Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Dengkuran kecil


__ADS_3

Saat ini Manto masih sibuk untuk menenangkan istrinya. Bahkan sampai jam dua belas malam pun, istrinya masih menangis. Padahal Manto sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya pada istrinya. Hal lucu yang membuat Manto senyum sendiri dengan tingkah Rian, ternyata tidak berengaruh apapun untuk istrinya. Istrinya masih marah karena tidak percaya dengan cerita Manto yang dianggap hanya lelucon.


Malam ini Manto baru bisa tidur saat jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Itupun setelah ia berusaha keras sampai berjanji untuk meluangkan waktu di minggu ini khusus untuk istrinya.


"Mama mau weekend ini kita makan malam berdua," pinta istrinya sesaat sebelum tidur.


Manto langsung mengiyakan tanpa berpikir panjang. Bagaimanapun, ia lelah dengan kemarahan istrinya yang menurutnya sangat tidak wajar. Tapi begitulah istrinya. Kalau saja untuk urusan pekerjaan, sampai tidak pulang pun tidak masalah. Tapi kalau sudah urusan wanita, itu akan menjadi masalah besar. Walaupun hanya sekedar becanda saja.


"Tapi kita baikan ya Ma," ucap Manto.


"Tergantung weekend kali ini. Kalau berkesan, Mama tidak marah lagi. Tapi kalau Papa sampai ingkar janji, Mama tidak akan memaafkan Papa." Istri Manto nampak cemberut.


Anggukan kepala Manto membuat istrinya sedikit tersenyum. Apalagi saat Manto memastikan kalau minggu ini tidak akan ada lembur di kantor.


Akhirnya Manto bisa berangkat kerja seperti biasa. Tidak ada lagi beban yang akan mengganggu konsentrasi bekerjanya. Pagi ini ia sudah duduk dengan fokus di bangkunya. Namun sudah hampir dua jam, Rian belum juga datang.


"Pak Rian kemana ya?" gumam Manto.


Tidak seperti biasanya Rian telat tanpa mengabarinya. Biasanya atasannya itu akan selalu mengabari Manto setiap kali ada urusan yang membuat terlambat ke kantor.


Manto tetap bekerja dibalik rasa penasarannya. Pikirannya tentang Rian sudah bercabang ke sana dan ke sini. Berlarian liar dan membuat Manto harus mengusap kasar wajahnya.


"Permisi," ucap Danu.


Suara yang tidak asing itu membuat Manto segera mengangkat wajahnya. Saat Danu masuk ke ruangannya, kalimat yang keluar adalah pertanyaan tentang keberadaan Rian.


"Pak Rian sedang tidak enak badan. Semalam beliau mengerjakan laporan hingga larut malam. Mungkin hanya sekedar masuk angin. Besok pasti sudah masuk lagi," ucap Danu.


Manto ikut sedih saat tahu kalau Rian sedang sakit. Tidak enak badan seperti apa yang dialami Rian? Manto ingin segera mengabari Tuan Felix tentang keadaan Rian, namun ia takut ini akan menjadi beban pikiran untuk Tuan Felix. Untuk saat ini ia harus memastikan dulu tentang sakit yang dialami oleh Rian.


"Kalau boleh tahu, Pak Rian hanya masuk angin biasa kan? Tidak sampai di rawat kan?" tanya Manto.


"Kebetulan saya juga belum tahu pasti. Tapi kata istri saya, Pak Rian hanya demam biasa saja. Semoga keadaannya segera membaik," ucap Danu.


"Ya, semoga. Oh ya terima kasih untuk makan siangnya. Saya jadi malu karena sudah merepotkan begini," ucap Manto.


"Tidak merepotkan, Pak. Santai saja," ucap Danu sambil pamit kepada Manto.


Setelah Danu keluar dari ruangannya, Manto menatap kotak makan siang yang dikirim Danu. Tidak lama, matanya menatap meja di depannya yang kosong. Biasanya ia akan makan siang ditemani oleh Rian.


Suasana yang berbeda terjadi siang ini. Manto makan siang sendirian. Ia masih memikirkan sakit yang dialami oleh Rian. Apakah benar karena mengerjakan pekerjaan kantor? Atau karena memikirkan hubungannya dengan kekasihnya itu?


Ah sudahlah. Manto menggelengkan kepalanya dan melanjutkan makan siangnya. Ia tidak mau terlalu kepo urusan Rian. Ini bukan lagi tentang kekhawatiran, tapi sudah rasa ingin tahu urusan Rian. Dan itu tidak baik untuk hubungan antara atasan dan bawahan. Ia takut Rian salah mengartikan keingintahuannya itu.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Manto terus memikirkan keadaan Rian. Bagaimanapun ia harus tahu keadaan atasannya. Apalagi ia dititipi amanat untuk selalu mengabarkan kegiatan Rian selama di kantor.


Sebelum jam kerja selesai, Manto menelepon istrinya. Ia meminta izin untuk menjenguk Rian. Meskipun sempat berdebat karena istrinya menudingnya macam-macam, akhirnya ia mendapat izin juga.


"Mau kemana Pak? Kok buru-buru?" tanya Danu yang berpapasan dengan Manto di parkiran.


"Mau ke rumah Pak Rian, Pak. Saya harus memastikan Pak Rian baik-baik saja. Saya khawatir," jawab Manto.


"Saya ikut kalau begitu," ucap Danu.


"Ayo Pak!" ajak Manto.


Dua mobil berjalan beriringan menuju rumah Rian. Lebih tepatnya rumah Nyonya Helen karena sampai saat ini Rian masih tinggal bersama kedua orang tua angkatnya itu. Rencana pembelian rumah baru untuk Rian belum terealisasikan.


"Permisi," sapa Manto saat Nyonya Helen menyambut kedatangannya.


"Mama," ucap Danu pelan sambil mencium tangan Nyonya Helen.


Mama? Panggilan Danu pada Nyonya Helen membuat Manto bertanya-tanya. Namun kali ini ia bersikap lebih tenang dan seolah tidak peduli. Padahal ia sendiri tengah menyocokkan cerita yang pernah ia dengar dengan kenyataan yang sedang ada di hadapannya.


"Silahkan masuk!" ucap Nyonya Helen.


Manto sama sekali tidak merespon Nyonya Helen berlebihan. Ia tahu kalau wanita itu tengah membuat Danu tidak nyaman. Ia semakin miris dengan kenyataa kehidupan Danu.


Pak Danu hebat. Bisa-bisanya bersikap santai. Padahal jelas-jelas mertuanya itu sangat dingin.


"Kami hanya ingin melihat kondisi Bapak," jawab Manto.


"Saya baik-baik saja Pak. Maaf jadi merepotkan," ucap Rian.


"Tidak Pak. Sama sekali tidak merepotkan," jawab Manto.


"Syukurlah kalau kamu sudah membaik. Aku boleh video call sama Sindi?" tanya Danu.


"Oh boleh Kak, boleh." Rian segera duduk di tepi ranjangnya.


"Sayang, aku sedang di rumah Rian. Nih," ucap Danu sambil mengarahkan kamera pada Rian.


"Ri, kamu baik-baik saja?" tanya Sindi.


"Baik," jawab Rian sambil mengangkat jempol tangannya.


Manto melihat kedekatan Sindi dan Rian. Ia tersenyum melihat warna warni hidup Rian. Atasannya memang tidak mempunyai ayah dan ibu. Tapi kedekatan Rian dengan keluarga Dion membuat Rian justru merasa Rian tidak sendiri. Rian memiliki keluarga besar yang sangat peduli padanya.

__ADS_1


Tidak lama Nyonya Helen mssuk ke kamar Rian. Ia dengan sengaja menunjukkan kedekatannya dengan Rian. Bahkan sesekali ia membandingkan Rian dengan Sindi secara terang-terangan. Hal itu terjadi karena tiba-tiba Nyonya Helen ingat kelakuan Nyonya Nathalie saat melihat wajah Danu.


"Pak, ini sudah terlalu sore. Sebentar lagi mulai gelap. Apa sebaiknya kita pulang sekarang?" tanya Manto.


Manto memang sangat menyelamatkan Danu dari sinisnya ucapan Nyonya Helen. Berkat Manto, akhirnya Danu bisa bernapas lega. Ingin rasanya Danu mengucapkan terima kasih atas ajakan Manto untuk pulang. Namun Danu tidak mau jika Manto justru menjadi tahu apa yang seharusnya tidak diketahui siapapun.


Suara klakson keduanya tanda salam perpisahan. Mereka pergi ke arah berlawanan, menuju rumah masing-masing. Dengan perasaan berbeda, keduanya membawa cerita sendiri untuk istrinya di rumah.


Malam ini menjadi malam yang penuh cerita di rumah Danu dan Manto. Sebagai pasangan suami istri, yang terjadi malam itu mereka saling menguatkan dan mengingatkan. Akan ada pelangi setelah hujan.


Keesokan paginya mereka kembali bertemu di parkiran. Danu berusaha memasang wajah datar dan nampak tidak ada apa-apa. Ia tidak ingin Manto bertanya tentang kejadian kemarin di rumah Nyonya Helen.


"Pagi Pak," sapa Manto.


Manto adalah orang yang berusaha untuk tidak tahu urusan orang. Meskipun pada kenyataannya, ia selalu saja berada di sekitar masalah orang lain.


"Pagi," ucap Danu dengan senyum ramah.


Saat Manto mengajaknya masuk ke kantor, ada perasaan lega. Akhirnya ia terbebas dari pertanyaan sulit yang mungkin akan keluar dari mulut Manto.


"Pak Rian?" tanya Manto terkejut.


Manto nyaris tidak percaya jika Rian sudah sada di ruangannya pagi ini. Ia segera melihat pergelangan tangannya yang legam. Ini masih pagi. Bahkan belum jam masuk kantor. Dan Rian tidak biasanya sudah di kantor sepagi itu.


"Hai Pak Manto. Sehat?" tanya Rian.


Bukannya menjawab pertanyaan Rian, Manto justru meminta maaf atas keterlambatannya. Secara jam kerja, Manto memang tidak kesiangan. Tapi pada kenyataannya, Rian sebagai atasannya sudah ada di ruangan sebelum ia datang.


Rian hanya tertawa dan bersikap santai. Mulai hari ini ia memang sedang berusaha untuk bisa berangkat lebih pagi dari biasanya. Perlahan tapi pasti namun ia yakin bisa mengimbangi cara kerja Manto dan Danu.


Benarkah itu alasannya? Mungkin benar. Tapi ada alasan lain yang membuatnya memaksakan diri untuk berubah. Berusaha lebih sibuk dari biasanya adalah salah satu cara yang bisa ia lakukan, agar perlahan bisa mengikis rasa kecewanya.


Tentu saja kecewa pada Riri karena keputusannya yang mengundur kepulangan ke Indonesia selama satu tahun lagi. Bukan waktu yang singkat, satu tahun. Waktu dimana ia sendiri tidak tahu harus bertahan atau justru menyerah.


Kegelisahan itu mulai menyelinap lagi saat tidak sengaja ia melihat folder di laptopnya yang menyimpan beberapa foto Riri. Saat itu ia selalu menggunakan foto itu untuk melepas rindu. Tapi saat ini keadaan sudah berbalik. Rian merasa kekecewaan itu semakin menjadi setiap kali melihat foto Riri.


Dengan sangat yakin ia menghapus foto itu dari laptopnya. Upaya lain untuk melupakan bayangan Riri yang menghiasai pikirannya saat ini, Rian membawa laptopnya ke sofa. Dengan kaki selonjoran, ia kembali bekerja.


Nah, kalau tenang begini kan aku bisa konsentrasi kerjanya.


Terlalu nyaman dengan posisi duduknya, Rian bahkan lupa kalau ia sedang bekerja. Tiba-tiba hanya dalam hitungan detik ia terlelap dengan laptop di pangkuannya. Manto yang mendengar suara dengkuran kecil sampak tersentak.


Manto berjalan mendekat. Ia memastikan apakah pikirannya benar-benar terjadi atau ini hanya imajinasinya saja. Namun setelah semakin dekat, ia semakin yakim kalau dengkuran kecil itu bersumber dari Rian.

__ADS_1


Astaga! Bisa-bisanya Pak Rian ketiduran di sini. Mana sampai mendengkur begitu lagi.


Ketukan pintu dari Danu pun sama sekali tidak membuat Rian terbangun. Ia tetap terlelap dengan dengkuran kecilnya.


__ADS_2