
Malam ini mereka menghabiskan waktu dengan penuh canda tawa. Kehangatan sangat terasa di rumah itu. Sesekali Rian menatap wajah Tuan Felix. Sepertinya Tuan Felix memang tidak terlalu bahagia seperti yang lain. Tapi ia mengerti jika semua yang terjadi tentu membuat Tuan Felix tidak akan tenang.
Bukan hanya itu, beban Tuan Felix bukan sekedar tentang masalah di perusahaannya. Tapi Tuan Felix juga merasa jika ia berat saat harus menerima jika ini hari terakhirnya berkumpul dengan keluarga yang sangat ia sayangi itu.
Besok pagi Tuan Felix sudah harus kembali ke negaranya. Bersama Manto, ia harus menyelesaikan masalahnya di sana. Ia akan segera kembali ke Indonesia agar bisa kembali merasakan kebahagiaan seperti ini.
"Oh iya, besok aku pamit ke Jerman. Nanti aku ke sini lagi secepatnya," ucap Tuan Felix saat mereka mulai berhenti mengobrol.
"Apa? Kenapa?" tanya Tuan Wira.
Bukan Tuan Wira saja, Nyonya Helen juga terlihat terkejut dengan ucapan Tuan Felix. Mereka yang sebelumnya tidak tahu masalah yang dihadapi Tuan Felix, berpikir jika Tuan Felix akan tinggal di sana lebih lama dari ini.
Sempat terpikir jika ada masalah di rumah ini. Namun setelah tahu alasan kepulangan Tuan Felix mereka ikut mendukung kepulangan pria berkebangsaan Jerman itu.
"Selesaikan secepatnya dan cepat kembali ke sini!" ucap Tuan Wira.
"Tentu. Aku tidak akan melewatkan kebahagiaan ini terlalu lama," ucap Tuan Felix.
Malam ini semua tidur dengan nyenyak. Bangun dengan alarm yang sudah di setting sesuai kebutuhan masing-masing. Namun hanya Tuan Felix yang bangun sebelum alarmnya berbunyi.
Tuan Felix duduk di tepi ranjang. Ia melihat foto Rian dan Riri yang menempel di dinding kamarnya. Lalu pandangannya menatap foto Mia dan Dion. Tidak lupa ada foto kedua cucu kembarnya. Bibir Tuan Felix tersenyum namun hatinya menangis.
Apalagi saat ia membuka ponselnya. Foto Bu Ningsih, ibu kandung Mia nampak begitu cantik. Wanita yang ia cintai itu sudah membuat hatinya mati untuk wanita lain. Ia selalu berharap bertemu dengan Bu Ningsih sebentar saja dalam mimpi. Tapi sampai saat ini keinginannya belum terwujud.
"Mungkin kita akan bertemu di surga. Sabar ya! Tunggu aku," gumam Tuan Felix.
Tidak ingin kesedihannya terus menguasai pikirannya pagi ini, Tuan Felix segera pergi ke kamar mandi. Ia harus segera bersiap. Jangan sampai ketinggalan pesawat karena ia harus secepat mungkin sampai di negaranya.
Pagi ini saat sarapan, Tuan Felix sudah ada di ruang makan saat yang lain mulai berdatangan. Ia menyambut semua dengan senyuman lebarnya. Senyuman yang tengah menyembunyikan kesedihannya.
"Manto jam berapa ke sini?" tanya Tuan Wira sambil mengambil nasi ke piringnya.
__ADS_1
"Pak Manto akan menunggu di bandara Pah. Jadi dia tidak ke sini dulu," jawab Rian.
"Oh ya sudah. Ayo makan!" ajak Tuan Wira.
Pagi ini Mia tidak sempat datang ke rumah Tuan Wira untuk sarapan bersama. Tapi Mia akan menunggu Tuan Felix di bandara. Bahkan Mia, Dion dan kedua anak kembarnya sudah ada di bandara dua pulu menit sebelum Tuan Felix datang.
"Opaaaa," teriak Naura.
Naura dan Rendra segera menyambut tangan Tuan Felix yang sudah terbuka lebar. Mereka sudah memakai seragam sekolahnya. Sengaja izin di jam pertama karena ingin bertemu dengan kakeknya sebelum mereka berpisah.
"Jangan lama-lama ya Opa di sananya. Cepat pulang lagi ke sini," ucap Narendra.
"Iya. Nanti Opa ke sini lagi. Belajar yang pintar ya!" ucap Tuan Felix sambil mencium kepala kedua cucunya bergantian.
"Opa tenang saja. Aku pasti selalu juara satu," ucap Naura.
"Bagus!" ucap Tuan Felix sambil mengangkat jempol tangannya.
"Jangan menangis! Papa akan seger kembali," ucap Tuan Felix sambil mengusap punggung Mia. Menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Mia masih kangen. Papa belum menginap di rumah Mia," ucap Mia disela isak tangisnya.
Ya, Tuan Felix memang biasa menyempatkan waktu untuk menginap di rumah Mia. Namun kali ini ia belum sempat. Masalah itu datang terlalu cepat hingga memaksanya untuk segera kembali. Semua benar-benar tidak sesuai dengan apa yang sudah ia rencanakan.
"Maafkan Papa sayang. Ini diluar rencana. Papa sama sekali tidak berniat untuk pulang seceat ini. Papa ingin menikmati saat-saat di sini. Tapi semua tidak sesuai yang Papa harapkan," ucap Tuan Felix.
Perpisahan kali ini terasa sangat memilukan bagi Tuan Felix. Karena kali ini sat ia meninggalkan Tuan Felix, sama artinya ia meninggalkan semua orang yang ia sayang. Dulu setidaknya ada Riri yang bisa ia temui saat merasa sedang sepi. Namun saat ini ia memang benar-benar sendiri.
Lambaian tangan Tuan Felix membuat Mia menangis semakin keras di pelukan Dion. Kedua anak kembarnya juga menangis saat melihat Tuan Felix semakin menjauh. Sementara Riri hanya bisa menunduk menahan rasa sedihnya. Tuan Felix memang belum begitu lama ia kenal. Tapi kebaikan Tuan Felix membuat Riri merasa Tuan Felix adalah ayah kandungnya sendiri.
"Jangan menangis. Papa akan semakin sedih kalau melihat kita semua sedih," bisik Rian.
__ADS_1
Riri mengangkat wajahnya setelah mengusap sudut matanya. Ia merelakan kepergian Tuan Felix. Ia hanya berharap masalah yang dihadapinya segera selesai agar Tuan Felix cepat kembali.
Dan harapan itu bukan hanya harapan Riri. Semua orang berharap hal yang sama. Apalagi Mia dan Rian. Mereka percaya jika Manto akan bisa menyelesaikan masalah itu dengan cepat. Dua orang itu memang orang-orang hebat di bidangnya. Pengalaman kerja membuat mereka semakin mahir.
Saat datang ke Jerman, Manto dan Tuan Felix langsung bekerja sesuai dengan rencana yang memang sudah disusun dengan matang. Isi kepala Manto memang sejalan dengan pemikiran Tuan Felix. Hingga rencana yang mereka susun berjalan seirama.
Masalah itu terlalu berat dan besar. Meskipun Tuan Felix tidak bisa menyelesaikan masalah itu sampai dua hari. Bukan hanya satu orang. Setelah masuk ke tahap penyelidikan, ternyata ada beberapa orang yang terlibat dalam masalah ini.
"Berapa hari kamu izin pada istrimu?" tanya Tuan Felix pada Manto saat sedang istirahat.
"Saya bilang tidak lebih dari seminggu. Tapi jika melihat kasusnya, saya rasa bisa jadi lebih dari seminggu. Itu pun kalau kita ingin mencari tahu sampai ke akar siapa saja yang benar-benar terlibat di sini," ucap Manto.
Tuan Felix tersenyum saat mendengar penuturan Manto. Ternyata Manto memang orang yang tepat untuk menemaninya. Selain Manto cerdas dan pekerja keras, Manto juga selalu membuat suasana tenang. Manto membuat emosi Tuan Felix tetap stabil meskipun tengah menghadapi masalah serumit ini.
"Lalu bagaimana kalau istrimu tahu jika kita akan menyelesaikan masalah ini lebih dari satu minggu?" tanya Tuan Felix.
"Istri saya tidak akan pernah mempermasalahkan waktu kerja saya, Tuan. Tuan tidak perlu khawatir dengan semua itu. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana kita bergerak cepat ditengah ketenangan kita saat di kantor. Jangan sampai mereka membaca taktik yang kita pakai," jawab Manto.
Tuan Felix menganggukkan kepalanya. Ia tidak heran mengapa perusahaan Rian berkembang pesat lebih cepat dari dugaannya. Keberadaan Manto menjadi salah satu faktor yang sangat mendukung.
"Sampaikan terima kasihku untuk istrimu. Kamu memang tidak salah memilih istri," ucap Tuan Felix.
Manto memang selalu bersyukur karena memiliki istri yang selalu setia mendampinginya. Sejak mereka memulai semuanya dari nol, istrinya selalu memberikan dukungan tanpa sekalipun menjatuhkannya.
Malam ini Tuan Felix merasa tubuhnya sangat lelah. Berpura-pura tenang di tengah gejolak hatinya yang membara membuat pria yang sudah tidak muda lagi itu tertekan. Ingin rasanya ia segera membuka kasus ini dan mengadili pengkhianat di kantornya secara hukum. Namun lagi-lagi Manto membuat dirinya harus lebih sabar dan tenang.
"Baiklah. Kalau begitu, aku harus tidur. Besok aku harus bangun pagi dan mulai menjalankan misi selanjutnya," ucap Tuan Felix meyakinkan dirinya sendiri.
Meskipun belum mengantuk, Tuan Felix merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya memang terpejam tapi hati dan kepalanya masih tersadar. Ia tidak bisa masuk ke keadaan nyenyak seperti yang diharapkannya.
Ah, lebih baik aku buka video pernikahan Rian saja. Lumayan bisa mengobati kerinduanku pada mereka yang ada di sana.
__ADS_1
Tuan Felix maraih ponselnya dan membuka penyimpanan video. Banyak video yang ia simpan di acara pernikahan itu. Satu persatu ia buka. Berharap jika ia akan segera mengantuk setelah cukup lama memandangi layar ponselnya. Namun hingga akhir video yang ia simpan pun, tidak sedikit pun rasa ngantuk itu mengampirinya.