
Mobil sudah terparkir kembali di depan kantor. Manto sudah bersiap untuk membukakan pintu mobilnya. Namun dengan cepat Rian menarik tangan Manto.
"Saya bisa turun sendiri," ucap Rian.
"Baik Pak," ucap Manto.
Manto berdiri menunggu Rian sebelum masuk ke kantor. Sebagai rasa hormatnya, ia tidak mau berjalan mendahului Rian. Meskipun Rian memaksanya, ia akan tetap berjalan di belakang Rian.
"Pak, masalah yang tadi jangan bilang siapa-siapa ya!" ucap Rian.
"Siap Pak," jawab Manto.
"Memangnya Bapak tahu yang mana?" tanya Rian.
"Semuanya Pak. Saya tidak akan buka suara apapun soal Bapak," jawab Manto.
"Apapun?" tanya Rian.
"Saya akan menjaga privasi Anda, Pak." Manto menjawab dengan begitu yakin.
"Terima kasih," ucap Rian.
Mereka kembali berkutat dengan lembaran kertas yang mulai menumpuk. Mata mereka kembali fokus dengan layar laptopnya masing-masing.
"Sudah jam pulang. Ayo Pak!" ajak Rian sambil merapikan berkas-berkas yang ada di depannya.
Manto melihat pergelangan tangannya. Masih ada lima menit lagi.
"Sebentar lagi, Pak." Manto hanya melihat Rian sebentar lalu kembali fokus ke layar laptopnya.
Rian melihat kembali pergelangan tangannya. Memang masih ada lima menit lagi. Tapi menurutnya lima menit itu bisa digunakan untuk beres-beres. Sayangnya pemikiran itu tidak sama dengan isi kepala Manto.
Bagi Manto, ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sebelum jam pulang. Manto yang sudah terbiasa dengan waktu yang ketat, menjadi tidak nyaman saat Rian mengajaknya pulang sebelum waktunya.
Hal itu membuat Rian malu sendiri. Lagi-lagi ia harus belajar banyak hal tentang kedisiplinan waktu dari Manto. Setiap hari ia semakin semangat saat harus bekerja dengan Manto. Banyak hal yang menjadi pembelajaran untuknya.
"Saya permisi, Pak." Manto pamit setelah ia benar-benar menyelesaikan tugasnya.
"Iya Pak," ucap Rian.
Rian yang sudah bersiap pulang, akhirnya mengurungkan niatnya. Ia duduk dan menunggu Manto sampai akhirnya Manto benar-benar pulang.
Sepanjang perjalanan, Rian mengingat semua kejadian hari ini. Ia mengambil beberapa pelajaran hidup yang belum ia sadari sebelumnya. Tidak terasa ia sudah sampai ke rumah.
__ADS_1
"Om," teriak Naura saat Rian sudah masuk ke dalam rumah.
Rasa lelah Rian terobati saat melihat Naura dan Narendra menyambutnya dengan penuh keceriaan. Mereka mengadu karena Nyonya Helen mengajaknya mereka bertemu dengan temannya lagi.
"Ya ampun Naura, Rendra, kan cuma sebentar. Mengadunya sampai ke semua orang," ucap Nyonya Helen yang tidak sengaja mendengar aduan mereka pada Rian.
"Apanya yang sebentar. Lama Oma," ucap Naura.
"Sebentar menurut Oma, tapi lama buat kita." Narendra ikut protes.
Rian hanya tertawa melihat perdebatan nenek dan cucu kembar itu. Apalagi saat Tuan Wira ikut nimbrung dan menyudutkan Nyonya Helen.
"Ah, Papa ini ikut-ikutan saja. Awas ya!" ucap Nyonya Helen sambil pergi meninggalkan mereka.
"Pokoknya Naura tidak mau dijemput sama Oma lagi. Besok jemput sama Opa ya!" ucap Naura.
Tuan Wira melihat Rian yang hanya menggeleng. Sementara Nyonya Helen hanya tersenyum penuh kemenangan saat mendengar permintaan Naura. Ternyata Nyonya Helen belum benar-benar pergi saat Naura meminta untuk dijemput.
Setelah Tuan Wira masuk ke kamar, Nyonya Helen baru keluar dari kamar mandi. Ia tertawa sambil melihat Tuan Wira. Kening Tuan Wira penuh dengan kerutan. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan istrinya bersikap seperti itu.
"Enak kan Pah? Jadi senjata makan tuan, kan? Memangnya enak?" tanya Nyonya Helen sambil tertawa.
"Ini semua gara-gara Rian," ucap Tuan Wira kesal.
Dering ponsel membuat Nyonya Helen dan Tuan Wira berhenti berdebat. Mia yang menelepon. Ia menanyakan kabar kedua anak kembarnya. Tuan Wira meyakinkan Mia agar tidak khawatir dengan keadaan Naura dan Narendra.
Setelah Mia, kini giliran Dion yang bicara. Ia menanyakan Tuan Ferdinan. Tadinya ia akan kembali ke rumah itu karena merasa ada yang kurang saat hanya berdua. Semua itu diurungkan karena Tuan Wira menjelaskan kedatangan Nyonya Nathalie kemarin.
"Kalian diam saja di sana. Dia sudah mulai bergentayangan. Mama tidak mau nanti Mia harus menghadapi manusia tidak punya hati itu," ucap Nyonya Helen.
"Ya sudah kalau begitu aku titip anak-anak ya Ma. Aku hanya ingin Mia baik-baik saja. Aku juga tidak mau pusing dengan rumah tanggaku," ucap Dion.
"Iya. Sudah kamu tenang saja ya di sana. Urusan dia sih kecil. Biar Mama yang urus sendiri," ucap Nyonya Helen.
Dengan sangat meyakinkan, Nyonya Helen membuat Dion percaya dan tenang. Tanpa sepengetahuan Nyonya Helen, Tuan Wira menatapnya. Setelah panggilan dengan Dion berakhir, Nyonya Helen mengerutkan dahinya saat melihat suaminya.
"Papa kenapa?" tanya Nyonya Helen.
"Mama bilang apa tadi?" Tuan Wira balik bertanya.
"Bilang apa?" tanya Nyonya Helen bingung.
"Mama bilang tadi biar Mama yang hadapi sendiri? Bukannya kemarin juga dibantu sama Rian? Papa tidak bisa bayangkan kalau kemarin tidak ada Rian," ucap Tuan Wira.
__ADS_1
"Husssttt, yang penting kan Mama menang." Nyonya Helen membuang muka.
"Tapi kenapa Nyonya Nathalie berubah begitu ya?" tanya Tuan Wira.
"Dia kan memang begitu Pah. Jadi ya pasti kembali ke sifat asal," jawab Nyonya Helen.
"Tapi kenapa Sindi juga jadi ikut dipengaruhi? Seharusnya kan dia juga ingat kalau Sindi itu sudah kita anggap anak sendiri. Papa kangen sama Dandi. Dia hanya beda satu tahun sama si kembar," ucap Tuan Wira sedih.
Nyonya Helen menatap suaminya. Jarang sekali ia melihat wajah sedih seperti itu. Hatinya pun ikut tersayat. Ia juga sebenarnya merindukan Sindi. Tapi rasa kesalnya pada Nyonya Nathalie yang membuatnya menyingkirkan rasa rindu itu.
"Papa jangan berharap bisa menggenggam bulan. Sindi sudah tidak menganggap kita sebagai orang tuanya lagi. Dia sudah bahagia dengan hidupnya. Sudahlah," ucap Nyonya Helen.
Tidak mau berdebat dengan Tuan Wira soal Sindi, Nyonya Helen keluar dari kamar. Ia berusaha terlihat tegar padahal hatinya jauh lebih sakit. Ia ingin menangis sejadi-jadinya saat membahas Sindi.
"Aduh, Ma. Mau kemana?" tanya Rian saat Nyonya Helen menabraknya.
"Mama mau ke belakang dulu," jawab Nyonya Helen.
Tidak melihat wajah Rian, Nyonya Helen segera berlari setelah menabrak tubuh Rian. Ia mengusap air matanya agar tidak ada yang tahu tentang kesedihannya. Namun Rian curiga dengan sikap Nyonya Helen. Ia segera menyusul ibu angkatnya itu.
Rian menghentikan langkahnya saat melihat Nyonya Helen menangis di bebangkuan. Ia tersedu menutup wajahnya dengan rapat. Berusaha menyembunyikan semuanya agar tidak ada yang tahu tentang tangisnya.
"Ma," panggil Rian pelan.
Nyonya Helen nampak salah tingkah dan segera mengusap air matanya. Tangannya segera meraih ponsel dan sibuk memainkannya.
"Ada apa?" tanya Nyonya Helen.
Rian tahu Nyonya Helen tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi apa?
"Mama kalau ada apa-apa bisa cerita padaku," ucap Rian.
"Mama tidak kenapa-kenapa," jawab Nyonya Helen.
"Aku tahu Ma. Kadang kita ingin terlihat kuat di hadapan orang lain. Tapi menahan semuanya sendiri itu sakit. Aku pernah ada di posisi Mama," ucap Rian.
"Rian, Mama tidak apa-apa." Nyonya Helen menatap Rian sebentar sebelum akhirnya kembali sibuk dengan ponselnya.
"Mama mungkin bisa berbohong. Tapi mata Mama tidak bisa. Mata Mama merah. Sangat merah. Mama menangis kan? Kenapa, Ma?" tanya Rian.
Nyonya Helen benar. Ia memang tidak bisa menyembunyikan tangisannya. Matanya merah dan sedikit bengkak. Ia tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan unek-uneknya pada Rian. Berharap Rian tahu alasan Sindi bersikap seperti itu padanya. Karena setahunya, dulu Rian dan Sindi cukup dekat.
Sayangnya setelah Nyonya Helen menjelaskan semuanya pada Rian, ia tidak kunjung mendapat jawaban. Rian juga nampak diam dan memang mengakui perubahan Sindi yang begitu berbeda.
__ADS_1
"Ini pasti pengaruh perempuan itu," ucap Nyonya Helen kesal.