Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Dunia seolah memeluknya


__ADS_3

Pulang sekolah Shelin tidak langsung pulang ke rumah. Bagaimanapun ia tidak bolehmembawa masalahnya ke rumah. Ia tidak mau membawa beban untuk orang rumah.


Siang ini Shelin berusaha untuk tidak peduli pada Rian. Ia memilih untuk pergi ke pusat perbelanjaan dibanding menemui Rian di kantornya. Ia sudah cukup lelah mengalah dan selalu salah.


"Hai," sapa seorang wanita pada Shelin saat ia baru sampai.


"Halo," sapa Shelin dengan lembut dan begitu ramah.


Shelin memang tidak mengenal orang itu. Tapi setelah pertunangan itu, namanya jadi tenar dan banyak yang menyapanya. Ia hanya berusaha bersikap ramah pada siapapun yang menyapanya.


"Sendiri?" tanya wanita itu.


"Memangnya kenapa?" Shelin balik bertanya.


"Aku pikir Tuan Rian tidak akan membiarkan wanita pujaannya berjalan sendirian di tengah keramaian begini," ucap wanita itu.


Shelin merasa dadanya sesak. Namun ia tidak mau terlihat sedih. Rian adalah calon suaminya. Seburuk apapun Rian di mata orang lain, ia tidak mau menambah kesan buruk itu.


"Calon suamiku bukan pengangguran yang bisa dua puluh empat jam menemaniku," jawab Shelin dengan sangat tenang.


Wanita itu sudah terlihat kesal namun berusaha untuk tetap membuat Shelin marah. Sayangnya Shelin pintar menyembunyikan perasaannya. Ia hanya tersenyum dibalik rasa sakit hatinya.


Sampai akhirnya wanita itu menyebut nama Riri. Nama yang asing bagi Shelin namun berhasil menarik perhatiannya. Wanita itu menceritakan tentang hubungan Rian dengan Riri yang sudah sangat serius.


Saat itu wajah Shelin langsung berubah. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Wanita itu segera pergi setelah berhasil membuat Riri nyaris menangis.


Dalam kesendirian, Riri benar-benar menangis. Ia meratapi nasibnya yang seakan tidak memiliki masa depan. Ucapan wanita itu benar-benar membuatnya sakit.


Awalnya Shelin tidak percaya dengan ucapan wanita itu. Apalagi ia sama sekali tidak mengenal wanita itu. Bahkan saat ia bertanya nama dari wanita itu, tidak ada jawaban. Tapi kenyataannya apa yang disampaikan wanita itu memang membuat Shelin yakin jika wanita itu mengenal Rian.


"Kenapa kamu jahat sekali?" ucap Shelin sambil mengusap sudut matanya.


Tidak ingin pikiran buruk itu menguasai dirinya, ia pergi menemui Rian di kantor. Kedatangan Shelin membuat Manto bersiap untuk keluar dari ruangan itu. Manto tahu akan ditahan di ruangan itu, namun sebuah alasan sudah dipersiapkan agar bisa keluar.


Manto tidak mau menjadi saksi tangisan Shelin siang itu. Ia tahu masalah itu semakin besar dan nyaris pecah. Shelin yang biasanya tersenyum setiap kali bertemu dengannya, pagi ini hanya bisa menghindari tatapan dengannya.


Mata Shelin nuga terlihat sembab. Meskipun Manto tidak tahu masalah yang sebenarnya, tapi ia yakin kalau Shelin sedang baru selesai menangis. Ada masalah yang memaksanya untuk datang ke kantor dengan mata yang sembab. Bukan tidak mungkin tangisan itu akan pecah lagi di sana.


"Mau kemana Pak?" tanya Danu.


Danu yang baru saja akan masuk ke ruangan itu segera mendorong agar menjauh dari ruangan Rian. Setelah itu ia menarik Danu agar kembali masuk ke ruangannya.


"Ada apa sih Pak?" tanya Danu bingung.


"Ada Nyonya Shelin di dalam," jawab Manto.


"Terus kenapa mukanya panik begitu? Bukannya Nyonya Shelin sudah biasa main ke kantor?" tanya Danu.


"Kali ini beda," jawab Manto.


Akhirnya Manto menjelaskan keadaan Shelin saat masuk ke ruangan itu. Raut wajahnya sudah berbeda. Ia yakin ada masalah yang besar diantara mereka berdua.

__ADS_1


"Pak Rian pasti bisa menghadapi semua masalah ini," ucap Danu.


Danu dan Manto sebenarnya sudah tahu masalah yang tengah dihadapi Rian. Namun keduanya tidak sekalipun membahas itu. Mereka hanya menyimpan informasi itu dan berharap jika semua segera membaik.


"Pak Rian belum makan. Ini makan siangnya," ucap Danu sambil mengangkat kotak makan siang yang dikirim istrinya untuk Rian.


"Biarkan dulu. Tidak mungkin kita masuk hanya untuk membawakan makan siangnya," ucap Manto.


Memang benar, rasa lapar itu akan tertutupi oleh pusingnya kepala Rian menghadapi tangisan Shelin. Lidahnya juga kelu saat Shelin terus mendesaknya untuk menjelaskan semua tentang Riri.


"Sudahlah, dia itu hanya masa laluku. Kamu juga punya masa lalu kan?" tanya Rian.


"Tapi kamu berubah semenjak Riri hadir lagi dalam hidup kamu. Apa ini alasan kamu merusak ponselmu? Biar aku tidak tahu semuanya kan? Katakan kalau kamu sudah mengganti nomor ponselmu tanla memberi tahuku," tuduh Shelin.


"Berhenti membual Shelin. Tuduhanmu sudah semakin ngawur," ucap Rian.


"Lalu kenapa kamu berubah?" tanya Shelin.


"Aku masih Rian yang dulu. Tidak ada yang berubah," jawab Rian.


"Ya, sampai kapanpun kamu tidak akan berubah. Kamu tetaplah Rian. Tapi hati kamu yang mulai berubah," ucap Shelin.


Hatinya berubah? Ya, sebenarnya hatinya sudah berubah saat berita tentang Riri menyeruak kembali. Namun ia tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang. Yang ia tahu ia tidak bisa mengambil keputusan apapun saat ini. Ia hanya ingin menjalani hidupnya seolah tidak ada apa-apa.


"Shelin, jangan menangis. Maafkan aku jika aku salah. Aku akan memperbaiki diriku," ucap Rian.


Shelin tersenyum sinis. Memperbaiki? Berarti benar apa yang disampaikan wanita tadi. Rian memang sempat merusak hubungan dengannya. Ia sangat sakit saat Rian mengakui bahwa akhir-akhir ini ia ingin sendiri.


"Cukup Shelin! Berhenti menyebut namanya di hadapanku," pinta Rian.


"Kenapa? Karena kamu semakin mengingatnya? Tidak bisa melupakannya?" tanya Shelin.


"Berhenti!" ucap Rian dengan tegas.


Shelin menangis semakin jadi. Ia menahan dadanya yang semakin sesak. Ia benar-benar tidak menyangka jika ketakutannya selama ini menjadi kenyataan.


"Kamu jahat," ucap Shelin di sela isak tangisnya.


Rian tidak berkomentar. Karena memang pada kenyataannya ia jahat. Ia mengabaikan Shelin setelah ia meyakinkan wanita itu. Ia berjanji akan menjadikan Shelin wanita satu-satunya dalam hatinya. Namun pada kenyataannya kembalinya Riri membuat hatinya berubah dengan cepat.


"Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku," ucap Rian pelan.


Rian nampak mengusap kasar wajahnya dan mengacak rambutnya. Ia ingin meluapkan amarahnya namun ada Shelin di sana. Ia hanya bisa memandang Shelin yang tengah menunduk dari kejauhan. Suasana menjadi hening. Hanya terdengar isak tangis dari Shelin yang sudah tidak bisa berkata apa-apa.


Sementara Shelin tengah bingung mengartikan kata maaf yang keluar dari mulut Rian. Apakah karena ia menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan? Atau justru maaf karena sudah tidak bisa bersama lagi?


"Jadi kamu maunya apa?" tanya Shelin saat sudah tidak bisa menebak arti kata maaf itu.


"Shelin ayolah kamu bukan anak kecil lagi. Jangan memaksaku mengambil keputusan saat seperti ini," jawab Rian.


Mendengar jawaban Rian, Shelin semakin yakin kalau Rian memang masih menyimpan perasan untuk wanita bernama Riri. Buktinya ia tidak bisa mengambil keputusan saat seperti ini. Kalau seandainya Rian sudah tidak mencintai masa lalunya, kenapa ia harus bingung mengambil keputusan ini?

__ADS_1


"Aku pulang. Kalau seandainya kamu sudah yakin dengan keputusanmu, aku tunggu di rumah. Ayah dan ibuku berhak tahu tentang keputusanmu," ucap Shelin.


Shelin pergi dan semakin sakit saat melihat Rian hanya diam tanoa menahannya. Seolah Rian memang berharap jika Shelin segera pergi dari hadapannya.


"Siapa yang memberi tahu Shelin tentang Riri? Ah, semuanya semakin rumit. Hati, kapan kamu bisa berdamai dengan kenyataan ini?" tanya Rian saat melihat Riri sudah keluar dari ruangannya.


Rian tidak tahu kalau wanita pemberi informasi itu adalah Maudi. Karena sudah sangat lama ia tidak bertemu dengan Maudi. Ternyata tanpa sepengetahuan Rian, Maudi masih terus mengintainya dan membuat berbagai rencana yang akan menghancurkan Rian.


Rian meraih telepon yang ada di mejanya dan meminta Manto untuk kembali ke ruangan. Ia tidak bisa sendiri. Ia butuh teman agar tidak semakin stres. Paling tidak Manto menjadi pendengar yang baik apapun masalah yang ia ceritakan.


"Aku sangat mencintai Riri. Tapi aku tidak bisa menyakiti Shelin," ucap Rian pada Manto.


Manto terkejut bukan main mendengar ucapan Rian. Kalimat yang menurutnya sangat tidak pantas diucapkan oleh laki-laki sejati. Dalam hatinya ia juga tertawa. Rian bilang tidak mau menyakiti Shelin, tapi kenyataannya Rian sudah menyakiti Shelin.


"Lebih baik Bapak tenang kan diri dulu. Semua tidak akan selesai dengan emosi," ucap Manto.


Hanya kalimat itu yang bisa Manto ucapkan. Karena ia takut menyinggung Rian jika berkomentar saat ini. Pertama kalinya Manto melihat Rian menangis. Dengan ragu, Manto mendekat dan menepuk bahu Rian.


"Jangan khawatir. Bapak tidak sendiri," ucap Manto.


Rian mengusap air matanya dan tersenyum.


"Terima kasih sudah selalu ada dan membantu saya Pak," ucap Rian.


"Bukan hanya saya. Tapi semuanya," ucap Manto.


"Semua?" tanya Rian.


"Ya, termasuk Tuan Felix dan yang lainnya," jawab Manto.


"Papa?" tanya Rian.


"Maafkan saya jika selama ini saya memberi informasi tentang Bapak kepada Tuan Felix. Karena beliau sangat mengkhawatirkan Bapak. Sementara tidak bisa menghubungi Bapak," jawab Manto.


Benarkah seperti itu? Benarkah Tuan Felix mengkhawatirkannya? Ah tiba-tiba ia merindukan kehidupannya yang dulu. Hidup dikelilingi orang-orang yang sayang dan peduli padanya. Tidak seperti sekarang yang merass hidup sendiri.


Pulang dari kantor, Rian mengambil ponsel pemberian Shelin di dalam laci. Ia mencoba mengaktifkan kembali nomor ponselnya yang sudah beberapa hari tidak diaktifkan.


"Papa," ucap Rian sambil memeluk ponselnya.


Ternyata benar apa yang dikatakan Manto. Tuan Felix setiap hari mengirim pesan. Bertanya tentang kabarnya meskipun nomor ponselnya tidak aktif. Bukan hanya Tuan Felix, Shelin pun melakukan hal yang sama.


Tiba-tiba ia merasa sangat bersalah. Apa yang sudah dilakukannya sudah membuat Shelin sangat kecewa dan terluka. Ia memutuskna untuk memperbaiki semuanya.


Rian mengecek kembali pesan yang sudah masuk ke dalam ponselnya. Dan memang semua mengkhawatirkannya. Tuan Wira, Nyonya Helen, Mia, Dion, bahkan Sindi pun mengiriminya pesan. Menanyakan kabarnya meskipun tidak seperti Tuan Felix dan Shelin.


Senyum mengembang di bibir Rian. Ia tidak menyangka jika dibalik sikapnya yang benar-benar berantakan, masih banyak yang peduli padanya. Semua tidak berubah meskipun Rian sudah mencoba menjauh dari mereka.


Bahkan Mia yang terakhir kali ia pergi karena bermasalah, dengan sangat lapang meminta maaf dan menginginkan Rian kembali. Ia merasa dunia seolah memeluknya.


Benar kata Pak Manto. Aku tidak sendiri.

__ADS_1


__ADS_2