
Setelah kejadian itu, Rian semakin yakin kalau Maudi tidak akan bisa menghancurkan hubungannya dengan Riri. Ia hanya butuh kesabaran untuk menunggu waktu yang tepat agar bisa selalu bersama dengan Riri.
"Tidak sampai satu tahun lagi," gumam Rian sambil memejamkan matanya dan tersenyum bahagia.
Malam ini Rian tidur nyenyak setelah memastikan jika keadaan Riri baik-baik saja. Ya walaupun sempat sedih karena malam ini ia tidak bisa bertemu dengan Riri. Tapi tidak masalah. Besok pagi Rian bisa menemui Riri sebelum wanita yang ia cintai itu benar-benar pergi dari Indonesia.
Pagi hari Rian sudah bersiap dan berangkat sebelum sarapan. Bahkan tidak banyak yang tahu kalau Rian sudah berangkat pagi ini. Hanya Tuan Wira yang tahu keberangkatan Rian. Akhirnya Tuan Wira juga yang punya tanggung jawab untuk berbohong pada Naura.
Dan sesuai dugaan. Naura mencari Rian saat menunggu di ruang makan dan tidak kunjung datang. Ia berusaha mencari Rian ke kamarnya namun tidak ada.
"Kamu kenapa Naura?" tanya Tuan Wira.
"Om Rian tidak ada," jawab Naura dengan wajah kesal.
"Oh iya Opa lupa. Om Rian sudah berangkat karena ada urusan pekerjaan," jawab Tuan Wira.
"Kenapa tidak bilang dulu sama Naura?" tanya Naura.
"Om Rian buru-buru. Nanti kalau sempat katanya mau jemput kalian ke sekolah," jawab Tuan Wira.
"Opa tidak bohong, kan?" tanya Naura penuh harap.
"Ti-tidak. Sejak kapan Opa jadi tukang bohong," jawab Tuan Wira dengan gugup.
Tuan Wira bahkan sampai mengelap dahinya yang basah karena keringat. Lagi-lagi ia berbohong. Tapi sayangnya kebohongannya itu membuat ia tegang sendiri.
Karena alasan tidak tega melihat wajah Naura yang sedih, kini justru Tuan Wira tidak tega membayangkan Naura kecewa saat Rian tidak bisa menjemputnya.
"Memangnya Rian ada urusan apa, Pah?" tanya Mia.
Pertanyaan Mia membuat keringat mengalir lebih deras. Mana mungkin ia bisa menjelaskan semuanya di sana. Sementara Naura baru saja tenang dan senang. Tidak ada pilihan lain selain berbohong. Namun ia berharap Mia akan mengerti dengan keadaan ini.
"Ada berkas yang harus ditandatangani segera," jawab Tuan Wira.
"Memangnya tidak bisa menunggu sampai jam masuk kantor?" Mia balik bertanya.
Rupanya Mia tidak menangkap kebohongan Tuan Wira. Sekali lagi Tuan Wira mengelap dahinya yang basah.
"Rian pasti sangat sibuk. Dia kan menghandle semuanya hanya berdua dengan Manto. Mengertilah sayang," ucap Dion sambil menggenggam tangan Mia.
Tuan Wira bisa bernapas lega setelah tahu jika Dion menyadari semuanya. Sepertinya kegugupan Tuan Wira sudah dapat diartikan oleh Dion hingga ia membantu Mia untuk tidak terus membahas Rian di depan Naura.
Setelah Naura dan Narendra berangkat sekolah, Tuan Wira baru menjelaskan kalau sebenarnya Rian menemui Riri. Mia sampai malu sendiri saat tidak peka dengan apa yang terjadi pada Tuan Wira.
"Maafkan Mia Pah," ucap Mia dengan sangat bersalah.
"Tidak apa-apa Mi. Tapi sekarang Papa bingung, bagaimana kalau Rian tidak bisa menjemput Naura?" tanya Tuan Wira.
"Coba Papa hubungi Rian. Kalau Rian tidak bisa, biar aku yang jemput Naura." Dion berusaha menenangkan ayahnya.
Ya, memang akan kecewa. Tapi paling tidak, Naura tidak terlalu sedih hari ini.
"Kamu bisa Dion?" tanya Tuan Wira.
"Bisa. Papa jangan khawatir," jawab Dion.
Kali ini Tuan Wira sudah lepas dari kebohongan tentang Rian. Kini kebohongan itu harus dilanjutkan oleh Dion untuk menutupi kesedihan Naura. Kadang ada rasa cemburu saat Naura lebih dekat dengan Rian dibanding dengannya.
__ADS_1
Di satu sisi ia memang sedih. Namun di sisi lain ia juga berterima kasih. Saat ia tidak memiliki banyak waktu dengan Naura, Rian bisa melengkapi itu untuk Naura.
"A, kok malah bengong. Ayo berangkat!" ajak Mia.
Dion terperanjat dan segera pergi ke kantor. Hari ini Dion sudah kembali ke kantor Mia. Tuan Wira sudah bisa mengatasi perusahaan sendiri. Lagi pula kasihan Mia. semenjak Dion ke kantor Tuan Wira, Mia harus mengurus semuanya sendiri.
"Sayang, maaf ya!" ucap Dion.
"Maaf kenapa?" tanya Mia bingung.
Seingat Mia, Dion tidak melakukan kesalahan apapun padanya. Namun saat Dion mengungkapkan rasa bersalahnya karena sudah membiarkan Mia mengurus perusahaan sendiri, Mia justru meminta maaf juga pada Dion.
"Mia yang seharusnya meminta maaf karena Mia menjadi wanita karir. Seharusnya Mia di rumah. Menjadi ibu dan istri yang baik buat si kembar dan Aa," ucap Mia.
"Hey, jangan begitu. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan semua itu. Ayolah, kembali tersenyum!" ucap Dion.
Rasa bersalah menyelimuti Dion. Ia tidak menyangka jika permintaan maafnya justru membuat istrinya merasa semakin bersalah. Pagi ini harus menjadi pagi yang tidak ceria seperti biasanya.
Mia merasa langkahnya untuk mewujudkan semua cita-citanya justru membuat tugasnya sebagai seorang istri dan ibu sudah hilang. Ia banyak sekali melakukan kesalahan yang luar biasa menurutnya. Namun Dion kembali mengingatkan Mia bahwa itu semua tidak benar.
Bagi Dion, apa yang Mia lakukan sudah cukup. Cara Mia memperlakukan dan menyayangi semua anggota keluarganya adalah gambaran bahwa Mia adalah istri yang baik. Meskipun dulu ia mendambakan istri yang selalu stay di rumah. Mengantarnya sampai pintu dan menjemputnya di pintu rumah. Tapi itu dulu.
Dion yang sudah semakin paham tentang Mia, merasa harus mengembangkan potensinya. Mia juga punya cita-cita yang besar. Kesempatan juga ada. Mia berhak meraih cita-citanya. Dan Dion yakin kalau apa yang terjadi sekarang membuat Mia bahagia.
"Papa," ucap Mia saat ponselnya berdering.
"Angkat," ucap Dion.
Ternyata Tuan Wira mengabari kalau Rian bisa menjemput Naura siang ini. Dion bersyukur karena akhirnya rantai kebohongan itu sudah terputus.
"Rian memang anak yang baik ya!" ucap Mia.
"Aa cemburu?" Mia balik bertanya.
"Tidak," jawab Dion sambil cemberut.
"Ayo ngaku! Aa cemburu kan?" tanya Mia.
"Mana ada aku cemburu?" Dion berusaha mengelak.
Mia tertawa melihat wajah kesal suaminya. Sudah lama ia tidak melihat wajah lucu suaminya seperti ini. Ia pun segera memeluk Dion.
"Mi, awas ah. Ini di jalan," ucap Dion.
"Memang lagi di jalan. Tapi Mia yakin suami Mia fokusnya oke kok," ucap Mia.
"Mia lepasin," ucap Dion.
"Tapi Aa jangan cemberut begitu. Mia kan cuma sayang sama Aa. Masa Aa cemburu sama Rian?" tanya Mia.
"Aku tidak cemburu sama Rian. Aku hanya kesal. Kamu dan Naura sama saja. Selalu saja memuji Rian di depanku," jawab Dion.
"Tapi Aa masih yang terbaik kok. Asli. Sumpah," ucap Mia sambil mencium pipi Dion.
"Mi, jangan menggodaku seperti ini." Dion mulai tidak fokus.
"Masa sih? Aa kan paling fokus," ucap Mia.
__ADS_1
Kesal karena Mia tidak mau melepaskan pelukannya, Dion meraih tangan Mia yang melingkar di perutnya. Ia simpan di bagian pusatnya yanhmg mulai mengeras.
"Aa, ih apaan sih. Di jalan tahu," ucap Mia yang segera melepaskan tangannya.
Dion tertawa keras.
"Salah siapa menggodaku di jalan. Namanya juga aku laki-laki normal. Ya wajar dong bangunnya tidak tahu tempat. Memangnya kamu mau kalau si otong susah bangunnya?" tanya Dion.
Kini giliran Mia yang dibuat tertawa. Ia geli sendiri dengan pertanyaan Dion. Mereka berdua tertawa bersama. Bernostalgia masa-masa mereka saat masih beberapa bulan menikah. Masa-masa kembali satu kantor setelah beberapa waktu berpisah dan hanya bertemu saat sebelum berangkat dan pulang kerja saja.
"Aku merindukan masa-masa ini, Mi. Terima kasih sudah menemaniku sampai detik ini. Dan aku harap kamu tetap di sampingku sampai kapanpun. Apapun yang terjadi," ucap Dion.
"Mia yang seharusnya berterima kasih karena Aa sudah menerima Mia apa adanya. Aa sudah memberikan Mia kesempatan untuk mewujudkan cita-cita Mia tanpa membebani Mia dengan status Mia. Status pernikahan, status istri dan ibu untuk kedua anak kembar kita," ucap Mia.
Dion hanya tersenyum. Ia menggenggam erat tangan Mia.
"Kamu berhak untuk semua ini, Mi." Dion mengecup punggung tangan Mia.
Pagi ini Mia sangat bahagia. Ia bersyukur dengan jalan hidupnya. Walaupun penuh dengan liku-liku kehidupan, namun akhirnya ia berhasil menemukan kebahagiaannya.
Setelah lama tidak satu kantor, Dion bukan bekerja tapi justru asyik menatap Mia yang sibuk dengan laptopnya. Mengamati wajah wanita yang ia cintai sejak pandangan pertama. Meski kini sudah tidak muda lagi, namun Mia masih tetap cantik. Ia begitu mebggida hatinya dan selalu berhasil membuatnya jatuh cinta setiap kali menatapnya.
"Aa, Aa," panggil Mia.
"Iya. Kenapa?" tanya Dion.
"Kenapa bengong begitu?" tanya Mia.
"Tidak," jawab Dion sambil menggeleng.
"Aa terpesona kan melihat wajah Mia?" goda Mia.
"Ih, jangan terlalu percaya diri begitu." Dion mengalihkan pandangannya dari Mia.
Dengan cepat ia kembali menatap layar laptopnya. Kembali berkutat dengan berkas yang sejak tadi hanya di pegang olehnya.
"A, sudah waktunya pulang. Coba telepon Rian. Apa dia sudah menjemput Naura atau belum," ucap Mia.
Dion melihat pergelangan tangannya. Ini memang sudah jam pulang Naura. Ia segera menghubungi Rian.
"Apa katanya?" tanya Mia saat melihat Dion sudah selesai menelepon Rian.
"Aman," jawab Dion.
Dion tidak tahu kalau saat ini Rian sedang mengajak kedua anaknya bermain di mall dengan Riri. Mr. Aric yang membatalkan penerbangan pagi ini, membuat Riri memiliki waktu bebas dengan Rian hari ini.
"Aunty Puspus cantik sekali ya!" ucap Naura sambil memperhatikan wajah Riri.
"Naura juga cantik," ucap Riri.
"Rumah Aunty dimana?" tanya Naura.
Tiba-tiba wajah Riri berubah. Rian segera mengalihkan perhatian Naura. Bukan hanya Naura, sebenarnya Rian juga ingin bertanya tentang hal itu pada Riri. Namun ia sudah tahu jika reaksinya akan seperti itu.
"Maaf ya Pus," ucap Rian saat perhatian Naura sudah teralihkan.
"Tidak apa-apa," ucap Riri.
__ADS_1
Rian jelas melihat mood Riri yang berubah. Bukan kesal pada Naura. Kesedihannya muncul karena ingat dengan masa lalunya yang menyakitkan di negara ini.