Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Sakit ya?


__ADS_3

"Tidak usah Bi. Biar nanti aku saja yang cuci," ucap Riri.


"Jangan, jangan. Biarkan Bibi yang mencuci spreinya," ucap Nyonya Helen.


"Tidak apa-apa Ma. Biar aku saja," ucap Riri.


"Sudah, kamu sarapan saja. Biar Bibi yang cuci. Rian, cepat ke kamar dan berikan sprei itu pada Bibi," ucap Nyonya Helen.


Saat Rian hendak berdiri, Riri mencubit paha Rian. Ia memberi kode agar tidak memberikan sprei putih itu ada Bibi. Rian kembali duduk.


"Tapi benar kata Mpus Ma. Biar Mpus saja yang cuci spreinya," ucap Riri.


"Anak kurang ajar. Suami macam apa kamu ini. Malam kamu hajar habis-habisan, siangnya kamu suruh cuci sprei. Asal kamu tahu, Mpus pasti masih sakit. Ambil spreinya sekarang," ucap Nyonya Helen dengan menaikan nada suaranya.


Rian segera berdiri dan pergi saat mendengar nada Nyonya Helen sudah naik. Ia tahu betul saat ini Nyonya Helen sedang marah padanya. Bahkan ia mengabaikan sorot mata Riri yang masih berharap jika Rian tetap di sana dan tidak memberikan sprei itu pada siapapun.


Maaf Pus. Kali ini aku lebih nurut pada Mama Helen. Aku sudah tahu bagaimana Mama kalau sudah marah. Maaf ya.


Setelah memberikan sprei itu pada Bibi, Rian kembali ke ruang makan. Tidak ada yang melihat ke arahnya kecuali Riri. Tatapan penuh ancaman yang ia tidak tahu akan seperti apa kemarahan Riri nanti.


"Papa berangkat dulu ya Ma," ucap Tuan Wira.


"Aku juga Ma," ucap Rian.


"Mau kemana?" tanya Nyonya Helen.


"Ke kantor," jawab Rian.


"Tidak, tidak. Kamu kembali ke kamar. Temani istrimu hari ini," ucap Nyonya Helen.


"Tapi aku harus ke kantor. Apalagi katanya Kak Reza akan ke kantor hari ini," ucap Rian.


"Reza biar Papa yang urus. Papa akan ke kantormu hari ini. Kamu di rumah saja. Jangan lupa pasang sprei baru. Jangan sampai nanti kamu minta ganti kasur," ucap Tuan Felix sambil tertawa.


Tuan Wira ikut tertawa mendengar ucapan Tuan Felix. Keduanya pun segera pergi ke kantor. Meninggalkan keheningan di ruang makan yang hanya menyisakan tiga orang saja di sana. Ada Nyonya Helen, Rian dan Riri.


"Kenapa kamu masih berdiri di situ?" tanya Nyonya Helen.


Rian pun segera duduk.


"Siapa yang memintamu duduk di situ?" tanya Nyonya Helen.


"Mama," jawab Rian.


"Oh ya? Kapan Mama memintamu duduk di sana? Mpus, apa kamu dengar Mama meminta Rian duduk di sana?" tanya Nyonya Helen.

__ADS_1


Riri tidak tahu arah pertanyaan Nyonya Helen. Namun ia hanya menggelengkan kepalanya karena memang tidak mendengar Nyonya Helen meminta Rian duduk di sana.


"Terus aku harus gimana Ma?" tanya Rian bingung.


"Bawa Riri ke kamar," jawab Nyonya Helen.


"Ma, ini masih pagi. Baru juga selesai makan. Masa harus ke kamar lagi? Kata dokter tidak boleh tidur sebelum jam sepuluh," ucap Rian.


"Tidak ada yang memintamu untuk tidur. Mama cuma minta ajak Riri ke kamar. Berikan Mama cucu secepatnya ya," ucap Nyonya Helen.


Riri kini mengerti maksud Nyonya Helen. Tapi ia tidak mungkin memberikan cucu secepat itu, tamunya saja masih sangat banyak hari ini.


"Aku mau menemani Mama saja ya," ucap Riri.


"Mama sedang ingin sendiri. Istirahat. Kamu temani Rian saja ya. Berikan dia apa yang dia mau. Mama yakin kamu pasti tahu cara terbaik untuk suamimu," ucap Nyonya Helen.


Riri menelan salivanya. Apa yang dia mau? Ah, ke sana lagi arahnya. Riri harus beberapa kali menahan rasa malunya hanya karena ulah Rian. Ia hanya membantu Nyonya Helen mendorong kursi rodanya sampai ke kamar. Setelah itu ia akan kembali ke kamar dan siap memarahi Rian.


"Ayo ke kamar!" ajak Riri dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh ancaman.


Rian menepuk dahinya saat melihat ekspresi Riri. Ia tahu saat masuk ke kamar, itu sama artinya dengan ia siap masuk ke kandang harimau. Riri pasti akan memarahinya habis-habisan. Tapi apa boleh buat, ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi hari ini.


"Maaaas," ucap Riri geram saat mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar.


"Siapa yang minta Mas buat memberikan sorei itu sama Bibi?" tanya Riri kesal.


"Ya kan biasanya juga begitu. Bibi setiap hari mengambil pakaian kotorku," jawab Rian.


"Tapi semua jadi berpikir macam-macam hanya karena sprei itu Mas," ucap Riri.


"Ya mana aku tahu kalau gara-gara sprei itu akan jadi seperti ini," ucap Rian membela diri.


"Ih, Mas. Euh," ucap Riri gemas sendiri.


Rian hanya diam. Ini memang kesalahannya. Tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau akhirnya akan seperti ini. Ia nampak seperti seorang anak yang tengah dimarahi oleh ibunya.


"Ah, ini semua gara-gara asisten rumah tangga itu sebenarnya. Kalau seandainya Bibi tidak ke ruang makan, semua tidak akan seperti ini." Rian mengoceh kesal.


"Kalau Mas tidak bilang soal sprei itu, Bibi juga tidak akan menyusul Mas sampai ke ruang makan. Jangan selalu menyalahkan orang lain Mas," ucap Riri.


"Nah itu kamu juga menyalahkan aku. Kalau tidak boleh menyalahkan orang lain, harusnya kamu jangan menyalahkan aku begitu dong." Rian masih berusaha untuk membela diri.


"Oh jadi Mas merasa orang lain denganku? Hemh?" tanya Riri dengan nada penuh ancaman.


Lagi-lagi Rian harus menepuk dahinya saat merasa selalu salah. Apapun yang ia lakukan saat ini merasa selalu salah di mata Riri. Beginikah rumah tangga yang sesungguhnya? Padahal ini baru hari kedua mereka berstatus sebagai suami istri. Tapi kerusuhan terjadi tiada henti hanya karena sprei yang ternoda.

__ADS_1


"Pus, ayolah. Kita ini pengantin baru. Masa seharian ini bertengkar terus hanya karena sprei sih?" ucap Rian.


"Lagian, Mas yang memulai. Mas yang memancing emosiku," ucap Riri.


"Iya, iya. Aku yang salah. Aku minta maaf ya," ucap Rian sambil mengangkat jari kelingkingnya.


Rian ingat pesan Nyonya Helen kalau wanita sedang marah, maka laki-laki hanya perlu minta maaf. Percuma menjelaskan semuanya. Alasan apapun tidak akan diterima.


"Jadi siapa yang salah?" tanya Riri.


"Aku," jawab Rian.


"Mas tidak akan mengulanginya lagi?" tanya Riri.


"Iya aku janji akan lebih hati-hati. Maafkan aku ya," ucap Rian.


Berhasil. Cara meminta maaf Rian dengan wajah yang memelas akhirnya membuat Riri iba. Akhirnya mereka baikan untuk sementara ini. Entah untuk masalah apa lagi nantinya. Namun Rian berharap tidak ada masalah berat yang akan mereka hadapi selama menikah. Meskipun pasti akan selalu ada masalah. Tapi keduanya berjanji untuk menyelesaikan setiap masalah dengan kepala dingin.


"Terus sekarang kita mau apa?" tanya Rian.


"Terserah. Mas mau apa?" Riri balik bertanya.


Tatapan mata Rian membuat Riri menggelengkan kepalanya. Ia segera menolak saat tahu kalau yang Rian inginkan adalah dirinya.


"Boleh ya. Kan sudah menikah. Halal," ucap Rian sambil tersenyum lebar.


"Tapi ini masih pagi Mas," ucap Riri.


"Masalahnya dimana? Dari pada bingung mau apa, lebih baik kaaaan.."


Tanpa menyelesaikan ucapannya, Rian segera menarik tangan Riri dan menjatuhkan tubuhnya bersamaan ke atas ranjang. Tangan Riri yang masih berusaha menahan Rian, segera dikunci. Kini Riri hanya bisa pasrah saat tubuhnya dibawah kendali Rian.


Hubungan mereka yang mungkin terlalu kolot. Apalagi saat jarak memisahkan keduanya, membuat apa yang mereka rasakan saat ini begitu didambakan sejak lama. Rian tidak ingin menyia-nyiakan setiap waktu yang bisa dimanfaatkan.


Saat berdua dengan Riri adalah waktu yang paling membahagiakan. Apalagi saat Riri pasrah ketika tangannya mulai bergerak nakal menyentuh setiap tempat yang menjadi incarannya sejak dulu.


"Aw," ucap Riri saat sebuah tanda merah berhasil dibuat Rian di dadanya.


"Sakit ya?" tanya Rian.


"Iya. Sudah dong. Ini sudah penuh. Bahkan sudah tidak ada ruang kosong lagi," jawab Riri.


"Tidak apa-apa. Ini masih kosong," ucap Rian sambil menunjuk leher Riri.


Mata Riri membulat sempurna sambil berusaha menutupi lehernya agar tidak ada jejak yang tertinggal di sana. Rian hanya menyeringai nakal. Sorot matanya begitu mengancam sampai Riri merasa ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2