Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Bersaing sehat


__ADS_3

"Mas, aku ke kelas dulu ya!" ucap Riri sambil membereskan kotak makan siang dari Rey.


"Tunggu sebentar!" ucap Rey.


Riri menatap Rey. "Ada apa?" tanya Riri.


"Kamu mencintai Rian?" tanya Rey menyelidik.


"Ah, Mas mulai deh. Aku tidak mau kita menjadi tidak baik hanya karena cinta. Di sini aku tidak punya siapa-siapa. Kalau bukan Mas dan Mas Rian, mungkin aku hanya akan berteman dengan buku-buku di perpus. Mas tahu sendiri kan aku tidak punya teman," jawab Riri.


"Jadi kamu tidak mencintai Rian?" tanya Rey lagi.


"Aku hanya berharap jika kalian tidak berubah. Aku ingin kita tetap seperti ini," ucap Riri.


"Oke," ucap Rey sambil tersenyum.


"Mas kenapa?" tanya Riri.


"Tidak," jawab Rey.


"Ih aneh. Ya sudah aku ke kelas ya!" ucap Riri.


"Iya," jawab Rey.


Rey juga ikut meninggalkan bebangkuan setelah Riri pergi. Ia segera menemui Rian untuk kabar menyenangkan ini.


"Semangat. Ada lampu kuning," ucap Rey menepuk bahu Rian.


"Apa sih?" tanya Rian.


"Ada kesempatan. Cuma masih harus menunggu waktu," jawab Rey.


"Tidak jelas," ucap Rian sambil menggelengkan kepalanya.


"Soal Riri," ucap Rey.


"Riri? Maksudmu?" tanya Rian antusias.


"Kamu memiliki kesempatan untuk bisa mendapatkan Riri," jawab Rey.


"Jadi dia mencintaiku?" tanya Rian.


"Tidak," jawab Rey.


"Huuuuhhhh," ucap Rian melempar gulungan kertas ke arah Rey.


Rey tertawa melihat kekecewaan pada wajah Rian. Rian memang benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Jelas terlihat jika Rian sangat antusias dan begitu bahagia, namun kecewa saat mendengar jawaban yang tidak ia inginkan.


"Tapi dia tidak bilang tidak mencintaimu. Artinya ada kesempatan Ri. Kalau dia tidak mencintaimu dia akan jawab tidak. Tapi dia tidak mengatakan tidak," ucap Rey.


"Tapi sayangnya aku tidak peduli," ucap Rian.


"Yakin?" tanya Rey sambil menggoda Rian.

__ADS_1


"Yakin," jawab Rian dengan wajah santai.


"Kalau begitu aku boleh maju ya? Ya, meskipun aku tidak yakin jika Riri akan membalas perasaanku, tapi setidaknya aku akan berjuang. Aku yakin perempuan akan luluh kalau diperjuangkan habis-habisan," ucap Rey.


Wajah Rian terlihat semakin tidak suka dengan ucapan Rey. Lagi-lagi Rey harus menahan tawa saat melihat kecemburuan Rian padanya.


"Kenapa? Kamu tidak peduli kan?" tanya Rey saat mendapat tatapan tidak suka itu cukup lama ditujukan padanya.


"Terserah," jawab Rian malas.


"Ri, aku tidak akan mengadu soal ketidakpedulianmu itu. Masih ada kesempatan. Kalau masih ingin berjuang, ayo kita bersaing secara sehat. Aku yakin Riri akan lebih memilihku," ucap Rey.


"Terserah," ucap Rian lagi.


Rey tersenyum geli melihat tingkah Rian yang menurutnya seperti anak kecil. Ia benar-benar yakin jika Rian memang sangat mencintai Riri. Tugasnya hanya membuat Riri jatuh cinta pada Rian. Setelah itu ia akan membuat Rian meyakinkan dirinya untuk segera menyatakan perasaannya pada Riri.


Aku akan membuatmu bahagia dengan Riri. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena kesalahanku yang dulu. Perasaan memang tidak bisa dibohongi. Bahkan sampai saat ini pun aku masih mencintai Maudi. Ah, Maudi. Aku merindukanmu. Kamu sedang apa di sana?


Lamunan Rey buyar setelah seorang dosen masuk dan mulai materi kuliah siang itu. Tidak hanya Rey, Rian juga mulai mengesampingkan segala beban pikirannya sementara waktu. Apalagi Rian yang selalu ingat pesan Tuan Felix jika harapan dan impian terbesar Tuan Felix adalah melihat Rian lulus dengan nilai memuaskan.


Waktu perkuliahan sudah selesai. Rian dan Rey membereskan barang mereka dan bersiap untuk pulang.


"Antar Riri pulang. Hari ini dia tidak dijemput," ucap Rey.


"Tidak bisa. Kamu antar dia ya!" ucap Rey.


"Tidak bisa?" tanya Rey bingung.


"Aku ada urusan dengan Papa. Aku yakin Riri bisa pulang cepat denganmu," ucap Rian. "Aku duluan ya!" lanjutnya.


Rian segera pergi meninggalkan Rey yang menatapnya bingung dengan sikapnya. Ia sendiri tidak rela saat harus melihat Rey mengantar Riri pulang. Itu akan membuat keduanya akan semakin dekat, dan membuat peluang untuknya semakin kecil.


Saat dihadapkan antara wanita dan orang tua, Rian tentu memilih ayahnya. Apalagi saat ini Tuan Felix sedang tidak baik-baik saja. Ia harus menemani Tuan Felix agar tidak kesepian. Ia punya tugas untuk membangkitkan kembali semangat ayahnya.


Meskipun tidak ada aliran darah yang sama dalam tubuh keduanya, namun ketulusan Tuan Felix membuat Rian tidak bisa melihat kesedihan Tuan Felix. Ia lebih rela kehilangan kesempatan untuk mendekati wanita yang ia cintai. Walaupun hatinya sangat kecewa dengan keadaan seperti ini.


"Ri, ayo pulang!" ajak Rey.


"Aku bisa pulang sendiri Mas," jawab Riri.


"Aku bisa mengantarmu pulang. Ayo!" ajak Rey.


"Aku tidak mau merepotkan Mas," ucap Riri.


"Katanya teman," ucap Rey.


Riri tersenyum dan mengangguk. Ia segera masuk dan ikut pulang dengan Rey. Mereka sudah sepakat sebagai seorang teman, mereka akan saling membantu dalam hal apapun.


Kenapa Riri tidak bertanya keberadaan Rian ya? Apa Riri benar-benar tidak mencintai Rian? Lalu kenapa Riri tidak berani menjawab jika dia tidak mencintai Rian? Apakah karena Riri tidak enak dengan jawabannya? Padahal aku lihat Riri dan Rian sempat sangat dekat.


"Rian kemana ya?" tanya Rey.


"Kok Mas malah bertanya sama aku? Mas kan sekelas. Harusnya Mas tahu dong Mas Rian kemana," jawab Riri santai.

__ADS_1


Rey tahu Rian pulang. Tapi ia hanya ingin melihat tanggapan Riri. Dan semua semakin membuat Rey bingung. Riri tampak santai dengan pertanyaan Rey yang menyinggung Rian.


"Apa mungkin Tuan Felix sakit? Rian tidak pernah terburu-buru kalau bukan soal ayahnya," ucap Rey.


"Papa sakit?" tanya Riri.


"Mungkin. Aku tidak tahu alasan kenapa Rian pulang buru-buru," jawab Rey.


"Nanti aku coba telepon Mas Rian untuk menanyakan kabar Papa," ucap Riri.


"Ponsel kamu sudah bagus?" tanya Rey.


"Sudah Mas" jawab Riri.


Rey mengerutkan dahinya saat melihat sikap Riri. Riri justru lebih antusias saat membahas tentang Tuan Felix.


Apa jangan-jangan kamu mencintai ayahnya Rian? Ah mikir apa aku ini. Tidak mungkin Riri segila itu.


"Mas terima kasih ya!" ucap Riri saat sudah sampai di rumahnya.


"Iya. Nanti kalau sudah dapat kabar dari Rey, kabari aku ya!" ucap Rey mengingatkan.


Rey tidak terlalu menginginkan kabar Rian, hanya saja ia mengingatkan Riri agar tidak lupa mengabari Rian. Ia tahu jika Rian butuh Riri saat ini.


Setelah sampai ke rumah, Riri segera menghubungi Rian. Senyum lebar mengembang di bibir si penerima panggilan. Rasa bahagia begitu menyelimuti hati Rian saat melihat nama Riri terpampang di layar ponselnya.


"Halo," ucap Rey saat panggilan sudah terhubung.


"Mas Papa kenapa? Papa baik-baik saja kan?"!tanya Riri panik.


"Papa?" Rian balik bertanya.


"Iya Papa Felix," jawab Riri.


"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kamu meneleponku menanyakan kabar Papa?" tanya Rian.


Riri pun menjelaskan alasannya menelepon Rian untuk menanyakan kabar Tuan Felix. Ada sedikit kecewa saat mendengar alasan itu. Awalnya Rian berpikir jika Riri menghubunginya karena merindukannya. Namun sayangnya semua itu hanya harapannya saja.


Tapi Riri memang hadir di waktu yang tepat. Rian terpancing untuk menceritakan semuanya. Ia segera membahas tentang keadaan Tuan Felix. Riri yang mendengar kisahnya ikut sedih mendengar cerita itu.


"Aku bingung kenapa masih ada orang yang berniat jahat pada orang sebaik Papa. Kalau aku tahu orangnya, aku akan menjambak dia. Aku akan bilang kalau Papa itu orang baik," ucap Riri menggebu-gebu.


"Hahaha. Kalau aku tahu orangnya yang mana, mau aku santet dia." Rian kembali tertawa.


"Hah? Mas juga tidak tahu orangnya yang mana?" tanya Riri.


"Tidak. Papa tidak pernah menunjukkan orangnya. Bahkan ceritapun baru akhir-akhir ini," ucap Rian.


"Mungkin Papa tidak mau mengganggu kuliah Mas," jawab Riri.


"Iya. Itulah hebatnya orang tua. Seberat apapun masalahnya, mereka selalu menyembunyikannya dari kita. Padahal kita sebagai anak, selalu mengeluh tentang masalah kita." Rian menghela napas panjang.


Riri terdiam mendengar penuturan Rian. Ia merindukan sosok kedua orang tuanya. Ya, meskipun hubungannya tidak baik, namun ada masanya dimana Riri merasa kesepian tanpa sosok kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2