
Cicilan itu berlangsung lama. Maklum, Rian tidak merasa ada titik puas. Apalagi saat mendengar Riri sedikit bersuara mengekspresikan perasaannya. Ah, rasanya Rian ingin saat ini waktu bergerak lebih lambat.
Sesekali Rian mencoba meraba bagian pusat namun tangan Riri dengan sigap menepisnya. Riri menggelengkan kepalanya, memberi kode jika area perboden itu tidak bisa dilalui. Rian mengangguk dan melanjutkan cicilan yang lain.
Banyak sekali bercak merah di kulit putih Riri. Tanda jika bagian itu sudah terjamah dan tidak original lagi. Meskipun sampai saat ini Rian belum bisa merasakan kenikmatan rumah tangga yang sebenarnya, tapi Rian sangat menikmati cicilan demi cicilan yang sedang ia lakukan. Berkesan dan membuatnya ketagihan.
Semakin lama Riri merasa pergerakan Rian semakin melemah. Ia sendiri sudah beberapa kali menguap. Saat melihat ke dinding, ternyata ini sudah jam satu malam.
"Mas," panggil Riri.
Hening, tidak ada jawaban sama sekali. Riri mencoba mengusap kepala Rian yang terbenam di dadanya. Sekali lagi Riri memanggil pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.
"Hemm," ucap Rian.
Saat Rian mengangkat wajahnya, Riri menggelengkan kepalanya. Mata Rian yang memerah menandakan bahwa Rian ketiduran.
"Astaga Mas, bisa-bisanya kamu ketiduran?" ucap Riri dengan nada kesal.
"Tidak," ucap Rian.
Rian segera mengumpulkan kembali konsentrasinya untuk melanjutkan cicilannya. Namun Riri sudah terlalu kesal dan menutup semua aksesnya.
"Kok marah?" tanya Rian.
"Ngantuk," jawab Riri.
Rian hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat Riri memposisikan diri di salah satu ujung ranjang dan memejamkan matanya. Ia menepuk dahinya. Menyesali kebodohannya karena sudah menyia-nyiakan kesempatan emas.
"Pus, pus," panggil Rian.
"Hemm," jawab Riri tanpa membuka matanya sama sekali.
"Selamat tidur," ucap Rian sambil mengecup pelan kening Riri.
"Selamat tidur," ucap Riri.
Rian segera tidur di samping istrinya saat melihat wanita itu tetap tidak membuka matanya. Ia masih terus memejamkan matanya dan tidak mau melihat Rian.
Malam pertama itu mereka lewati dengan penuh drama. Sampai akhirnya alarm di ponsel Riri berdering lebih cepat. Ia bangun, namun hanya sekedar menghentikan alarm itu dan kembali tertidur.
Selang dua puluh menit, alarm di ponsel Rian yang berdering. Perlahan Rian menggeliat dan mencari ponselnya. Ia menghentikan alarm itu dan bangun. Ia duduk di samping istrinya yang masih tidur nyenyak. Lingerie merah yang dipakai istrinya nampak terbuka karena posisi tidur yang tidak beraturan.
__ADS_1
"Aku baru tahu kalau kamu tidur seperti orang sedang silat. Heboh sekali," gumam Rian.
Tangannya menarik lingerie yang terangkat dan menunjukkan segitiga istimewa yang terlihat lebih tebal karena penahan si tamu istimewa. Namun gerakan tangan Rian disadari oleh Riri. Riri menggeliat dan merubah posisi tidurnya agar tidak diganggu oleh Rian.
Riri membelakangi Rian dan memeluk guling. Posisi Riri saat ini membuat Rian membelalakkan matanya. Bagaimana tidak, sprei dan selimut putih itu kini sudah ternoda oleh warna merah pekat.
"Bocooor," ucap Rian sambil menunjuk kasurnya.
Mendengar kata bocor, Riri segera terbangun. Dengan cepat ia berguling dan menutupi jejak tamu di hari pertamanya. Ia meminta maaf dan akan segera membersihkan kamar Rian. Malu dan tidak enak saat menstruasi hari pertama dan bocor di depan pria yang baru semalam menjadi suaminya.
"Nanti aku cuci semuanya. Mas pergi ke kantor saja sana!" ucap Riri.
"Tidak apa-apa. Ini bukan masalah harus dicuci atau apa, tapi aku kaget. Maaf ya kalau kamu tersinggung," ucap Rian.
"Aku justru malu. Kamu pasti jijik kan?" tanya Riri.
"Tidak. Siapa yang jijik? Sudah kubilang aku hanya terkejut saja," ucap Rian.
Warna merah jejak tamu Riri memang terlihat kontras di sprei putih yang menutupi kasurnya. Rian meminta Riri mandi lebih dulu. Ia tahu kalau Riri saat ini pasti sangat tidak nyaman.
"Mas saja dulu yang mandi. Aku mau membereskan spreinya dulu," ucap Riri.
"Sudah mandi saja sana. Biar spreinya aku bereskan. Memangnya kamu masih betah bocor begitu?" tanya Rian.
"Ya sudah kamu mandi sana. Biar ini aku yang bereskan," ucap Rian.
"Maaf ya Mas. Gara-gara aku, sprei Mas jadi kotor. Nanti aku bersihkan. Serius deh. Aku mandi dulu. Mas diam saja. Biarkan spreinya begini. Nanti aku bereskan kalau sudah selesai mandi ya," ucap Riri.
"Sudah cepat sana mandi. Nanti kesiangan keluar kamarnya," ucap Rian.
Riri segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Ia membersihkan tubuhnya dengan sabun. Matanya yang ngantuk karena kurang tidur sudah hilang saat guyuran air membasahi seluruh tubuhnya.
Apalagi saat ia menghadap cermin, ia bisa melihat jelas tanda merah di sekitar dadanya. Ia mendekatkan tubuhnya pada cermin dan mulai menghitung tanda itu. Sesekali bibirnya tersenyum senang saat mengingat bagaimana Rian memberinya tanda itu.
Saat Riri sedang membersihkan tubuhnya dan menghitung jejak di dadanya, Rian sedang bolak balik menunggu Riri yang belum kunjung keluar. Beberapa kali ia melihat jam di ponselnya. Ia memegang perutnya yang mulai terasa mules. Rutinitas paginya adalah nongkrong di kamar mandi sambil memainkan ponsel. Ia harus mengeluarkan zat sisa makanan yang sudah ia tumpuk seharian kemarin.
"Pus, Pus," panggil Rian.
"Iya Mas, ada apa?" tanya Riri dari dalam kamar mandi.
Kenapa? Kamu masih bertanya ada apa setelah tiga puluh menit di kamar mandi? Oh Tuhan apakah begini cara mandi seorang perempuan? Lama sekali.
__ADS_1
"Masih lama?" tanya Rian.
"Sebentar lagi. Aku pakai shampoo dulu ya," jawab Riri.
Pakai shampoo? Astaga, dari tadi dia ngapain di kamar mandi? Nyikat WC?
Rian menepuk dahinya. Ia memilih untuk membiarkan Riri menikmati masa-masa mandi di kamar mandinya. Sementara ia sendiri memilih kamar mandi di luar kamarnya karena panggilan alam sudah tidak bisa ia tunda lagi.
Meskipun beberapa pasang mata sempat menatap Rian dengan tatapan aneh dan sulit diartikan, Rian tidak peduli. Saat ini yang ada dikepalanya adalah memenuhi panggilan alam sesegera mungkin. Ia khawatir jika ada jejak kuning di celananya. Sudah cukup jejak merah di sprei putih saja.
"Ploooong," ucap Rian setelah keluar dari kamar mandi sambil memegang perutnya.
"Memangnya kamar mandi di kamar sedang bermasalah ya?" tanya Tuan Felix.
"Tidak Pah," jawab Rian sambil menggeleng.
"Terus kenapa ke kamar mandi luar?" tanya Tuan Wira.
"Mpus di kamar mandi lama sekali. Aku tidak tahu dia mandinatau tidur. Panggilan alam tidak bisa diajak kompromi Pah. Makanya aku ke kamar mandi luar saja," jawab Rian.
"Biasalah kalau perempuan begitu. Kalau sudah mandi lama. Maklum, dia kan harus membersihkan jejak suaminya bekas semalam. Apalagi kalau malam pengantin," goda Tuan Wira.
Seketika wajah Rian memerah. Ia sangat mengerti ucapan Tuan Wira. Mendengar kata jejak, Rian ingat bahwa semalam ia sudah memberi tanda merah di beberapa tempat. Mungkin itu akan menjadi jejak yang awet untuk Riri.
Melihat Nyonya Helen berjalan mendekat, Rian segera pamit untuk kembali ke kamarnya. Ia tidak ingin jika Nyonya Helen ikut nimbrung membahas tentang malam pertama. Bisa-bisanya wajahnya semakin merah seperti tomat masak.
"Aduh," ucap Riri yang tubuhnya terpental daun pintu.
Rian membuka pintu kamar tepat saat Riri hendak keluar dari kamar untuk mencari keberadaannya. Ia segera meminta maaf dan mengusap dahi istrinya.
"Sakit ya? Ini sakit?" tanya Rian.
"Sakit," jawab Riri sambil ikut mengusap dahinya.
"Lagian kamu kenapa sih berdiri di belakang pintu begitu?" tanya Rian.
"Seharusnya aku yang tanya sama Mas. Mas dari mana? Kenapa tiba-tiba buka pintu sampai keras dan tidak ketuk pintu dulu?" Riri balik bertanya.
Rian menjelaskan alasannya keluar kamar dan membuat Riri merasa berasalah. Riri sampai berkali-kali meminta maaf padanya. Namun ada hal lain yang membuat Riri membulatkan bola matanya. Apalagi kalau bukan alasan Ruan masuk ke kamar dengan terburu-buru sampai menabrak dirinya.
"Hah? Jadi di luar ada Mama Helen?" tanya Riri ketakutan.
__ADS_1
"Iya," jawab Rian.