
Riri tersadar setelah sopir memberitahunya jika mereka sudah sampai di rumah sakit. Ia segera turun dan mengambil obat seperti biasanya. Membawanya pulang dengan cepat.
Riri bisa tersenyum senang saat melihat Mr. Aric lebih ceria. Sudah ada senyum di bibirnya. Bahkan ia sudah merencanakan untuk masuk kantor dua hari ke depan.
Tidak ada yang lebih menakutkan selain kehilangan Mr. Aric saat ini. Bagi Riri hanya Mr. Aric yang bisa membantunya untuk mewujudkan semua cita-citanya.
Ah, Riri ingat jika besok Rian mengajak untuk menemaninya membuat kejutan ulang tahun untuk Tuan Felix. Tapi ia bingung cara meminta izin pada Mr. Aric.
Seperti pucuk dicinta ulam pun tiba, Mr. Aric bilang jika besok ia akan menemui seseorang. Ada hal penting yang memang tidak bisa ditinggalkan. Senyum Riri merekah. Ia senang karena tidak perlu repot-repot memikirkan alasan pada Mr. Aric.
Sebaik itu Mr. Aric padanya. Ia memang berstatus sebagai pembantu di rumah itu. Namun ia bisa bebas pergi saat ada jadwal kuliah. Bahkan pengawal siap antar jemput setiap kali Riri membutuhkannya.
"Sehat-sehat Mr. Aric. Aku berharap Mr. panjang umur. Aku ingin Mr. melihat bagaimana aku sukses. Karena orang pertama yang aku sebut dan aku ingat saat aku sukses pasti anda, Mr." Riri berdoa penuh harap saat ia sudah sampai di kamarnya.
Riri menghabiskan sepanjang malam dengan senyum lebar saat mengingat jika besok ia akan menemani Rian memberikan kejutan pada Tuan Felix. Ia merasa besok adalah hari yang menyenangkan. Paling tidak ia akan terlibat dalam keseruan sebuah keluarga. Meskipun ia bukan siapa-siapa, tapi Tuan Felix dan Rian sudah menerima kehadirannya.
Semoga Kak Mia dan suaminya bisa menerima kehadiranku juga.
Doa sebelum tidur sudah ia ukur dalam hatinya. Kini sudah waktunya ia tidur dengan membawa sejuta harapan dan mimpi indah, agar besok semuanya berjalan sesuai rencananya.
Pagi sekali Riri sudah bangun dan membereskan rumah yang ia tinggali itu. Rumahnya memang besar, namun ia hanya perlu membereskan dan membersihkan beberapa ruangan saja. Karena ruangan yang lain hanya akan ia bereskan saat ruangan itu dipakai acara saja.
Sarapan pagi sesuai kesukaan Mr. Aric sudah Riri sajikan di atas nampan dan siap diantar. Namun langkahnya tertahan saat Mr. Aric lebih dulu menuju ruang makan. Setelah sekian lama, akhirnya Riri melihat Mr. aric makan di meja makan itu.
Biasanya Riri akan pergi setelah Mr. Aric sarapan. Namun kali ini ia diminta untuk sarapan bersama. Bukan hanya itu, Mr. Aric bahkan mengajak Riri mengobrol tentang perkembangan kuliahnya.
Ini menjadi momen tersendiri bagi Riri. Pertama kali ia merasakan Mr. Aric sebagai ayah yang sedang mengevaluasi kuliahnya. Tiba-tiba Riri menangis karena merindukan ayah dan keluarganya di Indonesia.
Tangisan Riri terhenti seketika saat Mr. Aric justru memarahi Riri saat menangis. Bagi Mr. Aric, semua tangisan Riri hanya sebuah kesia-siaan saja. Tidak ada waktu untuk menangis. Bahagialah dan habiskan waktumu sebaik mungkin, begitu yang bisa Riri ambil dari kemarahan Mr. Aric pagi ini.
Setelah melihat Riri mengusap pipinya yang masih basah dengan air mata dan kembali tersenyum, Mr. Aric baru berangkat. Usapan tangannya di kepala Riri yang penuh kasih sayang, membuat Riri meyakini jika ia akan memberikan yang terbaik untuk Mr. Aric.
Tidak berselang lama, Riri juga berangkat ke kampus. Sebuah mobil mewah beserta pengawal sudah siap mengantar Riri. Kecepatan mobil yang begitu cepat membuat Riri tiba di sana jauh sebelum jadwal masuknya.
"Pus," panggil Rian.
"Mas Rian?" tanya Riri.
"Kamu sudah izinkan hari ini?" tanya Rian.
"Mas kenapa jam segini sudah di kampus?" Riri balik bertanya.
"Aku sengaja menunggumu untuk jawaban pertanyaanku yang tadi," jawab Rian.
"Oh soal itu," ucap Riri.
__ADS_1
"Jadi gimana?" tanya Rian.
"Aku tidak perlu izin karena hari ini Mr. Aric ada acara di luar. Jadi aku bisa pulang ke rumah sampai jam sepuluh malam," jawab Riri.
"Yeaaaay," ucap Rian girang.
Riri hanya melihat Rian dengan tatapan aneh. Haruskah Rian sebahagia itu? Riri hanya bisa menahan tawanya, sampai Rian salah tingkah dan pergi ke kelas.
"Mas Rian ini ada-ada saja," gumam Riri.
Hari ini jadwal Rian dan Riri selesai jam satu siang. Rian sudah menunggu di tempat yang memang sudah disepakati.
"Ayo!" ajak Rian dengan senyum lebar.
"Nanti dulu," ucap Riri.
Senyum Rian memudar perlahan.
"Kenapa?" tanya Rian.
Riri masih diam, sepertinya sedang memilih kata yang harus diucapkan pada Rian. Sementara Rian sudah berpikir buruk jika Riri akan membatalkan rencananya.
"Aku malu," ucap Riri gugup.
"Malu kenapa?" tanya Rian.
"Ya ampun Pus, aku mengajakmu ke sana untuk memberikan kejutan. Bukan harus bawa kado. Aku yakin hadirnya kamu di sana akan menjadi kado yang tidak ternilai untuk Papa," ucap Rian.
"Lalu nanti apa kata Kak Mia?" tanya Riri.
"Apanya yang apa? Kak Mia ya begitu. Dia humble. Aku yakin kamu pasti bisa cepat akrab," ucap Rian.
"Apa Mas sudah bilang akan membasaku ke sana?" tanya Riri.
"Sudah," jawab Rian.
"Terus gimana?" tanya Riri.
"Apanya yang gimana?" Rian balik bertanya.
"Ih, responnya. Aku mau tahu gimana respon Kak Mia soal aku," jawab Riri.
"Ya mana aku tahu kita kan belum ketemu," ucap Rian.
"Ih tapi kan Mas bisa dengar dari cara Kak Mia bicara," ucap Riri.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti," ucap Rian.
Riri ikut dengan Rian. Tidak pulang ke rumah, Rian mengajak Riri ke suatu tempat. Cafe yang sangat mewah. Tempat dimana Rian dan Mia janjian. Seharusnya Mia sampai di sana nanti malam. Hanya saja Mia mempercepat keberangkatannya hingga siang ini ia sudah tiba di Jerman.
"Kita tidak jemput ke airport saja Mas?" tanya Riri.
"Kak Mia kita nunggu di sini saja," jawab Rian.
"Oh ya sudah," ucap Riri.
Sambil menunggu menu makan siang yang dipesan, Riri mengamati seluruh sudut ruangan yang terjangkau dengan pandanganya.
"Kamu suka tempatnya?" tanya Rian.
"Suka Mas," jawab Riri.
"Makan," ucap Rian saat makanan sudah tersaji di mejanya.
Riri mengangguk dan mulai makan. Tidak ada jaim, Riri makan seperti biasanya. Rian hanya menggeleng saat Riri lebih cepat selesai dibanding dengan dirinya.
"Lapar Mas," ucap Riri saat melihat tatapan Rian.
Rian tidak menjawab. Ia hanya mengangkat jempolnya dan melanjutkan makan siangnya. Tidak lama setelah Rian selesai makan, Mis dan Dion datang. Rian segera melambaikan tangannya saat melihat keduanya di cafe itu.
Berbeda dengan Rian yang terlihat bahagia, Riri justru terlihat begitu tegang. Ia khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Sebisa mungkin Riri akan menjaga ucapan dan sikapnya.
"Ini Mpus?" tanya Mia saat mereka sudah duduk satu meja dengan senyumnya yang merekah.
"Haii, Kak. Riri," ucap Riri sambil mengulurkan tangannya.
Mia segera menyambut uluran tangan Riri dengan senyum lebar dan hangat. Begitu juga Dion, ia yakin jika Riri adalah anak baik. Semua terlihat dari sikap Riri yang lembut dan sangat sopan santun..
"Kapan dilamar?" tanya Dion tiba-tiba.
Rian langsung memerah. Ia malu sendiri mendengar pertanyaan Dion. Namun untungnya Mia segera menyikut Dion. Mia juga membahas jika mereka masih terlalu muda.
"Fokus kuliah dulu. Kalau sudah jodoh tidak akan kemana," ucap Mia.
"Ya tapi jangan terlalu santai juga. Takut terlaku santai, pas sadar sudah beruban," ucap Dion sambil tertawa.
Semua ikut tertawa termasuk Riri. Melihat Mia dan Dion yang sangat humble, membuat Riri semakin nyaman berada di tengah-tengah mereka. Meskipun Dion beberapa kali membahas tentang perjodohannya dengan Rian, namun Riri masih menikmati siang itu.
"Berangkat sekarang yu!" ajak Mia.
"Ayo," ucap Rian.
__ADS_1
Riri hanya mengikuti kemana kaki Rian melangkah. Ia berterima kasih untuk momen ini. Menurutnya, apa yang terjadi hari ini bisa mengobati kerinduan pada keluarganya yang sudah lama hilang kontak.