
Bahasan tentang Hiro berlarut-larut hingga akhirnya Rian sudah tidak bisa sabar menahan semua rasa kesalnya. Sekali lagi, Rian tidak bole marah jika tidak ingin masalah menjadi semakin rumit.
"Pus, nanti aku sambung lagi ya teleponnya. Sekarang aku mau ke kamar mandi dulu. Mules banget," ucap Rian.
Akhirnya kebohongan Rian kali ini menyelamatkannya dari pertengkaran dengan Riri. Tidak benar-benar mules, Rian justru makan dengan porsi cukup banyak. Makanan pedas yang membuat selera makannya mendadak sangat tinggi.
Setelah perutnya mendapat cukup asupan, Rian mengecek ponselnya. Riri masih belum menghubunginya. Ia bisa bernapas lega karena mendapat jeda agar telinganya tidak lagi membahas tentang Hiro.
Hubungannya dengan Hiro memang sudah sangat baik. Bahkan Rian sering berkomunikasi dengan Hiro. Baik melalui sambungan telepon atau justru bertemu langsung. Namun jika bahasan tentang Hiro dibicarakan oleh Riri, ada rasa kesal yang masih menyelinap di dalam hatinya.
Beberapa hari Rian menghindar dari Riri dengan alasan sibuk. Padahal ia tengah berusaha meyakinkan Hiro tentang perasaannya. Ia mau saat Riri menghubunginya nanti, semua masalah Hiro sudah selesai hingga tak perlu membahas Hiro terus menerus.
"Aku sangat mencintai kamu, Pus. Maafkan aku yang masih sulit menunjukkan kecemburuanku," gumam Rian.
Rian memulai misinya dengan mendekati Hiro. Ia melihat Hiro masih bersedih. Bayangan Maudi memang masih selalu membuat Hiro merasa bersalah.
"Hiro, hari ini kamu tidak ke kampus?" tanya ayahnya.
"Tidak Pah. Libur," jawab Hiro.
Ayahnya duduk di samping Hiro. Ia mengusap punggung Hiro dan berusaha menguatkannya. Bukan karena ayahnya tidak sedih. Tapi ia hanya berusaha membuat Hiro bangkit lagi.
"Apa kamu mengambil cuti?" tanya ayahnya.
Hiro menggeleng. Ia memang tidak mengambil cuti. Ia juga berbohong karena hari ini kuliahnya tidak libur. Ketidaksiapan Hiro membuatnya tidak mau keluar dari rumah. Rasa bersalahnya pada Maudi masih menghantuinya.
Akhir-akhir ini Hiro memang lebih sering untuk fokus menyembuhkan luka Shelin. Kekecewaannya pada Maudi membuatnya acuh dan tidak sepeduli dulu. Menurut Hiro, hal itu yang membuat Maudi sampai overdosis. Kepalanya masih bepikir jika ia melampiaskan kesepiannya hingga overdosis.
"Seandainya aku tetap menjadi Hiro yang dulu, mungkin Kak Maudi tidak akan pergi. Aku memang bodoh," ucap Hiro.
"Hey, apa yang kamu katakan Hiro? Kamu tidak bersalah. Jangan berpikir seperti itu," ucap ayahnya.
Takut jika Hiro juga akan mengalami hal yang sama hanya karena rasa bersalahnya, ayahnya memaksa Hiro untuk ikut ke kantor. Hiro butuh teman dan melihat dunia lagi. Sudah seminggu ia tidak keluar rumah. Bahkan keluar kamar pun hanya beberapa saat saja.
"Aku tidak mau Pah. Papa saja yang ke kantor," tolak Hiro.
"Tidak Hiro. Kamu harus ikut dengan Papa. Ayo cepat!" ucap ayahnya.
Setelah berdebat beberapa saat, akhirnya Hiro mengikuti kemauan ayahnya. Ia bersiap dan ikut ke kantor. Wajahnya masih ditekuk. Sebenarnya ia malas untuk bertemu dengan orang di luar sana. Apalagi orang-orang kantor yang tidak ia kenal sama sekali.
"Jangan manyun begitu. Ayo senyum. Wajahmu tidak tampan sama sekali kalau begitu," ucap ayahnya.
"Wajah anak itu menurun dari orang tuanya. Kalau Papa mengatakan aku tidak tampan, artinya Papa juga sedang mengatakan hal yang sama ke diri Papa sendiri." Hiro masih memasang wajah datar.
__ADS_1
Sepertinya darah ayahnya sudah berdesir hingga wajahnya memerah. Namun ayahnya masih berusaha bersikap tenang karena tidak mau masalah sepele seperti ini jadi berkepanjangan.
Sesampainya di kantor, Hiro mengabaikan sapaan dari beberapa karyawan yang ada di kantor. Ia juga hanya diam saja di ruangan ayahnya. Menatap kosong ke luar kantor dari jendela ruangan ayahnya.
"Hiro, ponselmu berdering." Ayahnya menunjuk ponsel Hiro yang tergeletak di atas meja.
Hiro yang tengah melamun sampai tidak sadar jika ponselnya sudah berdering beberapa kali. Ia berjalan mendekat dan meraih ponselnya. Melihat nama Rian, Hiro sangat antusias. Ya, karena sampai saat ini hanya Rian orang yang bisa ia percaya untuk bercerita.
Mungkin Hiro merasa bebas menceritakan semuanya karena Rian memang sudah terlanjur tahu bagaimana baik dan buruknya Maudi selama ini. Jadi ia tidak merasa harus membuka aib kakaknya sendiri saat bercerita banyak hal tentang Maudi.
"Pah, aku izin keluar ya!" pinta Hiro saat selesai menjawab panggilan dari Rian.
"Mau kemana?" tanya ayahnya.
"Mau ke kantor Rian," jawab Hiro.
Sejenak ayahnya belum mengiyakan. Ia hanya melihat wajah Hiro yang terlihat lebih segar setelah menerima telepon dari Rian. Mungkin setelah bertemu dan bercerita dengan Rian, Hiro akan menjadi lebih tenang.
"Ya sudah minta antar sopir ya!" ucap ayahnya.
Hiro mengangguk dan segera pergi setelah mendapat izin dari ayahnya. Sampai saat ini ayahnya tidak mengizinkan Hiro membawa mobil sendiri. Melihat kondisi Hiro yang banyak melamun, ayahnya punya alasan untuk melarang Hiro.
Sebuah pesan diterima oleh ayahnya saat Hiro sudah sampai ke kantor Rian. Di sana Hiro disambut dengan sangat baik oleh Rian. Bahkan Rian sampai meluangkan waktu kerjanya untuk bercerita dengannya.
Dalam waktu yang tidak lebih dari dua jam kini Hiro bisa tersenyum setelah bercerita dengan Rian. Bahasan tentang Shelin membuat semangat Hiro perlahan bangkit. Rian terus meyakinkan Hiro jika Shelin dan dirinya sama-sama saling membutuhkan.
"Tapi sayangnya aku tidak tahu apakah perasaanku bersambut atau jutsru hanya bertepuk sebelah tangan," ucap Hiro.
Rian tersenyum mendengar ucapan Hiro. Paling tidak, Rian tahu jika Hiro memang benar-benar mencintai Shelin.
"Ya kamu tidak akan tahu kalau kamu tidak membahas ini dengan Shelin," ucap Rian.
"Aku tidak yakin jika Shelin bisa menerimaku menjadi penggantimu," ucap Hiro.
"Kalau kamu sendiri tidak yakin, bagaimana kamu bisa meyakinkan Shelin?" tanya Rian.
Rian pun menceritakan perjuangannya untuk mendapatkan Riri kembali. Berkat kesabaran dan kesungguhannya membuat semua yang Rian harapkan menjadi kenyataan. Ia juga menyemangati Hiro jika Shelin pasti akan menerimanya.
"Shelin itu bukan wanita matre. Saat dulu kami bersama juga Shelin hanya melihat aku sebagai aku. Bukan aku sebagai pemilik perusahaan ini," ucap Rian.
"Tapi keluargaku juga sedang dipandang tidak baik," ucap Hiro.
"Kalau masalah latar belakang keluarga menjadi bahan pertimbangan Shelin, tidak mungkin dia menerimaku. Aku sudah tidak mempunyai keluarga. Yang bersamaku sekarang hanya orang-orang baik yang menerimaku saja," ucap Rian.
__ADS_1
Perlahan hati Hiro yakin. Ia mulai berusaha untuk mengejar Shelin. Harapan untuk bersama dengan Shelin perlahan terbuka. Yang harus ia lakukan saat ini adalah meyakinkan dulu dirinya, lalu ia akan berusaha menyakinkan Shelin.
Hari ini Rian sudah melihat ada semangat baru dalam diri Hiro. Ia yakin kehadiran Shelin sebagai pasangan untum Hiro, akan membuat semangat Hiro perlahan kembali seperti semula.
Hanya butuh satu minggu, Rian sudah mendapat jawaban dari Hiro. Hiro mengabarkan jika Shelin sudah menerimanya. Hanya saja orang tuanya menginginkan Hiro untuk segera menikahinya.
"Gass dong," ucap Rian saat diminta pendapatnya.
"Gas, gas, gas gimana? Kuliahku belum selesai," ucap Hiro.
Rian menepuk dahinya saat mendengar kuliah Hiro yang tak kunjung selesai. Entah apa yang membuat Hiro begitu lambat menyelesaikan pendidikannya. Tapi dengan adanya permintaan orang tua Shelin, ia yakin jika Hiro akan terpacu untuk menyelesaikan kuliahnya dengan cepat.
"Memangnya syarat nikah harus selesai kuliah ya?" tanya Rian.
"Ya tidak begitu. Tapi kan paling tidak dia sudah sarjana, sedangkan aku belum. Rasanya malu," jawab Hiro.
"Makanya selesaikan tugas kuliahmu dengan cepat. Kalau sampai telat lagi, jangan salahkan Shelin tiba-tiba dia memilih orang lain. Bukan karena kamu tidak sarjana, tapi karena kamu tidak semangat." Rian terus memberikan motivasi untuk Hiro.
"Ya kalau bukan jodohnya, Shelin bebas memilih siapapun." Hiro tiba-tiba pasrah.
"Hey laki-laki yang mudah menyerah itu tidak masuk kriteria wanita manapun. Jadi kamu harus ubah kebiasaan buruk seperti itu," ucap Hiro.
Rian menjelaskan jika sebagai laki-laki yang harus dilakukan adalah bertanggung jawab. Saat memutuskan untuk menikah, laki-laki memegang kendali atas pernikahannya. Ia harus mengambil keputusan, bukan hanya pasrah.
Sering sharing dengan Rian membuka wawasan Hiro tentang masa depan. Banyak hal yang Hiro pelajari dari Rian. Mereka semakin dekat seiring berjalannya waktu. Bahkan Hiro berhasil melamar Shelin hanya dalam wktu enam bulan.
Saat itu kuliahnya belum selesai. Namun Hiro sudah mulai menyusun skripsinya. Ia meminta waktu hingga skripsinya selesai baru akan menikahi Shelin. Sempat terjadi penolakan karena ornang tua Shelin masih trauma dengan acara lamaran. Namun Hiro meyakinkan Shelin dan kedua orang tuanya.
Akhirnya pertunangan itu dilaksanakan dengan sederhana. Tidak banyak tamu yang diundang. Lamaran kali ini hanya sebagai simbol untuk keseriusannya pada Shelin. Hiro mengajak Rian saat akan melamar Shelin. Namun Rian menolak.
"Apa kamu tidak rela jika Shelin dilamar olehku?" tanya Hiro.
"Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya tidak mau jadi bahan omongan orang lagi. Mendengarmu bisa melamar Shelin saja aku sudah sangat senang," ucap Rian.
Berkat bantuan Rian, akhirnya Hiro bisa melamar Shelin. Dan tidak sampai satu tahun ia akan menikahi wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta itu.
Riri yang dikabari berita lamaran oleh Rian berteriak kegirangan. Ia bukan hanya senang mendengar Hiro bahagia. Tapi paling tidak ia juga bisa bernapas lega saat yakin jika Shelin tidak akan kembali pada Rian.
Semuanya seakan berbanding terbalik. Jika biasanya Rian yang sering marah karena cemburu, kini justru Riri yang sering uring-uringan karena cemburu.
"Hiro sudah melamar Shelin. Beruntung sekali ya Shelin. Dia pasti sangat bahagia," ucap Riri.
Kalimat itu bermaksud menyindir Rian, namun yang disindir pura-pura tidak peka. Ia hanya mengiyakan saja tanpa membahas sindiran itu. Sambungan teleponnya sampai terputus karena Riri kesal dengan Rian yang tidak peka.
__ADS_1
Setelah Riri mengakhiri panggilan itu, Rian hanya tersenyum. Ia senang dengan sikap Riri yang menggemaskan itu.
"Berhenti memberikan kode. Aku ingin kamu memintaku secara langsung," gumam Rian.