
Dion nampak begitu cemas. Namun ia juga harus bersikap tenang agar Riri tidak semakin gelisah. Ia tahu saat ini Riri adalah orang yang paling hancur. Jika saja ayahnya tidak hadir, ia tidak bisa membayangkan bagaimana sakit dan kecewanya Riri.
"Kamu tenang ya," ucap Rian.
Riri hanya bisa diam. Air matanya mulai berlinang. Nyaris jatuh namun akhirnya Riri bisa menahan air mata itu saat suara ayahnya terdengar nyata di telinganya.
"Papa," ucap Riri dengan suara bergetar.
"Maafkan Papa karena terlambat. Tapi Papa sudah di sini. Papa akan membuktikan ucapan Papa. Kamu akan Papa nikahkan hari ini," ucap Tuan Felix.
Pelukan hangat seorang ayah pada anaknya yang akan menikah membuat haru setiap mata yang melihatnya. Tidak sedikit orang yang meneteskan air mata saat menyaksikan kejadian itu. Mereka semua melihat betapa bahagianya Riri saat melihat kedatangan ayahnya.
"Bisa dimulai sekarang?" tanya penghulu memecah keheningan.
"Ya bisa, bisa. Ayo kita mulai," ucap ayahnya Riri.
Pertama kalinya Rian menjabat tangan pria yang sudah melahirkan wanita pujaan hatinya. Bahkan untuk pertama kalinya ia merasa pria itu benar-benar yakin.
SAH.
Ucapan keras yang terdengar dari setiap orang yang hadir membuat Rian mengangkat kedua tangannya. Ia bersyukur atas semua nikmat hari ini yang begitu luar biasa. Rasa bahagia tumpah dalam hidupnya saat wanita di sampingnya mencium punggung tangannya. Lalu ia mencium dahi Riri. Seorang wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.
"Mas, terima kasih sudah menjadi pelengkap dalam hidupku. Jadikan aku yang terbaik untukmu," ucap Riri.
"Kau yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih banyak atas kesediaanmu untuk mendampingi hidupku. Menerima semua kekuranganku. Menghabiskan sisa hidupmu denganku," ucap Rian.
"Selamat sayang," ucap Nyonya Helen saat keduanya memeluk secara bergantian.
"Terima kasih Ma. Akhirnya aku bisa membuat Mama bahagia. Ini wanita pilihanku Ma. Riri adalah wanita yang aku pilih untuk menemani perjalanan hidupku selanjutnya," ucap Rian mengenalkan Riri sebagai istrinya.
"Salam kenal Mama Helen. Aku memang sudah sedikit mengenal Mama. Tapi aku tidak tahu apapun tentang Mama. Maafkan aku jika bersikap tidak berkenan Ma," ucap Riri.
__ADS_1
Mendengar tutur kata Riri yang begitu lembut, Nyonya Helen yakin jika wanita yang Rian pilih memang tepat. Belum lama memang ia mengenal Riri, namun beberapa cerita sempat ia dengar.
"Kita sama-sama belajar untuk saling mengenal satu sama lain ya," ucap Nyonya Helen.
Tidak hanya Nyonya Helen, Tuan Wira dan Tuan Felix pun ikut bergabung dengan obrolan itu. Mereka ikut mengucapkan selamat atas penikahan Rian dan Riri.
Mia dan Dion masih sibuk menyambut tamu yang mulai datang hingga belum bicara secara khusus dengan kedua pengantin baru itu. Sedangkan Naura dan Narendra, mereka berdua masih sibuk menikmati pesta yang digelar cukup mewah itu.
Alunan musik yang mulai mengalun membuat mereka menghentikan obrolannya. Saat tamu mulai menyalami mereka berdua, keduanya selalu menunjukkan senyum bahagianya. Bahkan seorang ayah yang sudah selesai menjalankan tugasnya terus menatap anak dan menantunya.
Senyuman lebar juga terpasang pada bibir ayahnya Riri. Ia tentu ikut senang saat anak bungsunya menikah. Satu tugas sudah selesai. walaupun saat pulang ke rumah, akan ada masalah besar yang harus ia hadapi. Ah sudahlah. Saat ini yang ia butuhkan hanya melihat Riri bahagia.
Pesta berlangsung begitu meriah. Semua bahagia dengan kebahagiaan Rian dan Riri. Bahkan Dion dan Mia menjadikan momen ini untuk reuni bersama Sindi dan Maya beserta suaminya. Bukan hanya mereka, tapi anak-anaknya pun ikut bahagia saat mereka dipertemukan.
Acara yang seharusnya dibuat untuk pesta ulang tahun Naura dan Narendra kini jadi pesta pernikahan Rian dan Riri. Tidak masalah, karena anak kembar itu ikut merasakan kebahagiaan yang begitu besar hari ini.
Reza memeluk Dion dengan erat. Persahabatan yang tak lekang oleh waktu dan jarak itu membuat Danu terenyuh. Karena ia sendiri tidak memiliki sahabat seperti itu. Selama ini ia hanya berteman biasa saja. Tidak ada yang spesial seperti Reza di mata Dion ataupun sebaliknya.
Setelah perkenalan itu, Reza dan Danu terlibat obrolan hangat. Keduanya terlihat akrab dalam waktu yang sangat singkat. Hal itu tentu membuat Mia sedikit lega. Karena saat Danu seolah terasingkan, Mia merasa tidak enak pada Sindi.
"Sin, May, kita di sana yu!" ajak Mia menunjuk salah satu meja yang kosong.
Ketiganya menuju meja itu dan saling mengobrol. Sesekali ketiganya menatap pengantin yang tengah berada di pelaminan dengan senyum cerianya.
"Jadi ingat waktu kita muda dulu ya," ucap Sindi.
"Dih, kalau aku sih sampai sekarang juga masih muda." Mia menepuk bahu Sindi.
"Eh iya aku juga. Maksudnya ingat waktu kita menikah dulu," ucap Sindi.
Maya tidak banyak komentar. Ia hanya ikut tertawa dan berbaur. Padahal sebenarnya ia sedang menyembunyikan perasaan sedihnya. Bagaimana tidak, ia tidak mengalami pesta pernikahan mewah seperti itu karena beberapa faktor.
__ADS_1
Semakin lama, tamu datang silih berganti. Sampai akhirnya Mia melihat Manto datang untuk mengucapkan selamat. Ia juga terlihat menghampiri Danu untuk menyalaminya.
Waktu terus bergerak sampai akhirnya pesta sudah usai. Tiga keluarga kecil yang tengah mengadakan reuni segera menghentikan sementara obrolan itu karena bersiap untuk pulang. Tapi jangan khawatir karena mereka akan melanjutkan bahasan itu setelah sampai di rumah Mia
"Rian, Mpus kami pamit dulu ya. Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian. Maaf kalau aku tidak mengantarmu ke rumah Mama. Aku akan langsung pulang karena Sindi dan Maya harus istirahat," ucap Mia saat pamit pada kedua pengantin baru.
"Tidak apa-apa. Sekali lagi terima kasih untuk pesta pernikahan impian ini," ucap Rian sambil memeluk Mia.
Perlahan gedung semakin sepi. Sampai akhirnya menyisakan beberapa keluarga inti saja. Hanya ada orang tua mereka dan para pengisi acara yang sedang bersiap untuk pulang.
"Pah, terima kasih sudah hadir dan membuat hari ini menjadi sangat berarti. Hari ini tidak akan pernah bisa aku lupakan. Sekali lagi terima kasih banyak ya Pah," ucap Riri.
"Jangan seperti itu. Ini sudah menjadi kewajiban Papa. Justru Papa malu karena datang terlambat. Beruntung ada Tuan Felix yang bisa membawa Papa ke sini. Papa juga tidak membawa apapun. Papa hanya punya ini," ucap ayahnya Riri.
Riri menerima sebuah kotak kecil yang diberikan ayahnya. Cincin kecil bertuliskan huruf R membuat hatinya bergetar. Cincin yang sejak kecil menemaninya hingga akhirnya harus dijual karena desakan kebutuhan ekonomi.
"Dari mana Papa punya cincin ini?" tanya Riri sambil memakai cincin itu.
Cincin kecil yanh hanya cukup di kelingkingnya itu tidak lebih dari satu gram. Harganya tidak seberapa. Namun kenangannya begitu luar biasa. Riri sampai meneteskan air mata saat melihat cincin itu sudah kembali lagi.
"Tidak penting dari mana Papa mendapatkannya. Mungkin itu juga bukan cincin kamu waktu kecil. Tapi Papa tahu kamu memiliki kenangan tersendiri dengan cincin itu," ucap ayahnya.
Riri tersenyum. Ya, cincin itu memang sangat berkesan. Cincin yang hadir saat keluarganya masih sangat hangat. Saling mendukung dan menyayangi. Tidak seperti hari ini, saling menikung dan menyakiti.
"Nyonya, saya titipkan anak saya. Saya harap dia disayangi seperti anak Nyonya sendiri. Sudah cukup beban hidupnya sampai hari kemarin. Mulai sekarang dan seterusnya saya yakin Riri akan bahagia dengan Nyonya dan yang lain," ucap ayahnya saat akan pamit pada kedua orang tua angkat Rian.
"Saya yang seharusnya berterima kasih. Berkat anak baik dan cantik ini, anak saya begitu bahagia. Kebahagiaan anak saya adalah sumber kebahagiaan juga bagi saya Pak. Dan jangan menyebut saya Nyonya. Kita kan besan," ucap Nyonya Helen.
Rasa malu karena merasa tidak satu kasta dengan keluarga Nyonya Helen membuat ayahnya Riri sempat minder. Namun Nyonya Helen dan Tuan Wira meyakinkan jika mereka semua sama.
"Baik kalau begitu, terima kasih banyak ya Pak besan dan Bu besan," ucap ayahnya Riri.
__ADS_1
Terima kasih juga tidak lupa ia sampaikan pada Tuan Felix yang sudah berhasil membawanya ke gedung itu. Jika tidak ada Tuan Felix, ia tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Mungkin ia akan menjadi orang yang paling bersalah seumur hidupnya.