Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Dia keluar


__ADS_3

Rian semakin terkejut saat Riri menyadari keberadaan Rian di sana.


"Hai," ucap Rian canggung.


"Sini, Mas." Riri kembali melambaikan tangannya.


"Aku mau pulang," jawab Rian.


Riri menarik tangan Rey untuk mendekati Rian. Ada rasa cemburu sekaligus tegang saat melihat mereka berdua mendekat.


"Mas, tunggu dulu. Ada yang mau kita tanyakan," ucap Riri.


Kita? Penggunaaan kata kita menjadi sedikit mengusik hati Rian. Ia menahan dadanya yang berdebar tidak karuan. Entah karena keberadaan Riri atau justru kesal dengan kehadiran Rey.


"Apa?" tanya Rian.


"Mas Rey, ayo tanyakan. Mumpung ada orangnya," ucap Riri sambil menyikut Rey.


"Kamu saja," ucap Rey.


"Apa sih?" tanya Rian.


"Mas, ini soal Mba Maudi. Mas Rey tadi nyari Mba Maudi ke kelasnya. Tapi teman-temannya juga tidak ada yang tahu kenapa hari ini Mba Maudi tidak masuk," jawab Riri.


"Lalu hubungannya denganku?" tanya Rian.


"Kita hanya bertanya Mas. Siapa tahu Mas tahu alasan Mba Maudi tidak masuk kelas," jawab Riri.


"Dia keluar," jawab Rian singkat.


"Keluar apanya?" tanya Rey dan Riri bersamaan.


"Kuliahnya. Kalian pikir apanya yang keluar? Heran deh, kenapa bisa kompak begitu," ucap Rian kesal.


"Ya ampun Mas. Sampai kaget loh aku. Masa sih Mba maudi sudah tidak kuliah di sini lagi?" tanya Riri.


"Memang itu kenyataannya," ucap Rian.


"Mas yang maksa Mba berhenti kuliah di sini?" tuduh Riri.


"Hey, sembarangan saja. Kamu juga tahu kan kalau Maudi mengancam kita? Aku tidak menyangka jika ternyata kamu sudah pikun," ucap Rian.


"Mengancam? Kemarin?" tanya Riri sambil berusaha mengingat kejadian yang Rian maksud.


Rian tidak membantu Riri untuk mengingat kejadian kemarin. Ia hanya membiarkan Riri mengingat semuanya sendiri. Dan akhirnya Riri mengingat semuanya.


"Oh, jadi maksud Mas yang itu?" tanya Riri.


"Yang itu yang mana?" tanya Rey bingung.


"Kemarin Mba Maudi mengancam kami Mas. Katanya Mba Maudi tidak akan membiarkan kami bahagia saat kembali ke Jakarta. Aku tidak berpikir kalau Mba Maudi akan meninggalkan kampus ini. Sedih aku," ucap Riri.

__ADS_1


"Pus, sudahlah. Memang akan lebih baik kalau dia tidak di sini," ucap Rian.


"Apa maksudmu?" tanya Rey.


"Oh ya aku lupa," ucap Rian.


Rian lantas menceritakan garis besar kenapa Maudi bisa berhenti kuliah dari kampus itu. Mata Rey membulat sempurna. Rey juga menggeleng-gelengkan kepalanya tanda jika ia tidak percaya dengan cerita tentang Maudi yang baru saja ia dengar.


"Tidak mungkin," ucap Rey.


Ya, suatu kewajaran jika Rey tidak percaya hal itu. Karena selama berhubungan dengan Maudi, ia tidak pernah sekalipun melihat Maudi merendahkan diri.


"Tapi itu kenyataannya Rey," ucap Rian.


"Aku punya buktinya Mas. Mas Rian memang benar," ucap Riri.


Rey meminta bukti itu. Melihat semua kejadian yang tidak pernah ia duga sama sekali itu membuatnya sangat sakit.


"Aku tidak percaya Maudi seperti ini," ucap Rey.


Matanya tampak berlinang saat melihat kenyataan itu. Rasa sakit itu lebih dalam ketika ia tahu semuanya saat Maudi sudah tidak di Jerman lagi.


"Maaf Rey, aku tidak memberi tahumu karena saat itu aku rasa kamu tidak perlu tahu. Aku menganggap ini aib bagi Maudi yang tidak perlu aku bahas ke sana ke sini," ucap Rian.


"Kamu tidak salah Ri. Aku yang tidak peka," ucap Rey.


"Mas masih mencintai Maudi?" tanya Riri pada Rey.


"Mungkin ya. Sampai saat ini aku memang masih berharap jika Maudi bisa mendampingi sisa usiaku. Meskipun itu sangat tidak mungkin," jawab Rey.


"Maudi hanya mencintai Rian," jawab Rey.


"Aku tidak mencintainya," jawab Rian.


Rian sendiri bahagia saat mendengar jawaban Rey. Saat Rey mengatakan jika ia masih mencintai Maudi. Itu artinya Rey tidak mencintai Riri. Tapi kenapa Rey selalu mendekati Riri?


"Mas Rian sudah memberi lampu hijau. Kejar Mba Maudi kalau Mas Rey benar-benar masih sayang," ucap Riri.


"Aku pulang duluan," ucap Rey.


"Mas kok malah pulang? Mau mengejar Mba Maudi ya? Mba Maudi sudah pulang ke Indonesia," teriak Riri.


Rey terus berjalan tanpa melihat Riri yang sudah berteriak padanya. Ia hanya melangkahkan kakinya dengan mantap menuju rumahnya. Ia harus istirahat agar bisa tenang, karena saat ini pikirannya sedang kacau.


"Aku tidak yakin jika dia bisa menerima Maudi lagi," ucap Rian.


Ucapan Rian mengalihkan pandangan Riri pada Rey.


"Kenapa begitu Mas?" tanya Riri.


"Kamu pikir saja Pus. Maudi sudah menyerahkan kehormatannya pada pria lain, sementara dia masih menjalin hubungan dengan Rey. Masih bisakah Rian mengejar wanita seperti itu?" tanya Rian.

__ADS_1


"Cinta itu kadang-kadang tidak menggunakan logika Mas. Apa yang ada di pikiran, belum tentu bisa diterima baik oleh hati. Mas hanya memandang wanita dari kehormatannya?" tanya Riri.


"Jelas. Setiap pria pasti akan menghargai wanita jika wanita itu menghargai dirinya sendiri. Bagaimana pria bisa menghargai wanita jika wanita itu justru membuat dirinya tidak berharga sama sekali," ucap Rian.


"Begitu ya," ucap Riri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Katanya pintar, giliran soal begitu kamu tidak paham. Bingung aku," ucap Rian.


"Kan aku sudah bilang kalau urusan cinta aku kalah. Oh ya, gimana kalau perempuan itu diperkosa? Apakah nilainya sama? Bukankah dia juga sudah kehilangan kehormatannya?" tanya Riri.


"Beda. Dia kehilangan kehormatannya karena dipaksa, bukan karena keinginannya. Sedangkan Maudi dengan suka rela memberikan kehormatannya pada pria yang tidak bertanggung jawab," ucap Rian.


"Jangan terlalu benci begitu sama Mba Maudi. Benci sama cinta bedanya tipis sekali Mas. Contohnya kemarin-kemarin Mas sangat mencintai Mba Maudi, tapi tiba-tiba sangat membencinya. Bukan tidak mungkin seiring berjalannya waktu perasaan itu berubah lagi," ucap Riri.


"Tidak mungkin," ucap Rian.


"Tidak ada kata tidak mungkin di dunia ini. Semuanya mungkin saja terjadi Mas," ucap Riri.


"Seperti halnya kamu yang mungkin saja masih mencintai mantanmu yang sudah menjadi kakak iparmu itu?" tanya Rian.


Riri menatap Rian dengan lekat.


"Mungkin Mas. Aku tidak munafik jika ternyata rasa kecewa dan sakit itu ternyata tidak bisa menghilangkan perasaanku padanya. Tapi aku cukup sadar diri siapa aku dan dia saat ini," ucap Riri.


Rian melihat Riri penuh kebingungan. Jawaban apa itu? Apakah itu berarti hati Riri masih tertutup untuk pria manapun? Lantas bagaimana nasib perasaannya? Haruskah ia menggantung perasaan itu sampai ia benar-benar yakin jika Riri sudah melupakan mantannya itu? Kapan?


Ah, banyak sekali pertanyaan di kepalanya yang membuatnya bingung sendiri. Ia harus menunda keinginannya untuk mengungkapkan perasaannya pada Riri. Padahal Rian sudah sangat senang saat mendengar Rey masih mencintai Maudi.


"Mas," ucap Riri sambil melambaikan tangannya di depan wajah Rian.


Seketika lamunan Rian buyar. Ia gugup sekali. Bingung harus bersikap seperti apa.


"Ayo pulang!" ajak Rian.


Kabur adalah salah satu jalan ninja Rian saat ia dihadapkan dengan situasi seperti itu. Ia akan selalu menghindar saat tidak bisa menjelaskan apa yang sedang ia alami.


"Mas pulang duluan saja. Aku mau ke rumah sakit dulu. Ambil obat untuk Mr. Aric," ucap Riri.


"Mr. Aric masih sakit?" tanya Rian.


"Sampai saat ini Mr. Aric masih mengkonsumsi obat-obatan. Tapi kondisinya sudah jauh lebih baik," ucap Riri.


"Ah syukurlah. Aku ingin menjenguknya tapi aku yakin itu tidak mungkin. Kamu tidak akan mengizinkanku untuk menemui Mr. Aric kan?" tanya Rian.


"Maaf ya Mas. Tapi Mr. Aric sama sekali tidak pernah menerima tamu saat sedang sakit seperti ini," ucap Riri.


"Iya aku mengerti. Ya sudah aku pulang duluan ya!" ucap Rian.


"Iya Mas," jawab Riri.


Tidak lama setelah kepergian Rian, jemputan Riri sudah datang. Seperti rencananya jika pagi ini ia harus ke rumah sakit untuk mengambil obat untuk Mr. Aric.

__ADS_1


Saat dalam mobil, Riri melihat pemandangan di jalan yang ia lalui. Hanya gedung-gedung tinggi yang berderet mewah. Tiba-tiba ia rindu kampung halamannya yang begitu hijau.


Kalian sedang apa? Aku yakin saat ini kalian sedanga sangat berbahagia. Tapi tidak apa-apa. Aku juga bahagia di sini. Kita saling bahagia meskipun tidak dalam kebahagiaan yang sama. Terima kasih sudah mengantarkanku pada situasi seperti ini.


__ADS_2