Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Harus waspada


__ADS_3

Malam ini menjadi malan yang paling membahagiakan sepanjang perjalanan hidup Rian. Merasakan surga dunia untuk pertama kalinya dengan wanita yang sangat ia cintai. Tidak pernah ia berpikir jika hidupnya akan sesempurna ini.


"Mas, Mas, bangun!" ucap Riri.


Riri mengguncang tubuh Rian semakin kencang saat pria itu masih terlelap meski dibangunkan berkali-kali. Rian nampak menggeliat dan membuka matanya perlahan. Saat melihat sosok Riri yang sudah segar dengan rambut basahnya, mata Rian langsung terbuka sempurna.


"Lagi yuk!" ajak Rian sambil memeluk Riri.


"Mas, jam berapa ini? Kamu harus ke kantor," ucap Riri.


Ada ketakutan tersendiri saat Rian mengajaknya bergelut lagi. Riri memang merasakan ada kenikmatan, tapi rasa sakit itu tidak bisa ia lupakan begitu saja.


"Ya sudah. Tapi nanti malam lagi ya!" ucap Rian.


"Tapi pelan-pelan ya Mas," ucap Riri.


"Siaaaaap," ucap Rian sambil menghormat layaknya sedang upacara bendera.


Riri hanya menggelengkan kepalanya dan meminta Rian untuk segera mandi. Sementara menunggu Rian selesai mandi, Riri mengeringkan rambutnya. Ia tidak mau jejaknya pagi ini akan menjadi sasaran empuk Nyonya Helen dan Tuan Wira.


"Pakai baju yang ini ya Mas," ucap Riri sambil mengangkat satu stel pakaian yang diambilnya dari lemari.


"Boleh," ucap Rian.


Riri bukan hanya membantu Rian mengambilkan pakaian, tapi juga membantunya memakai pakaian itu. Dan ini bukan pertama kalinya. Ini selalu dilakukan Riri pada Rian semenjak mereka menikah.


"Oh ya Pus, kamu tidak merasa bosan di rumah terus?" tanya Rian.


"Bosan?" Riri balik bertanya.


Riri sebenarnya sangat bosan. Namun ia tidak banyak bicara. Ia tidak mau Rian menjadi sedih hanya karena pengaduannya. Apalagi ia takut Nyonya Helen tersinggung.


"Aku tahu kamu sudah banyak berkorban untuk pernikahan ini. Aku ingin membuatmu bahagia. Setidaknya aku tidak membuat kamu menyesali keputusanmu untuk menikah denganku," ucap Rian.


Riri tersenyum. Ya, ia memang mengambil keputusan besar dalam waktu yang singkat saat itu. Pernikahannya dengan Rian yang terbilang dadakan membuat Riri segera menyelesaikan urusan kantornya. Ia melepas urusan kantor pada orang yang tepat.


"Aku kan tidak jadi pengangguran sepenuhnya. Kantor masih aku pantau kok Mas," ucap Riri.

__ADS_1


Ya, selama ini Riri memang masih sering menerima laporan dari orang itu. Bersyukurnya Riri tidak mendapatkan kejanggalan apapun. Meskipun setelah kejadian yang menimpa Tuan Felix membuat Riri jadi cemas.


"Apa kamu masih mau kerja di kantor?" tanya Rian.


Rian tahu, selama ini Riri menghabiskan waktunya untuk bekerja. Dari zaman ia bekerja sebagai orang yang membantu Mr. Aric di rumah, sampai ia bekerja di kantor Mr. Aric. Tak tanggung-tanggung, Riri menggantikan posisi Mr. Aric saat itu.


Keseharian Riri hanya bekerja. Baik itu di kantor atau di rumah. Selama itu yang ia pegang adalah ponsel dan laptop. Sangat berbeda dengan kegiatannya sekarang. Ia lebih sering berinteraksi dengan Nyonya Helen. Meskipun kadang Rian masih bisa menyaksikan Riri memainkan laptop.


"Kerja kan tidak harus di kantor Mas. Aku dan Mama sudah berencana untuk membuat butik. Aku akan tetap stay di rumah dan mengontrol semuanya. Sedangkan di lapangan, aku mau minta bantuan Kak Maya. Kata Mama sih itu ide bagus. Menurut Mas gimana?" tanya Riri.


Rian menatap Riri dengan tajam. Ia menelisik maksud ucapan istrinya. Mengamati adakah kesedihan atau penyesalan? Namun sepertinya Riri memang sangat tulus. Ia tidak menunjukkan rasa sedihnya.


Rencana ini bukan pertama kalinya ia dengar. Namun ia tidak menyangka jika Riri benar-benar dengan ucapannya. Ia tentu senang dengan rencana itu. Menurutnya, selain Riri tidak akan bosan tapi ia juga akan membuat Nyonya Helen jadi lebih semangat. Karena Riri bilang bahwa Nyonya Helen akan dilibatkn dalam pembelian bahan baku.


"Kapan mau direalisasijkan? Gas sekarang juga?" tanya Rian.


Riri hanya tertawa. Ia bukan orang seperti ini. Akan banyak sekali pertimbangan ini dan itu sebelum rencana itu benar-benar direalisasikan. Rian hanya mengikuti setiap rencana itu dengan dukungan penuh.


Bahkan untuk modal pun, Rian siap menggelontorkan uang untuk bisnis Riri. Namun Riri menolak karena tanpa sepengetahuan Rian, Riri memiliki tabungan yang fantastis.


"Ya Mas sangat berguna. Dukungan Mas sangat aku butuhkan," ucap Riri.


Setelah obrolan itu semakin mengerucut dan menemukan jalan akhir yang disepakati, mereka keluar untuk sarapan. Di sana sudah ada Nyonya Helen dan Tuan Wira. Obrolan itu pun dilanjutkan di sana dan disambut hangat oleh keduanya. Apalagi saat Riri ingin melibatkan Maya, mereka nampak sangat senang.


"Kalian bisa semakin akrab. Papa mau keluarga kita semakin rukun," ucap Tuan Wira.


Riri tersenyum. Ia semakin yakin untuk mempunyai banyak anak. Keinginannya adalah melahirkan anak kembar setiap kehamilannya. Tiga kali lahiran Riri rasa cukup untuk mebuat rumah menjadi ramai.


Berkaca dari keadaan Tuan Wira yang hanya memiliki satu anak. Ia bahkan mengaku setiap orang menjadi keluarganya. Beruntungnya, orang-orang yang dianggap keluarga itu memang orang baik dan membalas semua ketulusan Tuan Wira.


Riri juga melihat keadaan keluarganya. Ia yang hanya memiliki satu saudara kandung benar-benar merasa sendiri saat kakaknya menjauh. Tidak ada orang lain yang bisa menyayanginya lagi.


"Mama bilang juga apa. Riri itu memang perempuan hebat. Dia mau tetap di rumah tapi produktif," ucap Nyonya Helen.


Rian tersenyum senang saat Nyonya Helen begitu membanggakan istrinya. Riri memang sangat pantas untuk dibanggakan. Rian dan Tuan Wira harus pergi ke kantor dan membiarkan kedua wanita itu melanjutkan bahasan rencananya.


"Mas, jangan lupa nanti kita ada acara sama Shelin ya!" ucap Riri sebelum Rian benar-benar berangkat.

__ADS_1


Ucapan itu mampir di telinga Nyonya Helen. Ia bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Riri. Setelah Rian dan Tuan Wira pergi, Nyonya Helen menanyakan apa yang ia janggal di telinganya.


"Dia kan temanku juga sekarang," ucap Riri.


"Kamu jangan terlalu polos. Zaman sekarang banyak sekali wanita penjilat. Kamu harus tahu siapa Shelin," ucap Nyonya Helen.


"Memangnya dia tidak baik ya?" tanya Riri.


Shelin memng bukan orang baik. Tapi Shelin adalah mantan tunangan Rian. Setidaknya pernah menyimpan rasa pada Rian. Nyonya Helen hanya khawatir jika rasa itu akan tumbuh kembali seiring berjalannya waktu. Ia tidak mau Riri tersakiti.


"Aku percaya Mas Rian bisa menjaga hati kok Ma," ucap Riri.


"Dia mungkin bisa jaga hati. Tapi Shelin? Kita tidak bisa menjamin semua orang untuk bersikap sesuai dengan yang kita harapkan," ucap Nyonya Helen mengingatkan.


Saat ini mungkin perhatian Nyonya Helen memang terkesan menjadi kompor. Namun ia hanya menjaga Riri agar tidak sakit hati. Riri sudah Nyonya Helen anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


Setelah kembali ke kamar, Riri menatap wajahnya dalam pantulan cermin. Ia mengamati wajahnya dari berbagai sisi. Jika dibandingkan dengan Shelin, ia merasa masih percaya diri. Tapi benar kata Nyonya Helen, ia harus tetap waspada.


Saat jam pulang kerja, Rian menghubungi Riri dan memintanya untuk bersiap. Shelin sudah memberikan tempat dan waktu yang akan mempertemukan mereka. Entah bahasan basa basi apa yang akan jadi topik obrolan mereka nantinya.


"Kamu mau kemana?" tanya Nyonya Helen.


Saat mengetahui jika Riri akan dijemput Rian untuk bertemu dengan Shelin, lag-lagi Nyonya Helen mengingatkan Riri agar tetap waspada. Nyonya Helen tidak mau Rian terjebak dengan perasaan di masa lalunya.


"Iya Ma. Aku akan menjaga Mas Rian dengan baik," ucap Riri.


Saat Rian sudah sampai dan membawanya pergi, Riri merasa jantungnya berdegup kencang. Berbeda dengan Rian yang terlihat lebih tenang, Riri justru merasa sangat gelisah. Ingin rasanya ia membatalkan acara itu dan kembali ke rumah. Menjaga suaminya dari hal-hal yang tidak diinginkan.


Namun semua sudah terlanjur. Bahkan saat ini mobil sudah terparkir di tempat yang sudah direncanakan. Lambaian tangan Shelin membuat Riri menggandeng erat Rian. Seolah ia ingin meyakinkan Shelin jika Rian memang sudah menjadi miliknya sepenuhnya. Dan pesan tersirat itu sudah berhasil diterima Shelin.


"Selamat datang Mba Riri. Saya Shelin," ucap Shelin mengenalkan diri sembari mengulurkan tangannya.


Riri membalas uluran tangan itu dan memberi senyuman. Ia juga menyalami Hiro yang duduk di hadapan Shelin.


"Silahkan duduk Mba," ucap Hiro.


"Hiro, bisakah kamu pindah ke samping Shelin? Aku ingin duduk dekat Mas Rian," pinta Riri sambil menatap Rian dan bergelayun manja di lengan kekar suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2