Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Menang lotre ya?


__ADS_3

Rian bergegas ke kamar mandi untuk segera memcuci muka dan ganti baju. Pagi ini ia tidak mandi. Badannya masih terasa tidak enak. Ia takut meriangnya kumat kalau mandi. Tak lupa ia sarapan. Ada obat yang harus ia minum pagi ini. Bahkan ini sudah bukan pagi lagi. Ah tak apa. Yang penting obat itu harus ia minum.


"Tidak enak," ucap Rian.


Tentu tidak enak. Saat ini badannya belum sehat. Apapun makanan yang masuk ke dalam tubuhnya seakan tidak enak. Selera makannya hilang. Namun Rian memaksakan suapan demi suapan. Ia harus sehat. Karena Riri akan ke Indonesia hari ini.


Ah, Riri? Mengingat nama itu Rian segera meraih ponselnya. Ada sebuah pesan yang menyampaikan kalau Riri sudah berangkat dari Jerman. Rian diam, ia berpikir apakah ia bisa menemui Riri atau tidak.


Melupakan itu sejenak, Rian kembali melanjutkan sarapannya yang sudah telat itu. Ia segera minum obat dan membaringkan tubuhnya. Menutup tubuhnya hingga leher dengan selimut tebal. Berharap keringat yang bercucuran itu membawa keluar membawa penyakit dalam tubuhnya.


Rupanya efek obat itu membuat Rian terlelap begitu cepat. Ia bangun setelah mendengar suara pintu tertutup. Tertutup? Ya Naura sudah kembali menutup pintu kamarnya. Ia bahkan tidak tahu kapan Naura masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa Naura?" tanya Nyonya Helen.


"Om Rian masih tidur," jawab Naura sedih.


"Om Rian sedang sakit. Nanti kalau sudah sembuh, Om Rian pasti ngajak Naura main lagi. Doakan om Rian ya!" ucap Nyonya Helen sambil mengusap kepala Naura.


Naura mengangguk. Sudah lama ia kehilangan waktu untuk bersama Rian. Namun tidak sesedih ini, karena biasanya Naura akan melihat atau mendengar suara Rian. Tapi kali ini, Naura nyaris tidak pernah mendengar lagi suara Rian. Ia bahkan tidak bisa bertemu dengan Rian. Sekalinya menemui Rian, orang itu sedang tidur.


"Opa temani kalian mengerjakan PR ya!" ucap Tuan Wira.


"Iya Opa," jawab Narendra dengan senang.


Berbeda dengan Narendra, Naura tidak menyambut kedatangan Tuan Wira. Ia masih terlihat murung. Buku PR nya sudah terbuka di meja. Pensil juga sudah ia pegang. Tapi tatapan matanya kosong.


"Naura," sapa Tuan Felix sambil mengusap kepala Naura.


"Eh, Opa." Naura terkejut hingga menjatuhkan pensilnya.


Tuan Wira mengambil pensil itu dan menyimpannya di atas meja.


"Kamu kenapa?" tanya Tuan Wira.


"Tidak," jawab Naura sambil menggeleng.


"Naura, Om Rian itu sudah dewasa. Ia harus bekerja, karena itu adalah kewajibannya. Sama seperti kalian. Di usia kalian, kewajiban kalian adalah sekolah." Tuan Wira kembali mengusap kepala Naura.


"Iya Naura. kamu kan tahu Om Rian itu sibuk. Saking sibuknya, sekarang Om Rian sakit," ucap Narendra.

__ADS_1


"Naura mau deh bantuin Om Rian. Biar Om Rian pulangnya tidak terlalu malam. Terus kerjanya juga tidak terlalu cape," ucap Naura.


"Wah, anak hebat. Kalau begitu kamu harus belajar yang tekun. Jadi anak yang pintar, biar nanti kamu bisa bantu Om Rian." Tuan Wira memberi semangat pada Naura.


"Opa serius? Naura bisa bantu Om Rian?" tanya Naura antusias.


"Tentu. Kalian berdua harus membantu Om Rian nanti," ucap Tuan Wira.


"Kalau begitu Naura mau mengerjakan PR dulu Opa," ucap Naura semangat.


"Oke," ucap Tuan Wira.


Bibir Tuan Wira tersenyum lebar saat melihat cucu kesayangannya sudah kembali bersemangat. tuan Wira diam di sudut kamar cucunya, menatap keduanya yang sedang asyik dengan bukunya masing-masing. Lama-lama ia merasa jenuh.


"Opa keluar ya biar kalian fokus mengerjakan PR nya," ucap Tuan Wira dengan alasannya.


"Iya Opa," ucap Naura.


Tuan Wira keluar dari kamar Naura dan Narendra. Ia berniat masuk ke dalam ruang kerjanya. Namun ia melihat Rian sedang duduk di kursi. Tangannya asyik memainkan ponsel. Namun tidak lama, Rian terlihat menghubungi seseorang. Ia menajamkan pendengarannya. Mencari tahu siapa yang sedang dihubungi oleh Rian.


Rupanya dia menghubungi Manto. Kamu memang hebat Rian. Semangatmu tetap membara meskipun tubuhmu sedang sakit.


"Sudah enakan badannya?" tanya Tuan Wira saat melihat Rian mengakhiri panggilannya.


Tuan Wira mendekati Rian dan duduk di samping Rian.


"Kenapa kamu tersenyum begitu? Habis menang lotre ya?" tanya Tuan Wira.


"Ini lebih dari menang lotre Pah. Aku senang melihat Papa sudah tidak menggunakan kursi roda lagi," jawab Rian.


"Papa masih belajar. Makanya Papa belum ke kantor," ucap Tuan Wira sedih.


Rian mengerti, Tuan Wira pasti tidak mau kalau orang kantor sampai tahu jika selama ini Tuan Wira ternyata berbohong. Tidak ada satu pun orang kantor yang tahu tentang penyakit Tuan Wira selama ini.


Keduanya berbincang dan saling menyemangati. Rian juga banyak bertanya tentang pekerjaan kepada Tuan Wira. Ayah angkatnya yang sudah tidak perlu diragukan lagi jam terbangnya itu, memberi banyak sekali ilmu pada Rian.


Rian sangat menyimak. Ia benar-benar belajar banyak hal hari ini. Naura yang mendengar suara Rian dan Tuan Wira segera menemui mereka. Memeluk erat Rian dan mengungkapkan kekhawatirannya.


"Om jangan sakit," ucap Naura.

__ADS_1


"Om sehat kok. Naura lihat kan om sudah sehat?" ucap Rian.


"Tapi om sering tidur. Om pasti sakit. Naura tidak mau melihat om sakit," ucap Naura.


"Iya, tadi pagi om masih pusing. Tapi sekarang sudah sembuh. Naura jangan khawatir ya!" ucap Rian.


Naura nampak senang dan tidak mau jauh dengan Rian. Ia ikut memperhatikan obrolan Tuan Wira dan Rian meskipun tidak mengerti apa yang mereka bahas. Namun Naura tidak pergi. Ia tetap duduk diantara Rian dan Tuan Wira.


Rian melihat Tuan Wira sambil menahan senyum saat melihat Naura terkulai ke pangkuannya. Tuan Wira mengangkat tangannya dan ditempelkan ke bibirnya. Sebuah isyarat agar Rian tidak berisik. Rian mengangguk dan mereka kembali melanjutkan obrolannya. Melihat Naura sudah sangat nyenyak, Rian mengangkat tubuh yang sudah tidak kecil lagi itu ke kamarnya.


"Naura pingsan?" tanya Narendra yang sedang bermain ponsel di atas ranjangnya.


"Tidak, Naura hanya ketiduran." Rian segera merebahkan tubuh Naura ke atas ranjangnya.


"Om sudah sehat?" tanya Narendra.


Ada tatapan senang di mata Narendra saat melihat Rian sudah kuat menggendong Naur. Rupanya anak yang Rian pikir tidak peduli padanya itu masih perhatian. Hanya saja Rian menyadari kalau cara Narendra dan Naura menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya berbeda.


Mungkin hal ini terjadi karena Narendra laki-laki. Ia tidak terlalu ekspresif seperti saudara kembarnya. Namun hari ini Rian yakin kalau tidak hanya Naura, tapi Narendra juga menyayanginya dan diam-diam khawatir padanya.


"Om kenapa bengong?" tanya Narendra.


"Eh, tidak. Om hanya senang saja bisa mengobrol denganmu," jawab Rian.


"Iya. Sekarang Om sibuk. Nanti kalau aku sudah besar, aku pasti akan bantu om. Biar Om gam cape," ucap Narendra.


Rian tersenyum mendengar ucapan Narendra.


"Tentu. Suatu saat nanti kita akan menjadi partner kerja yang hebat, Rendra. Om yakin kamu akan sangat totalitas dalam bekerja," ucap Rian.


"Aku akan buktikan kalau aku akan lebih hebat dari Om. Jadi biar nanti aku saja yang kerja. Om istirahat saja ya," ucap Narendra.


Rian tertawa mendengar ucapan Narendra. Hari ini ia sangat bahagia. Banyak kejutan indah yang ia terima. Banyak hal yang membuatnya bahagia selama ia di rumah.


"Sudah waktunya tidur siang. Ayo cepat tidur!" ucap Rian.


Narendra menyimpan ponselnya dan tidur di atas ranjangnya. Mereka memang bukan anak kecil lagi. Tapi kebiasaan tidur siang masih mereka terapkan hingga saat ini.


Melihat keduanya sudah nyenyak, Rian segera keluar dari kamar mereka. Ia kembali ke kamarnya dan memainkan ponselnya. Melihat ada sebuah email, Rian dengan cepat membuka laptopnya. Ia mengecek laporan hari ini yang dikirim Manto untuknya.

__ADS_1


"Pak Manto memang the best. Dia bisa menghandle semua pekerjaanku. Luar biasa. Sepertinya aku harus belajar banyak lagi dari Pak Manto," gumam Rian.


Selesai mengecek laporan, Rian menutup kembali laptopnya. Kini matanya tertuju pada lemari. Ia menyiapkan pakaian yang akan digunakannya nanti saat bertemu dengan Riri.


__ADS_2