Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Kartu merah


__ADS_3

"Ya sudah kamu pulang sekarang. Nanti Naura dan Rendra marah lagi padamu," ucap Nyonya Helen.


"Iya sebentar Ma," ucap Rian.


Bukannya membangunkan Tuan Felix, Rian malah mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Sebuah foto berhasil ia simpan.


"Anggap saja ini sebagai kartu merah kalau Papa macam-macam padaku," ucap Rian sambil tertawa.


Nyonya Helen yang mendengar dan melihat tingkah Rian ikut tertawa, hingga membangunkan Tuan Felix. Nampak pria yang baru saja bangun tidur itu menggisik matanya. Merah dan berair. Ia juga menutup mulutnya setelah menguap dengan lebar.


"Ada apa ini?" tanya Tuan Felix bingung.


Tuan Felix nampak malu sendiri saat menyadari jika ia ketiduran di rumah Tuan Wira. Ia segera meminta maaf dan pamit untuk pulang. Selama dalam perjalanan, ia tidak berhenti mengomel. Meluapkan kekesalannya pada Rian. Kesal karena sudah membuatnya menunggu bahkan sampai ketiduran.


"Ya maaf. Kan Papa tahu kalau Papa Wira tidak ma bertemu dengan orang lain dulu," ucap Rian.


"Tapi kan kamu bisa membujuk Wira supaya mau bertemu denganku," ucap Tuan Felix kesal.


"Ya tidak semudah itu, Pah. Keadaan Papa Wira sedang tidak stabil," ucap Rian.


"Ah kamu ini bisa saja cari alasannya. Ayo sudah fokus saja ke jalan. Papa mau tidur," ucap Tuan Felix.


"Ya ampun Pah. Memangnya tadi tidak cukup ya tidur di rumah Papa Wira?" tanya Rian.


"Tadi Papa tidak tidur ya! Hanya memejamkan mata sebentar saja," jawab Tuan Felix mengelak.


"Oh ya? Hanya sekejap? Sampai ileran begitu ya?" goda Rian.


"Mana mungkin. Papa anti ileran ya. Jangan nuduh kamu. Sembarangan," ucap Tuan Felix kesal.


"Eh, aku punya bukti kuat." Rian mengangkat ponselnya sebentar lalu kembali menyimpannya di samping.


Rian tahu kalau Tuan Felix memang akan mengincar ponselnya. Hingga ia harus mengamankannya. Jangan sampai kartu merah itu lenyap begitu saja.


Tuan Felix yang merasa tidak punya celah untuk merebut ponsel Rian hanya bisa pura-pura pasrah. Padahal sebenarnya ia hanya sedang mengatur strategi agar bisa merebut ponsel Rian dan menghilangkan jejak itu.


Alih-alih memikirkan strategi, ternyata Tuan Felix kembali tertidur pulas dalam mobil. Saat sudah sampai, Rian kembali menggelengkan kepalanya.


"Papa kalau di sini mudah sekali tidur," gumam Rian.


Perlahan Rian menyentuh lengan ayahnya. Mengguncangnya pelan dan membangunkannya.


"Eh, sudah sampai?" tanya Tuan Felix dengan terkejut.


Hal pertama yang Tuan Felix lakukan adalah mengelap bibirnya. Ia jadi khawatir jika kabar tentang foto dirinya yang sedang ileran itu benar adanya.


"Tidak ada ilernya kok Pah," ucap Rian sambil menahan tawanya.


"Dasar anak kurang ajar," ucap Tuan Felix sambil memukul tangan Rian.


Tuan Felix keluar lebih dulu dari mobil. Berlalu meninggalkan Rian begitu saja. Awalnya Rian merasa tidak enak. Takut ayahnya marah karena keusilannya. Namun akhirnya Rian sadar jika hal itu dilakukan Tuan Felix agar tidak membuat Naura dan Narendra kecewa.

__ADS_1


"Sayaaang, sudah bangun?" tanya Tuan Felix sambil memeluk Naura dan Narendra bergantian.


"Opa dari mana?" tanya Naura.


"Opa keluar sebentar. Membeli minuman kesukaan opa. Tapi ternyata tidak ada," jawab Tuan Felix.


"Sama Om Rian?" Narendra.


"Om Rian? Memangnya Om Rian juga sedang keluar ya?" tanya Tuan Felix pura-pura tidak tahu.


"Memangnya tidak sama Opa ya?" tanya Naura.


"Ada yang cari-cari om nih. Ada apa? Kangen ya?" tanya Rian yang tiba-tiba muncul di waktu yang tepat.


"Om dari mana?" tanya Naura.


"Habis telepon pacar om," jawab Rian.


"Harus naik mobil?" tanya Naura.


Rupanya Rian tidak tahu kalau Naura tidak mudah untuk dibohongi. Ia akan terus mendesaknya sampai akhirnya mendapat jawaban yang menurutnya masuk akal.


"Tuh, opa yang bawa mobil." Rian menunjuk Tuan Felix dengan penuh harap.


"Iya. Om kalian kalau telepon paling di luar gerbang. Biasa, takut ada yang menguping," ucap Tuan Felix.


"Mana aku lihat pacar om," pinta Narendra.


"Duduk di sini. Biar om tunjukkan," ucap Rian sambil menepuk kursi di sampingnya.


"Cantik om," ucap Naura.


"Kamu juga cantik," ucap Rian sambil mencubit gemas pipi Naura.


"Terima kasih om ganteng," ucap Naura sambil memeluk Rian.


Tuan Felix hanya bisa mengusap dada setelah melihat mereka sudah aman. Ia pergi ke kamar untuk istirahat di kamarnya. Sepertinya akan melanjutkan lagi tidurnya yang sudah dua kali terganggu oleh ulah Rian.


Setelah Naura dan Narendra mereda dan kembali dengan aktivitas mereka, Rian berniat untuk merebahkan tubuhnya di kamar. Namun Dion dan Mia sudah pulang.


"Sudah pulang, Kak?" tanya Rian sambil mencium tangan Mia dan Dion bergantian.


"Iya kebetulan hari ini kami akan ke rumah Mama. Mau melihat kondisi Papa. Katanya tadi sudah dari rumah Papa ya?" Dion balik bertanya.


"Husssst," Rian menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


Rian memberi kode agar Dion tidak lagi membahas itu karena takut Naura dan Narendra mendengarnya.


"Oh ya Ri, terima kasih ya sudah menemui Papa. Kata Mama Papa jauh lebih semangat," bisik Dion.


"Kak, ini kan kewajibanku juga. Jangan berterima kasih begitu ah," bisik Rian.

__ADS_1


"Apa sih bisik-bisikan begitu. Sudah ayo makan dulu," ajak Mia.


Setelah selesai makan, Mia dan Dion pamit ke kamar. Merek mandi dan berganti pakaian, lalu memikirkan cara untuk bisa keluar tanpa dicurigai oleh kedua anak kembarnya.


Mereka memang sengaja berganti pakaian karena tidak mau ke rumah Tuan Wira dengan pakaian kerja. Hal itu selalu membuat Tuan Wira sedih karena belum bisa kembali bekerja.


"Kami mungkin akan pulang malam. Hari ini ada dokter yang akan memeriksa Papa. Kami akan menjadwalkan pengobatan yang lebih intens," ucap Dion saat kedua anak kembarnya sudah tidak lagi bersama mereka.


"Iya Kak. Maaf ya aku tidak ikut," ucap Rian.


"Tidak masalah Ri. Aku justru minta maaf karena merepotkanmu dengan menitipkan anak-anak," ucap Dion.


"Papa ikut," ucap Tuan Felix penuh harap.


"Tidak Pah," ucap Rian dengan cepat.


Dion dan Mia yang merasa tidak enak langsung meminta maaf atas penolakan atas perhatian dan kebaikan Tuan Felix.


"Ah, kalian semua sama saja." Tuan Felix pergi meninggalkan ketiganya.


"Pah," ucap Mia yang berusaha mengejar Tuan Felix.


"Sudah kak. Berangkat saja. Biar aku yang bicara dengan Papa," ucap Rian.


"Terima kasih ya Ri. Aku percaya kalau kamu bisa membantuku," ucap Mia.


"Iya. Sudah ayo cepat berangkat. Papa pasti sudah menunggu Kakk," ucap Rian mempersilahkan mereka segera berangkat.


Dengan senyum bahagia, Dion dan Mia pergi meninggalkan rumahnya. Dalam perjalanan, mereka saling bercerita tentang kehadiran Rian yang menurutnya membawa berkah. Bagaimanapun, semangat Tuan Wira kembali bangkit setelah pertemuannya dengan Rian.


"Sayang, terima kasih ya sudah membawa Rian dalam keluarga kita." Dion menggenggam dan mengecup punggung tangan Mia.


"Mia yang seharusnya berterima kasih. Karena Aa dan keluarga juga ternyata bisa menerima Rian dengan baik," ucap Mia.


Ya, Mia dan Rian memang tidak memiliki hubungan darah. Namun Rian adalah anak kandung dari pria yang selama itu ia anggap sebagai ayah kandungnya. Baskoro memang pria yang kejam. Tidak sekalipun Mia mendapat kasih sayang seorang ayah darinya. Namun Mia adalah Mia. Ia tetap menyayangi Baskoro dengan segala perlakuannya.


Saat sudah sampai di rumah Nyonya Helen, Tuan Wira sudah menyambutnya di teras rumah. Hal langka setelah ayahnya duduk di kursi roda. Pemandangan ini menjadikan keharuan tersendiri bagi Dion dan Mia.


"Pah," sapa Mia sambil mencium tangan Tuan Wira dan menangis sambil bersimpuh di kakinya.


"Bangun Mia. Bangun," ucap Tuan Wira.


Ada rasa penyesalan saat ia mengusulkan untuk membeli rumah dan tidak tinggal lagi dengan mertuanya itu. Seandainya mereka masih satu rumah, mungkin saat ini Mia yang akan mengurusnya.


"Sepertinya untuk sementara ini Mia akan tinggal di sini lagi. Sampai Papa benar-benar sembuh," ucap Mia.


Bukan rangkulan, keinginan Mia justru ditolak oleh Tuan Wira. Ia tidak ingin jika kedua cucu kembarnya sampai tahu keadaannya.


"Tapi mereka juga berhak tahu Pah," ucap Mia.


"Biarkan mereka tumbuh bahagia. Jangan bebankan mereka dengan penyakit yang Papa derita ini," ucap Tuan Wira.

__ADS_1


"Papa sama sekali tidak membebani kami semua, Pah." Mia masih berusaha membujuk Tuan Wira.


Perdebatan panjang terjadi diantara keduanya. Namun kesimpulannya tetap sama. Tuan Wira tidak ingin ada orang lain lagi yang tahu tentang penyakitnya.


__ADS_2