Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Cieeee


__ADS_3

"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Tuan Wira.


"Kenapa memangnya?" Tuan Felix balik bertanya.


"Dari tadi aku lihat kamu berkali-kali melihat ke arahku," ucap Tuan Wira.


"Berarti kamu juga sama," ucap Tuan Felix.


"Apa maksudmu?" tanya Tuan Wira.


"Ya berarti kamu juga sering melihatku. Itu kamu tahu aku berkali-kali melihatmu," jawab Tuan Felix.


"Sudahlah Pah, kita kan sedang kumpul bareng. Masa malah jadi ribut begini?" ucap Mia.


"Dia yang mulai," tuduh Tuan Wira.


"Loh, dari tadi aku diam loh." Tuan Felix membela diri.


Dion menepuk dahinya saat melihat tingkah ayah kandung dan ayah mertuanya. Sementara Rian hanya tersenyum senang melihat keadaan yang sering ia lihat dulu.


"Kamu kok malah bahagia begitu?" tanya Mia sambil menyikut Rian.


"Ini seru Kak. Akhirnya Papa Wira bisa kembali seperti dulu," jawab Rian sambil berbisik.


"Husssst!" ucap Mia.


Tidak lama Mia memperhatikan keduanya. Ya, benar apa yang dikatakan oleh Rian. Memang banyak sekali perubahan yang terjadi dengan Tuan Wira belakangan ini. Debat-debat kecil dan tawanya yang sudah lama tidak terlihat kini sudah kembali hadir.


Mia tidak ingin menyia-nyiakan semua hari yang paling bahagia ini. Ia melakukan hal yang sama. Menyingkirkan ponselnya dan benar-benar menghabiskan waktunya bersama orang-orang terkasih.


Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Sudah waktunya Mia dan yang lainnya pulang. Namun Naura dan Narendra masih ingin bermain bersama Tuan Wira. Mia berusaha membujuknya agar Naura dan Narendra segera pulang.


"Besok kita main lagi ya!" bujuk Mia lagi.


"Naura mau di sini. Nginep di sini satu malam saja," pinta Naura.


"Naura, besok om antar ke sini lagi ya!" ucap Rian.


"Tapi Naura masih mau main d sini Om," rengek Naura.


"Naura, Papa tidak akan melarangmu untuk main ke sini sesering mungkin. Tapi kamu juga harus tahu waktu pulang ya!" ucap Dion.


Naura diam, ia berhenti merengek. Bibirnya mengerucut tanda kalau ia sangat tidak suka mendengar apa yang Dion inginkan. Tapi apa boleh buat. Naura lebih memilih untuk mengikuti apa kata ayahnya dari pada ia harus kembali mengalami kesulitan bertemu Tuan Wira.


Naura pun menyalami Nyonya Helen dan Tuan Wira. Namun setelah bersalaman dengan Tuan Wira tiba-tiba Naura berteriak girang. Ia melompat-lompat dengan sangat senang.


"Opa janji ya?" ucap Naura sambil mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Tuan Wira.


"Iya," jawab Tuan Wira dengan senyuman merekah di bibirnya.


Pria yang sedang duduk di kursi roda itu menyambut kelingking Naura dengan kelingkingnya. Suatu perjanjian sudah mereka sepakati. Sementara yang lain hanya bisa diam dan menerka apa yang sedang terjadi diantara keduanya.

__ADS_1


"Ayo kita pulang!" ajak Naura.


Jika sebelumnya Naura menjadi orang yang paling tidak mau untuk pulang, kali ini ia justru menjadi orang yang paling semangat. Ia mengangkat tasnya dan berjalan paling depan. Meninggalkan semua yang masih menatapnya dengan penuh kebingungan.


"Sayang, tunggu!" teriak Mia sambil berjalan cepat menyusul langkah Naura yang sudah meninggalkannya.


Setelah semua pergi, Nyonya Helen mendorong kursi roda itu ke dalam kamar. Membantu Tuan Wira untuk berbaring di atas ranjang. Ia tahu kalau seharian ini suaminya pasti lelah.


"Papa istirahat ya!" ucap Nyonya Helen.


"Sebenarnya Papa tidak lelah Ma. Papa justru sedang sangat bahagia. Hari ini menjadi hari yang tidak pernah Papa bayangkan sebelumnya," ucap Tuan Wira.


Apa yang Tuan Wira ucapkan ternyata yang dirasakan oleh Nyonya Helen. Seandainya ia tahu hal tak terduga ini akan berlangsung hari ini, ia tidak akan pergi ke luar rumah. Ia akan membatalkan acara reuni dengan teman-teman lamanya.


"Mama juga tidak menyangka kalau semua ini akan terjadi. Papa harus tahu kalau Mama adalah orang yang paling bahagia saat melihat Papa tertawa lepas seperti tadi," ucap Nyonya Helen.


"Ma, terima kasih sudah selalu setia di samping Papa. Terima kasih untuk tidak berhenti memberi dukungan buat Papa. Dan maaf jika selama ini Papa selalu membuat Mama sedih dan kecewa," ucap Tuan Wira.


"Pah, jangan begitu. Mama sama sekali tidak sedih dan kecewa karena Papa. Justru Mama selalu kuat dan bahagia karena ada Papa di samping Mama," ucap Nyonya Helen.


Definisi semakin tua semakin romantis mungkin yang tergambar dari kisah Nyonya Helen dan Tuan Wira. Karena semakin hari, mereka semakin saling mengerti satu sama lain dan saling menguatkan.


"Oh ya bagaimana acara reuninya?" tanya Tuan Wira.


"Tidak seseru kalau ada Papa," jawab Nyonya Helen.


"Mereka menanyakan Papa?" tanya Tuan Wira.


"Yang penting Mama senang, Papa juga ikut senang. Nominal bisa dicari, tapi kebahagiaan istri yang utama." Tuan Wira mengedipkan matanya pada Nyonya Helen.


"Ih, Papa kok jadi genit begitu?" ucap Nyonya Helen malu-malu.


Tuan Wira menggenggam tangan Nyonya Helen dengan erat. Rasa bahagia dan takut kehilangan membuat Tuan Wira selalu ingin bersama istrinya. Jika ia sembuh, ia tidak pernah membiarkan Nyonya Helen menghadiri acara reuni begitu sendirian.


"Oh ya Pah, tadi Papa bisikin apa ke Naura? Kok dia sampai lompat-lompat begitu?" tanya Nyonya Helen.


"Rahasia," jawab Tuan Wira.


"Oh jadi Papa mau main rahasia-rahasiaan sama Mama?" tanya Nyonya Helen dengan tatapan mengancam.


"Oh, jadi Mama sudah berani mengancam Papa?" Tuan Wira balik mengancam istrinya.


"Papa," ucap Nyonya Helen.


"Jangan coba-coba mengancam Papa ya," ucap Tuan Wira sambil mencubit pipi istrinya.


"Ya sudah ayo jawab. Apa yang Papa bisikin sama Naura?" tanya Nyonya Helen lagi.


"Papa cuma membujuk Naura untuk mengikuti apa yang Papanya mau," jawab Tuan Wira.


"Tidak mungkin," ucap Nyonya Helen.

__ADS_1


"Kok tidak mungkin?" tanya Tuan Wira.


"Mana mungkin Naura sampai segirang itu kalau Papa tidak membujunya dengan sesuatu. Papa bilang mau membelikan dia mainan kan?" tebak Nyonya Helen.


Tuan Wira menggeleng.


"Terus Papa bujuk Nauranya gimana?" tanya Nyonya Helen penasaran.


Akhirnya Tuan Wira pun jujur pada istrinya. Nyonya Helen membelalakkan matanya saat mendengar penjelasan Tuan Wira.


"Jadi Papa mengizinkan mereka tinggal di sini lagi?" tanya Nyonya Helen dengan tatapan tidak percaya.


"Papa hanya ingin Naura bahagia. Bukankah Mia dan Dion juga ingin tinggal di sini sementara waktu?" ucap Tuan Wira.


"Papa," ucap Nyonya Helen sambil memeluk Tuan Wira.


Air mata kebahagiaan pun tidak bisa tertahan. Berdesakan membasahi kedua pipi Nyonya Helen. Tidak lama terdengar isak tangis dalm pelukan Tuan Wira.


"Ma, awas ingusnya nempel di baju Papa ya!" ucap Tuan Wira.


Nyonya Helen yang sedang menangis menjauhkan tubuhnya dari Tuan Wira. Ia memukul suaminya dan cemberut. Tuan Wira kembali memeluknya dan membiarkan istrinya menangis dalam pelukannya.


Mata Tuan Wira menatap kosong. Membayangkan bagaimana hari ini sudah ia lewati dengan penuh suka cita. Hari-harinya yang sepi seketika berubah menjadi penuh warna. Membuat semangat baru dalam hidupnya.


Semua berkat Rian. Terima kasih Ri. Lagi-lagi kamu yang sudah membawa kebahagiaan di rumah ini.


Ucapan terima kasih ini tentunya tidak hanya diucapkan oleh Tuan Wira dan Nyonya Helen. Mia dan Dion pun mengutarakan hal yang sama. Terima kasih yang tidak terhingga atas semua yang sudah Rian lakukan.


"Kakak jangan begitu. Aku hanya menjalankan apa yang seharusnya aku jalankan. Itu saja," ucap Rian malu-malu.


"Aku tidak tahu kalau tidak ada kamu, Ri." Dion menatap Rian sebentar.


"Kak Dion jangan begitu. Meskipun tidak ada aku, semua akan tetap baik-baik saja." Rian tersenyum.


Dion juga mengucapkan terima kasih dan selamat kepada Tuan Felix, atas keberhasilannya mendidik Rian hingga menjadi pribadi yang luar biasa. Tuan Felix juga menganggap pujian untuknya berlebihan. Karena sebenarnya Rian memang sudah memiliki pribadi yang baik.


Saat mereka sedang asyik berkumpul, tiba-tiba dering ponsel membuat mereka menatap Rian. Rian mengeluarkan ponselnya. Bibirnya merekah saat melihat nama pemanggil yang terpampang di layar ponselnya.


"Cieeeee," ucap Mia dan Dion kompak.


Rian segera menyembunyikan ponselnya.


"Apa sih Kak?" tanya Rian malu.


"Angkat dong. Calon adik ipar pasti ingin ikut berkumpul," ucap Dion.


"Duh, jadi tidak sabar buat tambah anggota baru. Kapan nih?" goda Mia.


"Ah, permisi." Rian kabur dan masuk ke dalam kamarnya.


Mereka hanya bisa tertawa melihat tingkah Rian yang malu-malu. Setelah Rian pergi, mereka juga membubarkan diri dan masuk ke kamar. Beristirahat setelah melewati hari yang sangat membahagiakan ini.

__ADS_1


__ADS_2