
Semalaman Rian menghabiskan waktunya dengan senyum yang terus mengembang. Rasa bahagianya karena sudah lepas dadi jerat Maudi sangat ia nikmati. Semua berkat Riri. Selalu wanita itu yang membuat Rian bahagia dan tenang.
"Apa aku mencintai Riri?" tanya Rian pada dirinya sendiri.
Tidak! Rian menolak pikirannya. Ia tidak ingin hubungannya dengan Riri sebagai sahabat menjadi berantakan. Seperti yang ia tahu jika trauma Riri cukup berat soal pacaran. Ia tidak ingin Riri menjauh darinya jika ternyata Riri tidak menginginkan perasaan lebih darinya.
Memikirkan perasaannya pada Riri membuat Rian tidak bisa mengontrol dirinya. Ia masih belum bisa tidur walau jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu malam waktu di Jerman.
"Rian, Rian," panggil Tuan Felix dengan sedikit berteriak.
Tuan Felix harus kembali memanggil Rian saat pintu kamarnya masih tertutup rapat. Belum lagi tidak ada sahutan Rian dari dalam kamar. Itu mempertegas dugaan Tuan Felix bahwa Rian memang belum bangun.
"Ya Pah," jawab Rian sambil mengucek matanya.
Entah panggilan keberapa yang membuat Rian membuka matanya. Yang pasti saat ini kepalanya masih terasa begitu berat. Matanya tebuka sempurna saat pandangannya menyaksikan jika jam sudah menunjukkan pukul tujuh.
"Kamu baru bangun?" tanya Tuan Felix saat pintu kamar sudah terbuka.
Mata Rian yang nampak merah dan ramburnya yang masih berantakan jelas menjawab pertanyaan Tuan Felix saat itu. Belum lagi saat Rian masih mengenakan pakaian kemarin sore. Rian sendiri hanya tersenyum canggung dan bingung. Apalagi saat ia menyadari jika hari ini Rian memiliki jadwal pagi.
"Masuk jam berapa?" tanya Tuan Felix.
"Pagi Pah," jawab Rian.
"Mandi dan bersiap. Papa tunggu kamu di ruang makan," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah," jawab Rian.
Setelah melihat Tuan Felix pergi dari kamarnya, Rian segera berlari ke kamar mandi dan bersiap. Kemeja tangan panjang yang digulung itu menampilkan keindahan makhluk ciptaan Tuhan. Apalagi dengan warna navy kesukaannya. Ia nampak begitu percaya diri.
Sebelum benar-benar keluar dari kamarnya, Rian tentu tidak lupa mengambil ponselnya dan menyambar tas berisi laptopnya.
Beberapa semprot parfum ia layangkan nyaris ke seluruh tubuh. Hal itu membuat Tuan Felix harus menunjukkan rasa tidak sukanya. Baginya, ini terlalu berlebihan.
"Habis berapa botol?" tanya Tuan Felix.
"Maaf ya Pah," ucap Rian.
"Kamu ini seperti anak gadis saja," ucap Tuan Felix sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya Pah maaf. Lagi pula kan ini hanya aku tambahkan dua semprot saja dari biasanya," ucap Rian berusaha membela diri.
"Apanya yang dua semprot? Ini berbeda jauh dari biasanya. Lain kali kamu jangan seperti ini," ucap Tuan Felix.
__ADS_1
"Iya Pah iya," ucap Rian.
Mereka sarapan bersama dan berpisah saat berangkat dari rumah. Keduanya mengawali hari dengan senyum dan semangat pagi.
"Riaaaan," teriak Maudi saat Rian baru saja keluar dari mobilnya.
Apa lagi sih ini?
Rian mengerutkan dahinya. Ia bingung dengan sikap Maudi yang tidak tahu malu. Baginya, kejadian kemarin seharusnya mampu membuat Maudi jera. Namun kenyataannya, ia masih harus menyaksikan Maudi yang seolah tidak terjadi apapun.
"Pus," teriak Rian memanggil Riri saat melihat Riri berjalan di sekitar parkiran.
Hal itu sengaja Rian lakukan agar Maudi pergi karena malu dengan kehadiran Riri. Lagi-lagi Rian dibuat kesal saat Maudi masih saja menggelantung manja di lengannya.
"Lepaskan Maudi," ucap Rian yang berusaha menjauh dari Maudi.
"Kenapa? Takut dia cemburu ya?" tanya Maudi kesal.
"Iya," jawab Rian singkat.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak akan membiarkan kamu bahagia dengan Riri," ucap Maudi.
"Terserah kamu. Aku tidak peduli," ucap Rian.
"Kamu cemburu ya?" tanya Maudi.
"Cemburu? Katanya cemburu itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri. Dan aku selalu percaya diri," jawab Riri.
"Jadi kamu tidak mencintai Rian kan?" tanya Maudi meyakinkan.
"Aku tidak tahu. Hanya saja yang aku tahu kalau Mas Rian sudah tidak mencintai Mas," jawab Riri.
"Lancang sekali mulut murahanmu itu? Aku akan membuatmu jera," ucap Maudi sambil mengangkat tangannya dan siap menampar Riri.
Maudi harus merasakan kekesalan yang semakin menjadi saat Rian menangkap tangannya.
"Jangan coba-coba menyakiti Riri," ucap Rian memperingatkan Maudi.
"Semakin kamu membela wanita murahan itu, aku akan semakin membuatnya menderita. Ingat itu Rian!" Maudi pun mengancam Rian.
"Berhenti untuk memanggilku murahan. Aku memang menjual susuatu dalam hidupku. Aku akui jika aku memang menukar bagian dari hidupku demi uang. Tapi aku menukar waktu dan jasa dari tenagaku untuk biaya kuliah. Sementara Mba? Menukar harga diri hanya demi pria yang tidak bertanggung jawab. Jadi yang murahan itu siapa?" ucap Riri.
"Jadi pembantu saja sudah seperti itu. Apalagi kalau kamu jadi orang kaya. Tapi sepertinya kamu lebih cocok seperti ini," ejek Maudi.
__ADS_1
"Yang kaya belum tentu bahagia. Untuk apa harta berlimpah jika Mba tidak bahagia?" ucap Riri.
"Apa maksudmu? Dengan uang aku bisa membuat diriku bahagia," ucap Maudi.
"Buktinya Mba tidak bisa kan membeli Mas Rian? Katanya kaya, tapi tidak bahagia kan karena cintanya bertepuk sebelah tangan? Kasihan. Miris sekali sih. Yang sabar ya Mba," sindir Riri sambil mengusap lengan Maudi
Maudi yang sangat tersinggung dengan ucaan Riri, ia melepaskan tangan Riri dari lengannya dengan begitu kasar.
Aduan manja ia laporkan pada Rian. Berharap jika Rian akan membelanya. Namun ia lupa jika Rian sudah berubah. Ia bukan Rian yang dulu lagi. Rian yang ada di bawah kendalinya memang sudah tidak ada. Kini pria itu berubah menjadi Rian yang dingin padanya.
"Kalian memang benar-benar menantangku," ucap Maudi geram.
"Tidak ada yang menantang. Kamu yang selalu mencari masalah Maudi," ucap Rian.
"Diam Rian! Saat ini aku akan membiarkanmu bahagia dengan semua yang kamu inginkan selama di sini. Ingat ya, selama di sini. Tapi aku pastikan, aku akan selalu bayanganmu saat kamu kembali ke Jakarta," ucap Maudi.
"Aku permisi dulu ya!" ucap Riri.
"Pergi saja! Aku tidak butuh kehadiranmu di sini," ucap Maudi.
Rian membiarkan Riri pergi agar tidak terlibat terlalu jauh. Namun dengan sikap tenangnya, Rian yakin jika Riri bisa menyikapi kelakuan Maudi padanya.
"Maudi, aku juga mau ke kelas." Rian pun sama, berniat untuk menghundari Maudi.
"Tunggu sebentar!" ucap Maudi sambil menarik tangan Rian.
Langkah Rian tertahan. Maudi segera menjelaskan kedatangannya ke kampus. Ya, bukan untuk kuliah melainkan untuk mengurus pemberhentiannya kuliah di kampus impiannya itu.
Maudi juga meningatkan kembali ancamannya. Ia tidak peduli sekalipun nanti Rian kembali setelah ia memiliki seorang istri bahkan anak. Maudi meyakinkan Rian bahwa dirinya akan selalu mengikuti dan mengganggu Rian hingga akhirnya apa yang ia inginkan terwujud.
"Kamu gila, Maudi." Rian menggelengkan kepalanya.
"Ya, aku gila. Dan kamu yang sudah membuatku gila," ucap Maudi.
"Terserah. Aku tidak peduli," ucap Rian sambil meninggalkan Maudi.
Kali ini Maudi tidak menahannya. Ia membiarkan Rian pergi meninggalkan sejuta kecewa dan luka dalam dada. Namun dendamnya semakin besar dan terpatri dalam hati yang terdalam.
Jika aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaanku, maka aku akan membuat kalia. tidak bahagia. Sekarang aku memang kalah, Rian. Tapi aku yakin suatu hari nanti kamu akan kembali ke Indonesia. Dan saat itu juga dendamku akan dimulai.
Maudi mengusap air mata yang menetes di pipinya. Ia menarik napas dalam dan berusaha menenangkan dirinya. Menguatkan kakinya agar langkahnya mencapai tujuannya.
Selesai! Maudi sudah menyelesaikan semuanya. Ia berdiri di gerbang utama kampus impiannya. Matanya mengedar ke setiap ujung pandangannya yang begitu luas.
__ADS_1
Air mata itu kembali menghambur. Merasakan sakit dengan kenyataan hidup yang dilaluinya. Ia runtuh seruntuh-runtuhnya saat itu. Entah kapan ia bisa merangkai kembali semangat dan asa yang sudah hancur berkeping itu.