
Keinginan Mia untuk dibuatkan acara pesta ulang tahun membuat Rian tidak mengerti. Ia memutuskan untuk pergi ke kantor Mia karena harus membahas ini secara langsung.
"Pak, jam istirahat saya izin ke kantor Kak Mia ya!" ucap Rian.
"Oh iya Pak silahkan," ucap Manto.
Rian pergi setelah jam makan siang. Ia menemui Mia di kantornya. Kebetulan Mia sedang ada waktu longgar.
"Kamu ke sini?" tanya Dion.
"Tadi Kak Mia nelepon. Tapi aku bingung sama bahasannya," jawab Rian.
"Tumben kamu lemot," ucap Dion sambil tertawa.
Rian hanya mendecak kesal sambil masuk ke dalam ruangan Mia. Ia segera menghampiri Mia yang nampak sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.
"Rian," ucap Mia sambil menyimpan ponselnya.
"Kakak mau ada acara apa sih sebenarnya?" tanya Rian.
"Kan aku sudah bilang kalau aku mau buat acara pesta ulang tahun buat Naura dan Rendra," jawab Mia.
"Acaranya sederhana? Yang diundang hanya keluarga kita aja? Kemarin kan sudah," ucap Rian.
"Aku mau mengundang Danu dan Reza. Kamu masih ingat kan temanku yang bernama Reza?" tanya Dion yang ikut nimbrung.
"Reza?" ucap Rian sambil berusaha mengingat orang bernama Reza itu.
"Dia temanku. Bapaknya si Yaza," ucap Dion yang membantu mengingatkan Rian.
"Astaga. Ah iya tentu aku ingat sama Kak Reza. Dimana dia sekarang?" tanya Rian.
Rian bingung sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan Reza, sementara ia sangat mengingat Yaza. Ia bahkan menulis nama Yaza di list targetnya saat itu.
"Dia di luar kota. Tapi minggu depan dia mau ke Jakarta. Makanya aku mau buat pesta ulang tahun kecil-kecilan buat Naura sama Rendra. Ya itung-itung sekalian reuni aja," ucap Dion.
Minggu depan akan ke Jakarta? Kepala Rian kembali memikirkan tentang Riri yang akan datang ke Indonesia juga. Bahkan rencananya hari ini Riri akan ke Indonesia. Tapi sampai saat ini tidak ada pesan apapun dari Riri.
"Ri, kok bengong?" tanya Dion.
"Ah, tidak. Iya terus konsepnya mau gimana?" Rian balik bertanya.
Mata Dion menatap Rian yang seketika berubah menjadi nampak gelisah.
"Masalah konsep sih belakangan. Sebelum itu ada yang mau aku bahas," ucap Dion.
"Apa Kak?" tanya Rian.
"Semalam kamu mau cerita apa sama Mia?" tanya Dion.
Rian menatap Dion. Ia tidak menyangka jika Dion sepeka itu. Hampir saja ia berusaha menelan semuanya sendirian. Namun berkat Dion, akhirnya ia bisa meluapkan apa yang mengganjal di hatinya.
"Hari ini Mpus pulang ke Indonesia. Tapi tidak ada kabar lagi. Aku cba telepon tidak ada respon," ucap Rian.
"Serius?" tanya Mia.
"Kalian janjian dimana?" tanya Dion.
Rian menggeleng.
"Loh kok begitu?" tanya Mia.
__ADS_1
"Aku merasa Mpus tidak begitu serius dengan ucapannya. Mungkin dia hanya berusha menyenangkanku saja," jawab Rian.
"Jangan begitu. Kamu kok jahat banget sih mikir segitunya sama Mpus?" ucap Mia.
"Ya habisnya dia yang begitu sama aku. Buat apa dia bilang mau pulang tapi pada akhirnya tidak ada kabar sama sekali," ucap Rian.
Rian terlihat begitu kecewa. Harapannya terlalu besar saat Riri mengatakan jika ia akan pulang. Namun pada kenyataannya, Riri tidak memberikan kepastian pada Rian. Hal itu yang membuat rasa kecewanya semakin besar.
Tidak ingin berlarut dalam kesedihannya, Rian mengembalikan bahasan siang itu ke acara yang akan direncanakan. Walaupun rasa kecewa itu tidak hilang, namun hatinya sudah lega. Setidaknya unek-uneknya sudah diluapkan.
"Jadi fix begini ya agendanya?" tanya Rian saat sudah menulis list kegiatan untuk perayaan ulang tahun Naura dan Narendra.
"Iya seperti itu. Tidak terlalu formal namun tidak mengurangi rencana kita untuk mengenalkan dan mendekatkan anak-anak," ucap Dion.
"A, terima kasih banyak ya!" ucap Mia.
Rian terharu saat hati Dion mulai luluh. Awalnya ia tidak percaya saat tahu kalau semua acara ini berawal dari rencana Dion. Yang ia tahu jika Dion masih sangat cemburu jika ada hal yang berhubungan dengan Danu.
"Semua demi kebaikan kita semua kan?" tanya Dion.
"Sekali lagi terima kasih banyak ya A," ucap Mia.
Mia dengan manja segera memeluk Dion, sebagai rasa terima kasihnya atas keputusan suaminya itu. Jujur saja rasa kesepianlah yang membuat Mia berusaha untuk meyakinkan Dion. Ia merindukan Sindi sebagai sosok sahabat. Semenjak pernikahan Sindi dan Danu, hubungan mereka menjadi renggang karena Dion yang selalu dibakar api cemburu.
"Ekhem, ekhem. Ada aku loh di sini," ucap Rian.
Bukannya melepaskan pelukannya, Mia justru memeluk Dion semakin erat. Ia sengaja membuat Rian menyaksikan keromantisan mereka berdua.
"Makanya nikah dong," ucap Mia.
"Kan sebentar lagi," ucap Dion.
"Masa sih?" goda Mia.
Mia dan Dion hanya tertawa saat melihat Rian pergi. Mereka tahu Rian akan menikahi Riri. Namun masalahnya, ketakutan Rian membuatnya justru terlihat mengulur waktu.
"kalau dia yang lambat, maka kita yang harus gerak cepat." Dion menatap Mia seolah meminta dukungan.
"Maksudnya?" tanya Mia.
"Ah, kamu sama Rian sama saja. Sama-sama mendadak lemot," jawab Dion.
"Eh, mau kemana A? Sini! Jelaskan dulu maksudnya gimana? Kita yang gerak cepat itu gimana?" tanya Mia.
Dion yang hendak meninggalkan Mia berhenti karena tangannya di tahan. Sejenak ia menghirup napas panjang. Ia menjelaskan jika ia berniat meyakinkan Riri agar segera mendesak Rian untuk menikahinya.
"A, mana mau Mpus begitu. Kalau mau juga kita harus desak Rian agar segera menikahi Mpus. Masa perempuan yang harus gerak duluan?" ucap Mia.
"Loh memangnya kenapa kalau Mpus harus gerak duluan? Dari pada lama nunggu Rian. Rian terlalu banyak kekhawatiran," ucap Dion.
Buntut dari bahasan itu mereka jadi berdebat cukup panjang. Tapi memang kenyataannya seperti itu. Mia juga menyadari jika kini Rian nampak mengulur waktu. Tidak seperti dulu yang terlihat lebih menggebu-gebu.
Dion dan Mia menyudahi perdebatan itu setelah ada telepon dari Tuan Wira yang mengabarkan jika Nyonya Helen di rawat di rumah sakit. Mereka segera bergegas untuk berangkat ke rumah sakit.
Mereka lega karena ketika sampai ke sana, Rian sudah lebih dulu datang. Ia merasa Rian memang benar-benar anak yang tulus.
"Ma," panggil Dion dengan suara lirih.
Nyonya Helen menatap Dion lalu merentangkan tangannya. Dion segera menghambur dan memeluk Dion. Tangis mereka pecah seketika. Ada sakit yang tidak bisa dijelaskan oleh Dion. Begitupun sebaliknya. Sementara Mia hanya berusaha mengusap punggung Dion, mencoba menenangkan suaminya.
"Mi," ucap Nyonya Helen saat pelukannya dengan Dion selesai.
__ADS_1
"Ma," ucap Mia.
Mia segera memeluk Nyonya Helen sambil membisikkan perasaannya. Perasaan sayang dan khawatirnya pada Nyonya Helen. Sebagai seorang menantu, Mia tidak sempurna. Beberapa kali mereka sempat berselisih paham. Namun terlepas dari itu, Mia sangat menyayangi Nyonya Helen.
"Sakit," ucap Nyonya Helen sambil menunjuk perutnya.
"Iya. Mama cepat sembuh ya!" ucap Mia sambil menangis.
Penyakit lambung yang semakin hari semakin parah membuat Nyonya Helen merasa tubuhnya semakin lemah. Sudah beberapa hari ia kontrol ke rumah sakit. Namun kali ini Nyonya Helen tidak bisa menahan rasa sakit yang tengah dideritanya.
"Kalau Mama pergi, jagain Dion sama Papa ya!" ucap Nyonya Helen dengan napas tersenggal.
"Ma, jangan begitu. Semangat sembuh ya! Minggu depan kita ada acara pesta ulang tahun buat Naura sama Rendra," ucap Dion.
"Iya. Mama harus sembuh. Sindi sama Maya istrinya Reza juga datang," tambah Mia.
"Mama tidak kuat. Sakit," ucap Nyonya Helen.
Bukan hanya Mia dan Dion, Rian yang hanya anak angkat saja merasa sangat sakit mendengar ucapan Nyonya Helen. Wanita yang sangat penuh dengan ketulusan.
"Ri," panggil Nyonya Helen.
"Iya Ma," jawab Rian.
Dengan cepat Rian mengelap air mata yang menetes di matanya. Ia tidak ingin Nyonya Helen merasa hatinya rapuh saat semua orang seakan mengasihaninya.
"Ri, jaga Naura sama Rendra ya!" ucap Nyonya Helen.
"Ma, aku mau jaga Mama. Biar nanti Mama yang jaga Naura dan Rendra. Mama cepat sembuh ya!" ucap Rian.
Napas Nyonya Helen semakin berat. Dion segera memanggil dokter untuk membantu ibunya. Selang oksigen sudah terpasang. Namun tiba-tiba tekanan darah Nyonya Helen drop hingga harus dilakukan observasi lanjutan.
"Tolong semua keluarga menunggu di luar ya!" ucap dokter.
"Saya suaminya. Saya tunggu di sini. Saya harus memastikan kalau istri saya baik-baik saja," ucap Tuan Wira.
"Pah, kita tunggu di luar ya! Biar dokter memeriksa Mama," ucap Dion.
Sempat menolak, namun akhirnya Tuan Wira berhasil melunak. Ia mengikuti Dion dan yang lainnya untuk menunggu di luar.
"Di, Mama bisa sembuh kan?" tanya Tuan Wira.
Melihat keadaan ibunya, memang kemungkinannya sangat kecil. Namun Dion tidak mau membuat ayahnya putus asa.
"Mama pasti sembuh," jawab Dion dengan suara yang bergetar.
"Bisa sembuh kan Ri?" tanya Tuan Wira.
"Bisa Pah. Mama pasti sembuh kok," jawab Rian.
"Papa tenang saja. Mama pasti sembuh," uca pi Mia menenangkan.
Sudah beberapa hari terakhir Nyonya Helen mengeluh jika lambungnya sering kumat. Namun tidak sampai seperti ini. Rian merasa sangat bersalah saat ia tidak peka dengan penyakit Nyonya Helen.
Saat ini penyesalan sudah tidak ada lagi artinya. Ia hanya bisa berjanji agar lebih memperhatikan Nyonya Helen. Besar harapannya jika pernikahannya nanti akan dihadiri Nyonya Helen dalam keadaan sehat. Meskipun ia sempat tidak yakin, namun pikiran positif selalu ia tanamkan dalam dirinya.
Saat sedang tidak tepat, Rian menyadari jika ponselnya bergetar. Awalnya ia mengabaikan panggilan itu. Namun setelah panggilan kedua masuk, ia membuka ponselnya.
Nama Riri terlihat jelas di layar ponselnya. Ia segera izin untuk menjawab panggilan dari Riri. Kabar tidak baik pun ia terima dari Riri. Riri mengabari Rian jika kepulangannya ke Indonesia batal.
"Apapun keputusanmu. Aku ikut," ucap Rian.
__ADS_1
Tidak ingin berdebat dengan Riri di waktu yang tidak tepat, Rian memilih untuk mengalah dan pasrah. Ia membiarkan Riri dengan segala keputusannya meskipun itu tidak sesuai dengan keinginannya.