
"Kamu kenapa?" tanya Mia saat melihat Rian pulang dengan keadaan cemas.
"Mr. Aric sudah pulang lebih dulu dibanding Mpus," jawab Rian.
"Terus?" tanya Mia panik.
"Apa Mr. Aric memarahi Mpus? Menghukum Mpus?" tanya Tuan Felix.
"Aku tidak tahu," jawab Rian sambil menggelengkan kepalanya.
"Tuhaaaan, bagaimana ini? Mia jadi merasa bersalah karena sudah mengajak Mpus ke acara tadi," ucap Mia.
"Kalau kamu merasa bersalah, apalagi Papa. Papa kan yang punya acara," ucap Tuan Felix.
"Aku hanya berharap jika Mpus bisa selamat dari hukuman Mr. Aric," ucap Rian sambil menunduk.
Sangat khawatir. Terlihat jelas kekhawatiran Rian dari raut wajahnya. Ia yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya membuktikan pada semuanya, tentang rasa dalam hatinya saat ini.
"Kenapa kamu tidak membuat hubunganmu lebih jelas saja, Ri?" tanya Dion.
Rian yang tengah gelisah dan cemas mengangkat wajahnya. Ia melihat Dion dengan tatapan penuh tanya.
"Iya, harus jelas hubungan kalian itu apa. Biar Mpus juga jelas dan tidak perlu mencari yang lain. Kamu juga bisa bela dia lebih leluasa karena punya hak," ucap Dion.
Dari tatapan Rian saja, Dion tahu apa maksud tatapannya. Hingga akhirnya Dion langsung menjelaskan apa yang ia maksud. Rian hanya menggelengkan kepalanya dan pergi ke kamar.
"Rian kenapa sih?" tanya Dion.
"Aa yang kenapa. Sudah tahu Rian sedang gelisah dan cemas begitu, Aa kok malah membuat dia semakin gelisah." Mia menggelengkan kepalanya dan menyusul Rian ke kamarnya.
"Pah, memangnya aku salah ya?" tanya Dion.
"Menurutmu?" Tuan Felix balik bertanya.
"Tidak," jawab Dion.
"Ya sudah," jawab Tuan Felix sambil pergi meninggalkan Dion.
"Loh, ini orang-orang pada kenapa ya?" gumam Dion.
Dion mengikuti Mia pergi ke kamar Rian. Sepertinya ia harus meminta maaf jika Rian tersinggung dengan ucapannya. Namun saat ia sampai di depan pintu kamar Rian, ia menghentikan langkahnya karena Mia juga sedang mengintip.
"Hussst," ucap Mia memberi kode.
Dion hanya mengangguk dan mendekat. Ia memastikan apa yang sedang Rian bicarakan. Meskipun ia tidak bisa mendengar jelas apa yang diucapkan Rian, namun raut wajahnya menggambarkan kebahagiaan. Senyum yang lebar menjadi tanda bahwa Rian sudah baik-baik saja.
"Kak, sedang apa di sana?" tanya Rian saat selesai menelepon.
"Nguping," jawab Dion dengan polos.
"Aa," ucap Mia sambil menyikut Dion. "Aku tadi mau mengobrol denganmu, hanya saja kamu sedang menerima panggilan. Jadi aku menunggu di sini," jawab Mia.
__ADS_1
Rian hanya tersenyum. Seperti apapun penjelasan Mia, namun Rian yakin jawaban Dion adalah kesimpulannya.
"Masuk Kak," ucap Rian membuka pintu kamarnya lebih lebar.
Mia dan Dion masuk mengikuti Rian. Mereka duduk dan melihat sekeliling kamar Rian. Ukurannya hampir sama besar dengan kamarnya di Indonesia. Hanya saja di sini, Rian lebih bebas mengekspresikan keinginannya. Rian menyimpan dan menempel beberapa benda yang ia suka di kamarnya.
"Maaf ya Kak berantakan," ucap Rian.
"Tidak masalah," jawab Mia.
"Kakak mau apa nguping di depan pintu?" tanya Rian.
"Aku tidak menguping. Aku hanya meyakinkan kalau kamu baik-baik saja. Dan semuanya baik-baik saja kan?" tanya Mia.
"Iya Kak. Barusan Mpus menghubungiku. Ternyata Mr. Aric tidak menghukumnya," jawab Rian.
Meskipun Rian belum tahu pasti apa alasan Mr. Aric menunggu Riri, tapi yang pasti ia sudah lega saat tahu Riri tidak dihukum.
"Kalau begitu ayo kita poting kue," ajak Mia.
"Ayo Kak," ucap Rian.
Kue besar dan mewah itu sudah menanti. Kado-kado mahal juga siap dibuka. Mereka mempersembahkan semua itu ke kamar Tuan Felix.
"Mpus gimana?" tanya Tuan Felix.
Kalimat itu yang pertama keluar dari Tuan Felix. Setelah mengetahui kalau Riri baik-baik saja, ia baru mulai tertarik dengan hadiah-hadiah yang disiapkan anak-anaknya. Ia juga berterima kasih sudah bersabar menyimpan semua kejutan ini untuknya.
"Mia juga sayang Papa," ucap Mia sambil memeluk Tuan Felix.
Sebelah tangan Tuan Felix ia rentangkan. Meminta Rian ikut memeluknya.
"Aku juga sayang Papa," ucap Rian.
"Meskipun aku tidak kebagian pelukan Papa, aku juga sayang Papa. Sumpah," ucap Dion.
Mia dan Rian yang sedang dalam keadaan penuh harus harus tertawa saat mendengar ucapan Dion. Mereka kembali tertawa setelah drama Riri sudah berakhir.
Malam ini Tuan Felix lewatkan dengan sangat bahagia. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena besok, Mia dan Dion harus sudah berangkat untuk urusan bisnis dan langsung pulang ke Indonesia.
"Mia harap, meskipun pertemuan kita ini singkat tapi Papa bahagia. Maafkan Mia ya Pah," ucap Mia.
"Aku seharusnya berterima kasih padamu. Disela kesibukanmu, kamu tetap menyempatkan untuk bertemu dengan Papa dan memberikan kejutan luar biasa." Tuan Felix mengusap kepala Mia.
"Mia mau kita kumpul lagi Pah. Mia merindukan masa-masa saat kita bersama setiap hari," ucap Mia.
"Papa sedang mengatur semuanya. Nanti setelah Rian lulus, Papa mau merintis perusahaan untuk Rian di Indonesia. Setelah semuanya mulai stabil, Papa ingin tinggal di sana." Tuan Felix nampak tersenyum bahagia saat membayangkan hari itu tiba.
"Mia sangat menunggu hari itu tiba, Pah." Mia memeluk Tuan Felix.
Pagi hari ini menjadi momen menyedihkan bagi Tuan Felix. Ia harus melihat Mia dan Dion pergi dari rumah itu setelah semalaman meramaikan rumah itu.
__ADS_1
"Jamgan sedih! Ada Rian di sini Pah. Nanti Papa dan Rian ke Indonesia lagi kalau libur," ucap Mia.
"Iya," jawab Tuan Felix dengan suara bergetar.
Mia segera memeluk ayahnya saat tahu rasa sakit itu menikam perasaan ayahnya begitu dalam. Tuan Felix memeluk Mia erat. Ia mengisyaratkan jika waktu tefasa terlalu singkat saat dihabiskan bersama.
"Dadaaaah," ucap Mia.
Lambaian tangan Mia membuat Tuan Felix harus menahan dadanya yang begitu sesak. Ia harus kembali menabung rindu dengan Mia.
"Pah, hari ini aku libur. Apa aku boleh ikut ke kantir?" tanya Rian.
"Mau apa?" tanya Tuan Felix.
"Ya, mau belajar apapun tentang perusahaan Papa. Boleh kan?" ucap Rian.
"Boleh," ucap Tuan Felix.
Sebenarnya Rian ingin menghabiskan waktu liburnya untuk tiduran dan menikmati hari ini dengan santai. Namun keadaan Tuan Felix saat ini membuat Rian tidak tega jika harus membiarkan ayahnya sendirian di kantor.
"Tunggu sebentar! Aku siap-siap dulu," ucap Rian.
Rian segera berganti pakaian dan membawa laptopnya.
"Bawa laptop?" tanya Tuan Felix.
"Ya biar kalau ada apa-apa gampang," jawab Rian.
Alasan saja, karena pada kenyataannya ia butuh hiburan dengan games yang diunduh dalam laptopnya.
"Ayo!" ajak Tun Felix.
"Ayo Pah," ucap Rian.
Saat di kantor, Rian disambut begitu baik dan hangat. Selain karena Rian anak pemimpin di perusahaan itu, Rian juga memang terkenal ramah pada pegawai di sana.
"Rian, apakah kemarin Dion membahas tentang lahan yang akan dibangun nanti?" tanya Tuaj Felix.
"Tidak Pah. Kak Dion tidak bicara tentang urusan pekerjaan denganku. Mungkin Kak Dionll merasa itu masih terlalu lama," ucap Rian.
"Tidak lama. Ini hanya beberapa tahun lagi. Kita harus bergerak cepat agar sukses lebih cepat," ucap Tuan Felix.
Ya, Rian lupa jika ayahnya memang penganut prinsip waktu adalah uang. Ia akan selalu memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Semua akan berjalan lebih tertata dengan tepat saat bergerak lebih cepat.
"Biar nanti aku tanya sama Kak Dion ya Pah," ucap Rian.
"Ya, harus. Kamu harus benar-benar mandiri Rian. Papa sudah tidak muda lagi. Papa hanya akan mendukung kamu dengan apa yang Papa punya. Makanya manfaatkan semuanya sebaik mugkin," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah. Aku janji akan melakukan semua sesuai harapan Papa," ucap Rian.
"Yang penting hars sesuai dengan apa yang kamu senangi. Karena jika kamu sendiri tidak menyenangi semua itu, maka kamu akan sulit berada di titik sukses. Makanya Papa tidak ingin memaksaka apapun padamu," ucap Tuan Felix.
__ADS_1
Rian juga merasakan semua ketulusan Tuan Felix. Selama ia tinggal bersama Tuan Felix, ia tidak pernah komplen atau melarang ini dan itu. Taun Felix hanya akan marah jika semua berurusan dengan Maudi.