
Setelah meyakinkan dirinya sendiri jika Shelin baik-baik saja, fokus Rian saat ini adalah Riri. Ia berusaha menghubunhi Riri namun sampai saat ini masih diabaikan. Dalam kesendirian Rian duduk dengan semilir angin yang menerpa tubuhnya. Teh hangat disampingnya perlahan menjadi dingin dan dilupakan oleh Rian.
"Rian," panggil Mia.
Rian yang sudah sangat mengenal suara itu segera berbalik mencium punggung tangan mia.
"Kak Mia sama Kak Dion?" tanya Rian.
Ya, masih ada ketakutan dalam diri Rian jika harus bertemu dengan Dion. Saat kabar itu sampai ke telinga keluarga, Dion adalah satu-satunya orang yang berani mengeluarkan jata pedas untuknya.
Rian sadar saat itu memang semua orang ingin mencacinya. Memakinya karena kebodohannya. Tapi semua bungkam. Mungkin karena perasaan iba karena melihat ia yang sudah sangat terpukul dengan keputusan Shelin. Namun saat itu Dion berani mengatakan semua kekecewaannya. Mungkin sebenarnya ungkapan itu sangat mewakili perasaan semua keluarga yang kecewa atas kejadian itu.
"Aku sendiri. Kamu sedang apa?" tanya Mia.
Sore ini Mia meminta izin untuk menemui Rian sepulang dari kantor. Sementara Dion yang tidak ingin berdebat dengan Rian memilih untuk pulang dengan alasan lelah. Tidak apa-apa, Mia mengerti perasaan Dion.
"Aku sedang mencoba menghubungi Mpus. Tapi tidak ada jawaban. Aku sangat mencintai Mpus, Kak." Rian berusaha jujur atas perasaannya.
"Sulit untuk Mpus menerima kenyataan ini. Kamu harus berusaha lebih keras lagi," ucap Mia.
Rian mengangkat wajahnya dan menatap Mia lekat. Ia merasa tubuhny bergetar dengan jawaban Mia. Semua orang pasti tidak mau mendengarkan ungkapan hatinya. Namun Mia tidak hanya mendengarkannya. Mia justru memberinya motivasi.
"Apa Mpus akan menerimaku kembali, Kak?" tanya Rian.
"Kita tidak akan tahu jawabannya kalau tidak mencoba," jawab Mia.
"Jadi Kakak mendukungku?" tanya Rian.
"Aku hanya akan mendukung apa yang membuatmu bahagia. Lakukanlah! Jangan sampai kamu menyesal dengan keputusanmu kali ini!" jawab Mia.
Bibir Rian mulai tersenyum. Wajahnya lebih berseri setelah mendengar dukungan Mia. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk berusaha semakin keras agar bisa mendapatkan Riri kembali.
Setelah memastikan Rian baik-baik saja, Mia pamit untuk pulang. Mia sempat menyarankan Rian untuk pulang ke rumahnya atau ke rumah Tuan Wira, tapi Rian menolak. Saat melihat kondisi Rian, Mia justru tidak mempermasalahkn penolakan Rian.
Saat ini tinggal di rumah kontrakannya sendiri adalah keputusan terbaik. Rian bmemang butuh waktu untuk sendiri. Merenungi semua kesalahannya dan memikirkan langkah selanjutnya akan seperti apa.
__ADS_1
Hari ini Rian sudah bersiap untuk ke kantor. Ia menatap wajahnya dari pantulan cermin. Sudah terlihat tidak rapi. Rambutnya sudah lebih panjang dan kumisnya yang mulai terlihat berantakan.
"Nah begini kan lebih bagus. Tinggal nanti aku potong rambut," ucap Rian sambil memegang wajahnya yang sudah tidak berkumis dan berjanggut.
Rian menjinjing tas kerjanya dan pergi ke kantor. Di sana karyawan sudah menyambutnya. Ini adalah hari pertama setelah beberapa hari Rian tidak datang pagi-pagi.
Mereka senang melihat Rian dengan senyum lebarnya saat membalas sapaan mereka. Dengan hangat Rian menyapa karyawannya sebelum akhirnya ia masuk ke ruangannya. Ia cukup terkejut saat tidak melihat Manto di ruangannya. Ia memutuskan untuk ke ruangan Danu, dan hasilnya sama. Danu juga tidak ada di sana.
"Orang-orang pada kemana sih?" gerutu Rian.
Saat Rian akan kembali ke ruangannya, ia bertemu dengan salah seorang karyawan yang memberi tahu keberadaan Manto dan Danu. Lagi-lagi Rian lupa kalau hari ini ada meeting yang ia lewatkan.
Rian duduk di kursinya. Ia menengadah menatap langit-langit kantor yang putih bersih. Ia tersenyum saat mengingat keberadaannya di tengah-tengah Manto dan Danu. Dua orang yang selalu mengerti keadaannya. Tidak kepo dengan dirinya. Mereka selalu peduli dengan cara yang membuatnya nyaman.
Tidak ingin membuang-buang waktu, Rian segera mengerjakan beberapa pekerjaan sambil menunggu Manto pulang. Ia sudah tidak sabar ingin tahu apa hasil meeting hari ini.
"Ma-maaf Pak," ucap Manto gugup.
Karena tidak tahu ada Rian di ruangannya, Manto masuk tanpa mengetuk pintu. Ia terkejut saat melihat Rian sedang fokus dengan laptopnya.
Manto yang gugup mengangguk dan segera duduk di kursinya. Menyimpan laptop dan berkas hasil meeting hari ini. Ia segera menceritakan kabar baik hasil dari meetingnya. Semua berjalan lancar ssesuai dengan harapan mereka.
"Terima kasih Pak. Oh ya apa mereka tidak menanyakan saya?" tanya Rian.
Manto tersenyum. Tidak mungkin mereka tidak bertanya tentang pemilik dari perusahaan itu. Tapi Manto tahu apa jawaban yang diinginkan Rian.
"Sekali lagi terima kasih banyak, Pak. Senang bisa mengenal Bapak," ucap Rian.
Ya, Manto memang benar-benar orang yang paling tepat untuk berada di sana. Tuan Felix juga memantau Rian melalui Manto. Tuan Felix terkesan lebih santai. Namun tanpa diketahui Rian, ayahnya selalu mengkhawatirkan dirinya. Beruntung Manto bisa memberikan data tentang keadaan Rian setiap harinya.
"Pak, kalau saya ke Jerman gimana ya?" tanya Rian tiba-tiba.
Manto yang sudah berkutat lagi dengan leptopnya tiba-tiba mengangkat wajahnya dengan bingung. Ke Jerman? Untuk apa? Apakah hanya sekedar menemui Tuan Felix?
"Kapan Pak?" tanya Manto. "Eh maksud saya agar saya bisa menyesuaikan jadwal Bapak," lanjut Manto yang merasa tidak enak sendiri dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Jadwal longgar saya kira-kira kapan ya?" tanya Rian.
"Sebenarnya minggu depan jadwal Bapak sedang longgar, tapi Tuan Felix akan berkunjung ke sini. Saya rasa Pak Rian tidak perlu ke Jerman," ucap Manto.
Kali ini Manto mencoba untuk pura-pura tidak tahu. Padahal ia yakin jika tujuan Rian ke Jerman adalah untuk bertemu dengan mantan kekasihnya itu, bukan untuk bertemu dengan Tuan Felix.
"Oh, begitu ya?" ucap Rian.
Ya, hilang sudah harapan Rian saat mendengar jawaban Manto. Ada rasa bersalah saat melihat Rian kecewa.
"Tapi mungkin Bapak bisa menghubungi Tuan Felix agar mengurungkan niatnya. Jika Pak Rian yang ke sana mungkin bisa lebih baik. Tuan Felix tidak perlu cape untuk bisa bertemu dengan Anda," ucap Manto dengan sarannya.
Saran yang tentu akan sangat dibenci oleh Tuan Felix. Karena Manto tahu kalau Tuan Felix tidak menginginkan kehadiran Rian di Jerman. Hal itu tentu akan mengundang banyak berita yang tidak megenakkan. Tapi Manto tidak bisa melihat wajah Rian yang ditekuk karena kecewa.
"Baiklah. Nanti saya coba untuk menghubungi Papa," ucap Rian.
Ada sedikit harapan di wajah Rian. Dan itu cukup membuat Manto ikut senang. Manto. memang baru mengenal Rian saat bekerja di kantor. Namun kebaikan dan ketulusan Rian membuat Manto merasa Rian adalah teman terbaik yang ia punya.
Selesai jam kerja, Rian bergegas untuk pulang. Hari ini ia pulang ke rumah Tuan Wira. Ia ingin semuanya seperti biasa. Berusaha melupakan masalah yang menimpanya akhir-akhir ini. Mungkin semuanya akan membaik setelah Rian kembali seperti dulu.
"Pah, Ma," panggil Rian.
Seorang wanita dengan baju biru itu segera melebarkan sayapnya dan memeluk Rian dengan hangat.
"Maafkan Mama yang sempat marah dan kecewa. Tapi Mama tahu kamu berhak menentukan pilihan kamu. Mama tahu ini berat. Tapi kamu harus yakin kalau kamu pasti bisa melewati semua ini," ucap Nyonya Helen.
"Terima kasih banyak Ma untuk dukungannya. Aku sayang Mama," ucap Rian.
Sementara dari kejauhan Tuan Wira hanya memperhatikan Rian dan Nyonya Helen. Rasa kecewanya memang masih tersimpan. Tapi melihat kedatangan Rian dan air matanya, membuat hati Tuan Wira terenyuh.
Tuan Wira mendekat dan mengusap punggung Rian. Rian segera melepaskan pelukannya dari Nyonya Helen. Kini ia segera memeluk Tuan Wira. Mengatakan hal yang sama pada ayah angkatnya itu.
"Terima kasih sudah menerimaku lagi di kehidupan kalin. Maafkan aku," ucap Rian.
"Jangan begitu. Sampa kapanpun, kamu adalah bagian dari keluarga ini. Selamat datang kembali Rian. Tetaplah menjadi Rian. Jangan pernah berubah lagi," ucap Tuan Wira.
__ADS_1
Rian menangis dalam pelukan Tuan Wira. Dadanya sesak, lidahnya kelu. Ia tidak bisa menjawab ucapan Tuan Wira selain mengangguk di sela tangisannya. Ia mempererat pelukannya.