
Sebelum tidur, Rian mengantarkan Riri ke kamar. Letaknya tidak terlalu jauh dengan kamarnya.
"Lucu ya Mas," ucap Riri saat akan masuk ke kamar.
Rian yang merasa aneh mendengar ucapan Riri sempat mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti dimana letak kelucuan yang Riri maksud.
"Ya aneh saja. Biasanya yang mau nikah itu dipingit. Kita kok malah sudah tinggal serumah ya?" ucap Riri sambil tersenyum.
"Iya. Tapi jujur saja aku benar-benar tegang menghadapi hari besok. Aku bahkan masih suka lupa kalimat ijab qobulnya," ucap Rian.
Riri hanya tertawa. Rian bukanlah pria bodoh yang sulit menghapalkan kalimat ijab qobul yang tidak begitu panjang. Namun kegugupanlah yang membuat Rian sulit sekali menghapalkan kalimat itu.
"Hey, sudah. Jangan ngobrol terus. Tidur sana! Sudah malam. Besok kalian akan menikah," ucap Mia yang sengaja mengecek keadaan Riri.
"Eh iya Kak," ucap Rian. "Aku tidur duluan ya Pus," lanjut Rian sambil melambaikan tangannya pada Riri.
Senyum mengembang membuat Riri terlihat semakin cantik. Mia menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya. Seketika ia ingat bagaimana beberapa tahun lalu saat ia pertama kali menikah dengan Dion.
"Kak Mia mau ke kamar aku dulu?" tanya Riri saat melihat Mia masih berdiri di depan kamarnya.
"Ah tidak. Aku juga akan istirahat," jawab Mia.
Setelah Mia benar-benar pergi, Riri masuk dan menutup pintu kamar. Ia menyandarkan tubuhnya di daun pintu sambil memegang dadanya. Bibirnya masih terus mengukir senyum. Ia tidak menyangka jika akhirnya mereka akan menikah.
"Ini terasa bagaikan mimpi," gumam Riri.
Hal yang sama juga terjadi pada Rian. Bahkan mereka berdua melakukan panggilan video sebelum akhirnya benar-benar tidur. Hanya terhalang dua ruangan saja membuat keduanya harus saling bicara melalui ponsel. Maklum, Mia dan Dion sesekali melewati kamar keduanya untuk memastikan keadaan tetap aman. Bagaimanapun Rian belum menikahi Riri. Dion tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan diantara mereka berdua.
Kokok ayam membuat semua anggota keluarga di rumah itu sibuk dengan semua persiapan. Hanya Nyonya Helen yang masih tidur nyenyak karena pengaruh obat yang tidak bisa ia kendalikan. Namun walaupun begitu, Rian meminta Tuan Wira tidak membangunkan Nyonya Helen sampai mereka benar-benar akan menuju hotel tempat pernikahan Rian dan riri digelar.
"Sudah siap semua?" tanya Dion.
"Sudah," jawab Naura dalam pelukan Riri.
Mia senang saat melihat Naura dan Narendra begitu dekat dengan Riri. Padahal mereka baru saling kenal. Mia mengartikan kedekatan itu sebagai tanda positif. Itu artinya Riri adalah wanita baik dan tulus. Bagi Mia, anak-anak itu akan begitu peka. Jika mereka nyaman dengan Riri, artinya Rian memang tidak salah memilih calon istri.
"Bangunkan Mama," ucap Dion saat mereka semua sudah siap.
"Ma, Ma," panggil Tuan Wira.
Nyonya Helen menggeliat dan membuka matanya perlahan. Nampak masih sangat merah, mungkin karena tidurnya malam ini begitu nyenyak. Bukan hanya karena pengaruh obat, tapi karena ia sudah sangat tenang. Apa yang menjadi keinginannya akan segera terwujud. Rian akan segera menikah. Akhirnya ia akan menyaksikan Rian yang sudah ia anggap anak bungsunya itu memiliki pendamping hidup.
__ADS_1
"Jam berapa ini?" tanya Nyonya Helen.
Saat tahu kalau semua sudah siap, Nyonya Helen begitu bersemangat dan ikut bersiap. Ia menunjukkan senyum bahagianya saat melihat semua orang sudah menunggunya.
"Ayo berangkat!" ajak Nyonya Helen dengan sangat bersemangat.
Semua pergi meninggalkan rumah itu. Mereka menuju sebuah hotel yang sudah disiapkan sebagai tempat akad sekaligus resepsi pernikahan Rian dan Riri.
"Kamu di ruangan sana ya! Jangan bertemu dulu sama Rian sebelum akad nikahnya selesai. Biar pangling," ucap Mia.
"Kak Mia bisa saja," ucap Riri.
Riri menuju ruangan yang ditunjukkan oleh Mia. Ia duduk di sebuah kursi yang menghadap ke cermin. Sudah ada seorang penata rias lengkap dengan alat rias yang begitu lengkap. Ia mulai duduk dengan dada yang bergemuruh. Tangannya gemetar saat tangan seorang perias itu terasa lihai menyentuh bagian wajahnya dengan make up.
"Pus, apa kamu sudah menghubungi ayahmu?" tanya Mia.
"Papa belum datang?" tanya Riri cemas.
Mia sadar kalau pertanyaannya membuat Riri menjadi tidak nyaman. Hal itu tentu akan membuat mood Riri kacau.
"Mungkin macet. Kamu kelamaan di Jerman. Sepertinya sudah lupa kalau Jakarta sudah akrab dengan kemacetan," ucap Mia sambil tertawa.
Ya, setidaknya Mia bisa mengalihkan kecemasan Riri. Wanita yang tengah dirias itu nampak tersenyum. Seperti saran Mia, Riri segera menghubungi ayahnya. Namun sudah tiga kali panggilannya diabaikan begitu saja.
Riri tidak bisa menjawab. Ia hanya menggeleng sambil menahan air mata agar tidak merusak make up yang mulai merata di wajahnya.
"Ah sudahlah. Mungkin sedang di jalan. Mana biar aku minta nomornya," ucap Mia.
Mia segera menulis nomor yang Riri sebutkan, lalu ia pamit. Dengan wajah datar ia justru menghibur Riri. Ia menggoda Riri tentang hari pernikahannya. Padahal ia menyimpan gemuruh ketakutan jika seandainya ayahnya Riri tidak datang.
"Ya sudah kalau begitu aku tunggu di luar ya," ucap Mia.
"Bagaimana?" tanya Tuan Wira saat melihat Mia keluar dari kamar Riri.
Mia menggelengkan kepalanya.
"Tapi nomornya ada. Kita bisa menghubunginya," ucap Mia.
"Mana nomornya!" pinta Dion.
Dengan cepat Dion menelepon ayahnya Riri. Namun sama halnya seperti Riri, panggilannya diabaikan. Bahkan sudah sampai tiga kali panggilannya masih tetap diabaikan.
__ADS_1
"Bagaimana ini?" tanya Dion panik.
"Coba sekali lagi. Siapa tahu bisa," jawab Tuan Wira.
Mia tidak bisa berkata apapun kecuali duduk lemas sambil menundukkan kepalanya. Ia begitu takut kalau seandainya wali Riri tidak hadir dipernikahan anaknya sendiri.
"Aku coba tulis pesan ya. Mungkin karena ayahnya Mpus tidak tahu nomor baruku," ucap Dion yang masih berusaha berpikir positif.
Butuh waktu lima menit sampai pesan itu dibaca oleh ayahnya Riri. Namun sudah lima belas menit pesan itu tak kunjung dibalas. Dion memutuskan untuk meneleponnya kembali. Kali ini panggilannya ditolak. Hal itu tentu membuat Dion semakin panik.
"Direject," ucap Dion.
Mendengar ucapan Dion semua terlihat begitu panik. Hanya saja Nyonya Helen dan Rian memang tidak diberi tahu tentang hal ini. Mereka takut keadaan berubah jadi memburuk saat berita ini sampai di telinga keduanya.
Mendengar berita itu, Tuan Felix segera pergi. Tanpa sepengetahuan yang lain, ia mengunjungi rumah keluarga Riri. Ia sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah itu. Dari luar rumah terdengar seorang wanita yang tengah tertawa puas.
"Bukankah itu suara kakaknya Mpus?" gumam Tuan Felix.
Bersama dua orang yang menemaninya, perlahan mereka mendekat ke rumah itu. Berusaha agar tidak diketahui pemilik rumah, mereka berjalan dengan sangat hati-hati agar tetap aman.
"Astaga," ucap Tuan Felix.
Merasa sudah sangat keterlaluan, Tuan Felix segera masuk ke dalam rumah. Ia menyaksikan ibunya yang tertidur pulas di ruangan tv. Hal itu karena pengaruh obat tidur yang diberikan oleh kakaknya Riri. Sedangkan ayahnya nampak berteriak-teriak dari dalam kamar.
"Kalian mau apa?" tanya wanita itu.
"Dobrak kamar itu dan bawa ayahnya Riri," ucap Tuan Felix pada kedua orang yang mengenakan seragam hitam itu.
Kakaknya Riri nampak geram saat pertanyaannya diabaikan dan ayahnya dibawa pergi dari rumah itu. Wajahnya memerah menandakan bahwa wanita itu sedang sangat marah. Apalagi saat ibunya juga ikut dibawa walaupun dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Dasar orang-orang gila. Aku laporkan kalian," teriak wanita itu.
"Kamu yang gila. Laporkan kalau memang kamu berani. Aku yang akan melaporkanmu karena sudah menyekap ayahmu sendiri," ucap Tuan Felix dengan nada sedikit meninggi.
Wanita itu terus berteriak. Namun akhirnya ia pasrah saat semua pintu keluar terlihat dikunci oleh Tuan Felix. Ia hanya menangis saat menyaksikan kedua orang tuanya dibawa pergi semakin menjauh. Meninggalkan dirinya seorang diri di rumah itu.
Tuan Felix segera membawa kedua orang tua Riri menuju hotel tempat pernikahan itu akan berlangsung. Sayangnya jalanan sedang macet parah. Ia tidak bisa bergerak lebih cepat. Yang bisa ia lakukan adalah pasrah. Karena ia tidak bisa menghubungi Rian ataupun Mia. Ponselnya tidak ada di sakunya. Entah jatuh atau mungkin karena ketinggalan di hotel itu.
Kecemasan dan kepanikan membuat suasana di dalam gedung begitu mencekam. Banyaknya tamu yang sudah hadir membuat Rian begutu gelisah. Ia tidak tahu harus menunggu sampai kapan.
"Bagaimana? Mau menunggu berapa lama lagi?" tanya penghulu saat waktu akad sudah telat satu jam.
__ADS_1
"Sebentar lagi ya Pak," jawab Dion.