
"Pak, siang ini saya akan mengantar berkas. Mungkin sampai sore," ucap Manto.
"Langsung pulang saja," ucap Rian yang mengerti maksud ucapan Manto.
"Terima kasih Pak," ucap Manto.
Setelah pamit, Manto pergi meninggalkan Rian sendiri. Hanya bertahan sepuluh menit, Rian segera pergi dari ruangannya. Kesendirian membuatnya semakin mengingat bayangan pahit.
"Kak," ucap Rian sambil membuka pintu ruangan Danu.
Danu yang sedang fokus mengangkat wajahnya dan nampak bingung dengan kedatangan Rian.
"Ada apa?" tanya Danu.
"Santai saja. Aku hanya tidak ingin sendirian. Bolehkan aku ikut kerja di sini?" Rian balik bertanya.
"Bo-boleh," jawab Danu gugup.
Tanpa dipersilahkan, Rian segera membawa laptopnya dan duduk di sofa. Ia kembali bekerja. Bayangan Riri yang semakin menjauh memang terus membayanginya. Namun berkali-kali Rian berusaha menepis bayangan buruknya.
Melihat Rian yang sedang tidak fokus, Danu mengajak Rian bicara. Sekedar membahas hal-hal ringan yang bisa membuat Rian sejenak melupakan kegelisahannya.
"Oh ya, Kak Sindi mengirimku makan siang hari ini?" tanya Rian.
"Selalu. Ini," ucap Danu menyerahkan makan siang yang dikirim Sindi untuk Rian.
"Terima kasih," ucap Rian.
Rian segera makan dengan lahap. Danu sesekali melihat Rian. Benar apa yang dikatakan oleh istrinya. Rian memang selalu suka dengan masakan buatannya.
"Kak Danu tidak makan?" tanya Rian saat menangkap Danu yang tengah menatapnya.
"Iya, saya juga makan Pak." Danu segera membuka kotak makan siangnya.
Setelah makan siang, Rian kembali ke ruangannya. Bukan untuk bekerja, tapi karena ada panggilan dari Riri. Sempat terjadi perdebatan diantara mereka sampai akhirnya Rian mengakhiri panggilan itu tanpa pamit pada Riri.
"Dia benar-benar tidak mengerti perasaanku," ucap Rian sambil menggenggam erat ponselnya.
Hati Rian semakin kacau. Ia pergi ke kamar mandi. Mencuci wajahnya dan menatap dirinya pada pantulan cermin. Air masih bercucuran dari wajahnya. Rian tidak menyekanya sama sekali. Berusaha menyembunyikan air matanya. Ia hanya menatap wajahnya sendiri dengan iba.
Rian tidak bisa menerima kenyataan jika Riri mengabarinya hal yang tidak diinginkan sama sekali. Kekecewaan Rian itu karena Riri meminta waktu satu tahun untuk kembali ke Indonesia.
Satu tahun? Lagi? Setelah Rian bersusah payah dengan penantiannya selama satu tahun, kini Riri memintanya menunggu satu tahun lagi. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain menangis. Dadanya sesak menerima kenyataan itu.
Rupanya Tuan Felix sudah mengetahui kabar itu dari Riri. Ia tengah duduk termenung menahan wajahnya dengan kedua tangannya. Menerawang bagaimana kecewanya Rian di sana.
"Anak baik itu akhirnya harus kecewa lagi untuk kedua kalinya," ucap Tuan Felix sambil mengusap kasar wajahnya.
Ya, dua kali. Saat itu, Rian harus menelan kecewa karena Maudi tidak bisa bersamanya. Bahkan Maudi sudah pernah mengandung anak pria lain saat Rian masih menyimpan rasa untuk wanita itu.
Sakit itu terobati saat Riri hadir dalam hidup Rian. Namun hal yang sama juga terjadi saat Riri terus mengulur waktu. Rian yang sudah ingin segera menikahi Riri harus merasakan sakit yang mendalam
__ADS_1
Tangannya menyentuh ponsel. Nama Rian sudah terpampang di layar ponselnya namun Tuan Felix masih belum meneleponnya. Ia tahu saat ini Rian sedang ingin sendiri.
Akhirnya, Sindi yang dihubungi oleh Tuan Felix. Namun karena Sindi sedang mendapat orderan besar hingga harus turun tangan, ia mengurungkan niatnya untuk bercerita.
Malamnya, setelah Sindi selesai dan bersantai, ia segera menelepon Tuan Felix. Menanyakan apa alasan Tuan Felix menghubunginya siang tadi. Namun sayangnya panggilan itu diabaikan.
"Kamu sedang menelepon siapa?" tanya Danu.
"Papa Felix. Tadi Papa meneleponku Mas, tapi aku sedang sibuk. Aku berniat untuk meneleponnya balik tapi Papa tidak menjawab panggilanku," jawab Sindi.
"Tuan Felix itu sibuk. Kamu jangan seenaknya menghubunginya. Apalagi waktu di sini dan di sana berbeda," ucap Danu mengingatkan.
"Tapi kan aku penasaran Mas. Tidak biasanya Papa menghubungiku. Biasanya kalau Papa meneleponku pasti ada sesuatu. Ada apa ya Mas?" tanya Sindi.
"Mana aku tahu," jawab Danu.
Sindi cemberut saat mendapat jawaban dari Danu. Namun tidak lama Danu kembali duduk di samping Sindi.
"Apa ini ada hubungannya dengan Rian?" tanya Danu.
"Rian? Memangnya kenapa?" tanya Sindi.
"Soalnya tadi siang Rian kelihatan gelisah. Apa mungkin ada masalah lagi dengan pacarnya?" Danu bertanya dengan serius.
"Benarkah?" tanya Sindi.
Dugaannya semakin kuat saat mendengar penuturan suaminya. Sindi jadi ikut sedih saat tahu kalau Rian tengah ada masalah.
Sindi menggeleng. Namun ia tidak yakin kalau ia harus ke kantor untuk menemani Rian.
"Ya sudah besok kamu ikut ya!" ajak Danu.
Sindi segera menggeleng dengan cepat.
"Sayang, Rian itu tidak punya siapa-siapa. Masa kamu tega melihat Rian pusing sendiri? Aku yakin kamu bisa menenangkan Rian," ucap Danu.
Setelah lama berpikir akhirnya ia mengiyakan apa yang diinginkan Danu. Rencana yang menurutnya aneh dan ia sendiri tidak yakin. Apalagi untuk ikut ke kantor, rasanya Sindi tidak berani.
"Tapi aku malu Mas. Aku kan bukan siapa-siapa" ucap Sindi cemberut.
"Kamu itu istriku. Meskipun aku bukan pemilik perusahaan itu, tapi aku juga memegang jabatan penting di sana. Apalagi mereka tahu kalau akin adalah Kakaknya yang punya perusahaan. Rian kan selalu membanggakan aku di depan karyawannya," ucap Danu.
Memang benar, Rian selalu menyebut Danu adalah kakaknya. Ia tidak mau kalau Danu merasa sebagai bawahan dan dianggap bawahan oleh yang lain. Tapi itu belum meyakinkan Sindi. Saat Danu masih menjadi pemilik perusahaan saja, Sindi sangat jarang menemani Danu ke kantor. Hanya sesekali saja, itu pun kalau ada acara penting.
"Sayang, sudah ayo tidur! Besok harus bangun pagi dan siap-siap. Beres antar Dandi, kita langsung ke kantor ya!" ajak Danu.
"Tapi makan siang buat Mas sama Rian gimana?" tanya Sindi.
"Minta ke orang kepercayaanmu untuk memilih menu yang spesial dan antar seperti biasa," jawab Danu.
Sebanyak apapun cara Sindi mencari alasan agar ia tidak perlu ikut ke kantor, namun Danu selalu mmemberi jawaban yang membuatnya tidak bisa berkutik. Akhirnya ia menyerah dan tidur.
__ADS_1
Paginya Sindi bangun dan segera bersiap. Saat Danu bangun, pakaian yang akan dipakai hari ini sudah disiapkan. Bahkan Sindi sudah menyiapkan bekal untuk Dandi ke sekolah.
"Kamu cantik sekali," ucap Danu sambil menyentuh pipi Sindi.
Make up Sindi yang berbeda dari biasanya, serta pakaiannya yang sedikit formal membuat Danu sangat terpana. Wanita yang sibuk dengan bisnisnya itu akhir-akhir ini memang tidak terlalu memperhatikan penampilannya.
Kali ini Sindi mempersiapkan semuanya karena tidak mau mempermalukan suaminya dan Rian. Ia merona saat mendengar pujian dari suaminya sendiri. Sudah sangat lama Danu tidak gombal padanya.
"Ayo berangkat Mas," ajak Sindi yang mengalihkan gombalan Danu.
Setelah mengantar Dandi ke sekolah, Sindi dan Danu berangkat ke kantor. Saat Danu berjalan masuk, Rian yang baru datang memanggil mereka.
"Kak Danu," panggil Rian.
Danu dan Sindi melihat ke arah sumber suara. Mereka tahu kalau itu adalah suara Rian. Nampak senyum lebar saat Rian melihat Sindi ikut ke kantor.
"Kak Sindi," teriak Rian.
Layaknya seorang adik yang merindukan kakaknya, Rian segera menghampiri Sindi dan memeluknya. Ia mengungkapkan rasa senangnya dengan kedatangan Sindi ke kantornya. Sementara Danu hanya tersenyum. Akhirnya apa yang ia pikirkan memang benar adanya.
Rian memang terlihat tanpa beban pagi ini. Namun ia sendiri belum yakin alasan keceriaan Rian pagi ini. Apakah karena kedatangan Sindi atau memang sudah baikan dengan Riri.
"Kakak tumben ikut ke sini?" tanya Rian.
Sindi melihat ke arah Danu. Ia butuh bantuan jawaban. Karena sepertinya Danu tidak menyetting apa yang harus Sindi katakan saat bertemu dengan Rian. Jika harus menjawab dengan jujur, apakah itu semua tidak akan menimbulkan masalah baru?
Rian pasti tidak akan senang saat tahu kalau Sindi dan Danu akan menghiburnya hari ini. Ia bahkan berharap terlihat tenang saat menghadapi masalahnya itu.
"Katanya dia rindu padamu," bisik Danu.
"Benarkah?" tanya Rian.
"Aku menunggumu main ke rumah. Tapi kata Mas Danu kamu sibuk. Makanya aku menemuimu di sini. Boleh kan?" tanya Sindi.
"Ya ampun Kak. Aku jadi tidak enak. Maafkan aku yang tidak pernah menyempatkan bertemu ya!" ucap Rian.
"Tidak apa-apa. Aku sangat mengerti. Kamu kan sekarang sudah jadi bos," jawab Sindi.
"Ya ampun Kak, jangan bilang begitu. Aku tetaplah Rian yang dulu," ucap Rian.
Rian memang tidak berubah. Ia tetap menjadi Rian yang sejak dulu Sindi kenal. Hanya soal waktu saja. Rian yang mulai disibukkan dengan banyaknya pekerjaan, membuatnya sulit untuk main ke rumah Sindi.
"Saya permisi ke ruangan ya Pak," ucap Danu.
Terlalu asyik menyapa Sindi, Rian sampai lupa kalau jam sudah terus bergerak dengan cepat. Saat Danu pamit, Rian juga segera mengajak Sindi ke ruangannya.
"Aku tunggu di luar saja ya!" ucap Sindi saat melihat ada Manto.
Sindi sangat tidak percaya diri apalagi saat ada orang yang tidak dikenalinya. Namun Rian memaksa Sindi untuk tetap masuk ke ruangannya.
Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Rian membiarkan laptopnya istirahat. Karena stelah mengenalkan Sindi pada Manto, ia malah melanjutkan obrolannya tadi di sofa. Sementara Manto hanya mengangguk hormat dan senyum saat Sindi mengenalkan dirinya sebagai istri Danu.
__ADS_1