Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Permisi


__ADS_3

"Kamu tidak takut kualat sudah menertawakan ayahmu sendiri?" tanya Tuan Felix saat melihat Rian sudah mulai sarapan di ruang makan.


Rian hanya tertawa mendengar ucapan kesal ayahnya.


"Papa cape ya?" tanya Rian sambil memberikan dua lapis roti rasa cokelat.


"Tidak," jawab Tuan Felix.


"Tapi aku suka lihat semangat Papa. Papa sudah kembali menjadi Papa yang aku kenal sebelumnya," ucap Rian.


"Ah, sudah berapa kali Papa dengar kalimat itu. Sudahlah. Papa bosan," ucap Tuan Felix.


"Biar tidak bosan bagaimana kalau kita ke kantor? Kita mulai bertempur lagi pagi ini," ucap Rian.


"Ri, ayolah. Ini hari libur. Kamu mau menghabiskan semua waktumu hanya untuk bekerja? Bisa cepat tua kamu," ucap Tuan Felix.


"Aku tahu ini libur. Tapi kita bisa mengerjakan pekerjaan kantor. Dari pada kita membuang-buang waktu tidak jelas," ucap Rian.


"Makanya kita harus menikmati waktu liburan kita, biar waktunya tidak terbuang sia-sia. Mau kemana kita hari ini? Kamu ada ide?" tanya Tuan Felix.


"Pah, sama aja. Seharusnya hari ini kita menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor. Seperti yang Papa tahu, karyawan di kantor sudah semakin susut. Artinya pekerjaan kita semakin banyak," ucap Rian.


"Ada hal yang kamu lupakan, Ri. Liburan akan membuat semangat kita tumbuh kembali. Kita harus merefresh diri kita. Biar tidak mumet," ucap Tuan Felix.


Rian diam. Ya, manusiawi. Hal yang wajar jika sebenarnya ia juga menginginkan liburan. Ia ingin menghabiskan waktu bersama ayahnya seharian. Menikmati waktu luang. Terbebas dari tumpukan berkas dan cahaya laptop yang membuat matanya perih.


"Ajak Mpus ya!" ucap Tuan Felix.


Uhuuuk. Uhukkk..


Rian sampai tersedak mendengar ucapan Tuan Felix. Ia menjadi ingat tentang Rey yang memintanya untuk mengejak Riri berkencan.


"Kamu kenapa sih?" tanya Tuan Felix.


"Tidak apa-apa Pah," jawab Rian setelah minum.


"Kenapa? Kalian sedang marahan ya?" tanya Tuan Felix.


"Tidak Pah. Kami baik-baik saja," jawab Rian.


"Terus kenapa sampai terkejut begitu mendengar nama Mpus?" tanya Tuan Felix.


"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa aneh saja, Pah." Rian kembali melanjutkan sarapannya.


"Anehnya dimana?" tanya Tuan Felix.


"Ini kan liburan Pah. Kenapa harus mengajak Mpus? Dia kan bukan keluarga kita. Dia pasti punya kesibukan sendiri dong," jawab Rian.


"Ri, dia itu teman kamu dan sudah Papa anggap sebagai anak Papa sendiri. Setahu Papa, dia juga sedang bermasalah kan dengan orang tuanya? Apa salahnya kalau kita mengajaknya liburan? Membuat orang bahagia kan dapat pahala," ucap Tuan Felix.


Rian memang mengiyakan pernyataan Tuan Felix. Tapi ia juga tidak enak. Riri di sini selain kuliah, dia bekerja. Jam kerjanya tidak tentu dan terikat dengan orang yang mempekerjakannya.


"Permisi," sayup terdengar suara seorang wanita dari luar rumah.


Keduanya saling menatap. Batin mereka menebak suara siapa yang masuk ke gendang telinganya. Hati Rian bergetar. Tiba-tiba saja dadanya berdebar tidak karuan.


"Mpus. Itu suara Mpus, kan?" tanya Tuan Felix.


Pertanyaan Tuan Felix semakin membuat dada Rian tidak bisa terkontrol. Dugaannya pun sama. Suara itu memang dikenal baik oleh telinga Rian, namun ia tidak yakin Riri datang menemuinya saat sedang libur.

__ADS_1


Tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi, Rian segera menepis perasaannya. Ia berusaha bersikap tenang dan mencari kemungkinan-kemungkinan yang lain.


"Mungkin pengantar paket. Papa pesan sesautu?" tanya Rian.


"Ri, dia bilang permisi. Artinya dia dari Indonesia. Papa yakin itu pasti Mpus," jawab Tuan Felix. "Ayo lihat sana!" lanjutnya.


Rian pun mengiyakan. Wanita Indonesia yang datang ke rumahnya hanya dua orang. Kalau tidak Mia ya Riri. Karena Mia tidak mungkin datang hari ini, Rian sebenarnya yakin jika itu suara Riri. Tapi ia takut salah dan kecewa.


"Permisi," teriak wanita itu sekali lagi.


"Kamu ini kebanyakan mikir. Ya sudah biar Papa yang buka pintunya," ucap Tuan Felix.


Rian tidak menahan Tuan Felix. Ia membiarkan ayahnya membuka pintu sementara ia mengikuti di belakangnya. Dan mata Rian membulat sempurna saat tahu jika tamu itu benar-benar Riri.


"Pus," ucap Rian pelan.


"Haiii, Mpus. Ayo masuk!" ajak Tuan Felix dengan suara lantang.


Riri meraih tangan Tuan Felix dan menciumnya.


"Papa sehat?" tanya Rian.


"Papa sehat. Kamu juga sehat kan?" Tuan Felix balik bertanya.


Tuan Felix membawa Riri ke dalam rumah. Mengabaikan Rian yang berdiri mematung melihat kedatangan Riri.


"Hey Pah. Aku di sini," ucap Rian.


Rian baru tersadar saat suara pintu tertutup cukup keras, sementara ia sendiri masih mematung di luar.


"Eh, ada kamu di luar?" tanya Tuan Felix basa basi.


Rian hanya menggelengkan kepalanya dan menghela napas dalam-dalam. Ia akhirnya mengikuti Tuan Felix dan Riri yang duduk di ruang tamu. Menyaksikan Riri dan ayahnya asyik bercerita.


"Ri, bawakan minum dan cemilan untuk Mpus dong. Kok kamu malah diam saja?" ucap Tuan Felix.


"Hah?" tanya Rian terkejut.


"Bawakan minum dan cemilan," ucap Tuan Felix sekali lagi.


"Tidak perlu Pah. Biar aku saja," ucap Riri yang tidak enak melihat sikap kikuk Rian.


"Sudah. Kamu ini kan tamu. Biarkan Rian yang membawakan minum dan cemilannya," ucap Tuan Felix.


"Kata Papa aku anak Papa juga. Artinya aku bukan tamu dong di rumah ini. Jadi aku bisa mengambil makan dan minum sendiri," ucap Riri.


"Iya sih." Tuan Felix mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya sudah terserah kamu saja," lanjut Tuan Felix.


"Aku pikir Papa ke kantor," ucap Riri.


"Kamu sama Rian ini kok kompak sekali sih. Ini kan hari libur, masa Papa tidak boleh menikmati masa-masa libur?" tanya Tuan Felix.


"Eh bukan begitu Pah. Aku hanya ingin tahu saja," ucap Riri tidak enak.


"Yang harusnya nanya itu Papa. Ada apa kamu ke sini? Ada perlu atau hanya karena rindu pada bujangan Papa yang tampan ini?" tanya Tuan Felix.


Tuan Felix melihat wajah Rian memerah. Terlihat sekali jika Rian sangat salah tingkah. Rian tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


"Aku ke sini karena Mas Rey memintaku menemani Mas Rian. Katanya hari ini Mas Rian mau ke kantor. Aku pikir siapa tahu aku bisa membantu," ucap Riri dengan santainya.

__ADS_1


"Rey?" tanya Tuan Felix.


"Iya Mas Rey. Teman sekelas Mas Rian. Papa belum kenal?" Riri balik bertanya.


"Ya, iya. Aku kenal dia," ucap Tuan Felix.


Pandangan Tuan Felix mengarah pada Rian. Ia melihat Rian tiba-tiba canggung. Ya, ini semua karena Rey.


"Harusnya kamu berterima kasih. Berkat Rey, Mpus jadi ke sini. Kalau bukan karena Rey, kamu hanya akan merindukan Mpus seharian. Papa beri waktu untuk kalian berdua. Buat Mpus nyaman denganmu," bisik Tuan Felix.


"Pah, mau kemana?" tanya Riri saat melihat Tuan Felix meninggalkan tempat duduknya.


"Papa ada urusan dulu sebentar. Nanti kita ngobrol lagi ya!" ucap Tuan Felix.


"Mas, hari ini kita tidak ke kantor?" tanya Riri.


Rian bersyukur Riri terlihat begitu tenang dan memulai obrolan. Karena jujur saja, Rian tidak tahu harus bicara apa.


"Ti-tidak Pus," jawab Rian gugup.


"Mas baik-baik saja kan?" tanya Riri sambil mengamati keadaan Rian.


"Iya," jawab Rian.


Rian mencoba menarik napas dalam dan panjang. Ia berusaha menenangkan dirinya agar bisa bicara dengan Riri.


"Jadi Rey yang memintamu ke sini?" tanya Rian.


"Iya Mas," jawab Riri.


"Kenapa kamu mau?" tanya Rian.


"Kenapa kamu mau? Maksudnya gimana, Mas?" Riri balik bertanya.


"Ya memangnya kamu tidak ada kegiatan hari ini? Bagaimana dengan Mr. Aric?" tanya Rian.


"Tidak. Hari ini aku tidak ada kegiatan apapun. Mr. Aric sedang ada kunjungan dan tidak akan pulang sampai besok," jawab Riri.


"Lalu kenapa kamu tidak memilih untuk menghabiskan hari ini dengan Rey saja?" tanya Rian.


"Mas Rey tidak mengajakku," jawab Riri dengan polosnya.


"Jadi kalau Rey mengajakmu, kamu mau?" tanya Rian.


"Kenapa tidak? Mas Rey kan teman aku," jawab Rian.


Hah? Dia benar-benar polos. Apa kamu tidak tahu kalau aku cemburu, Pus? Tidakkah kamu tahu kalau aku sudah mencintaimu? Ah, kenapa cinta ini harus kembali aku rasakan untuk orang yang salah?


Ya, Rian menganggap cintanya pada Riri adalah sebuah kesalahan. Riri yang tidak peka hanya membuatnya sakit hati.


"Mas, sudah sarapan belum?" tanya Riri.


"Sudah," jawab Rian.


"Yah, padahal tadinya aku mau masak loh. Ya sudah tidak jadi," ucap Riri.


"Papa belum sarapan. Kalau kamu mau, Papa mau coba dong makanan buatanmu." Tuan Felix tiba-tiba datang.


Papa belum sarapan? Terus yang tadi apa namanya? Makan pagi?

__ADS_1


"Benarkah?" Biar aku buatkan ya Pah," ucap Riri senang.


"Terima kasih sebelumnya. Ayo silahkan. Itu dapurnya," Tuan Felix membawa Riri ke dapur.


__ADS_2