Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Dilema


__ADS_3

Malam ini Mia dan Dion masih terus berusaha mengingatkan Rian tentang perjuangan sebuah rasa. Rian memang sudah tidak sekeras sebelumnya. Namun rasa kecewa itu tidak membuatnya luluh. Baginya, Riri adalah masa lalunya.


"Kamu yakin?" tanya Mia.


Rian tidak menjawab. Karena sampai saat ini Rian sama sekali tidak yakin dengan keputusannya. Ia benar-benar bingung. Hanya saja rasa kecewa karena keputusan Riri menunda kepulangannya, membuatnya tidak bisa mempertahankan hubungan itu.


"Sudahlah Mi. Rian punya alasan sendiri atas keputusannya. Rian juga bukan anak kecil. Dia pasti tahu mana yang terbaik buat dirinya. Iya kan Ri?" tanya Dion.


Sebenarnya kalimat itu tidak ditujukan untuk Mia. Dion hanya ingin Rian lebih yakin dengan keputusannya. Namun tanggapan Rian masih sama. Ia masih diam dan tidak mengeluarkan kalimat apapun.


Mia dan Dion tahu kalau Rian butuh waktu untuk sendiri. Mereka meninggalkan Rian agar bisa kembali berpikir atas keputusan yang sudah diambilnya.


Tidak ada paksaan atau tekanan dari siapapun. Rian sudah dewasa dan memang berhak menentukan pilihannya sendiri. Namun mereka hanya mengingatkan agar Rian tidak mengambil keputusan saat sedang emosi. Penyesalan hanya ada di akhir. Dan mereka tidak mau Rian mengalami hal itu.


Semalaman di rumah Mia, Rian tidak bisa tidur. Ia menatap jendela kamarnya. Semilir angin dalam gelapnya malam membuat Rian sedikit tenang. Ia meneguk kopi yang sudah mulai dingin.


"Aku tidak tahu ini keputusan yang tepat atau tidak. Tapi aku tidak yakin dengan satu tahun yang kamu janjikan Pus. Siapa yang bisa memastikan kalau tahun depan kamu tidak menunda lagi kepulanganmu?" ucap Rian pelan.


Hatinya bergemuruh. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ah, saat ini yang ia inginkan adalah melupakan Riri. Hanya itu.


Entah jam berapa Rian tertidur malam tadi. Ia baru terbangun saat Naura berteriak memanggil namanya. Pintu kamar yang dikunci membuat Naura tidak berhenti memanggil namanya. Namun matanya yang sangat berat membuat Rian tidak bergeming. Ia hanya membuka matanya sebentar dan tidur lagi.


Rian benar-benar bangun saat rumah sudah sepi. Tidak lagi terdengar suara Naura yang berteriak. Perlahan ia menggeliat lalu berjalan membuka gorden kamarnya. Tangannya langsung menutupi wajahnya saat silau mentari mengenainya.


"Astaga. Jam berapa ini?" tanya Rian terkejut.


Saat menyadari jika dirinya sudah sangat terlambat, Rian segera mandi dan bersiap. Ia keluar dan tidak ada siapa-siapa di rumah itu. Hanya ada seorang satpam yang menyapa Rian dengan ramah.


"Siang Mas," sapa satpam itu.


"Siang," sapa Rian.


Rian semakin tidak enak hati saat mendengar sapaan dari satpam itu. Sesiang itukah ia bangun hari ini? Ah sudahlah, itu semua sudah tidak penting. Karena yang harus ia lakukan saat ini adalah segera pergi ke kantor. Semakin lama Rian bingung akan membuatnya semakin siang tiba di kantor.


"Mas, Mas." Satpam itu memanggil Rian.


Rian yang baru saja menutup pintu mobilnya membuka kacanya.


"Ada apa lagi?" tanya Rian.


"Kata Nyonya Mia bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut. Nyonya sudah menelepon Pak Manto katanya," jawab satpam itu.


"Oh iya. Terima kasih," ucap Rian.


Tidak lama Rian pergi. Di perjalanan ia memikirkan sikap Mia yang begitu manis padanya. Mia memang tipe istri idamannya. Selama ini Rian menginginkan istri seperti Mia. Ia mendambakan rumah tangganya seperti Mia dan Dion.


Rumah tangga? Ah Rian kembali merasakan sakit. Apa yang sudah ia rencanakan sudah pupus. Rian segera mengalihkan perhatiannya. Ia tidak mau fokusnya pagi-pagi ini membuatnya badmood seharian.

__ADS_1


Sesampainya di kantor, Rian setengah berlari untuk segera sampai ke ruangannya. Di sana tidak ada Manto. Dahinya mengernyit. Ia mencari keberadaan Manto. Setelah mencoba menghubungi Manto dan tidak ada jawaban, Rian pergi ke ruangan Danu. Ia mencoba mencari Manto di sana. Atau paling tidak, Danu akan tahu dimana Manto saat ini.


"Permisi. Kak," ucap Rian sambil mendorong pintu ruangan.


Rian semakin bingung saat melihat ruangan Danu juga kosong. Ia segera bertanya pada karyawan lain tentang keberadaan dua orang itu.


"Pak Manto dan Pak Danu sedang meeting dengan perusahaan X," jawab salah satu karyawan yang mengenakan kemeja biru itu.


Perusahaan X? Rian menepuk dahinya. Rupanya ia melupakan jadwal meeting pagi ini. Lagi-lagi semua itu karena Riri. Rian kembali ke ruangannya. Ia menunduk sambil memijat pelan kepalanya. Keyakinan untuk melupakan Riri semakin kuat. Rian menyalahkan Riri atas semua kesalahannya sendiri.


Setelah menunggu satu jam akhirnya Manto kembali. Manto terkejut melihat kehadiran Rian di ruangan itu.


"Bapak ke kantor?" tanya Manto.


"Bagaimana meetingnya? Lancar Pak?" tanya Rian.


Mengabaikan pertanyaan Manto, Rian justru lebih antusias dengan hasil meeting hari ini. Akhirnya ia bisa bernapas lega saat tahu kalau semuanya berjalan dengan lancar.


Rian semakin kagum dengan sosok Mia. Seandainya Mia tidak berbohong dan mengatakan kalau Rian tidak masuk hari ini karena sakit, mungkin Manto akan terlambat menghadiri meeting itu. Beruntung Manto tahu lebih pagi, jadi bisa mempersiapkannya dengan Danu.


"Lain kali kalau Bapak tidak enak badan, jangan memaksakan diri. Saya dan Pak Danu akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini," ucap Manto.


"Terima kasih sebelumnya Pak. Tapi saya hanya tidak enak saja. Ini kan perusahaan saya, tapi yang berjuang malah Pak Manto dan Kak Danu. Sementara saya sendiri malah tiduran di rumah," ucap Rian.


"Pak, tidak ada orang yang menginginkan untuk sakit. Kami mengerti keadaan Bapak. Kami memang bukan pemilik perusahaan ini, tapi kami berjanji akan selalu memberikan yang terbaik sebisa kami." Manto meyakinkan Rian.


Maafkan aku Pah.


Rasa penyesalan itu kini menyeruak di dalam hatinya. Ia menyesal karena selama ini fokus dengan rasa kecewanya kepada Riri. Ia bahkan sampai melupakan meeting penting hari ini.


Rian menarik napas panjang dan duduk dengan tegak. Ia memastikan pada dirinya sendiri lebih baik untuk perusahaan.


"Tolong ingatkan saya jika ada pekerjaan yang berhubungan dengan saya. Apapun itu dan bagaimanapun keadaan saya. Saya ingin lebih baik lagi. Saya malu dengan semangat Bapak dan Kak Danu," ucap Rian.


"Pak, sebelumnya saya minta maaf. Tapi saya sama sekali tidak berniat menyinggung Bapak," ucap Manto merasa tidak enak hati.


"Oh bukan begitu Pak. Saya seharusnya berterima kasih. Sikap Bapak dan Kak Danu hari ini benar-benar sudah menampar saya yang kurang bertanggung jawab," ucap Rian.


Setelah perdebatan itu, Manto jadi serba salah. Ia jadi tidak enak dengan sikap Rian yang tiba-tiba berubah begitu. Walaupun sebenarnya ada sisi bahagia dengan perubahan yang Rian alami.


"Pak, sudah jam pulang." Manto mencoba mengingatkan Rian yang sedang fokus dengan laptopnya.


Rian melihat pergelangan tangannya. Ini sudah lebih sepuluh menit dari jam pulang.


"Ah, Bapak pulang duluan saja. Nanti saya pulang sebentar lagi," ucap Rian.


"Biar saya tunggu Bapak saja," ucap Manto.

__ADS_1


"Tidak perlu. Pulanglah! Bapak sudah lelah dengan semua kegiatan dan pekerjaan hari ini," ucap Rian.


"Tapi saya tidak enak," ucap Manto.


Saat Rian memastikan kalau Manto boleh pulang lebih dulu, bukan main senangnya. Akhirnya Manto terbebas dari omelan dan tuduhan istrinya. Karena hari ini ia ada acara yang sudah dijanjikan sebelumnya dengan istrinya.


Meskipun tidak enak hati, Manto pulang lebih dulu. Meninggalkan Rian yang masih fokus dengan laptopnya. Dalam hatinya Manto berkali-kali meminta maaf pada Rian. Seandainya ia tidak membuat janji dengan istrinya, mungkin saat ini ia masih di kantor.


Aku janji kejadian ini tidak akan terulang lagi, Pak.


Sampai di rumah, istrinya menyambut Manto dengan senyum lebar. Akhirnya ia senang saat Manto bisa weekend di rumah. Suaminya menepati janji.


"Papa kok sepertinya tidak senang begitu? Apa ada masalah di kantor?" tanya istrinya.


"Tidak. Mungkin Papa lelah," jawab Manto.


Rumah tangganya sudah lama, hingga istrinya tahu saat Manto berusaha menutupi sesuatu darinya.


"Papa jangan bohong. Apa bos Papa melarang Papa pulang lebih cepat? Apa Papa bolos lembur hari ini?" tanya istrinya.


Manto menggeleng. Ia tidak mungkin jujur. Yang ada istrinya malah semakin marah karena membahas tentang pekerjaan di rumah. Tapi ia juga tidak mau berbohong. Akhirnya ia mencoba mengalihkan pertanyaan istrinya dengan berbagai cara.


Sayangnya tidak berhasil. Istrinya terus mendesak Manto. Akhirnya Manto jujur karena istrinya malah menuduhnya macam-macam.


"Kenapa jadi Mama yang sedih?" tanya Manto.


"Maafin Mama ya Pah," ucap istrinya sambil memeluk Manto dengan erat.


"Maaf untuk apa?" tanya Manto.


Istrinya menyesal karena sudah egois dan tidak percaya pada suami sendiri. Ia takut karena ulahnya, Rian menganggap Manto tidak profesional dan tidak bertanggung jawab.


"Ma, Pak Rian itu orang baik. Tidak mungkin Pak Rian menuduh Papa seperti itu. Lagi pula Papa kan pulang di jam pulang," ucap Manto.


Meskipun sebenarnya Manto memang tidak enak meinggalkan Rian sendirian di kantor. Istrinya meminta Manto untuk menghubungi Rian dan memastikan apakah sudah pulang atau masih di kantor. Namun Manto menolak. Ia tidak mau istrinya merasa semakin bersalah.


"Pak Rian pasti mengerti kok kalau kita butuh waktu untuk berdua," goda Manto.


Godaan Manto untuk istrinya akhirnya berhasil. Ia bisa membuat istrinya menjadi senyum kembali. Bahkan melupakan bahasan tentang Rian yang masih di kantor.


"Pah, terima kasih ya untuk malam ini." Istri Manto memeluk dan mengecupnya lembut.


Manto senang saat melihat istrinya senang. Ia tahu, meskipun tanggung jawabnya sangat besar di perusahaan. Tapi ia juga punya tanggung jawab yang tak kalah besar pada istri dan anaknya.


Setelah melihat istrinya terlelap di atas lengannya, perlahan Manto melepaskan pelukan istrinya. Ia turun dari ranjang dan berdiri di dekat nakas. Matanya menatap benda pipih yang tergeletak di atasnya.


Tangannya meraih ponsel itu. Ia mengecek isi ponselnya. Ternyata Rian sama sekali tidak menghubunginya.

__ADS_1


Pak Rian sudah pulang belum ya? Duh, aku jadi khawatir. Apalagi Pak Rian sedang tidak enak badan hari ini. Apa aku telepon saja ya? Tapi aku takut malah mengganggu. Ah, aku jadi dilema begini.


__ADS_2