
Saat Rian tersadar, ia merasa pusing di kepalanya sudah mulai hilang. Ia melihat ke sekeliling, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Tenggorokannya terasa kering. Ia melihat gelas terletak di samping tempat tidurnya.
"Apa ini?" tanya Rian saat menemukan sebuah kertas di samping gelas.
Rian menunda minumnya. Ia lebih tertarik untuk melihat isi surat itu. Matanya mulai berkaca saat membaca kata demi kata yang ada di kertas itu.
"Terima kasih Kak," gumam Rian.
Tidak lama, seorang perawat masuk ke dalam ruangan Rian untuk memeriksanya. Ia mengamati wajah perawat itu. Bukan wajah perawat yang ia kenal.
"Rina kemana?" tanya Rian.
"Rina?" perawat itu balik bertanya.
"Ya, Rina. Dia perawat di sini kan?" tanya Rian.
"Iya, Tuan. Apa dia membuat masalah? Apa dia cari perhatian kepada Anda Tuan?" tanya perawat itu.
Rian mengernyitkan dahinya. Dari penjelasan perawat itu, Rina adalah seorang perawat centil yang suka menggoda pasien laki-laki. Apalagi laki-laki kaya dan tampan seperti Rian.
Wajah perawat itu memang jauh lebih cantik dibanding Rina. Tapi ia merasa Rina jauh lebih tulus. Semua ucapan perawat itu berbanding terbalik dengan penilaiannya terhadap Rina.
"Terima kasih untuk informasinya," ucap Rian untuk menyudahi semua ucapan buruk perawat itu tentang Rina.
Perawat itu terus menjelek-jelekkan Rina pada Rian. Hal itu membuat Rian kesal. Ia menatap perawat itu dengan tatapan tidak suka. Sadar akan tatapan Rian yang tidak biasa, perawat itu akhirnya bungkam sampai ia selesai memeriksa keadaan Rian.
"Permisi Tuan," ucap perawat itu.
Rian sama sekali tidak menjawab ucapan perawat itu. Ia hanya memalingkan wajah untuk memberi tahu kekesalannya. setelah cukup lama, seorang dokter masuk. Ia berusaha tersenyum meski hatinya masih kesal atas sikap perawat itu.
"Siang," ucap dokter paruh baya yang terlihat sangat ramah.
"Siang Dok," ucap Rian.
"Masih pusing?" tanya dokter.
"Tidak Dok. Sepertinya saya sudah sembuh," jawab Rian.
"Syukurlah. Kalau tidak ada keluhan apapun, sore ini Anda boleh pulang." Dokter itu kembali melempar senyum pada Rian.
"Terima kasih," ucap Rian.
Dokter itu keluar setelah memastikan jika Rian memang sudah membaik. Ia menuliskan beberapa resep yang harus dikonsumsi oleh Rian saat di rumah. Selain itu, administrasi dan urusan yang lain sudah dipersiapkan oleh pihak rumah sakit.
Sore hari Mia dan Dion sudah sampai di rumah sakit. Rian sudah terlihat duduk di sofa dengan tangan yang lepas dari selang infus.
"Ri," sapa Mia dengan wajah bingung.
"Aku sudah boleh pulang Kak. Tadinya mau pulang sendiri, tapi pihak rumah sakit melarangku. Jadi aku menunggu kalian sejak siang tadi," ucap Rian.
Mia memang tidak bertanya, namun Rian sudah tahu arti dari wajah bingung yang ditunjukkan oleh Mia dan Dion. Untuk pihak rumah sakit yang menahan Rian untuk pulang sendiri, itu memang pesan Mia. Mia tidak mengizinkan Rian keluar rumah sakit tanpa persetujuannya. Sekalipun hanya untuk mencari angin atau alasan apapun.
"Kamu benar-benar sudah sehat?" tanya Dion.
"Dokter sudah memeriksaku Kak," jawab Rian.
__ADS_1
Rian bahkan menunjukkan hasil pemeriksaan dokter siang tadi. Hanya saja Rian memang harus kontrol seminggu sekali untuk memantau keadaannya.
Dion dan Mia segera membawa Rian untuk pulang. Namun saat menyelesaikan administrasi, Rian meminta izin untuk menemui seseorang. Meskipun mereka tidak tahu siapa yang ditemui Rian, namun keduanya memang terlihat sangat akrab.
"Rina," panggil Rian.
Rina yang baru saja keluar dari ruangan, melihat Rian dan menyapa lembut. Ia ikut senang saat melihat Rian sudah bisa pulang.
"Masukkan nomor ponselmu!" ucap Rian.
Rian memberikan ponselnya. Sedangkan Rina hanya diam. Ia memilih untuk menyebutkan nomir ponselnya dengan suara yang cukup keras.
"Kamu tidak takut nomormu jadi tersebar?" tanya Rian.
"Siapa yang mau menghubungiku? Aku sama sekali bukan orang penting," jawab Rina sambil tertawa.
"Sebutkan juga nomor pacarmu!" pinta Rian.
"Mana ponselmu!" pinta Rina.
Rian memberikan ponselnya.
"Kenapa kamu tidak berani menyebutkan nomor ponsel pacarmu? Karena dia tampan ya?" goda Rian.
"Karena dia limited edition. Bahaya kalau diambil orang. Stok satu-satunya yang aku punya," jawab Rina sambil tertawa.
Rian ikut tertawa mendengar jawaban Rian. Keakraban mereka tentu mengundang perhatian. Bukan hanya Mia dan Dion, tapi teman-teman Rina juga menatapnya dengan berbagai pemikiran.
Setelah Rian pulang, Rina menjadi pusat perhatian. Bahkan dokter pun memanggil Rina dan menegurnya. Rina mengangguk dengan penuh kesedihan. Ia tidak menyangka kedekatannya dengan Rian akan banyak mendapat penolakan.
Rina tidak punya tempat lain untuk bercerita. Ia hanya punya kekasihnya yang jauh di sana. Tidak ada yang ia tutupi dari kekasihnya. Bahkan cerita tentang Rian pun sudah ia ceritakan pada kekasihnya. Sempat cemburu, namun Rina meyakinkan kekasihnya kalau kecemburuannya tidak beralasan.
Seperti yang Rina ceritakan, Rian memang oria ramah dan baik. Bahkan sebelum menelepon Rina, Rian menghubungi kekasihnya dulu dan meminta izin padanya.
"Saya yakin Rina akan selalu dikelilingi orang baik. Dan saya harap keyakinan saya tidak meleset," ucap kekasih Rina.
"Jangan khawatir. Aku yakin cinta Rina hanya untukmu," ucap Rian.
Setelah mendapat izin dari kekasihnya, Rian menelepon Rina. Namun sayangnya panggilan Rian diabaikan. Bahkan sudah tiga kali panggilannya tidak dijawab sama sekali oleh Rina.
Rian berpikir jika Rina sedang bertugas atau mungkin sedang istirahat, hingga tidak bisa menjawab panggilannya. Padahal sebenarnya Rina sengaja tidak menjawab panggilan Rian. Rina memang tidak pernah berkomunikasi sembarangan dengan orang yang tidak ia kenal.
Kekasihnya memberi tahu panggilan dari Rian yang meminta izin padanya. Rina langsung mengecek nomor baru yang menghubunginya. Ia baru tahu kalau nomor itu adalah Rian. Setelah mendapat izin dari kekasihnya, Rina kembali menghubungi Rian dan meminta maaf karena mengabaikan panggilannya.
"Ya ampun, setia sekali kamu. Belum tentu pacarmu juga setia padamu," ucap Rian.
"Jangan mencoba membuatku tidak yakin padanya," ucap Rina.
"Buktinya dia langsung menjawab panggilanku," ucap Rian.
Pria itu memang bekerja di bidang penjualan jasa. Setiap hari selalu ada yang menghubunginya untuk menggunakan jasanya. Maka tidak aneh jika ia selalu menjawab setiap panggilan baru di ponselnya. Karena memang nomor ponselnya tercantum di setiap brosur yang dibagikan nyaris setiap harinya.
"Kamu jangan terlalu percaya sama pacarmu," ucap Rian.
"Kalau tujuanmu menelepon hanya sekedar menjadi kompor lebih baik kamu akhiri panggilan ini," ucap Rina kesal.
__ADS_1
Rian tertawa mendengar nada Rina yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Ternyata Rina tidak seramah saat di rumah sakit. Karena bercerita tentang rumah sakit, akhirnya Rina tanpa sengaja menceritakan kejadian sore tadi. Bagaimana ia diperlakukan setelah terlihat begitu akrab dengan Rian.
"Mereka begitu padamu?" tanya Rian.
"Iya," jawab Rina.
"Kenapa?" tanya Rian.
"Entahlah," jawab Rina.
Selama ini kehadiran Rina memang tidak diterima dengan begitu baik di sana. Mungkin karena wajah Rina yang tidak seberapa cantik namun berhasil menarik simpati dari banyak pasien karena ketulusannya.
"Memangnya berapa pasien laki-laki yang nyantol sama kamu?" tanya Rian.
"Enak saja. Pasienku semua baik dan sopan. Tidak ada yang berani meminta nomor telepon aku dan pacarku," jawab Rina.
Selama ini memang tidak ada pasien yang menelepon dirinya. Hal itu karena pasien-pasien tua yang dilempar dari tanggung jawab temannya. Untuk memeriksa Rian saja, karena waktunya sudah sangat malam.
Bisa dikatakan Rina adalah perawat yang hanya memeriksa pasien yang tidak diperiksa oleh teman-temannya. Selama ini Rina sama sekali tidak mengeluh. Yang ia lakukan di sana adalah bekerja. Siapapun pasiennya bagi Rina sama saja.
Pantas saja Rian merasa Rina sangat tulus. Ternyata wanita yang berprofesi sebagai perawat itu memang penuh dengan ketulusan. Sikap dan tutur katanya yang lembut membuat Rina terlihat berbeda dengan temannya yang lain di mata Rian.
"Kamu jangan khawatir. Aku pastikan semua tidak akan terjadi lagi," ucap Rian.
Rina meyakinkan Rian bahwa ia sudah terbiasa. Ia tidak pernah mengambil pusing semua masalah yang dihadapinya. Setelah bercerita pada seseorang, ia merasa masalahnya sudah selesai.
Salah satu alasan Rina sangat percaya pada kekasihnya karena laki-laki yang ia cintai itu adalah tipe pendengar yang sangat baik. Hingga Rina merasa semuanya selalu baik.
"Kalau kamu sampai bertahan dengan kekasihmu itu, kamu boleh meminta satu hadiah apapun dariku." Rian begitu meyakinkan.
"Benar ya?" tanya Rina.
"Kamu bisa pegang ucapanku," jawab Rian.
Setelah mengenal Rina, Rian terlihat lebih baik. Mia beberapa kali melihat ada sesuatu antara Rian dengan Rina. Namun Mia tidak berani bertanya apapun pada Rian.
Bagi Mia, biarlah Rian melakukan apapun yang membuatnya lebih baik. Meskipun Mia masih berharap Rian tetap kembali ada Riri, namun siapapun pilihan Rian akan sangat ia hargai.
"Aku tidak yakin Rian jatuh cinta pada erawat tadi," ucap Dion.
"Memangnya kenapa?" tanya Mia.
"Perawat itu bukan tipenya Rian. Percaya padaku," jawab Dion.
"Apa karena wajahnya tidak secantik Riri?" tanya Mia.
"Bukan tentang fisik. Aku hanya melihat Rian terlihat berbeda saat bicara dengan perawat itu. Rian tidak begitu saat bicara dengan wanita yang ia cintai," ucap Dion.
Mia memang sempat sepemikiran dengan Dion. Tapi ia juga tidak menjamin kalau semuanya akan tetap begitu. Waktu bisa menciptakan rasa nyaman hingga takut kehilangan.
Jujur saja sampai saat ini Mia memang belum bisa menerima keputusan Rian saat mengakhiri hubungannya dengan Riri. Namun ia berusaha berdamai dengan keputusan Rian dan kemungkinan yang bisa jadi di luar logikanya.
Setiap orang memang punya pilihannya sendiri. Namun seandainya Mia boleh meminta, ia hanya ingin Rian kembali bersama Riri. Ia tidak tahu kenapa hatinya tidak menerima hubungan yang sudah tidak bisa dipertahankan itu.
"Kamu jangan ngatur-ngatur hidup orang. Rian berhak bahagia dengan pilihannya sendiri. Jangan ikut campur urusan perasaan Rian," ucap Dion mengingatkan.
__ADS_1
Kalimat itu sudah ia dengar berkali-kali diucapkan oleh Dion. Bahkan ia juga setuju dengan ucapan suaminya. Namun hatinya tidak bisa dibohongi. Bagaimanapun, Riri masih tetap nomor satu di mata Mia. Mungkin karena mereka cukup dekat dan Mia melihat ketulusan di mata Riri.
"Sudahlah ayo istirahat! Ini sudah malam," ucap Dion.