Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Stroke ringan


__ADS_3

Kedatangan Maudi menjadi waktu yang buruk bagi Rian. Ia benar-benar kesal saat melihat sosok masa lalunya datang kembali. Ia sama sekali tidak memberi sikap baik pada Maudi. Bahkan sampai Maudi pulang, Rian sangat ketus pada tamu yang tidak diharapkannya itu.


"Kamu balikan lagi dengan Maudi ya?" tanya Mia.


"Ish, mana mungkin. Kakak jangan gosip sembarangan ah," jawab Rian.


"Dih, aku bukan gosip. Aku kan cuma tanya," ucap Mia.


"Awas saja kalau kamu sampai main api. Kamu harus ingat bagaimana Mpus setia di sana," ucap Tuan Felix yang tiba-tiba ikut nimbrung.


"Mana ada aku main api, Pah. Aku juga tidak tahu kenapa Maudi bisa datang ke sini. Padahal aku sudah menutup rapat kepulanganku," ucap Rian.


"Apa jangan-jangan kamu update status?" tuduh Tuan Felix.


"Papa boleh cek sosial media punyaku. Sudah seminggu lebih aku tidak membuat status apapun," ucap Rian membela diri.


"Ada yang tidak beres," ucap Tuan Felix dengan nada seperti detektif.


"Aku juga berpikir begitu," ucap Rian.


Ya, tentu saja mereka curiga dengan kehadiran Maudi pagi itu. Kedatangan Maudi terlalu cepat. Menurut Rian ada pemberi info yang membuat Maudi bisa dengan cepat mengetahui kedatangannya di Indonesia.


Siapa? Mereka dengan cepat menuduh Hiro. Tentu Hiro akan menjadi satu-satunya tersangka. Namun mereka bingung. Kenapa Hiro bisa mengenal Maudi?


"Sudahlah. Lupakan dulu masalah ini. Hari ini kamu harus pergi ke tempat yang akan menjadi kantormu," ucap Tuan Felix.


"Iya Pah," ucap Rian.


Meskipun begitu, kepala Rian masih dipenuhi dengan semua pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban. Ia akan mencari tahu semua ini setelah semua urusan pekerjaannya selesai.


"Ayo sarapan dulu. Sudah jangan tegang-tegang begitu ah," ucap Dion yang berusaha mencairkan suasana.


Rian hanya tersenyum dan mengangguk. Ia juga langsung mengikuti Dion menuju ruang makan. Sudah ada dua keponakan kembarnya di sana.


"Pagi Om," sapa Naura dengan suara khasnya yang selalu lebih dari empat oktav.


"Pelan-pelan. Om Rian kan ada di sini," ucap Mia sambil mengusap-usap telinganya.


"Hehe," Naura hanya tertawa saat mendapat protes dari ibunya.


Ini bukan protes yang pertama kali. Namun dengan hal ini, Rian justru merasa terhibur dan menggeser pikirannya tentang Maudi. Anak kecil itu yang justru bisa membuatnya benar-benar tertawa.


Setelah selesai sarapan, kedua keponakan kembarnya melambaikan tangannya saat harus berpisah mobil dengan Rian. Awalnya mereka merengek meminta diantarkan Rian ke sekolah. Namun Mia melarangnya karena Rian harus ke kantor.


"Aku merasa bersalah pada Naura dan Rendra," ucap Rian saat mobil keponakan kembarnya sudah pergi.


"Tidak apa-apa Ri. Ayo berangkat!" ajak Dion.


Sesekali Dion melihat wajah Rian yang terlihat gelisah saat dalam perjalanan.


"Kamu masih memikirkan kedatangan Maudi tadi ya?" tanya Dion.


"Tidak Kak. Aku sama sekali tidak memikirkan dia," jawab Dion.


"Terus kamu kenapa? Seperti sedang ada masalah," ucap Dion.


"Sudahlah Ri. Jangan ganggu fokusmu dengan masa lalumu. Dia masa lalumu. Kamu harus ingat itu," timpal Tuan Felix.

__ADS_1


"Ada Mpus yang menunggumu di Jerman," tambah Mia.


"Ya ampun, kok jadi aku yang disudutkan begini. Jangan nuduh aku dong," ucap Rian.


"Terus kamu mikirin apa? Kangen sama Mpus?" goda Mia.


"Bukan begitu Kak," ucap Rian.


"Apa? Jadi kamu tidak kangen pada Mpus? Terus yang kamu rindukan itu siapa? Dia? Heemmm?" tanya Tuan Felix.


"Pah, kenapa sih? Aku hanya merasa bersalah pada Naura dan Rendra. Itu saja," ucap Rian.


Rian memang tengah memikirkan keponakan kembarnya. Walaupun mungkin ketiga orang yang tengah bersamanya tidak ada yang mempercayainya. Mereka berpikir jawaban Rian yang jujur itu hanya sebuah alibi untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya.


"Ah, terserahlah. Cape aku menjelaskan tapi tidak satupun ada yang percaya," ucap Rian.


Seharusnya perdebatan itu terus berlangsung. Namun sayangnya mobil sudah berhenti di depan kantor baru yang belum selesai seratus persen itu.


"Sesuai dengan yang Papa inginkan, kan?" tanya Mia.


"Wah, ini bagus. Papa sangat suka," ucap Tuan Felix.


Tuan Felix yang baru keluar dari mobil tidak pernah mengalihkan pandangannya dari gedung menjulang tinggi yang ada di hadapannya. Terlebih dengan Rian. Ia bahkan tidak pernah sekalipun membayangkan akan menjadi pemimpin di perusahaan miliknya.


"Kamu suka, Ri?" tanya Tuan Felix.


Tidak ada jawaban. Rian masih fokus mengamati gedung mewah yang ada di depannya. Ia bahkan tidak sadar dengan pertanyaan Tuan Felix yang ditujukan padanya.


"Heh, ditanya Papa tuh." Mia menyikut Rian.


"Iya, gimana?" tanya Rian.


"Kamu masih melamun, Ri?" tanya Dion.


"Kak, jangan mulai. Aku tidak memikirkan apa yang Kakak pikirkan," jawab Rian.


"Memangnya kamu tahu apa yang aku pikirkan?" tanya Dion.


"Sudah, sudah. Ayo kita masuk. Debatnya dilanjut lagi nanti di rumah," ucap Tuan Felix.


Rian pun mengikuti langkah Tuan Felix. Menjelajahi sudut demi sudut setiap ruangan yang ada di kantor itu. Masih kosong, namun Tuan Felix memastikan kalau semua akan segera diselesaikan secepatnya.


"Pah, aku tidak tahu harus bicara apa. Rasanya ucapan terima kasih sudah tidak ada apa-apanya untuk semua ini," ucap Rian.


"Jangan begitu. Ini hakmu," ucap Tuan Felix.


Ya, uang yang digunakan untuk membangun gedung itu adalah cadangan biaya kuliah Rian yang disiapkan Tuan Felix. Namun karena Rian kuliah dengan beasiswa, akhirnya uang itu masih utuh. Tuan Felix menambahkan sebagian dari tabungannya untuk menambah biaya pembangunan gedung mewah itu.


"Sebenarnya aku tidak berhak untuk semua ini. Kak Mia yang lebih berhak. Tapi Kakak jangan khawatir. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku hanya bekerja di sini," ucap Rian.


"Jangan begitu Ri. Aku sama sekali tidak iri dengan apa yang Papa berikan untukmu. Seharusnya aku berterima kasih karena kamu sudah menemani Papa beberapa tahun belakangan ini. Dan mungkin apa yang Papa berikan padamu, belum cukup. Tapi ini yang bisa Papa berikan. Iya kan Pah?" ucap Mia sambil menggandeng tangan Tuan Felix.


"Kak, aku tidak tahu kenapa masih ada manusia sebaik Kakak. Aku rasa Kakak adalah stok akhir yang ada di muka bumi ini," ucap Rian.


"Jadi maksudnya Mia barang langka ya?" tanya Dion.


"Sembarangan," ucap Mia.

__ADS_1


Mereka hanya tertawa. Gedung yang masih kosong itu menggema dengan tawa bahagia dari orang-orang berhati tulus.


"Sebentar ya, Mama." Dion menunjukkan ponselnya pada Mia.


"Iya A," ucap Mia.


Dion pergi menjauh untuk menjawab panggilannya. Ketiganya melanjutkan ngobrolnya sambil sesekali melihat ke arah Dion yang sedang asyik mengobrol dengan Nyonya Helen.


"Ri, nanti sore kamu harus siap-siap ya!" ucap Dion saat sudah kembali.


"Siap-siap apa?" tanya Rian.


"Siap-siap kena omel," jawab Dion.


"Omel?" tanya Rian.


Rian belum paham kalau ternyata Nyonya Helen marah karena tidak diberi tahu tentang kedatangan Rian ke Indonesia. Ya, Rian lupa jika Nyonya Helen masih sangat menyayanginya.


"Ya ampun Mama. Aku akan ke rumah Mama nanti," ucap Rian.


"Tidak perlu. Katanya Mama akan ke rumah nanti sore," ucap Dion.


"Oh ya sudah. Aku juga sudah rindu. Papa Wira sehat kan?" tanya Rian.


Dion menghela napas panjang.


"Papa sakit," jawab Mia saat melihat Dion tidak bisa menjawab pertanyaan Rian.


"Sakit apa?" tanya Rian.


"Strooke ringan," jawab Mia.


"Ya Tuhan. Kenapa tidak ada yang memberi tahuku?" tanya Tuan Felix.


"Papa sangat merahasiakan semua ini," jawab Dion.


"Aku akan menemuinya nanti," ucap Tuan Felix.


"Jangan. Papa akan sedih setiap kali ada yang menjenguknya," ucap Dion.


"Kenapa?" tanya Tuan Felix.


"Papa tidak siap dengan penyakitnya. Ia merasa iri pada orang yang seusia dengannya tapi masih sehat," jawab Dion.


"Dion, tapi Papa kamu adalah teman Papa juga. Kita besanan pula. Masa Papa tidak bisa menjenguknya?" tanya Tuan Felix.


"Nanti tanya ke Mama saja ya Pah bisa atau tidak," jawab Dion.


Ya, mungkin keterlaluan. Tapi itu memang kenyataan. Tuan Wira sangat tidak menginginkan ada yang menjenguknya. Bahkan hingga saat ini pun, hanya beberapa orang saja yang tahu tentang penyakit Tuan Wira.


Kenapa sih orang kaya tidak mau ada yang tahu tentang penyakitnya? Gengsi atau gimana ya? Padahal kan kalau tidak ada yang tahu, mana ada yang mau jenguk. Apalagi yang mendoakan. Aneh.


Rian tiba-tiba ingat pada Mr. Aric yang sama seperti Tuan Wira. Saat sakit, ia tidak mau ada satu orang pun yang tahu. Ia benar-benar merahasiakan semuanya dari publik.


Rian masih bingung dengan kebiasaan aneh Tuan Wira yang sama persis dengan kebiasaan Mr. Aric. Ia tidak tahu bagaimana dunia bisnis. Dalam dunia yang kejam itu, kadang seseorang sulit membedakan mana kawan dan lawan dalam lingkungannya sendiri.


Ya, memang kadang kita tidak menyadari sikap-sikap tersembunyi orang yang mengelilinginya. Berbeda dengan Rian yang masih polos, nampaknya Tuan Wira sudah banyak memperhitungkan sebab akibat yang akan ia dapatkan. Hingga ia benar-benar menjaga semua kehidupan pribadinya.

__ADS_1


__ADS_2