
Pagi ini Rian sudah bangun lebih awal dari alarm yang ia jadwalkan. Kegelisahan membuatnya tidak tidur nyenyak seperti biasanya. Sampai saat ini Rian masih kepikiran dengan pembahasan semalam.
Sampai saat ini komunikasi Rian dengan Riri berjalan dengan baik. Riri terus meyakinkan Rian bahwa ia pasti datang sehari sebelum akad. Rian sebenarnya berusaha agar Riri bisa pulang lebih awal. Namun apa boleh buat, Riri terlalu sibuk dengan semua pekerjaannya.
Sebagai calon suami yang baik, Rian berusaha mengerti keadaan Riri. Ia sebisa mungkin menenangkan dirinya. Berpikir selogis mungkin walau kadang hatinya menolak. Pada akhirnya ia luluh. Alasannya karena Nyonya Helen. Bagaimanapun nanti, Nyonya Helen harus bahagia dengan pernikahan itu. Ia juga akan bahagia saat sudah memastikan jika Riri miliknya seutuhnya.
Eh nanti dulu. Miliknya seutuhnya? Mungkin sebagai status saja. Karena Rian tidak tahu apa yang akan terjadi nanti dalam rumah tangganya. Belum selesai pikiran rumit itu bergelut di kepala Rian, tiba-tiba suara ketukan pintu membuatnya merubah fokus.
"Iya, sebentar." Rian segera beranjak dari ranjangnya dan membuka pintu kamar.
"Kamu tidak ke kantor?" tanya Dion.
"Tidak," jawab Rian sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Sakit" tanya Dion lagi.
"Tidak," jawab Rian sambil kembali menggelengkan kepalanya.
Kerutan di dahi Dion jelas menunjukkan jika ia sama sekali tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya. Rian yang mengerti keadaan itu segera menjelaskan alasannya tidak pergi ke kantor. Rian akan menemani Nyonya Helen sambil mengerjakan beberapa pekerjaan kantor di rumah.
"Kamu ke kantor saja. Biar aku yang jaga Mama," ucap Dion.
"Hah? Kak Dion tidak ke kantor?" tanya Rian.
"Kalau kamu bisa meluangkan waktu untuk Mama, mas aku harus selalu memprioritaskan kantor? Gantian lah," jawab Dion.
"Bukannya begitu Kak. Aku sangat mengerti keadaan Kakak. Bagaimanapun kantor sangat membutuhkan Kakak. Sedangkan aku bisa sedikit santai karena di kantor sudah ada Pak Manto," ucap Rian.
Sebenarnya Rian ingin sekali menyebutkan nama Danu. Karena sebenarnya Danu juga sangat berpengaruh dan berjasa dalam perusahaannya. Tapi ia tidak mau membuat Dion tidak nyaman saat mendengar nama itu. Meskipun sebenarnya Rian juga tahu jika hubungan keduanya sudah jauh membaik.
"Tidak apa-apa. Hari ini jadwal di kantor bisa di handle oleh Mia. Nanti pulang kantor jemput Mia. Katanya dia mau bertemu dengan orang WO," ucap Dion.
"Kak, kok aku jadi merasa tidak enak ya. Aku yang mau nikah kenapa kalian yang sibuk?" ucap Rian.
__ADS_1
"Ah kamu ini. Ya biasalah. Namanya calon pengantin sih tinggal terima beres saja. Tenang," ucap Dion.
Rian merasa sangat bahagia dengan ucapan Dion. Ternyata Dion memang benar-benar menganggapnya bagian dari keluarganya. Padahal ia sempat takut kalau Dion akan cemburu karena perhatian kedua orang tuanya terbagi untuknya.
Setelah bersiap, Rian segera pamit pada Nyonya Helen. Namun ia melihat Nyonya Helen masih tidur. Pintunya ia tutup kembali sambil menghela napas panjang. Apa mungkin ia bisa pergi tanpa pamit pada Nyonya Helen? Begitu pikirannya saat ini.
"Sudah, berangkat saja. Ini sudah siang. Mama akan bangun siang. Biasa pengaruh obat," ucap Tuan Wira setelah melihat pergelangan tangannya.
"Papa tidak ke kantor?" tanya Rian saat melihat Tuan Wira belum mengenakan pakaian kantor.
"Hari ini Papa ke kantor siang. Kamu duluan saja," ucap Tuan Wira.
"Aku juga nanti Pah. Nunggu Mama bangun dulu," ucap Rian.
"Ayo berangkat om," ajak Naura dan Narendra.
"Kalian sama sopir dulu ya! Om berangkat siang," tolak Rian dengan halus.
"Maaf ya sayang tapi Om masih ada urusan. Begini saja, Naura sama Rendra berangkat sama sopir biar nanti pulangnya Om yang jemput. Gimana?" bujuk Rian.
"Memangnya Om bisa jemput kita? Bukannya Om sibuk?" tanya Naura.
"Bisa. Om janji akan jemput kalian nanti," Jawab Rian meyakinkan.
Akhirnya Naura dan Narendra berangkat diantar sopir. Sedangkan Mia sudah berangkat lebih dulu karena harus mampir ke rumahnya Ada berkas yang ketinggalan sementara berkas itu sangat dibutuhkan hari ini.
"Kamu berangkat saja Ri. Biar nanti aku yang jelaskan sama Mama. Aku yakin Mama pasti mengerti," ucap Dion.
"Tidak apa-apa Kak. Aku hanya tidak ingin melihat Mama kecewa. Kemarin aku janji selama Mama belum sehat aku akan menemani Mama," ucap Rian.
Dion menatap Rian yang penuh dengan ketulusan. Rasanya kecemburuannya pada Rian sangat tidak mendasar. Melihat perhatian Rian yang begitu besar untuk ibunya, Dion paham kenapa ibunya begitu menyayangi Rian.
"Ya sudah kita tunggu Mama bangun ya!" ucap Dion.
__ADS_1
Rian mengangguk. Sambil duduk santai, ia mengetik sebuah pesan untuk Manto. Mengabarkan jika ia batal ke kantor hari ini. Kalaupun ia ke kantor, tentu akan sangat siang. Bukan tanpa alasan. Hal ini karena ia tidak tahu jam berapa Nyonya Helen akan bangun. Belum lagi ia sudah janji akan menjemput kedua keponakan kembarnya.
"Ri," panggil Nyonya Helen dengan suara serak.
Rian segera bangun dan masuk ke kamar Nyonya Helen. Sedangkan Tuan Wira menepuk bahu Dion. Ia tahu setidaknya ada perasaan sedih saat ibunya memanggil nama Rian, bukan namanya.
"Mama tidak tahu kamu di sini. Mengertilah," ucap Tuan Wira.
Dion mengangguk menahan kesedihannya. Tapi ia berusaha berpikir positif, dan mengiyakan apa yang diucapkan ayahnya. Namun tidak lama ia mendengar ibunya memanggil namanya.
"Iya Ma," ucap Dion dengan senyum yang merekah.
Seperti Rian, Dion juga segera menemui Nyonya Helen saat namanya dipanggil. Ia disambut hangat oleh ibunya. Hatinya terasa lebih tenang saat tangan yang lemah itu memeluk tubuhnya.
"Ma, maaf ya semalam aku ke sini terlalu malam. Mia bahkan sudah berangkat lagi pagi tadi," ucap Dion.
"Tidak apa-apa. Mama mengerti. Kalian pasti sibuk," ucap Nyonya Helen.
Ucapan Nyonya Helen membuat Dion merasa tidak nyaman. Mungkin memang benar jika selama ini ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Tapi ia sendiri tidak bisa meninggalkan kantor terlalu lama.
"Ma, hari ini aku ke kantor. Mama ditemani Kak Dion ya. Kita sengaja bagi tugas. Katanya Kak Dion takut kalau Mama lebih sayang sama aku," ucap Rian sambil tertawa.
Dion senang saat Nyonya Helen tertawa. Ia juga bahagia saat Rian berusaha mencairkan suasana. Ternyata Rian jauh lebih peka dibanding dugaannya. Setelah melihat Nyonya Helen sudah lebih santai, Rian segera pergi.
Dalam perjalanan, Tuan Felix menelepon Rian untuk menanyakan kabar Nyonya Helen. Ia senang saat Rian menceritakan bagaimana perkembangan Nyonya Helen yang semakin membaik. Ia jug tidak lupa menanyakan persiapan pernikahan Rian.
"Semua diurus sama Kak Dion, Kak Mia sama Papa Wira juga Pah. Aku malah tidak tahu sudah sampai mana persiapannya. Tapi nanti sore aku mau antar Kak Mia ke WO," ucap Rian.
Tuan Felix sangat bangga dengan keluarga Tuan Wira yang menyayangi Rian begitu tulus. Jika keluarga Tuan Wira sangat membantu Rian untuk mempersiapkan pernikahan itu, Tuan Felix juga berperan penting. Ia membantu Riri menyiapkan segala urusannya di Jerman.
Bahkan Tuan Felix sudah memastikan jika ayah kandung Riri akan menjadi wali atas pernikahan itu. Tidak hanya itu, ia juga menenangkan Riri atas kesedihannya. Karena sudah sangat jelas jika Kakaknya tidak mau menghadiri pernikahan itu.
Seperti pagi ini, saat Tuan Felix menelepon Riri, curhatan itu kembali ia dengar. Tuan Felix menenangkan Riri agar tidak memikirkan hal itu dulu. Bukannya tidak boleh memikirkan pihak keluarga Riri, tapi ia tahu apa alasan kakak kandung Riri tidak mau menghadiri pernikahan itu.
__ADS_1