
Hari sudah semakin sore, keempat anak itu sudah berpamitan. Riuh di ruangan kini berganti dengan sepi. Apalagi saat Raazi sedang tertidur pulas.
"Mas," panggil Riri.
"Iya," sahut Rian dan menatap wajah Riri.
"Mama Helen malam ini tidak ke sini kan?" tanya Riri.
"Memangnya kenapa?" tanya Rian dengan kerutan di dahinya.
"Mas bisa minta Mama Risa datang ke sini kan?" pinta Riri.
"Tapi dia sama Rara," ucap Rian.
"Bilang sama Mama biar Kak Rara tidak ikut," ucap Riri.
Rian belum bisa mengambil keputusan. Ia masih diam dan melihat Riri. Nampak wajah cantik itu diam dan menunduk. Jelas terlihat kesedihan dan kekecewaan. Sampai akhirnya jari Rian memerintah anak buahnya untuk membawa mertuanya ke rumah sakit.
Hanya butuh waktu kurang lebih satu jam, Bu Risa sudah mengetuk pintu ruangan tempat Riri bersalin. Saat mendengar suara Bu Risa, Riri nampak tersenyum. Apalagi saat netranya menatap sosok wanita nomor satu dalam hidupnya, Riri terlihat sangat bahagia.
"Mamaaaa," ucap Riri sambil merentangkan tangannya dengan sangat lebar.
Pelukan Riri bersambut. Melihat mereka tengah melepas rindu dan berbagi kebahagiaan, Rian sengaja keluar. Ia harus memberi ruang dan waktu pada mereka berdua.
"Kamu?" ucap Rian sambil menunjuk Rara.
Rian tentu terkejut saat melihat Rara tengah duduk di depan ruangan Riri.
__ADS_1
"Kenapa? Aku tidak masuk dan menemui Riri. Aku hanya menunggu Mama," ucap Rara yang segera memberi penjelasan tentang keberadaannya.
Rian diam. Ia duduk di samping Rara. Tidak terlalu dekat, ada satu bangku kosong yang sengaja Rian tinggalkan. Ia tidak mau kedekatannya dengan Rara akan membuat salah paham.
"Masuklah," ucap Rian tanpa melihat wajah Rara .
Rara yang bingung dengan ucapan Rian, langsung melirik ke arah adik iparnya itu. Tidak ada raut senang saat Rian mempersilahkannya untuk masuk.
"Tidak perlu. Mendengar kabar ini saja, aku sudah cukup bahagia. Kesalahanku masih terlalu banyak. Aku akan menebusnya perlahan dan menemui keponakanku nanti setelah aku pantas," ucap Rara.
Kini giliran Rian yang melirik Rara. Namun mereka tidak sempat beradu pandang karena Rara sudah menunduk saat mengucapkan kalimat itu. Rian tidak banyak bicara. Ia hanya berusaha memahami ucapan Rara.
"Rian, terima kasih banyak ya. Mama pulang dulu," ucap Bu Risa.
"Kok cuma sebentar?" tanya Rian.
"Kasihan Rara," jawab Bu Risa. "Ayo Ra!" ajak Bu Risa pada Rara.
"Sayang," panggil Rian memastikan.
"Mas, lihat ini!" ucap Riri sambil memberikan kertas itu pada Rian.
Dengan wajah bingung Rian mengambil kertas itu. Matanya menatap Riri penuh tanya.
"Jadi Kak Rara sudah berubah. Dia mau mengakui Raazi jadi keponakannya," ucap Riri dengan sangat senang.
Rian ikut tersenyum. Ia senang saat melihat istrinya senang. Namun menurut Rian, terlalu sederhana rasanya tingkat kebahagiaan Riri. Tanpa Rara mengakui Raazi sebagai keponakannya pun, sebenarnya tidak akan mengubah apa-apa.
__ADS_1
Kedatangan Bu Risa dan Rara ternyata sampai ke telinga Nyonya Helen. Perdebatan mulai terjadi karena kekhawatiran Nyonya Helen yang berlebih pada Riri. Sepengetahuannya, Rara adalah wanita jahat dan selalu membuat Riri menangis. Namun saat mendengar penjelasan Riri dan membaca isi surat itu, Nyonya Helen pun ikut tersenyum.
"Kehadiran Raazi memang pembawa kedamaian," ucap Nyonya Helen setelah selesai membaca surat dari Rara.
Perlahan, hubungan dua keluarga sudah mulai mencair. Rara sudah mulai diperbolehkan menjenguk Riri meskipun belum ada izin untum menggendong Raazi. Tidak apa-apa, semua butuh waktu.
Waktu yang berlalu tidak disia-siakan oleh Rara. Ia yang sudah resmi bercerai dengan suaminya yang tidak lain adalah mantan pacar adiknya sendiri, selalu meluangkan waktunya untuk menemui Riri. Ia tidak berani menanyakan Raazi apalagi meminta untuk menggendongnya. Rara hanya yakin jika Nyonya Helen akan memberikan kesempatan itu setelah yakin dengan perubahan dirinya.
Lama memang, bahkan sudah hampir satu tahun Rara masih belum berani menyentuh Raazi. Tidak ada kemarahan sama sekali di hati Rara. Ia sudah sangat mengerti kekhawatiran Nyonya Helen. Meskipun kadang ia merasa lelah dan mau menyerah.
"Nyonya Helen itu baik. Percaya sama Mama, dia pasti akan memberikan kesempatan itu," ucap Bu Risa saat mendengar keluhan Rara.
Ucapan Bu Risa memang benar. Tidak lama setelah itu, Nyonya Helen merasa Rara sudah cukup membuktikan penyesalannya. Ia memberikan Rara waktu untuk bisa menggendong Raazi. Bahkan Nyonya Helen juga meminta Rara untuk bergabung di butik milik Riri.
Kebahagiaan Riri kian bertambah. Rasanya ia sudah menjadi manusia paling beruntung di dunia ini. Keutuhan keluarganya dan keharmonisan kedua keluarga itu membuat Riri merasa sudah tidak ada ruang untuk kesedihan dalam dirinya.
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Butik yang beru buka dua tahun itu kini sudah semakin naik daun. Banyak sekali kalangan atas yang menggunakan jasa butiknya untuk berbagai busana yang dibutuhkan.
Masuknya Rara di butik milik Riri, membuat Maya sangat terbantu. Mereka nampak sangat kompak dalam mengelola butik itu. Riri yang masih fokus dengan Raazi lebih mempercayakan semua itu pada keduanya.
Bermodalkan kejujuran dan kepercayaan, semua berjalan sangat baik. keluarga Rian sedang berada di atas awan. Keluarga dan perusahaannya tengah dielu-elukan oleh beberapa media yang memuat berita tentang mereka.
Sampai saat ini, berita yang dimuat tidak ada yang negatif. Masih selalu positif dan membuat mereka tidak terganggu sama sekali. Bahkan keempat keponakan Rian pun tak jarang ikut serta dalam berita yang beredar.
Kini, keempat remaja itu sudah bersiap masuk ke sekolah menengah pertama. Ganti seragam dan tentunya akan ganti segalanya. Perbedaan jenjang sekolah tentu akan membuat semua berubah. Naura yang lebih cepat puber kini sudah menggandeng seorang pria yang dengan tegas diakuinya sebagai pacar.
Status pacaran anak remaja labil yang membuat Riri tersenyum setiap kali mendengar curhatan Naura. Naura memang sengaja sering mampir ke rumah Riri. Membawakan apa saja yang akan ia beli dari sisa uang jajan yang ia kumpulkan. Tentunya untuk bayi tampan yang diberi nama Raazi.
__ADS_1
"Ya ampun Naura, jangan repot-repot. Kalau mau main ya main saja. Jangan bawa oleh-oleh begini," ucap Riri saat sebuah tas belanjaan bermerk ia terima dari Naura.
Naura mengabaikan ucapan Riri dan memilih untuk segera memburu Raazi yang tengah tertidur. Ia paling suka mengganggu Raazi hingga menangis dan membuat Riri menggelengkan kepalanya.