nyaman dengan pakaiannya. Setelah seharian menggunakan pakaian itu, sepertinya ia merasa harus mandi. Badannya sudah terasa sangat lengket meskipun seharian berada di ruangan ber-AC.
"Pus, bawa orang tuamu ke kamarnya. Biarkan mereka istirahat. Mama mau menemani Papa dulu. Nanti dipanggil Bibi kalau sudah waktunya makan malam ya," ucap Nyonya Helen.
"Iya, Ma." Riri mengangguk dengan senyum bahagianya.
Ini yang Riri inginkan selama ini. Bisa hidup bersama dengan orang-orang yang sangat ia cintai dan mencintainya. Hanya saja ia harus menerima kenyataan bahwa orang tuanya hanya bisa dua hari saja berada di sana. Tapi itu cukup untuk melepaskan rasa rindunya.
"Ri, kamu beruntung sekali bisa tinggal di istana seperti ini. Mama juga senang melihat kamu sangat disayangi sama mereka," ucap Bu Risa saat sudah di kamarnya.
Bu Risa membalas pelukan Riri dengan sangat erat. Ia bahkan membelai rambut Riri. Sedangkan Pak Beni hanya menunduk lemas. Ia merasa ucapan Riri adalah pedang yang menghujam ke dalam hatinya. Sakit rasanya saat sadar jika ucapan Riri hanya sebuah sindiran menurutnya.
Bagaimana mungkin Riri bisa menyebut mereka baik sementara apa yang sudah mereka lakukan sudah sangat keterlaluan. Memutuskan untuk menikahkan pria yang dicintai Riri dengan kakak kandungnya sendiri. Hal itu benar-benar sangat jahat dan memalukan menurut Pak Beni. Tapi saat itu, hanya itu yang bisa ia lakukan.
"Andai saja Rara seberuntung kamu. Mama pasti menjadi ibu yang paling bahagia di dunia ini," ucap Bu Risa.
Saat itulah, Bu Risa mulai menceritakan kembali kisah Rara yang menurutnya sangat tragis. Tanpa disadari, cerita itu membuka luka Riri yang sudah nyaris sembuh. Sakit itu datang lagi saat ingat betapa tidak berartinya dirinya di keluarga itu.
"Ma, setiap orang sudah memiliki jalan hidup masing-masing. Kita tidak bisa menyesalinya karena kita sudah memutuskan untuk mengambil langkah itu," ucap Riri sambil menahan air matanya.
"Kamu beruntung. Tuhan memilihmu untuk menjadi lampu saat kami gelap. Tuhan memilihmu untuk menjadi beton kokoh saat kami semua rapuh," ucap Pak Beni sambil mengusap punggung Riri.
"Pah, aku sayang kalian semua. Termasuk Kak Rara. Aku sudah melupakan semua masa lalu itu. Tapi kenapa Kak Rara selalu menyudutkanku? Selalu aku yang disalahkan?" ucap Riri sambil mengusap sudut matanya.
"Dia hanya kecewa. Itu saja. Jangan benci dia ya," ucap Bu Risa.
__ADS_1
Riri semakin sedih saat merasa Bu Risa justru membela Rara. Padahal selama ini apa yang Rara lakukan sangat keterlaluan. Rara sendiri yang merebut pria yang ia cintai saat itu. Namun perselingkuhan pria itu membuat Rara membalas dendam padanya. Dan itu sangat tidak adil. Apalagi saat pembelaan selalu terucap dari kedua orang tuanya.
"Aku sama sekali tidak menginginkan Kak Rara seperti ini. Tapi kenapa selalu aku yang seolah bersalah? Aku menikah dengan Mas Rian saja rasanya sudah cukup. Aku sudah bahagia dengan masa depanku," ucap Riri sambil menutup wajahnya yang sudah mulai basah dengan air mata.
"Ri, Papa mengerti. Tapi kamu harus tahu kalau Rara hanya sedang kecewa. Kamu maafkan dia ya. Papa tahu kamu anak baik dan menyayangi Rara. Iya kan?" ucap Pak Beni.
Riri hanya terisak. Ia tidak bisa menjawab apa yang diucapkan Pak Beni. Karena hatinya ragu. Benarkah ia menyayangi Rara saat ini? Setelah apa yang sudah ia lakukan padanya? Ah entahlah.
"Sayang," panggil Rian.
Panggilan Rian dan suara ketukan pintu membuat Riri segera mengelap wajahnya. Tidak air mata lagi, namun sisa kesedihan itu masih sangat jelas tergambar di wajah cantik Riri. Tentu saja itu menjadi pertanyaan besar dari Rian.
"Kamu menangis?" tanya Rian saat pintu sudah terbuka.
Mata Rian menatap tajam wajah istrinya lalu mengedarkan pandangan ke dalam kamar itu. Mencari jawaban atas pertanyaannya saat Riri hanya menggelengkan kepalanya. Orang tua Riri yang terlihat gelisah membuat Rian mengerutkan dahinya.
"Mas, aku hanya menangis bahagia karena akhirnya bisa berkumpul dengan kedua orang tuaku," ucap Riri bohong.
"Kamu yakin?" selidik Rian.
Riri mengangguk. Ia juga segera pamit pada orang tuanya untuk mengantar suaminya berganti pakaian. Berlama-lama di sana hanya akan membuat Rian terus mencari tahu alasannya menangis. Dan itu tidak baik.
"Mas, bagaimana pekerjaannya? Sudah selesai?" tanya Riri saat membantu Rian membuka jas dari tubuh Rian.
"Kamu bahagia hari ini?" tanya Rian.
Mengabaikan pertanyaan basa basi itu, Rian kembali meyakinkan dirinya akan kondisi Riri. Rian paling tidak suka melihat istrinya bersedih apalagi menangis.
"Mas, berhenti curiga pada keluargaku. Mereka ayah dan ibuku. Mana mungkin mereka menyakitiku," ucap Riri meyakinkan Rian.
"Pus, dengarkan aku." Rian meraih bahu Riri dan mengguncangnya pelan.
Tatapannya tajam dan membawa Riri bicara serius akan kekhawatirannya. Riri memeluk Rian saat menyadari sikapnya adalah cara Rian menunjukkan rasa cintanya.
"Aku sayang kamu, Mas. Nanti aku kasih jatah service. Tapi sekarang mandi dulu ya. Sebentar lagi waktunya makan malam," ucap Riri.
__ADS_1
Rian menyeringai nakal saat dijanjikan full service oleh istrinya. Sudah terbayang akan seperti apa dia malam ini. Namun pikiran kotornya buyar saat Riri mendorong Rian agar segera mandi.