
"Mana besanku?" tanya Tuan Felix.
"Masih di luar kota. Mungkin dua hari lagi pulang," jawab Dion.
Bukan salah mereka, karena memang Tuan Felix dan Rian yang memberi tahu kedatangannya ke Indonesia terkesan mendadak. Tadinya ia ingin membuat kejutan, namun sayangnya saat itu kedua orang tua Dion sudah berangkat ke luar kota.
"Semakin akur dengan besannya yang itu?" tanya Tuan Felix.
Mia dan Dion hanya menahan tawanya. Rasanya terlalu banyak kenangan yang tidak perlu mereka ceritakan. Namun semua kenangan itu selalu membuat mereka tertawa bahagia.
Karena merasa lelah dengan perjalanannya, Tuan Felix izin untuk istirahat di kamar. Ia juga mempersiapkan diri, mungkin besok akan ada Sindi dan yang lain ke rumah Mia.
"Papa mana Kak?" tanya Rian pada Mia.
"Apa ke kamar, istirhat. Kamu juga istirahat ya!" ucap Mia.
"Aku masih kangen sama Kakak," ucap Rian.
"Kangen sama aku atau sudah tidak sabar mau curhat?" goda Mia.
Rian hanya bisa tersenyum malu saat Mia bisa menebak apa yang ia maksud.
"Sini duduk!" ucap Mia menepuk kursi di sampingnya.
Rian duduk di samping Mia dan mulai menceritakan semua kegelisahannya. Ini adalah curhat pertama Rian dengan Mia secara langsung. Dengan Mia, Rian tidak menutupi apapun. Ia benar-benar jujur dengan apa yang ia rasakan.
"Rian, kamu ini masih sembilas tahun, belum juga dua puluh tahun. Kisah cintanya berat sekali. Jangan dibuat beban Ri. Jalani saja. Hidupmu masih panjang," ucap Mia.
"Memangnya Kakak dulu nikah umur berapa?" tanya Rian.
Mia menatap Rian dengan kerutan di dahinya.
"Menikah?" tanya Mia kembali.
"Iya. Umur berapa kakak nikah?" Rian mengulang pertanyaannya.
"Kamu sudah memikirkan untuk menikah?" Mia semakin tidak percaya dengan apa yang dipertanyakan Rian.
"Bukannya begitu Kak. Aku hanya bertanya saja. Ya anggap saja sebagai acuan buat aku ke depannya," jawab Rian.
__ADS_1
Rian cukup terkjeut saat mendengar Mia menikah saat usiannya masih tujuh belas tahun. Masih sangat muda. Namun Rian juga belajar jika semua yang belum siap itu dipaksakan maka yang terjadi hanyalah kegagalan.
"Tapi kalau punya pacar boleh kan, Kak?" tanya Rian.
"Punya pacar banyak juga boleh kok. Kamu ini udah dewasa masa tidak punya pacar. Cari dong. Mahasiswa keren dan pintar biasanya banyak yang mengincar," jawab Dion yang tiba-tiba ikut bergabung bersama Rian dan Mia.
"Hustt, jangan ngajarin yang jelek-jelek." Mia menepuk paha Dion yang duduk di samping kirinya.
"Loh, memangnya jawabanku jelek? " tanya Dion.
"Jangan ditanya. Jawabannya bukan cuma jelek, tapi sangat buruk." Mia menatap Dion dengan tatapan tidak suka. "Rian jangan dengarkan ucapan Kak Dion," lanjut Mia.
"Eh, punya pacar banyak itu tidak masalah. Karena yang masalah itu pacarannya. Gaya pacaran yang membuat kata pacar itu jadi wah," ucap Dion.
"Tapi tetap saja. Banyak itu tidak baik. Kalau mau, buat komitmen. Itu pun hanya dengan satu orang saja. Lagi pula Rian masih sangat muda," ucap Mia.
"Udah Kak. Kok malah jadi berdebat begini," ucap Rian menenangkan Mia.
"Dia yang mulai," ucap Mia sembari menunjuk Dion.
"Aku baru gabung sudah disalahkan. Nah ini nih lihat. Kamu kalau mau nikah pikir-pikir dulu. Siap tidak setiap hari disalah-salahin?" ucap Dion sembari berlari menghindari kemarahan Mia.
"Enak saja," teriak Mia.
"Oh ya, Sindi sudah tahu kamu ke sini?" tanya Mia.
"Sudah. Katanya besok baru mau ke sini," jawab Rian.
"Ya sudah, sekalian kabari Maya. Siapa tahu dia ada waktu luang. Jadi kita bisa sekalian ngumpul di sini," ucap Mia.
"Sudah kak. Tapi kata Kak Maya nunggu izin Kak Reza," ucap Rian.
"Semoga bisa ya! Aku rindu ngumpul-ngumpul dengan mereka," ucap Mia.
"Memangnya Kakak kapan terakhir kumpul?" tanya Rian.
"Kalau tidak salah sekitar sebulan yang lalu," jawab Mia.
Rian pikir mereka bisa berkumpul kapanpun mereka mau karena mereka masih berada di wilayah yang dekat. Namun ternyata mereka punya kesibukan masing-masing. Mia juga menjelaskan jika sudah menikah, mereka tidak bisa bebas bertemu. Ada kewajiban-kewajiban lain yang harus mereka urus sendiri.
__ADS_1
Sudah terlalu larut, Rian meminta Mia untuk segera istirahat. Sementara dirinya masih tetap terjaga. Ia tidak mengantuk sama sekali. Perjalanan tidak membuatnya lantas merasa lelah seperti yang dialami oleh Tuan Felix.
Saat tubuhnya sudah terbaring di atas ranjang, kepalanya kembali membuka memory saat bercerita dengan Mia. Ia bangun kembali dan menatap wajahnya di depan cermin. Masih terlalu muda? Lalu usia berapa ia akan menikah?
Mungkin benar, Rian terlalu cepat berpikir tentang pernikahan. Rian yang baru pertama kali jatuh cinta, seolah merasa jika Maudi adalah wanita yang memang ditakdirkan akan hidup bersamanya hingga tua nanti.
Mikir apa aku ini? Bahkan diantara kita saja sudah tidak hubungan apapun. Sadar kamu Ri. Maudi sudah jadi milik Rey.
"Ri, Ri," panggil Sindi.
Rian yang sangat mengenali suara itu tentu segera membuka matanya. Suara orang yang dulu sangat dekat dengannya. Wanita baik sahabat Mia, yang sudah Rian anggap sebagai kakaknya juga.
Rian terkejut saat bangun terlalu siang. Mungkin karena ia tidur terlalu larut malam. Eh tapi, ini belum terlalu siang juga. Atau justru Sindi yang datang terlalu pagi?
Apapun itu, Rian segera membuka pintu saat ia belum sempat ke kamar mandi. Saat pintu kamar terbuka, tangan Sindi sudah merentang bersiap memeluk Rian.
"Benarkah ini Kak Sindi?" tanya Rian sembari mengucek matanya.
Tangan Sindi yang merentang itu menjadi mengepal dan memukuli Rian.
"Kamu bisa tidak jangan bertanya seperti itu? Aku kan jadi badmood pagi ini. Aku ke sini ingin berbahagia karena bertemu kamu kembali. Bukan malah dikata-katai seperti ini," ucap Sindi sembari terus memukuli Rian.
"Ampun Kak ampun. Siapa yang mengata-ngatai Kakak? Aku hanya bertanya saja. Kenapa Kakak jadi sensitif begini?" ucap Rian melakukan pembelaan diri.
Memang wanita itu tidak bisa disinggung soal fisik. Berbeda dengan Mia yang semakin kurus, Sindi juatru memjadi jauh lebih gendut. Bahkan Rian tidak percaya jika orang yang dihadapannya itu adalah Sindi.
"Aku sudah diet ketat. Tidak bisakah kamu menghargai usahaku?" tanya Sindi dengan emosi.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Danu, suami Sindi yang menghampiri keduanya.
"Halo monster ganteng," ucap Rian.
"Rian," ancam Sindi.
Sindi selalu merasa malu sendiri jika Rian mengungkit kisah lalunya yang begitu mencintai Danu saat Danu belum begitu mencintainya. Nama monster ganteng itu diberikan oleh Rian untuk mrngejek Sindi saat itu.
"Jangan cari gara-gara. Masih pagi," ucap Danu mengingatkan.
Rian hanya tersenyum dan segera mandi. Ia senang saat tahu Sindi sudah ada di rumah itu. Artinya, hari ini ia akan menghabiskan watkunya dengan mereka.
__ADS_1
Di bawah guyuran air yang memancar dari shower, Rian membayangkan bahagianya hari ini. Saat menyadari sudah terlalu lama di kamar mandi, Rian segera menyelesaikannya. Setelah merapikan baju dan rambutnya, Rian segera menemui Sindi dan Maya. Namun ia harus bertanya pada orang rumah saat tidak mendapati Mia dan Sindi di rumah itu.
Setelah mendapat informasi tentang keberadaan Mia dan Sindi, Rian segera menemui mereka yang sedang asyik bercerita satu sama lain. Bergabung dan ikut bercerita tentang banyak hal yang ia temui di Jerman.