
Manto mengikuti Danu sampai ke ruangannya. Nampak Danu mengerutkan dahinya saat melihat Manto duduk di ruangannya.
"Kenapa? Tidak boleh?" tanya Manto.
"Ah tidak. Saya hanya berpikir jika Bapak akan kembali ke ruangan Anda," jawab Danu.
"Saya takut Pak Rian datang dan masih marah," ucap Manto.
Ya, Danu paham dengan ketakutan Manto. Selama ini Rian memang terkenal sangat ramah dan hangat. Sekalipun ada masalah, ia lebih memilih untuk diam. Tapi kali ini berbeda.
"Pak, kalau boleh tahu tamunya siapa?" tanya Danu.
"Saya tidak kenal Pak. Dia bukan mitra kita. Datang ke kantor juga setelan santai. Sepertinya dia teman Pak Rian," jawab Manto.
Teman? Selama Danu mengenal Rian, ia tidak pernah melihat Rian datang membawa temannya. Apalagi ke kantor. Terakhir yang ia tahu teman Rian adalah Rina. Perawat yang pernah merawat Rian saat sakit.
"Apa jangan-jangan suaminya wanita itu?" tanya Danu.
Wajahnya menegang. Ia takut jika terjadi kesalahpahaman karena kedekatan Rian dan Rina.
"Apa kita perlu ke sana Pak?" tanya Manto.
"Tidak perlu. Biarkan Rian menyelesaikan semuanya. Saya takut kalau terlibat terlalu dalam. Tugas kita saat ini adalah menjaga perusahaan agar tetap baik-baik saja.
"Siap Pak," jawab Manto.
Mereka berdua kembali bekerja. Sesekali Danu melihat ke arah Manto yang sangat fokus dengan laptopnya. Ia tersenyum saat mengingat semua kejadian hari ini. Ia tidak menyangka ternyata Manto tidak sekaku itu.
Sampai jam kerja selesai, Rian tidak kembali ke kantor. Hanya saja ruangan itu sudah kembali bersih dan rapi. Melihat ruangannya sudah kembali seperti semula, ia bertanya pada petugas. Ternyata Rian menghubungi ke kantor dan meminta ruangannya di bereskan.
Manto dan Danu pulang dengan pemikirannya masing-masing. Keduanya masih menerka-nerka apa yang terjadi pada Rian sebenarnya. Tanpa ia tahu jika Rian sedang bersiap untuk berangkat ke Jerman.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu, bahkan Tuan Felix dan Shelin pun tidak diberi tahu. Ia hanya ingin bertemu dengan ayahnya dan menangis sepuasnya. Ia butuh Tuan Felix saat ini. Ia bahkan tidak mengaktifkan nomornya. Tidak ingin diganggu dan benar-benar hanya ingin berdua dengan ayahnya.
Tuan Felix yang tidak dikabari oleh Rian, terkejut saat ia pulang dari kantor ternyata rumahnya tidak dikunci. Ia segera ke kamar dan mengecek brankasanya. Aman, kamarnya baik-baik saja. Tidak ada jejak orang yang masuk ke kamarnya.
Seluruh ruangan ia cek dan semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang hilang atau hanya sekedar rusak. Tuan Felix berpikir mungkin ia yang lupa mengunci pintu saat berangkat ke kantor.
"Papa," sapa Rian.
Tuan Felix memegang dadanya saat mendengar Rian menyapanya. Ia sangat terkejut dengan Rian yang tiba-tiba keluar dari kamarnya. Satu-satunya ruangan yang tidak ia cek adalah kamar Rian. Selain tidak ada apa-apa di kamar itu, selama tidak ada Rian kaamr itu memang selalu tertutup rapat.
Sesekali Tuan Felix memang akan masuk ke kamar itu saat ia sedang merindukan Rian. Namun sudah satu minggu ia tidak membuka kamar itu. Bukan tidak rindu, tapi seminggu terakhir ini, ia sedang sangat banyak pekerjaan. Ia hanya akan di rumah saat tidur saja.
Munculnya Rian dari kamar itu menjadi hal yang membuatnya sangat terkejut. Karena Rian juga tidak mengabarinya sebelumnya. Ia sama sekali tidak berpikir jika Rian akan ada di rumah itu. Bahkan sapaan Rian hanya ia anggap sebagai sebuah halusinasi semata.
"Papa," sapa Rian lagi.
Kali ini Rian memeluknya. Tuan Felix hanya diam. Ia masih bingung dengan kedatangan Rian. Sepertinya Tuan Felix belum yakin dengan kehadiran Rian di rumahnya.
"Rian?" tanya Tuan Felix sambil menampar pipi Rian.
"Aw," teriak Rian.
"Sakit? Ini bukan mimpi?" tanya Tuan Felix.
"Pah, diman-dimana untuk mayakinkan itu mereka menampar atau mencubit diri sendiri. Loh kok malah aku yang ditampar?" ucap Rian sambil mengusap-usap pipinya.
"Tapi sakit kan?" tanya Tuan Felix.
"Sakit lah. Papa tidak lihat pipiku sampai merah begini?" Rian menunjuk pipinya yang memang memerah.
"Jadi ini bukan mimpi? Ini nyata? Ini kamu, Rian?" tanya Tuan Felix.
__ADS_1
Tanpa peduli dengan pipi Rian yang merah karena tamparannya, ia sibuk meyakinkan dirinya sendiri. Sampai akhirnya ia memeluk erat Rian dengan penuh kasih sayang.
Panas di pipinya seketika hilang saat tangan yang sudah keriput itu mengusap-usap punggungnya. Pelukan hangat dan ketulusan yang memang ia nantikan sedang ia nikmati. Akhirnya ia bisa melepaskan semua kegelisahannya.
Tanpa basa basi, Rian segera menceritakan apa yang menyebabkan ia sampai ke Jerman. Tusn Felix menatap Rian tidak percaya. Benarkah Hiro bersikap seperti itu?
Selama Rian bercerita, Tuan Felix hanya mendengarkan tanpa berkomentar apapun. Ia belum yakin dengan ucapan Hiro seperti yang diceritakan oleh Rian. Apa tujuan Hiro bicara seperti itu? Sementara yang ia tahu Hiro memang tidak ingin melihat Rian bahagia.
Tuan Felix masih berpikir jika ini hanyalah cara Hiro untuk kembali membuat Rian berantakan. Hiro sudah tahu Riri dan Rian memang tidak bersama lagi. Mungkin Hiro masih tidak ingin Rian bahagia dengan Shelin.
"Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Ingat kamu sudah sempat menyesal karena sudah mengambil keputusan dengan terburu-buru!" ucap Tuan Felix mengingatkan.
Setelah menenangkan Rian, diam-diam Tuan Felix menghubungi Riri. Ia memastikan apakah Hiro pernah menghubunginya lagi? Karena setahu Tuan Felix, Hiro tidak melanjutkan kuliahnya dan kembali ke Indonesia setelah Riri lulus.
"Hiro sudah berubah Pah. Baru saja empat hari yang lalu Hiro ke sini," jawab Riri.
Empat hari yang lalu? Itu artinya Hiro memang memastikan dulu perasaan Riri baru berusaha meyakinkan Rian. Tapi apakah dugaannya itu benar? Tuan Felix tidak bisa menyimpulkan ini semua terlalu cepat. Bagaimanapun ia tidak mau terjebak.
"Lalu apa menurutmu dia tulus?" tanya Tuan Felix.
"Aku merasa saat itu Hiro berbeda. Ia terlihat begitu tulus. Memangnya kenapa tiba-tiba Papa bertanya tentang Hiro? Apa dia juga menemui Papa?" tanya Riri.
"Tidak. Papa hanya sempat mimpi buruk saja tentang dia," jawab Tuan Felix.
Terpaksa saat ini Tuan Felix harus berbohong. Ia masih belum bisa menentukan langkahnya ke depan. Ia sama sekali tidak bisa menebak ke arah mana langkah Hiro sebenarnya.
Riri yang biasanya peka memang menyebut jika Hiro sudah berbeda. Namun jejak yang Hiro tinggalkan tidak bisa mengubah penilaian Tuan Felix menjadi berubah begitu saja.
Setelah mendapat jawaban dari Riri, Tuan Felix terus berpikir mencari jawaban dari perubahan sikap Hiro. Ia masih sulit mempecayai langkah Hiro yang meminta Rian mengejar Riri kembali. Padahal sejak dulu, ia memang orang yang paling tidak suka dengan kedekatan antara Rian dan Riri.
Bisa jadi Hiro memang sengaja membuat Rian membatalkan pernikahannya dengan Shelin dan mengejar Riri. Lalu nanti, Hiro akan kembali memisahkan Riri dan Rian lagi.
__ADS_1
Kepercayaan itu sangat mahal. Tidak ada sedikitpun kepercayaan Tuan Felix pada Hiro. Karena memang selama ia mengenal Hiro, semua hanya kejahatan dan rencana buruk. Maka sangat sulit untuk Tuan Felix menanamkan kepercayaan pada Hiro.