Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Kode


__ADS_3

"Rina, Rina." Rian berteriak beberapa kali memanggil namanya.


Rina yang sedang menyetrika pakaian menggerutu kesal mendengar teriakan Rian yang sangat mengganggunya. Ia sudah mengingatkan Rian agar tidak memanggilnya dengan berteriak. Rian cukup mengetuk pintu dan Rina akan keluar jika memang sedang ada di rumah. Jika tidak ada, berarti ia sedang tidak ada di rumah.


Yang membuat Rina kesal adalah saat Rian tidak mau mengerti ucapannya. Bagi Rian, saat ia membutuhkan Rina, maka Rina harus dengan cepat menemuinya. Ia tidak mau menunggu lama karena itu membuatnya kesal.


"Tadi katanya kamu bertemu dengan teman lama ya? Apa dia di sini?" tanya Rian saat melihat Rina sudah keluar dari rumah.


Rian diam sebentar untuk mencari tahu siapa orang yang Rian maksud. Namun tiba-tiba ia sadar dengan kehadiran Sindi hari ini.


"Ah iya. Dia teman lamaku. Tapi sekarang dia sudah pulang," ucap Rina.


"Aku pikir kamu tidak punya teman selain aku," ucap Rian sambil menahan tawa.


"Kamu temanku?" tanya Rina.


"Memangnya kamu tidak menganggapku teman?" Rian balik bertanya.


"Tapi setahuku yang namanya teman itu saling menguntungkan. Selama kenal kok kamu yang ada selalu bawa masalah sih?" ucap Rina.


"Sialan," ucap Rian kesal.


Rian tidak bisa membela diri, karena memang apa yang diucapkan Rina adalah kenyataan. Ia memang sedang menghadapi masalah yang bertubi-tubi sejak saat itu. Bahkan ia tidak tahu apa jadinya ia tanpa Rina. Karena sampai saat ini, Rina adalah orang yang ia cari saat masalah demi masalah berdatangan dan tak kunjung selesai.


Sebenarnya bukan masalah yang berdatangan, tapi karena ulah Rian sendiri yang membuat masalah itu datang. Ia yang penuh dengan keegoisan ternyata belum siap menanggung kenyataan yang harus dihadapinya.


"Kapan kamu akan menikah?" tanya Rina.


Rian tidak menjawab. Ia hanya memasang muka asam pada Rina. Bahasan tentang pernikahan biasanya akan menjadi bahasan paling menyenangkan baginya. Tapi itu dulu. Saat semua rencana indah itu dirangkai dengan Riri.


Lalu Shelin? Sampai saat ini perasaan Rian untuk Shelin semakin terkikis dan benar-benar nyaris hilang. Tapi ia tidak bisa mengungkapkan semua itu. Ia hanya berusaha bersikap baik pada Shelin dan berharap rasa itu hadir kembali di hatinya.


"Kamu sendiri kapan nikah? Katanya pacaran sudah bertahun-tahun tapi sampai sekarang belum ada kejelasan," ucap Rian yang balik menggoda Rina.


"Eh mohon maaf nih Pak. Tapi saya dan calon suami sedang pesan undangan pernikahan," jawab Rina sambil menunjukkan chat dirinya dengan salah satu percetakan.


"Serius?" tanya Rian.


Merasa ucapan Rina hanya bualan belaka, Rian sampai merebut ponsel Rina. Ia membaca dengan detil setiap chat itu. Kerutan di dahinya membuat Rina hanya bisa menahan tawa.


"Jadi kapan nih? Aku yang duluan gak masalah kan?" goda Rina.


Pertanyaan jebakan. Karena sebenarnya bukan itu yang ingin ia bahas. Ia hanya ingin melihat respon Rian dengan hubungan pertunangannya. Ternyata benar, Rian tidak yakin dengan Shelin. Ia masih mengulur waktu. Memanfaatkan kesibukan di kantornya untuk membuat Shelin tenang.


"Kamu jahat dong kalau begitu," ucap Rina.


"Bukan jahat. Aku hanya sedang memantapkan diri saja," ucap Rian membela diri.


"Kalau belum mantap, kenapa saat itu anak orang sampai kamu lamar? Kasihan tahu dia. Aku lihat dia adalah wanita yang baik," ucap Rina.

__ADS_1


"Sudahlah. Berhenti menyalahkanku. Semua tidak ada yang membelaku," ucap Rian.


"Karena mereka semua sayang sama kamu. Mereka tidak mau kamu merasa benar di atas kesalahan yang sudah kamu perbuat. Apapun itu, tugasmu adalah bertanggung jawab. Dia wanita yang sudah kamu pilih," ucap Rina.


Rina kembali mengamati respon Rian. Dan memang tetap sama. Rian selalu menghindar. Bahkan kalau bisa memutar waktu, Rian tidak akan membuat komitmen apapun dengan Shelin atau wanita lain.


"Aku tahu aku sudah terjebak. Ini semua kesalahanku. Jadi jangan menyalahkanku lagi. Aku cape," ucap Rian.


"Ya sudah kalau kamu cape, kamu pulang dan istirahat." Rina nampak mengambil kembali ponselnya dari tangan Rian. "Kenapa masih di sini?" tanya Rina saat melihat Rian masih menatapnya cemberut.


"Jangan begitu! Kalau aku mau, aku bisa membatalkan pernikahanmu itu. Jadi jangan macam-macam denganku," ancam Rian.


"Aduh, sudah semakin berkuasa saja kamu ya! Aku tidak takut dengan ancamanmu. Kalau kami sudah berjodoh, apapun rintangan yang ada maka kami akan tetap menikah. Kami sudah banyak melewati rintangan selama bertahun-tahun. Hubungan kita sudah teruji," ucap Rina.


"Tunggu dulu," ucap Rian sambil mengangkat telunjuknya tepat di depan bibir Rina.


"Aduh, ini apa sih?" ucap Rina sambil menepis tangan Rian.


"Kamu bilang apa tadi?" tanya Rian.


"Yang mana?" Rina balik bertanya.


"Makanya kalau ngomong jangan panjang-panjang. Jadi lupa sendiri kan?" ucap Rian.


Rina mendengus kesal. Rian memang sering curhat padanya. Namun ujung-ujungnya Rian memang sering mengajaknya ribut. Namun di sisi lain, Rina senang saat Rian mengajaknya untuk berteman. Karena selama ini ia tidak mempunyai teman yang bisa diajak bercerita.


Ada hikmah yang bisa ambil di setiap Rian bercerita padanya. Paling tidak ia bisa bersyukur atas kehidupannya. Seberat apapun masalah yang ia hadapi, ia tidak pernah mendapat masalah seperti Rian.


Rian pamit saat mentari mulai tenggelam di peraduannya. Ia kembali ke rumah kontrakannya. Hari ketiga ia menempati rumah itu, rasa betah mulai ia rasakan. Apalagi saat tidak ada yang membahas tentang keputusannya untuk melamar Shelin.


Bukan tidak ada yang peduli, tapi karena ponselnya rusak dan Rian memutuskan untuk tidak menggunakan ponsel sementara ini. Bahkan semua urusan bisnis ia serahkan pada Manto dan Danu. Sementara ini ia tidak mau pikirannya kacau lagi hanya karena banyaknya orang yang membahas keputusannya itu.


"Aku butuh waktu," gumam Rian sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Selalu kalimat itu yang ia gunakan untuk menenangkan dirinya. Meskipun ia sendiri tidak tahu kapan waktu yang tepat agar ia bisa kembali berdamai dengan perasaannya.


Rutunitas masih Rian jalankn seperti biasanya. Ia tidur lebih awal. Tidak begadang, walaupun alasannya pekerjaan. Ia benar-benar memanjakan tubuhnya, saat kepala dan hatinya memang sedang berperan aktif.


Pagi ini, Rian sudah disambut dengan senyuman hangat dari Shelin. Ia membawakan sebuah tas yang katanya hadiah untuk dirinya.


"Aku tidak berulang tahun," ucap Rian.


"Memangnya kalau memberi hadiah itu harus saat berulang tahun ya?" tanya Shelin.


"Ya bukan begitu. Tapi aneh saja. Kalau bukan hadiah ulang tahun, lalu dalam rangka apa kamu memberiku hadiah?" tanya Rian.


"Tidak perlu ada tujuan tertentu untuk memberi sebuah hadiah. Aku hanya ingin memberikan ini untukmu. Karena aku sangat menyayangimu," ucap Shelin.


Sayang? Tiba-tiba dadanya berdegup kencang. Bahasan rasa sayang membuatnya gugup. Karena yang ia tahu kalau rasa sayangnya sudah mulai terkikis.

__ADS_1


"Ya sudah ini aku terima. Terima kasih banyak ya!" ucap Rian.


"Nah kan kalau begitu enak," ucap Shelin.


"Terus kamu mau kemana?" tanya Rian.


"Aku mau menemanimu hari ini," jawab Shelin.


Menemani? Rian sama sekali tidak menginginkan itu. Ia butuh waktu untuk menumbuhkan kembali rasa itu. Tapi tidak begini caranya dan bukan sekarang waktunya.


"Kamu tidak mengajar ke sekolah?" tanya Rian.


Bentuk pertanyaan yang sebenarnya menolak keinginan Shelin untuk menemaninya di kantor. Namun sayangnya hari ini Shelin sedang tidak ada jadwal mengajar. Jadi ia bisa menemani Rian bahkan seharian penuh.


Rian tidak punya pilihan lain selain mengiyakan. Mereka pun berjalan bersama menuju ruangannya. Tiba-tiba Rian risih sangat tangan Shelin melingkar di lengannya. Namun ia lihat Shelin nampak sangat bahagia. Ia tidak tega menepis tangan yang memegangnya erat itu.


"Pagi Pak," sapa Manto saat Rian dan Shelin masuk ke ruangannya.


Saat Manto tahu calon Nyonya Rian itu ikut, ia memutuskan untuk pindah ke ruangan Danu. Namun Rian melarangnya. Ia tidak mau hanya berdua dengan Shelin di ruangan itu. Tentu akan membuat Rian tidak nyaman. Dan Rian tidak menginginkan hal itu.


Shelin yang terlihat polos sama sekali tidak keberatan saat harus bertiga di ruangan itu. Ia bahkan ikut mengobrol dengan Manto. Meskipun sama sekali tidak mengerti dengan pekerjaan mereka berdua, namun Shelin mencoba membahas hal lain.


Menurut Manto, Shelin tidak pantas untuk dikecewakan. Shelin terlalu baik untuk menjadi korban. Mereka juga terlihat cocok. Sama-sama cerdas dan serasi.


Lama-lama Manto merasa tidak enak sendiri. Karena dibanding dengan Rian, Shelin lebih sering bicara dengannya. Tapi itu lebih baik dari pada Rian mendengarkan omongan Shelin dengan wajah yang tidak suka.


"Permisi," ucap Danu saat jam makan siang.


Sudah menjadi rutinitas, jam istirahat Danu selalu mengantarkan makan siang dari istrinya untuk Manto dan Rian.


"Terima kasih Pak," ucap Manto.


"Aduh tapi maaf saya tidak membawa lebih. Saya tidak tahu kalau Bu bos akan ke sini," ucap Danu.


"Ah, jangan memanggilku Bu Bos. Namaku Shelin. Lagi pula aku juga bisa makan berdua dengan calon suamiku," ucap Shelin dengan sangat lembut.


"Terima kasih untuk pengertiannya. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Danu.


Saat jam istirahat, Rian masih tetap fokus dengan layar laptopnya. Ia benar-benar tidak mau banyak berinteraksi dengan Shelin. Tapi wanita itu tidak peka.


Shelin malah menyuapi Rian karena Rian tidak kunjung istirahat. Manto jadi serba salah. Kasihan melihat Shelin diacuhkan begitu. Belum lagi Manto baper sendiri saat Shelin dengan sabar dan penuh cinta saat menyuapi Rian.


"Pak Manto masih romantis tidak dengan istrinya?" tanya Shelin.


Pertanyaan itu mengingatkan Manto pada keluarganya di rumah. Istrinya bahkan wanita paling romantis yang ada di muka bumi ini. Manto selalu berpikir jika hanya istrinya wanita terbaik yang Tuhan ciptakan.


Shelin ikut senang saat Manto menceritakan kisah rumah tangganya dengan istrinya. Bahkan Shelin ingin berkenalan dengan istrinya Manto. Namun Rian memberi kode agar tidak memberi akses untuk Shelin mengenal keluarga Manto.


Meskipun Manto tidak tahu kenapa Rian memintanya untuk bungkam, tapi ia melakukannya. Ia menahan Shelin agar tidak bertemu dengan istrinya. Padahal istrinya akan sangat senang jika Shelin main ke rumahnya. Namun ia hanya ingin mengikuti keinginan atasannya karena pasti ada sesuatu yang belum Rian ceritakan padanya.

__ADS_1


__ADS_2