
Rian dibuat semakin pusing saat keesokan harinya, nomor Riri masih tidak bisa dihubungi. Rasa sakit tiba-tiba menghujam dadanya saat melihat pesannya sudah terbaca. Sayangnya, sebuah balasan tidak kunjung ia terima. Bahkan ia sendiri tidak bisa menghubungi nomor Riri.
"Segitu marahnya kamu, Pus?" tanya Rian gelisah.
Melihat jam yang tertera di layar ponsel, membuat Rian terpaksa menyimpan ponsel itu dan segera ke bersiap. Ia harus menepati janjinya untuk menjemput Naura dan Narendra.
"Pah, mau ikut jemput Naura dan Rendra?" tanya Rian.
"Sepertinya Papa tidak ikut, Ri." Tuan Felix mengangkat wajahnya dan membetulkan letak kacamatanya.
"Oh ya sudah. Aku berangkat dulu ya!" ucap Rian.
Rian sudah tahu tentang pekerjaan ayahnya. Saat ada laptop di pangkuannya, Rian sudah memastikan jika ayah angkatnya itu sedang mengerjakan hal penting dan tidak bisa diganggu.
"Eh Ri, hari ini tolong kamu sempatkan bertemu dengan Wira ya. Kamu cari alasan untuk keluar. Bujuk dia agar menerima Mia dan Dion untuk tinggal di sana," ucap Tuan Felix.
"Maksudnya gimana Pah?" tanya Rian dengan wajah bingung.
Tuan Felix akhirnya menjelaskan apa yang terjadi dengan Mia kemarin malam. Rian mengangguk-angukkan kepalanya. Padahal sebenarnya ia sendiri menyaksikan obrolan Mia dengan Tuan Felix tadi malam.
Apa yang diperintahkan Tuan Felix juga memang sudah diniatkan olehnya. Meskipun ia tahu ini tidak mudah, tapi jika sudah berusaha mungkin saja Tuan Wira bisa mengubah keputusannya.
"Aku akan berusaha Pah. Doakan ya!" ucap Rian.
"Iya. Hati-hati! Papa yakin kamu bisa," ucap Tuan Felix penuh harap.
Rian tersenyum dan segera pamit. Waktu yang semakin siang membuatnya takut terlambat saat menjemput Naura dan Narendra. Lambaian tangan pun segera Rian lakukan dan pergi meninggalkan Tuan Felix.
Saat menyetir, sesekali Rian melihat ponselnya. Masih sama, tidak ada balasan dari Riri. Hal itu tentu membuatnha sangat kecewa. Namun apa boleh buat, Rian tidak bisa melakukan apapun saat ini kecuali pasrah.
Rian juga menyadari bahwa semua ini adalah resiko yang harus ia tanggung ssat menjalani hubungan jarak jauh seperti ini. Meskipun lelah, namun ia tetap berjuang untuk cintanya.
"Om," teriak Naura dan Narendra saat melihat mobil Rian sudah terparkir di halaman sekolahnya.
"Maafkan om telat menjemput kalian ya!" ucap Rian.
"Tidak om. Naura baru saja keluar kok," ucap Naura.
"Ya sudah. Sekarang kita mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" tanya Rian.
"Aku mau ke rumah Opa, Om." Narendra menatap Rian dengan wajah penuh harap.
__ADS_1
Rian menatap Narendra lekat. Ia mencoba menjelaskan kalau Tuan Wira sedang sibuk. Bahkan ia berbohong dengan cara memberikan kemungkinan kalau Tuan Wira bisa saja sedang keluar kota.
"Aku tahu opa mungkin di luar kota atau di kantor. Aku juga tidak harus bertemu dengan opa. Makanya aku mau ke rumahnya saja. Mau tidur siang di kamar Opa," ucap Narendra.
Rian menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana mungkin Narendra memiliki keinginan seperti itu. Menurutnya, itu bukan sebuah keinginan. Rian merasa jika Narendra memang sudah mencium kebohongan ini.
"Kapan-kapan saja ya! Sekarang kita harus pulang. Mengerjakan PR dan istirahat," ucap Rian yang berusaha membujuk Narendra.
"Hari ini tidak ada PR om," ucap Naura.
Rian diam sebentar. Mencari alasan yang tiba-tiba absen di kepalanya. Hilang, buyar. Rian dibuat tidak berkutik dengan keinginan Narendra.
"Om, ayo om. Naura juga kangen sama opa. Lama sekali Naura tidak ke sana. Ya paling tidak, kita mengobati rasa kangennya dengan main ke rumah opa. Meskipun opa tidak ada di sana," ucap Naura dengan wajah sedih.
Rian iba melihat rengekan keduanya. Namun ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Bagaimana bisa ia membawa Naura dan Narendra ke rumah Tuan Wira yang jelas-jelas akan menolak mereka.
"Om," panggil Narendra.
"Hah? Apa"
Lamunan Rian buyar seketika. Ia benar-benat tidak bisa berpikir. Membayangkan kekecewaan Tuan Wira saat membuka sandiwaranya saja membuat Rian menggelengkan kepalanya.
"Memangnya opa tidak membolehkan kita ke rumahnya ya?" tanya Narendra.
"Ya sudah ayo ke sana. Di sana kan ada Oma. Jadi meskipun kita tidak bertemu dengan Opa, masih ada Oma yang akan menyambut kedatangan kita. Iya kan?" ucap Naura yang meminta persetujuan Narendra.
"Iya Om," ucap Narendra yang ikut mengiyakan.
Rian berusaha membujuk Naura dan Narendra dengan berbagai cara. Namun hasilnya nihil. Kedua keponakan kembarnya itu tidak mau pulang kalau saja mereka tidak dibawa ke rumah Tuan Wira.
Aduh, kenapa bujukan dan rayuanku tidak mempan pada anak kecil ya? Padahal aku bisa membujuk Papa Wira, Papa Felix, dan Kak Mia. Tapi kenapa aku tidak bisa membujuk kedua anak ini untuk melupakan keinginannya itu? Harus pakai cara apa lagi ya?
Rian memijat kepalanya yang sakit. Bukan karena hipertensi, tapi karena ia sedang mengalami kebuntuan. Ia tidak bisa menemukan jalan keluar. Sementara kedua keponakannya masih setia duduk di bebangkuan.
"Ayo pulang!" ajak Rian.
"Tidak mau Om. Aku mau ke rumah opa," tolak Narendra.
"Nanti om bawa ke rumah opa ya. Tapi nanti. Tidak sekarang," bujuk Rian.
"Memangnya kenapa?" tanya Naura.
__ADS_1
"Om kan belum izin sama Mama dan Papa kalian," jawab Rian.
"Memangnya kalau kita mau main k rumah opanya sendiri tidak boleh ya?" tanya Narendra.
Rian semakin bingung. Karena sudah membujuknya dan tidak berhasil, akhirnya ia mengiyakan. Meskipun ia tahu resikonya akan sangat besar, namun untuk saat ini ia tidak punya pilihan lain.
"Yeayyy. Horeee!" Teriakan Naura dan Narendra harus membuat Rian menutup kedua telinganya.
Rian melajukan mobilnya menuju rumah Tuan Wira. Selama perjalanan, Rian melihat wajah riang kedua keponakannya. Sementara batinnya terus berperang. Kepalanya terus berpikir dengan penjelasan yang akan ia sampaikan kepada Tuan Wira.
Keduanya langsung berhambur saat sudah sampai ke rumah Tuan Wira. Rian tidak sempat menahan mereka. Dengan cepat Rian mengejar keduanya. Namun sayangnya terlambat. Saat ini Tuan Wira sedang duduk santai di ruang keluarga.
Buku yang ada di tangan Tuan Wira terjatuh begitu saja saat mendengar teriakan Naura dan Narendra. Antara senang, sedih, marah dan kecewa, semua berkecamuk dalam hatinya. Tatapannya tajam saat melihat sosok Rian.
"Pah," ucap Rian gugup.
"Om berbohong. Katanya opa sibuk. Tapi sedang duduk santai," protes Naura.
Rian dan Tuan Wira diam. Tidak ada satupun diantara mereka yang berani menjawab ucapan Naura. Sedangkan kedua anak yang sedang rindu kepada kakeknya, hanya memeluk dan tertawa riang saat bisa bertemu lagi dengan Tuan Wira.
"Opa ayo kita belajar. Aku punya PR," ucap Narendra.
"Opa, tapi PRnya mudah. Kita main saja ucap Naura.
"Naura, Rendra, kalian kan baru pulang. Ayo makan dulu. Nanti opa main setelah kalian makan dan istirahat ya!" ucap Rian.
Mereka berdua sempat menolak, namun akhirnya Rian berhasil membujuk keduanya. Rian mengantar kedua anak itu untuk makan dan memintanya untuk istirahat. Ia sendiri kembali menemui Tuan Wira untuk menjelaskan semuanya.
"Pah," panggil Rian.
Tidak ada. Tuan Wira sudah tidak ada di ruangan tadi. Rian berjalan menuju kamar Tuan Wira. Perlahan tangannya mengetuk daun pintu yang tertutup rapat. Tidak ada sahutan. Rian mengusap wajahnya kasar.
"Pah, mereka hanya rindu kepada Papa. Aku tidak bisa menahan mereka. Aku tahu Papa juga rindu pada mereka. Papa lihat kan bagaimana Naura dan Narendra berteriak bahagia saat bertemu dengan Papa?" ucap Rian dari balik pintu.
Masih tidak ada jawaban. Namun Rian tidak putus asa. Ia terus bicara. Mengutarakan apa yang sebenarnya terjadi. Penyakit Tuan Wira tidak akan menjadi beban untuk siapapun. Justru sebenarnya keberadaan mereka di sekeliling Tuan Wira, bisa membuat semangat baru untuknya.
Berkali-kali Rian menjelaskan. Sudah panjang lebar Rian bicara dari balik pintu. Tapi Tuan Wira masih bungkam. Tidak ada satu kata pun yang terdengar oleh Rian. Akhirnya Rian menyerah. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk keduanya bicara dari hati ke hati.
"Pah, aku mengerti Papa belum siap. Kalau Papa mau marah, marah padaku saja ya. Jangan sampai Papa kesal ada Naura dan Narendra. Aku pamit. Aku bawa mereka pulang ya Pah. Selamat istirahat Pah. Jangan lupa minum obat," ucap Rian.
Langkahnya berat. Namun ia tetap melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan kamar Tuan Wira. Setelah beberapa langkah, Rian melihat ke arah belakang. Kembali menatap kamar Tuan Wira yang masih tetap tertutup rapat.
__ADS_1
Rian menghela napas panjang. Ia melihat kedua anak yang ceria itu tengah mengerjakan PR bersama. Rian tengah merangkai cerita untuk mengajak mereka pulang. Ah, Rian membayangkan bagaimana wajah ceria itu berganti dengan wajah kecewa.
Maaf ya Naura, Narendra. Om belum bisa membujuk Opa. Tapi om yakin nanti opa pasti akan mengerti dengan kerinduan kalian.