Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Pawang cinta


__ADS_3

Selama Naura dan Narendra sekolah, Tuan Felix tidak sekalipun meninggalkan tempat itu. Sesuai janjinya, ia menunggu di kantin. Sambil memanfaatkan waktu luang, ia mengecek beberapa hal di kantornya. Semuanya baik-baik saja, dan itu membuatnya senang.


"Opaaa," teriak Naura.


"Sudah pulang?" tanya Tuan Felix.


"Belum Opa, baru istirahat." Naura nampak bergelayun manja pada Tuan Felix.


Kehadiran Tuan Felix mengundang perhatian dari beberapa teman Naura dan Narendra. Wajah Tuan Felix yang bule, membuat mereka seolah menonton kehadiran pria tua itu.


"Mereka kenapa? Menertawakanku?" tanya Tuan Felix.


"Biarkan saja. Mereka itu hanya iri. Karena tidak ada yang ditunggu sama keluarganya seperi Opa menunggu aku dan Naura," jawab Narendra.


Tuan Felix hanya tersenyum mendengar jawaban Narendra. Terlepas itu hanya untuk menyenangkannya atau memang benar adanya, ia bangga mendengar jawaban cucunya.


Mereka sempat jajan bersama di kantin. Sayangnya bel berbunyi sebelum makanan mereka habis. Mereka segera berlari dan pamit pergi. Meninggalkan jajanannya yang masih tergeletak begitu saja di meja.


Tidak ingin mubadzir, Tuan Feliz menghabiskan jajanan Naura. Bibirnya sampai merah dan keringatnya bercucuran. Pedas di mulutnya membuat air liurnya terus luber.


"Aduh, Naura ini makanan apa sih?" gumamnya saat di toilet.


Rasa pedas pada makanan yang dipesan Naura berhasil membuat Tuan Felix menderita. Bahkan saluran pencernaannya juga ikut bermasalah. Ia sampai berkali-kali ke kamar mandi.


"Opa, Opa," teriak Narendra ke kamar mandi.


"Sebentar," jawab Tuan Felix lemas saat mendengar suara Narendra memanggilnya.


Tidak lama Tuan Felix keluar dengan wajah yang pucat. Tangannya masih memegang perut yang terasa sangat panas. Keringat juga masih terus bercucuran di pelipisnya.


"Opa kenapa? Sakit?" tanya Narendra panik.


"Opa mules," jawab Tuan Felix sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.


"Mau aku panggilkan dokter?" tanya Narendra.


"Tidak perlu. Aduh, tunggu sebentar!" ucap Tuan Felix.


Narendra bingung saat melihat Tuan Felix kembali masuk ke kamar mandi.


Apa jangan-jangan Opa keracunan ya? Eh tapi kalau keracunan kan muntah-muntah. Kok ini? Emm.


Narendra mengibaskan tangannya karena mencium serta mendengar suara yang tidak asing dari dalam WC.


"Opa, aku tunggu di kantin lagi ya!" teriak Narendra.


"Iya," jawab Tuan Felix dengan nada penuh tekanan.


Narendra segera keluar dan kembali ke kantin. Ia diam dan mengamati meja yang tadi ditempati saat istirahat bersama Tuan Felix. Tiba-tiba matanya membulat sempurna saat melihat jajanan Naura yang sudah habis. Padahal tadi ia jelas melihat kalau Naura masih menyisakan jajanannya.


"Ini biang keroknya," ucap Narendra sambil menunjuk jajanan Naura yang pedas.


"Aduh, lemes." Tuan Felix kembali duduk di dekat Narendra dengan wajah yang pucat.


"Opa makan ini ya?" tanya Narendra.


"Iya," jawab Tuan Felix sambil terus memegang perutnya.


"Opa, jajanan Naura ini bukan makanan manusia. Kenapa Opa makan?" tanya Narendra cemas.

__ADS_1


"Enak saja bilang bukan makanan manusia. Terus kamu pikir aku apa hah?" tanya Naura yang baru saja datang ke kantin.


Narendra diam tidak merespon kemarahan Naura dan masih terlihat cemas.


"Ya ampun, jajanannya habis. Siapa yang habisin?" tanya Naura terkejut.


Tiba-tiba matanya tertuju pada Tuan Felix yang terlihat pucat.


"Opa makan jajanan Naura ya?" tanya Naura pelan.


"Naura jangan makan jajanan begitu. Itu tidak sehat," ucap Tuan Felix sambil mengelap pelipisnya.


"Terus kenapa Opa menghabiskannya kalau tahu jajanan Naura tidak sehat?" tanya Naura.


"Enak," jawab Tuan Felix jujur.


Narendra menghela napas panjang. Ia merasa Tuan Felix dan Naura sama saja. Ia menggelengkan kepalanya dan menepuk dahinya.


"Opa mau ke rumah sakit?" tanya Narendra.


Tuan Felix menggeleng. Ia hanya beristirahat sebentar dan pergi setelah membaik.


"Opa, kita jalan-jalan kemana hari ini?" tanya Naura.


"Naura, Opa sedang sakit gara-gara kamu. Masih bisa kamu bertanya kita mau main kemana?" tanya Narendra.


"Bukan salah Naura. Opa yang makan jajanan Naura tanpa bilang dulu," jawab Naura.


"Sudah, sudah. Jangan bertengkar begitu," ucap Tuan Felix.


"Dia yang mulai," tunjuk Naura pada Narendra.


"Hey, sudah. Ini di jalan. Jangan buat konsentrasi Opa jadi berantakan," ucap Tuan Felix.


Keduanya diam dan cemberut. Namun tidak lama Naura kembali merengek meminta Tuan Felix untuk main.


"Ya sudah kalau begitu kamu mau kemana?" tanya Tuan Felix.


Naura menyebutkan suatu tempat yang ingin ia datangi. Namun Narendra menolak karena tempatnya terlalu jauh dari sekolah.


"Tapi Opa mau kan?" tanya Naura.


"Naura, kamu tidak lihat Opa sakit?" tanya Narendra.


Tuan Felix menepi dan menghentikan mobilnya. Keadaan tiba-tiba menjadi hening. Mereka diam dan tidak ada yang berani berkata apapun.


"Jadi kalian mau apa? Mau kemana?" tanya Tuan Felix.


Keduanya tidak ada yang menjawab. Masih hening. Tuan Felix mengamati keduanya yang terlihat menunduk. Ia segera menasehati keduanya untuk bersikap lebih dewasa. Ia tidak mau kedua cucunya terlihat kekanak-kanakkan.


"Maafkan aku, Opa." Narendra mulai bersuara.


"Jangan hanya meminta maaf. Berjanjilah pada diri kalian sendiri untuk berubah. Kalian ini sudah besar," ucap Tuan Felix.


"Iya Opa," jawab Narendra.


Tuan Felix melihat Naura yang tidak mengeluarkan kata sedikitpun. Ternyata Naura menangis. Ia takut saat melihat Tuan Felix marah. Tidak pernah sebelumnya Naura melihat sikap Tuan Felix seperti itu.


Untuk mengobati ketakutan Naura, Tuan Felix melajukan mobilnya dan pergi ke tempat yang Naura inginkan. Saat sudah sampai di tempat itu, Naura masih menunduk dan terlihat mengusap pipinya.

__ADS_1


"Ayo sayang! Hari ini kita main. Kita bersenang-senang karena besok Opa sudah pulang ke Jerman," ucap Tuan Felix.


Mendengar kata Jerman, Naura segera mengangkat wajahnya dan memeluk Tuan Felix. Ia tidak mau menyia-nyiakan momen ini. Hari ini pun mereka lewati dengan sangat bahagia. Bahkan Tuan Felix tidak tahu kalau Mia berkali-kali menghubunginya.


"Sudah gelap Opa. Ayo kita pulang!" ajak Narendra.


"Astaga, Opa sampai lupa waktu. Jam berapa ini?" tanya Tuan Felix.


Setelah melihat pergelangan tangannya, ia segera mengajak kedua cucunya untuk pulang. Ia juga tidak lupa menghubungi Mia untuk menenangkannya agar tidak cemas lagi.


Saat pulang ke rumah, semua sudah berkumpul di ruang makan. Bahkan Tuan Wira dan Nyonya Helen juga ada di sana. Setelah Dion mengabari kalau Tuan Felix ada di Indonesia, keduanya langsung ke rumah Mia untuk menemui besannya itu.


"Aduh, yang jalan-jalan tidak ngajak ya!" ucap Tuan Wira.


"Besok sama Opa Wira ya!" ucap Naura.


"Boleh," jawab Tuan Wira.


"Om Rian gak di ajak?" tanya Rian.


"Boleh. Tapi bawa uang jajan sendiri ya! Om Rian kan sudah kerja," jawab Naura.


Jawaban Naura tentu mengundang gelak tawa dari semua orang yang mendengarnya. Mia segera meminta ketiganya untuk mandi dan bergabung untuk makan malam.


Tidak lama ketiganya sudah kembali dan ikut makan bersama. Setelah itu mereka pindah ke ruang keluarga. Saling melepas rindu dengan bercerita. Namun karena Naura dan Narendra yang sudah kelelahan, mereka sampai ketiduran di kursi.


"Rian, pindahkan mereka." Tuan Felix mengusap kepala Naura dan Narendra yang tidur di samping kanan dan kirinya.


Rian segera mengangkat Naura dan Narendra bergantian lalu kembali ikut bercerita dengan semuanya. Tiba-tiba ia terkejut saat Tuan Felix meminta Mia mencarikan rumah yang tidak terlalu jauh dari kantor Rian.


"Papa mau pindah?" tanya Rian yang baru bergabung.


"Papa cari rumah baru buat kamu. Sebentar lagi kan kamu menikah. Masa kamu mau terus-terusan tinggal sama Papa Wira?" tanya Tuan Felix.


Menikah? Mendengar kata itu wajah Rian langsung memerah. Ia tidak bisa berkutik. Dadanya bergemuruh saat membahas tentang pernikahan. Ia bahkan tidak percaya jika Tuan Felix sudah sebegitu mempersiapkan masa depannya.


"Jadi kapan nih?" tanya Dion.


"Iya, Mama sudah tidak sabar ingin melihat kamu menikah dan punya anak. Wah, pasti kalau berkumpul seperti ini makin ramai ya!" ucap Nyonya Helen.


"Masih lama Mah. Aku juga tidak tahu kapan," jawab Rian.


"Jangan begitu. Kamu ini laki-laki. Kejar, dan beri kepastian. Buktikan kalau kamu serius," ucap Dion.


"Tuh dengar apa kata pawang cinta," ucap Tuan Wira.


Suasana pun kembali riuh saat saling meledek satu sama lain. Sampai mereka tidak menyadari kalau malam semakin larut. Sementara Tuan Felix harus kembali ke Jerman pagi-pagi.


Mereka istirahat di kamar yang sudah disediakan. Tidur nyenyak setelah saling melepas rindu satu sama lain. Dan siap bangun pagi dengan rutinitas seperti biasa.


"Pah," ucap Mia sambil memeluk Tuan Felix.


Bukan hanya Mia, Naura dan Narendra juga ikut memeluk Tuan Felix dan menangis. Bahkan Rian yang hanya menyaksikan semua itu samai berlinang air mata. Bagaimanapun, ia ingin Tuan Felix tetap menemaninya seperti saat itu. Tapi apa boleh buat, keadaan tidak mendukung.


Rian dan Tuan Felix harus menjalankan bisnisnya di dua negara yang berbeda. Hal yang memang tidak diinginkan keduanya tapi harus mereka jalani.


"Hati-hati ya Pah," ucap Rian saat memeluk Tuan Felix.


Tuan Felix hanya mengangguk. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya sedang menahan rasa sakit karena harus kembali ke Jerman. Berjauhan lagi dengan semua orang yang selalu ia rindukan. Namun ia berjanji akan kembali berkumpul setelah semua rencananya di Jerman selesai.

__ADS_1


__ADS_2