
"Rian, kamu kenapa?" tanya Tuan Felix saat Rian sudah kembali.
"Aku tidak apa-apa Pah," jawab Rian.
Rupanya Rian tidak bisa menyembunyikan perasaan kecewanya pada Maudi di depan Tuan Felix. Ia segera masuk ke kamar dan menghindar dari ayahnya. Pertanyaan Tuan Felix akan menyudutkannya dan Rian tidak siap dengan semua itu.
"Rian, Rian, buka pintunya!" ucap Tuan Felix.
"Pah, aku mau sendiri. Tolong beri aku waktu sendiri," ucap Rian.
Rian masih tetap dengan keputusannya untuk tidak membuka pintu kamarnya. Ia benar-benar sakit dan ingin sendiri.
"Apa yang terjadi? Apakah Mpus menolak cintamu?" tanya Tuan Felix.
Rian yang sedang pusing dengan Maudi, semakin pusing saat Tuan Felix menuduhnya yang aneh-aneh.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Mpus. Aku tidak apa-apa Pah. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri," ucap Rian.
"Terus ini berhubungan dengan siapa? Maudi?" tanya Tuan Felix.
Rian diam. Ia merasakan hatinya semakin tercabik saat mendengar nama itu. Wanita yang sudah jelas tidak baik, namun Rian masih berharap semua itu hanya mimpi.
"Rian, benar semua gara-gara dia?" tanya Tuan Felix saat Rian tidak menjawab.
"Tidak Pah. Aku tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja. Aku hanya butuh waktu sendiri. Jadi lebih baik Papa juga istirahat saja. Ini sudah malam," ucap Rian.
"Papa mau bicara denganmu. Sebentar saja Rian. Papa tidak mungkin bisa istirahat kalau kamu saja tidak mau bicara dengan Papa," ucap Tuan Felix.
"Bukan begitu Pah. Aku lelah dan ingin tidur," ucap Rian.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau bicara dengan Papa, biar Papa cari informasi dari Mpus. Papa mau ke rumah Mr. Aric dan bertanya langsung pada Mpus," ucap Tuan Felix.
Ke rumah Mpus? Rian segera turun dari ranjangnya dan membuka pintu.
"Nah begitu dong keluar. Kamu ini seperti anak gadis yang minta dinikahin. Ngurung diri di kamar begitu," ucap Tuan Felix.
"Pah, aku tidak kenapa-kenapa. Dan Mpus tidak ada hubungannya dengan semua ini," ucap Rian.
"Berarti ada apa-apa sama kamu. Kamu kenapa? Cerita sama Papa," ucap Tuan Felix.
"Pah, aku baik-baik saja. Hanya cape dan butuh istirahat," ucap Rian.
__ADS_1
"Papa sudah mengenalmu cukup lama. Papa tahu kapan kamu jujur dan berbohong. Kamu tidak bisa menyembunyikan kebohonganmu Rian," ucap Tuan Felix.
Rian menyerah. Ya, Tuan Felix benar. Ia tidak bisa berbohong pada ayahnya sendiri. Lagi pual ia benar-benar butuh orang untuk mengungkapkan kekecewaannya. Mungkin ini waktu yang tepat untuk Rian menceritakan semuanya.
"Pah, aku sakit. Aku kecewa. Maudi ternyata tidak sebaik yang aku pikir," ucap Rian dengan suara yang bergetar.
"Papa sudah duga kalau semua sumber kesedihanmu hanya dia. Baguslah kalau kamu sudah tahu yang sebenarnya. Dia memang bukan orang yang baik Rian. Makanya selama ini Papa selalu melarang kamu bersamanya," ucap Tuan Felix.
"Tapi hatiku masih belum menerima semua kenyataan ini Pah. Aku benar-benar merasa duniaku hancur," ucap Rian.
"Rian, kamu ini masih sangat muda. Jalan hidup kamu masih sangat panjang. Papa rasa berlebihan jika kamu menggilai wanita yang tidak baik, sementara ada wanita yang jelas-jelas sangat baik di dekatmu. Papa yakin Mpus bisa mengganti posisi Maudi di hati kamu," ucap Tuan Felix.
"Aku tidak yakin. Aku hanya takut jika hatiku tidak bisa seperti ini pada wanita lain," ucap Rian.
"Papa bingung, apa sih yang membuat kamu tergila-gila pada Maudi? Cantik? Masih banyak wanita yang jauh lebih cantik. Pintar? Papa rasa dia tidak begitu pintar. Kaya? Seharusnya itu bukan menjadi tolak ukur kamu sebagai laki-laki untuk mendapat wanita kaya. Lalu apa yang membuatmu sulit sekali melupakan Maudi?" tanya Tuan Felix kesal.
"Ah, aku juga tidak tahu. Cintaku pada Maudi memang benar-benar sudah membuat aku gila. Aku tidak mengerti. Bahkan saat itu, saat kepalaku berpikir untuk tidak mungkin bersamanya, hatiku tetap menolak meskipun sudah sangat sakit. Rian mengacak rambutnya dengan kasar.
"Tidak cukup melihat Maudi pacaran dengan sahabatmu sendiri? Tidak cukup semua perlakuannya yang sangat tidak menghargaimu itu? Dimana harga dirimu sebagai laki-laki?" tanya Tuan Felix.
Rian semakin frustasi saat merass tersudut seperti itu. Ia yang ingin bercerita pada Tuan Felix mengenai masalahnya dengan Maudi, kini mengurungkan niatnya. Rupanya kekesalan Tuan Felix pada Maudi membuat hilang kendali. Rian bahkan tidak menemukan sosok dewasa dan menenangkan dari Tuan FeliX.
Saat ini Rian merasa Tuan Felix ikut emosi pada Maudi. Padahal ia belum tahu cerita itu. Lalu bagaimana jika Tuan Felix sampai tahu? Bukankah hanya akan membuat masalah baru lagi?
"Papa pegang janjimu Rian. Papa tidak ingin Maudi hanya menbuat hidupmu gila dan masa depanmu berantakan," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah. Aku janji," ucap Rian.
Setelah semua urusan dengan Tuan Felix terselesaikan, Rian kembali berbaring. Menikmati malam yang begitu dingin dan berharap gelapnya malam membawa semua beban dalam hidupnya.
"Pagi Pah," sapa Rian saat melihat Tuan Felix menuju ruang makan.
"Kamu masuk pagi?" tanya Tuan Felix.
"Siang Pah. Hanya saja, aku mau berangkat lebih awal hari ini," jawab Rian.
Melihat Tuan Felix menatapnya tajam, Rian segera menjelaskan apa penyebab ia berangkat lebih awal.
"Aku mau bertemu dengan Mpus Pah," jawab Rian.
"Bagus. Obat oatah hati adalah dengan hati yang baru. Papa yakin Mpus bisa menjadi obat yang paling mujarab buat kamu," ucap Tuan Felix.
__ADS_1
"Papa bisa saja. Kami hanya berteman Pah," ucap Rian.
"Ya memang semua berawal dari berteman, saling mengenal dan nyaman. Papa menunggu rasa saling nyaman diantara kalian. Sampai akhirnya nanti kamu mengenalkan Mpus sebagai pacar kamu," ucap Tuan Felix.
Rian hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia malu sendiri dengan apa yang dibicarakan oleh Tuan Felix. Suasana pagi yang sudah kembali normal nampaknya membuat keduanya lebih ceria.
"Papa berangkat! Nanti tolong sampaikan salam Papa untuk Mpus," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah, hati-hati!" ucap Rian setelah mencium tangan Tuan Felix.
"Jangan lupa kerjakan semua tugasmu," ucap Tuan Felix sesaat sebelum mobilnya melaju meninggalkan rumah itu.
Tuan Felix memang tidak pernah menuntut Rian untuk selalu mempertahankan beasiswanya. Namun meskipun begitu, Tuan Felix selalu mengingatkan Rian untuk melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa. Ia harus belajar dan belajar.
Rian segera berlari ke kamarnya saat mendengar dering ponselnya. Mia menghubunginya dan memarahinya karena sudah beberapa hari Rian tidak menghubunginya.
"Aku pikir Kakak sedang sibuk makanya tidak meneleponku," ucap Rian membela diri.
Ya, Rian akui jika ia memang sempat tidak menghubungi Mia. Selain karena Mia tidak menghubunginya, ia juga merasa kehadiran Riri cukup membuatnya merasa ada teman baru untuk berbagi.
"Kalau aku tidak menghubungimu, seharusnya kamu meneleponku. Atau sekedar memberi kabar kan bisa," ucap Mia.
"Iya Kak. Aku minta maaf. Bagaimana kabar Narendra sama Naura?" tanya Rian mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaran Rian. Kenapa kamu tidak menghubungiku? Apa kamu sibuk dengan Maudi?" tanya Mia.
"Maudi lagi. Sudahlah Kak, jangan bahas Maudi lagi. Aku sudah cape," ucap Rian.
"Kamu cape membahas tentang Maudi? Sejak kapan?" tanya Mia tidak percaya.
"Sejak hari ini," jawab Rian.
Mia terus menggoda Rian. Selain rasa tidak percaya, namun sebenarnya Mia juga merasa sangat bahagia dengan apa yang terjadi dengan Rian.
"Apa kamu semakin dekat dengan si kucing itu?" tanya Dion yang ikut nimbrung.
"Riri A, bukan si kucing." Mia menyikut Dion.
"Mpus," jawab Rian.
"Tuh Rian sendiri yang memberi nama Mpus. Mirip kucing tetangga kan?" tanya Dion.
__ADS_1
"Hussst, sudah ah sana." Mia mendorong Dion agar tidak ikut bicara dengan Rian. "Rian, maaf ya!" lanjut Mia.
Rian justru merasa terhibur saat mendengar perdebatan keduanya. Ia membayangkan kelucuan Mia dan Dion saat ini. Bahkan Rian berharap jika rumah tangganya nanti akan seperti Mia. Tidak kaku dan terlihat begitu hangat.