
Sore itu menjadi suasana yang sangat mengharukan bagi Tuan Felix. Rian berusaha meyakinkan Tuan Felix bahwa sosok dirinya tidak mungkin tergantikan oleh siapapun. Semua perjuangan Rian semata-mata hanya ingin membuat Tuan Felix bangga pada dirinya, selayaknya Rian membanggakan Tuan Felix.
"Kita memang tidak ada hubungan darah, Pah. Tapi aku menyayangi Papa dan Kak Mia setulus hatiku. Aku ingin hubungan ini tidak lekang oleh waktu. Sampai kapanpun Papa tetap Papaku," ucap Rian.
"Kamu anakku, Rian. Kamu anakku," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah. Aku anak Papa," ucap Rian.
Tuan Felix berkali-kali menyebut Rian sebagai anaknya. Ia hanya ingin Rian tidak menganggap siapapun ayahnya, selain dirinya.
Hari libur kuliah sudah dilewati Rian dengan penuh kegiatan yang bermakna. Pikiran tentang Maudi sudah tertimbun materi-materi dari Mr. Aric. Namun tidak saat pertama kali ia masuk di semester tiga.
"Rian," sapa Maudi.
Hati Rian bergetar mendengar suara wanita yang ia cintai itu.
"Hai," sapa Rian dingin.
"Kamu lihat Rey tidak?" tanya Maudi.
DEG.
Jantung Rian seakan berhenti berdegup. Bisa-bisanya Maudi menanyakan Rey padanya. Padahal Rian sudah percaya diri jika Maudi menyapanya untuk mengganggunya.
"Tidak," jawab Rian.
"Oh," ucap Maudi sambil berlalu meninggalkan Rian.
Rian mengepalkan tangannya. Dadanya bergemuruh. Kesal dengan semua sikap dan perlakuan Maudi padanya. Sementara di tempat lain, Maudi nampak tersenyum sinis melihat wajah Rian.
"Kamu pikir aku tidak bisa membalas apa yang sudah kamu lakukan, Rian? Aku akan membuat kamu kembali mengemis untuk memintaku kembali padamu. Kita lihat saja nanti," gumam Maudi.
Dengan sengaja Maudi sering menampakkan diri di depan Rian. Namun sekarang ia sengaja tidak menyapa bahkan menganggap tidak melihat keberadaan Rian.
Hari pertama masuk kuliah di semestreer tiga ini menjadi beban tersendiri bagi Rian. Ia merasa jika Maudi terus menghantuinya. Kemanapun ia pergi, Maudi selalu ada di hadapannya.
"Haii," panggil Maudi sambil melambaikan tangannya.
Rian yang mendengar suara Maudi langsung menatap wanita cantik itu dengan perasaan tak karuan. Apalagi saat tangannya melambai dengan bibir yang merekah menghiasi wajah cantiknya.
"Mau pulang sekarang?" tanya Maudi ada salah seorang sahabat sekelas Rian yang berdiri di sampingnya.
Senyuman Rian kini mulai meredup. Ia menelan salivanya saat Maudi menggandeng tangan pria lain yang sekelas dengannya. Lalu Rey? Pertanyaan itu yang berputar di kepalanya saat ini.
__ADS_1
Rian kembali menelan pahitnya hidup saat ini. Ia segera pulang setelah melihat Maudi semakin menjauh dari pandangan matanya.
Tasnya ia lempar ke sembarang arah. Tubuhnya ia jatuhkan di atas kasur besar yang sangat empuk. Tapi sayangnya ia tidak merasa nyaman dari ranjang mahal dan mewah itu. Hatinya sedang kacau dan sangat sakit.
Bayangan Maudi dengan sikap acuhnya berhasil mengacak hati Rian yang sudah ia tata sebaik mungkin. Napasnya tidak beraturan. Ia kesal sendiri. Ketidakmampuannya mengendalikan diri membuat ia kecewa pada dirinya sendiri.
Dering ponsel sesaat mengalihkan pikiran dan perasaan Rian. Ia meraih ponselnya dan segera menjawab panggilannya saat melihat nama Mia pada layar ponselnya.
"Rian, bagaimana kuliahmu hari ini?" tanya Mia.
"Baik," jawab Rian.
Begitulah Mia. Ia yang tahu kalau hari ini adalah hari pertama Rian masuk kuliah segera menanyakan kabar perkuliahan Rian. Bentuk perhatian yang kecil bagi Mia namun berdampak sangat besar untuk Rian.
Mood Rian yang memang tidak baik, membuat Mia menyadari hak itu dari nada bicaranya. Tapi bukan Rian jika bisa langsung terbuka pada Mia. Setelah Mia membujuknya, Rian baru mau terbuka tentang perasaannya.
"Kamu kalah lagi?" tanya Mia.
"Kalah?" tanya Rian kembali.
"Maudi berhasil membuat kamu runtuh seperti ini. Itu artinya kamu kalah," jawab Mia.
Rian diam. Ya, ia memang kalah. Ia menyadari jika Maudi memang berhasil membuatnya kacau seharian ini.
Hanya pada Mia, Rian bisa bercerita dengan begitu terbuka. Tidak seperti pada Tuan Felix yang membiarkan pria itu mencari tahu sendiri tentang dirinya.
"Cari wanita lain yang bisa membuatmu melupakan Maudi. Tapi ingat, dia tidak mengganggu waktu belajar atau pergaulanmu. Cari yang baik," ucap Mia.
"Dimana?" tanya Rian dengan polosnya.
"Di gorong-gorong," jawab Mia kesal.
"Hah?" tanya Rian.
"Rian, kamu ini sudah dewasa. Masa cari wanita saja harus nanya dimana? Ya kamu cari di kampus. Masa kampus sebesar itu tidak ada lagi perempuan selain Maudi," jawab Mia.
"Masalahnya satu-satunya wanita yang aku suka itu cuma Maudi," ucap Rian.
"Makanya buka mata dan hati kamu. Masih banyak wanita baik di sekitarmu," ucap Mia.
"Iya, iya," ucap Rian.
Setelah ia mendapat arahan dari Mia tentang Maudi, Rian membanggakan diri dengan tawaran dari Mr. Aric untuk masa depannya.
__ADS_1
"Tapi tetap saja kalau langkah kamu begini, itu akan menghambat tawaran luar biasa itu. Hati-hati. Jangan sampai salah melangkah," ucap Mia.
Rian meyakinkan Mia jika ia bisa merealisasikan tawaran dari Mr. Aric itu. Ia juga menceritakan kesalahpahaman dengan Tuan Felix tentang tawaran itu.
"Rian, Papa begitu karena terlalu sayang padamu. Aku mohon jangan kecewakan Papa ya! Papa menaruh harapan besar dibahumu," ucap Mia.
Kalimat itu bahkan sudah sangat hapal di kepala Rian. Ia sebenarnya tidak menjadikan semua itu beban. Mungkin lebih menjadikan semua itu motivasi baginya. Namun sayangnya setelah berhubungan dengan Maudi, Rian menjadikan semua itu beban.
Bagi Rian, kehadiran Maudi dan harapan Tuan Felix adalah hal yang bertolak belakang. Ia dihadapkan untuk memilih antara asa dan rasa yang bergelut dalam hatinya. Namun Mia selalu berusaha untuk menengahi kegelisahannya. Meskipun solusi yang diberikan Mia tidak bisa ia jalani sama sekali sampai saat ini.
Setelah pnggilan itu berakhir, Rian memeluk bantal. Ia menatap bantal itu seolah-olah Maudi. Perlahan bibirnya tersenyum senang dengan bayangan wanita cantik itu. Namun tiba-tiba gambaran Mia dan Tuan Felix muncul untuk mengingatkan Rian.
BRUGHHH
Bantal terlempar mengenai sebuah hiasan hingga terjatuh ke lantai.
"Maudi, jangan menghancurkan mimpiku. Karena jika mimpiku hancur, itu sama artinya aku menghancurkan mimpi ayah dan Kakakku." Rian bergumam.
Kegelisahan itu tidak usai hingga Tuan Felix pulang. Seperti biasa, Tuan Felix bisa menebak apa yang terjadi padanya. Hanya saja kali ini perlakuan Tuan Felix padanya terlihat lebih santai.
"Makan! Pura-pura bahagia itu butuh tenaga," ucap Tuan Felix.
Rian yang mendengar kalimat itu hanya bisa tertawa dan mengiyakan. Ia memang butuh energi lebih untuk tetap bisa tersenyum setiap kali melihat Maudi dengan yang lain.
"Mr. Aric tidak menghubungimu hari ini?" tanya Tuan Felix.
"Tidak," jawab Rian sambil menggelengkan kepalanya.
"Baguslah," ucap Tuan Felix.
"Apanya yang bagus?" tanya Rian.
"Paling tidak, dia tidak menambah beban pikiranmu hari ini." Sindir Tuan Felix.
Rian hanya bisa diam. Ia tidak bisa mengelak. Hingga akhirnya Tuan Felix kembali ke kamarnya setelah selesai makan tanpa membahas Maudi.
Tumben Papa tidak ceramah tentang Maudi hari ini? Apa karena Papa sudah bosan ya?
Rian masuk ke kamarnya dan menyalakan televisi. Ia berbaring di atas ranjangnya dan meraih ponselnya. Sebuah pesan ia terima dari Maudi. Hatinya berdebat tak karuan. Setelah cukup lama membiarkan pesan itu, akhirnya Rian membacanya.
Kekecewaannya kembali Rian rasakan saat Maudi mengirim pesan padanya hanya untuk menanyakan Rey. Ia melempar ponselnya ke ujung ranjangnya.
"Apa maumu Maudi? Senang sekali kamu membuat kepalaku sakit?" gerutu Rian sambil mengacak rambut hitamnya dengan kasar.
__ADS_1