Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Hanya berteman


__ADS_3

Rian meninggalkan Riri yang masih duduk dengan sebuah buku di tangannya. Bibir Riri tersenyum, mengantar kepergian Rian. Tanpa keraguan, Riri mengiyakan setiap keputusan Rian.


"Riri benar-benat tidak peduli padaku. Dia bahkan tidak melarangku sama sekali," gumam Rian.


Rian masuk ke kelas. Rey menyapanya dan menanyakan kabar Rian yang nampak sedang tidak baik. Namun Rian menepisnya. Rupanya Rey tidak tahu apa yang terjadi di kantin.


"Bagaimana hubunganmu dengan Riri?" tanya Rey.


Rian menatap Rey. Ia mencerna pertanyaannya. Apa maksudnya? Apakah hanya untuk meyakinkan Rey kalau diantara Rian dan Maudi memang sudah tidak ada apa-apa? Atau justru karena Rey merasa ada yang spesial antara Rian dan Riri.


"Aku dan Riri hanya berteman saja," ucap Rian.


"Semua berawal dari pertemanan. Aku rasa kamu cocok dengan Riri," ucap Rey.


"Kamu tenang saja. Kalaupun aku tidak dengan Riri, aku tidak akan mengambil Maudi darimu." Rian tersenyum sinis.


"Hey, kamu kenapa?" tanya Rey merangkul bahu Rian.


"Sudahlah. Aku pusing," ucap Rian sambil melepaskan tangan Rey dari bahunya.


Rey sempat bingung dengan sikap Rian yang berubah tiba-tiba. Padahal baru saja kemarin mereka tidak ada masalah apapun. Namun Rey harus menahan rasa ingin tahunya karena dosen sudah masuk. Rian nampak fokus dengan materi hari itu. Namun Rey yang sesekali melihat ke arah Rian. Ia tidak mengerti apa alasan Rian berubah sikap padanya.


Selesai materi, Rian segera merapikan barangnya dan keluar. Rey nampak semakin bingung dan berlari mengejar Rian.


"Ri, tunggu! Kamu mau kemana?" tanya Rey.


"Aku mau ke luar dulu sebentar," jawab Rian.


"Kemana? Masih ada dua materi lagi," ucap Rey.


"Aku akan ke sini lagi nanti," ucap Rian.


Rian berlalu meninggalkan Rey yang masih terpaku di depan kelas.


"Kamu kenapa?" tanya Maudi yang tiba-tiba datang menghampirinya.


Tidak, tidak. Kamu sudah selesai?" tanya Maudi.


"Iya. Oh ya Rian mana?" tanya Maudi.


"Dia baru saja pergi," jawab Rey.


"Kemana?" tanya Maudi.


"Tidak tahu," jawab Rey menggeleng.


Maudi segera mencari alasan untuk pergi dari Rey. Ia menemui Riri untuk memastikan dimana keberadaan Rian.


"Hey, mana Rian?" tanya Maudi sambil menarik tangan Riri.


"Mana aku tahu. Aku bukan pengasuhnya," jawab Riri.


"Heh, pembantu tidak tahu diri." Maudi menarik tangan Riri.


"Apa lagi?" tanya Riri.


Meskipun hatinya dipenuhi dengan rasa kesal, namun Riri berusaha setenang mungkin.


"Kamu jangan pernah bermimpi untuk memiliki Rian. Dia hanya milikku. Kami saling mencintai," ucap Maudi.


"Mimpiku hanya menjadi orang sukses. Jadi jangan khawatir. Aku tidak tertarik dengan urusan cinta," ucap Riri.


"Berhenti membual!" ucap Maudi.


Tangan Maudi melambung tinggi. Pipi Riri yang begitu putih menjadi sasaran kemarahan Maudi siang ini. Namun sayangnya Riri lebih cepat menangkap tangan Maudi.


"Aku memang seorang pembantu. Tapi aku bekerja untuk tuanku. Mba tidak berhak merendahkanku seperti ini," ucap Riri.

__ADS_1


"Lepaskan tanganku!" ucap Maudi sambil meringis.


Riri melepaskan tangan Maudi dan menatapnya penuh dengan ancaman.


"Mba boleh menghinaku karena statusku sebagai seorang pembantu. Karena memang kenyataannya kalau aku hanya seorang pembantu. Tapi jangan sekalipun Mba merendahkanku dengan tamparan Mba. Majikanku saja tidak pernah melakukan hal itu," ucap Riri.


"Urusan kita belum selesai," ucap Maudi.


Sepertinya Maudi sudah tidak mau mendebat Riri. Setelah tahu kalau Riri tidak selemah yang ia pikir, Maudi memilih untuk pergi. Ia harus mengatur strategi dulu sebelum menghadapi Riri.


Dengan emosi yang masih membara di dadanya, Maudi berniat untuk meninggalkan kampus itu. Materinya hari ini belum selesai, tapi moodnya sudah tidak bagus. Ia ingin segera pergi dan menenangkan pikirannya.


"Rian," panggil Maudi.


Kemarahannya sedikit mereda. Senyumnya merekah saat melihat Rian. Ia segera menghampiri Rian dan bergelayun manja di tangannya.


"Lepaskan!" ucap Rian dengan wajah yang sangat datar.


"Kamu kenapa sih?" tanya Maudi.


"Aku sudah bilang jangan mengganggu hidupku lagi," ucap Rian.


"Aku masih mencintaimu Rian. Aku sangat mencintaimu," ucap Maudi.


"Maaf, cerita kita sudah lewat. Aku sudah tidak di masa itu lagi," ucap Rian.


"Rian, apa semua ini karena pembantu itu?" tanya Maudi.


"Jangan pernah membawa Riri dalam masalah kita. Dia tidak tahu apa-apa," jawab Rian.


"Tapi dia yang membuatmu berubah, Rian. Dulu kamu tidak begini. Aku tahu kamu sangat mencintaiku," ucap Maudi.


"Maaf Maudi. Semuanya sudah berubah. Kamu bukan siapa-siapaku lagi. Aku harap kamu mengerti," ucap Rian.


"Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja. Aku mencintaimu," ucap Maudi.


"Jadi seperti itu kalian di belakangku?" tanya Rey dengan suara bergetar.


"Rey," ucap Rian sambil menarik tangan Rey.


"Seharusnya sejak awal aku tahu semua ini. Aku terlalu percaya padamu, Ri." ucap Rey dengan senyuman yang sinis.


"Aku sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan Maudi," ucap Rian.


"Terserah. Aku sudah tidak peduli lagi masalah ini," ucap Rey.


"Rey, aku bisa jelaskan!" ucap Maudi.


Meskipun Maudi tidak mencintai Rey, namun ia juga tidak bisa kehilangan Rey begitu saja. Bagaimanapun, Maudi belum bisa mendapatkan Rian lagi.


"Tidak perlu menjelaskan apapun. Mulai sekarang kita putus," ucap Rey.


Rey pergi meninggalkan Rian dan Maudi yang masih berdiri menatap kepergiannya. Panggilan dari keduanya tidak ia hiraukan sama sekali. Rasa kecewanya sudah terlalu besar. Ia sangat sakit saat melihat Maudi kembali pada Rian.


Rian, maafkan aku. Mungkin ini yang kamu rasakan dulu. Ini karma untukku. Aku yang salah. Aku bodoh karena aku selalu percaya pada Maudi. Seharusnya aku tidak percaya begitu saja. Tidak mungkin Maudi melupakan Rian secepat itu. Dasar bodoh!


"Mas Rey," ucap Riri.


"Hai Ri," ucap Rey.


Rey segera menenangkan dirinya saat Riri menghampirinya.


"Sendirian?" tanya Riri.


"Berdua," jawab Rey.


"Mana Mba Maudinya?" tanya Riri.

__ADS_1


"Siapa yang bilang aku bersama dia?" tanya Rey.


"Terus Mas Rey sama siapa?" tanya Riri.


"Sama kamu," jawab Rey.


"Ah, Mas Rey aku pikir sedang kencan." Riri tersenyum.


"Kamu janjian dengan Rian?" tanya Rey.


"Tidak Mas," jawab Riri.


"Lalu kamu makan di sini sendiri?" tanya Rey.


"Iya. Aku makan sambil menunggu jemputan," ucap Riri.


Cafe dekat kampus mempertemukan Rey dan Riri. Mereka duduk bersama dan bercerita sama lain. Tidak tentang masalah pribadinya, mereka hanya saling bertukar cerita tentang perkuliahannya.


"Sebentar ya Mas," ucap Riri saat mendengar ponselnya berdering.


"Iya," jawab Rey sambil mengangguk.


Riri pergi untuk menjawab panggilan di ponselnya. Ia kembali dengan buru-buru dan pamit.


"Sudah ada yang jemput ya?" tanya Rey.


"Katanya tidak jadi jemput Mas. Aku pulang sendiri," jawab Riri.


"Aku antar ya!" ucap Rey.


"Hah?" tanya Riri.


"Aku antar," ucap Rey mengulang ucapannya.


"Jangan Mas," tolak Riri.


"Kenapa? Kamu takut Rian cemburu ya?" tanya Rey.


"Tidak. Aku hanya tidak ingin Mba Maudi marah lagi padaku," ucap Riri.


"Marah lagi?" tanya Rey.


"Ah, panjang ceritanya. Lain kali aku ceritakan ya!" ucap Riri.


"Sekarang saja sambil aku antar pulang," ucap Rey.


Akhirnya Riri mengiyakan dan pulang dengan Rey. Ia juga menceritakan semua kejadian yang terjadi di kantin. Bukan untuk mencari pembelaan. Riri hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan hubungan Maudi dan Rey.


"Aku dan maudi sudah putus," ucap Rey.


"Oh, jadi Mba Maudi balikan lagi dengan Mas Rian?" tanya Riri.


"Aku tidak tahu," jawab Rey.


"Aku rasa Mas Rian tidak mungkin kembali pada Mba Maudi. Aku tahu betul Mas Rian sangat menghargai Mas Rey," ucap Riri.


"Dia bercerita begitu padamu?" tanya Rey.


"Iya. Bahkan Mas Rian juga menjauh dariku. Katanya agar Mba Maudi tidak memarahiku lagi. Mas Rian mau semuanya baik-baik saja. Termasuk dengan hubungan Mas Rey dan Mba Maudi," ucap Riri.


"Menjauh darimu?" tanya Rey.


"Iya," jawab Riri.


"Kalian putus juga?" tanya Rey.


"Apanya yang putus?" tanya Riri.

__ADS_1


"Hubungan kalian," jawab Rey.


"Kita hanya berteman. Tidak lebih," ucap Riri.


__ADS_2